
141
“Mas Andre sadar nggak sama semua kesalahan Mas Andre selama ini?” Nai menahan sesak di rongga dadanya. “Jangan datang seolah-olah nggak pernah terjadi apa-apa.”
“Ya, aku minta maaf karena sudah membohongimu. Dan kenapa kamu sendiri juga nggak pernah bertanya, siapa aku sebenarnya?” tanya Andrea.
“Apa harus menunggu di tanya dulu supaya kamu berkata jujur?” ucap Nai setelah Andrea selesai bicara, “bohong kamu itu nggak sepele. Kamu menyembunyikan Fero dariku. Anak Mas Andre, yang kelak akan jadi anakku juga.”
“Aku sama sekali nggak bermaksud begitu. Awalnya aku hanya melanjutkan apa yang nggak kamu ketahui dariku karena kamu tak pernah bertanya, siapa aku dan apa posisiku di hatimu. Sebab kamu terlalu sibuk dengan perasaanmu sendiri yang nggak pernah bisa melupakan pria itu,” papar Andrea apa adanya. Kemudian dia melanjutkan, “Aku hanya takut kamu pergi. Dan kenyataannya benar. Statusku yang berbeda membuat kamu nggak mudah untuk menerima.”
“Jangan mengada-ada, aku nggak mempermasalahkan status. Aku hanya kecewa kenapa kamu bohong, itu aja.” Nai mematahkan anggapan tersebut.
“Katakan aku harus apa? Aku sudah jujur bukan? Orang tuamu juga sudah tahu semuanya.”
Karena Zunaira tak kunjung menanggapi, Andrea kembali berkata, “Maaf kalau kamu nggak berkenan dengan kedatanganku. Jangan salahkan Bu Zara karena aku nggak menyesali pertemuan ini. Aku senang bertemu denganmu.”
Andrea balik badan, hendak melangkah pergi.
Namun sebelum itu terjadi, Nai berujar dengan lebih keras, “Mas Andre selalu begitu!”
Andre mengurungkan niatnya agar dapat kembali mendengar Nai melanjutkan ucapannya yang masih menggantung.
“Pergi tanpa mau meninggalkan masalah tanpa penyelesaian,” sambung Zunaira akhirnya terisak, “kamu bikin aku jadi orang bodoh selama berhari-hari karena terus nungguin kamu pulang. Nungguin kamu kasih kepastian. Lalu sekarang, kamu datang lagi seenaknya dengan berkata seperti ini. Apa itu pantas?”
“Aku memberikanmu waktu. Itu kan, yang kamu mau?” sela Andrea segera.
__ADS_1
Zunaira tertawa, tetapi sedih. Sesunguhnya yang dikatakan Andrea itu benar. Tetapi bukan sepertu caranya menyikapi bahasa wanita. Dia memang bilang butuh waktu, tetapi apakah selama itu pula dia tak berusaha untuk sekadar menghubunginya?
“Setidaknya kamu berusaha cari cara, supaya kita tetap bisa saling komunikasi. Bukan malah pergi jauh. Aku mengejarmu di Bandara kemarin, tapi kamu nggak peka kalau aku menyusulmu.”
Raut wajah Andrea langsung berubah sesaat setelah mendengar demikian. “Kenapa kamu nggak pernah bilang?”
“Hei, jangan lupakan! Kau selalu mematikan nomor ponselmu,” sahutnya sangat jengkel.
“Sorry. Aku nggak bermaksud begitu.” Jeda beberapa saat Andrea tersenyum, kemudian bertanya, “Jadi kamu menyusulku?”
Zunaira menganggukkan kepala, “Tapi kamunya yang nggak peka. Untung ada Umar, kalau nggak, aku bisa nginep di sana,” balas Nai cemberut, kemudian membalikkan badan.
“Apa berarti perasaanku terbalas?” Andrea bertanya tepat dari belakangnya persis.
“Nggak.”
“Nyebelin,” gumam Zunaira pelan. Malu untuk mengakui di depannya bahwa ia juga sama-sama telah mencintainya.
Nai mengusap wajahnya. Dia tidak tahu, harus tertawa ataukah kembali menangis saat ini?
Namun tiba-tiba, saat Zunaira balik ke belakang, suara letusan balon terdengar.
Di saat yang bersamaan, gadis itu melihat Andrea berlutut di depannya, di saksikan oleh banyak orang yang melihat. Terutama adalah biang kerok, dalang dan kompor dari acara ini, yaitu Zara dan Belle. Mereka mengajak yang lain berteriak agar Nai mau menerima lamaran Andrea.
“Will you marry me? I don't really know what I'm supposed to do if you say no, so could you save us both the trouble and say yes?” ucap Andrea sambil menoleh ke sana kemari. Menunjukkan betapa malunya ia kalau sampai Nai menolaknya.
__ADS_1
Maukah kamu menikah denganku? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan jika kamu berkata tidak, jadi bisakah kamu menyelamatkanku dan berkata iya?
“Terima! Terima! Terima!” seru semua orang yang ada di sana.
Terlebih dahulu Zunaira menatap ke sekeliling. Melihat semua orang yang tertuju padanya dan menanti jawaban darinya. Lantas beberapa saat kemudian, dia menetapkan pandangannya ke bawah. Kedua bola mata pria itu mengharapkannya untuk menganggukkan kepala.
“Plis Nai, Plis ... jangan siksa aku terlalu lama, kakiku sakit,” ujar Andrea meringis.
Di saat-saat seperti ini saja, Andrea masih menunjukkan wajah yang mengesalkan. Nai jadi tambah geram di buatnya. Rasanya ingin mencakar-cakar wajahnya dengan kukunya yang lumayan tajam.
“Ya, aku mau menikah sama kamu,” kata Nai setelah beberapa saat disertai dengan anggukkan kepala.
Detik itulah semua orang kembali berteriak. Ini adalah acara teromantis dalam hidup Zunaira yang takkan pernah bisa dia lupakan.
Diwakili oleh Zara, cincin dari Andrea terpasang di jari manis Zunaira. Dia menunjukkannya ke kamera. Seseorang mengambil potretnya agar kelak bisa dijadikan sebuah kenang-kenangan.
“Rencana kita berhasil, Bu,” ujar Belle saat Zara kembali duduk bergabung dengannya, lalu membiarkan mereka untuk saling bicara.
Anggap saja mereka sedang dalam masa pendekatan. Agar tak ada lagi kesalahpahaman yang mereka kira adalah bibit permasalahannya selama ini.
“Berhasil lah. Saya bilang juga apa, mereka itu butuh orang untuk menjembatani. Soalnya meskipun cinta, keduanya sama-sama pendiam, ego sama gengsinya juga tinggi. Jadi nggak pernah bisa ketemu,” Zara menanggapi. Diam-diam, dia juga mengirimkan video rekamannya ke Vita. Agar wanita itu tahu, bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Mamer: masyaallah, terima kasih bantuannya, Nak. Kami ikut senang melihatnya. (Disertai emoticon haru).
Bersambung.
__ADS_1
Komeng ges. komengmu semangatku