Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Diajarken Sesad


__ADS_3

187


Kelimanya; Alif-Dara, Sakira, Mauza-Sammy kembali melanjutkan perjalanannya setelah puas menikmati panorama di rest area Kedung Pass.


Mau ke mana pun liburannya nanti, ada baiknya mereka tiba di tujuan dulu. Mereka memerlukan tempat untuk beristirahat karena selain lelah, kini hari sudah mulai petang. Barulah setelah itu, mereka susun rencana. Tempat liburan mana yang bisa mereka datangi.


Bada isya, mereka pun sampai di Bistro milik keluarga Alif. Mereka tak menyewa Hotel selagi di sana masih bisa ditempati. Tujuannya tak lain adalah untuk mengirit bujet pengeluaran.


“Aku dulu waktu masih kecil pernah ke sini tahu.” Mauza memberi tahu Sammy begitu mereka memasuki Bistro. Mengamati lekat-lekat desain gedung ini yang begitu mewah dan kekinian.


Jack; manajer Alif selalu meng-upgrade Bistro nya hampir setiap tahun agar tidak ketinggalan zaman, yang bisa mengakibatkan sepi pengunjung. So, saingan di dunia kuliner sekarang sudah semakin sangat-sangat ketat.


“Oh ya?” Sammy menanggapi.


“Memangnya kamu masih ingat, Za?” tanya Dara sambil sesekali mengangguk sopan pada setiap karyawan yang menyapanya. Suasana di sana lumayan sibuk dan banyak orang berlalu lalang. “Bukannya pas ke sini kamu masih umur tiga tahunan, ya?”


“Lupa-lupa inget Onti. Tapi ya, gitu. Sekarang semuanya udah berubah total.”


“Iyalah, pasti. Tahun berapa ini, Brayy!” Dara mengibaskan kerudung mahalnya.


“Kira, Mami mau berkunjung ke rumah Om Razka habis ini. Kamu jangan lepas-lepas baju dulu, ya,” ucap Dara kepada sang anak setelah dia meletakkan koper-kopernya di atas. Di sana ada tiga kamar, dua kamar besar dan satu adalah kamar yang berisi ranjang kecil. Tahu, kan, jatah siapa itu? Ya, untuk Sakira.


“Iya, Mi,” jawab gadis berusia 23 tahun itu.


“Mau ikuut!” sahut Mauza.


“Emangnya kamu nggak capek? Ini udah malem lho. Barang kali suamimu mau langsung istirahat.”


Mauza menoleh kepada suaminya untuk memastikan, “Nggak kan, Sam?”


Sammy mencari aman dengan menjawab “engga”. Padahal dia lelah setelah menyetir berjam-jam lamanya. Hmm apa sih, yang nggak demi kamu, Za? Minta bulan di langit juga bakal Babang Sammy dikasih. Gambarnya doang tapi.


“Ya sudah,” ujar Dara setelah Sammy sepakat.


Mereka pun pergi usai menunaikan kewajiban. Namun kali ini, kelima orang itu berangkat jadi satu mobil. Sebab mobil Alif sudah longgar setelah dikeluarkan barang-barangnya.

__ADS_1


Rumah Razka tak lain adalah rumah orang tuanya, almarhum Hilman dan Ratna. Ya, mereka sudah tiada beberapa tahun yang lalu karena faktor usia. Sedangkan Razka sendiri sudah mempunyai istri dan anak yang sudah memasuki usia remaja.


Dara dan Razka adalah kakak beradik yang saling menyayangi meskipun mereka jauh dan berbeda. Razka hidup sederhana, sedangkan Dara dinikahi keluarga yang berada sehingga bisa hidup lebih menengah daripada adiknya itu.


“Halaman rumah adikmu lama-lama jadi makin sempit, Ni. Sepuluh tahun lagi mungkin bisa rapet,” kata Alif saat mengendarai mobilnya di gang tersebut.


“Seruduk aja rumahnya pakai Beko kalau sampai aku nggak bisa lewat,” balas Dara konyol.


Dulu tempat ini masih perkampungan. Tetapi lihatlah, sekarang. Semua rumah hampir saling menempel satu sama lain. Persawahan, hutan, sungai, semakin merata dengan banyaknya bangunan. Miris sekali.


Setibanya di depan rumah, Razka langsung keluar untuk menyambut kakak kandungnya yang beberapa menit lalu telah mengabarkan kepadanya, bahwa mereka sedang menuju ke sini.


“Razkaaa!” seru Dara kepada sang adik sambil menubruk tubuh pria itu.


Alif geleng-geleng kepala melihatnya, apalagi saat istrinya bergelantungan di tubuh adiknya. Tidak tahu malu! Batinnya kesal.


Tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi.


♧♧♧


Dara dan Alif memang pasangan yang sangat cocok. Yang satu emosian, tetapi yang satunya lagi juga tak pernah menganggapnya serius. Jadi mau ribut seperti apapun, keduanya tetap akur lagi.


Hidup memang begitu. Suami istri bebas marah dan saling bertengkar jika mereka sedang berselisih pendapat. Tetapi malamnya, mereka akan tetap tidur di ranjang yang sama. Bahkan tak jarang, sepasang suami istri akan mengakhiri perdebatan mereka dengan cara bercinta.


“Pokoknya nggak usah terlalu di ambil hati, Za. Masalah hari ini, cukup selesai hari ini,” ujar Dara setelah menceritakan sedikit pengalaman hidupnya berumahtangga.


“Iya, soalnya masih banyak masalah lain yang belum di jajal,” Alif menimpali.


“Oh, kamu mah emang dasar niat cari ribut.”


“Yang namanya rumah tangga kalau adem terus kurang greget ya nggak, Sam?” Alif meminta pendapat pada Si Semut.


“Justru kalau udah berantem malah jadi makin cinta, Om. Makin ughhh!”


Sakira menutup telinganya dari obrolan sensor delapan belas plus-plus.

__ADS_1


“Nah tuh, bener kan?” Alif merasa aman dan bangga karena ada yang mendukungnya.


“Kayaknya semua laki-laki emang begitu deh, Onti,” sahut Mauza. “Mereka emang bukan makhluk yang terlalu perasa. Buktinya, aku pernah berantem sama Sammy sampai mataku bengkak. Eh, paginya dia tetep nanya di mana semvak nya kayak nggak pernah terjadi apa-apa.”


Sakira tertawa hingga terjungkal dari kursinya. Beruntung ada karpet yang nolongin kepalanya dari permukaan keras keramik.


“Kalau kita malah kebalik, Burung Dara yang kurang peka, Za. Ya, dia ....” Alif menggeleng seraya mendecak kan lidahnya. Padahal dua-duanya sama saja, tetapi tidak ada yang merasa dan malah justru saling menyalahkan.


Dara langsung menyela, “Dih, sotoy yah, orang kamu juga begitu. Kamu nggak pernah peka apa yang aku rasain. Butuh duit kek mana kalau nggak diminta nggak bakal ditransfer. Dasar pelit. Aku kasih tahu, ya! Orang pelit kuburannya bakal sempit!” ucapan Dara sengit sekali. Layaknya orang yang sedang menyumpahi.


Lha, kok jadi nyerempet ke masalah duit? Alif keheranan dan tak habis pikir dengan bahasan ini. Kenapa hampir setiap wanita kalau ber dongeng pasti larinya tidak jauh-jauh dari masalah yang satu itu?


“Apa pula yang kamu bahas?” tanya Alit segera.


“Kamu pelit,” balas Dara.


Sambil menatap istrinya, Alif menambahkan, “ Belajarlah dari Hawa, istri nabi Adam. Beliau nggak pernah minta duit sama suaminya. Tapi tetap bisa ngapain aja.”


“Ibu Hawa hidup di zaman kapan, Da? Kalau ngomong itu dipikir-pikir dulu. Zaman sekarang cuma numpang pipis aja harus keluar duit warna merah.”


Nah, nah. Sammy menggaruk kepalanya, sedangkan Sakira dan Mauza saling pandang. Dua-duanya berantem lagi dan bikin kepala mereka berdenyut. Selalu begitu. Apapun bahasannya, pasti berakhir dengan cekcok. Adu mulut sampai capek.


Diam-diam, anak-anak saling melempar kode. Lantas pergi secara bergantian menuju ke tempat lain yang ada di lantai bawah.


“Orang Minang kok dilawan. Mereka kalau diajak debat nggak akan ada habisnya. Beda kalau orang sesama orang Jawa, mereka sopan-sopan. Kalau ada orang ngomong, pasti nunggu lawan bicaranya sampai selesai. Nggak ada yang berani nyela,” kata Sakira bermaksud menceritakan Papi dan Maminya yang biasanya demikian.


Sebenarnya Maminya orang Jawa, tetapi karena hidup dengan orang keturunan Minang selama puluhan tahun, lambat laun mereka jadi sosok yang sama kuatnya.


Mauza setuju dengan pendapat Sakira, “Betul, Kira. Orang Jawa emang kalem-kalem. Mereka memang sangat diajarkan dari kecil supaya santun sama semua orang, apalagi sama yang lebih tua. Jadi walaupun diserang sama silat lidah, mereka jarang ada yang bisa melawan.“ jeda sejenak, Mauza melanjutkan, “Tapi jangan salah. Mereka mainnya ngeri.”


“Apa?” tanya Sakira segera. Sangat ingin tahu.


“Langsung shantet!”


Nah, loh!

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2