
151
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang. Para tamu undangan sudah mulai meninggalkan gedung pernikahan. Pun dengan keluarga Al Fatir yang meninggalkan gedung untuk melakukan ibadah, terkecuali sepasang pengantin yang tengah beristirahat sejenak dan Mauza yang sedang mendapatkan tamu bulanannya.
“Ya ampun, sendirian gue. Mana sebelah gue lagi mesra-mesraan lagi. Udah bukan obat nyamuk lagi gue mah gais, tapi baigon semprot.” Mauza menoleh sedikit ke dua orang yang dia belakangi. Di sana Zunaira sedang menyuapi suaminya. “Sam, cepetan balik napa?”
Sedangkan yang di gumamkan hanya fokus berdua. Bercerita tentang keseruan mereka tadi pada saat menerima kedatangan teman-teman sekantor, sambil sesekali Nai menyuapkan makanan ke mulut Andrea.
Memang tak ada yang menyuruhnya. Tetapi gadis itu berinisiatif sendiri lantaran tak enak kalau harus lahap sendirian. Sedangkan Andre tidak mau ambil sendiri, entah apa alasannya. Jadilah sepiring berdua. Kebetulan, Andrea juga diam dan pasrah dengan apa saja yang Nai lakukan padanya.
“Paling lucu yang tadi, waktu Bu Belle ngajak foto tapi salah pencet. Pantesan flash nya nggak nyala-nyala. Waktu dilihat lagi, eh ternyata video record, dong. Kami jadi nggak berhenti tertawa.”
Kejadian serupa juga terjadi pada Damar dan Sammy. Namun ditanggapi dengan lebih heboh oleh mereka berdua. Sebab saat berikut terjadi, Sammy yang pada saat itu memegang kameranya, seketika di dorong oleh Damar sampai terjungkal.
“Kameramen kok, goblok!” maki Damar kesal bukan main. “Memalukan pencet kamera aja nggak bisa, blok!”
“Bacot doang lu, Sat!” balas Sammy melanjutkan keributannya di bawah pelaminan. Mungkin juga rindu setelah sekian lama dia tak berdebat dengan sahabatnya itu.
Dan yang lebih parahnya lagi, ada teman-teman kuliah Andrea yang sengaja mengejutkannya dengan memakai kostum ala-ala petani. Mereka naik dengan membawa sekalian oleh-oleh kebunnya yang berupa pisang, ubi, jagung, nangka, bahkan singkong beserta pohon-pohonnya. Astaga! Ide dari mana itu?
Semua teman-temannya membercandai Andrea. Di antara mereka bahkan belum ada yang menikah satu pun, tetapi Andrea malah sudah terhitung menikah dua kali ini. Belagu sekali katanya. Karena momen tersebutlah Andrea bisa tertawa lepas. Dia mengatakan bahwa dia benar-benar tak sengaja.
“Ora sengaja matamu, anjirrr!” satu teman memakinya, “ora sengaja kok entuk sing perawan ayu ngene.” Pandangan mereka berpusat kepada Zunaira yang juga sedang tertawa sampai perutnya terguncang.
“Mbaknya khilaf kali, C*k!” sahut yang lain.
“Gak ngono, iki wes rezekine,” jawab Andrea membuat Nai terkejut. Pria itu ternyata bisa keluar bahasa asing juga dan terdengar medok.
“Emang koe seng kegatelan koyok'e.”
“Sebentar lagi udah mau masuk waktu ashar,” kata Zunaira menghentikan lamunan Andrea.
“Tapi lihat, aku masih begini.” Nai menggerakkan tangannya bermaksud menujukkan riasannya yang tebal dan pakaiannya yang super ribet. “Gimana kalau kita pulang sekarang?”
__ADS_1
Andrea mengeluarkan sesuatu dari kantong sakunya dan menunjukkannya kepada sang istri. Berharap dapat mengurungkan niatnya untuk pulang. “Ini hadiah dari kakak iparmu.”
Nai menerima benda tersebut yang ternyata kartu akses kamar. Gadis itu sedikit terkejut hingga menatap Andrea penuh tanya.
“Kita akan menginap di sini.”
Gadis itu tak dapat menyembunyikan senyumnya. Beberapa bulan yang lalu, dia pernah patungan dengan Mauza dan Umar untuk memberi hadiah kepada Kak Rayyan berupa paket honeymoon. Dan sekarang, Ray mengembalikannya dengan hal serupa.
Padahal, Nai tak pernah mengharapkan kembali apa yang sudah dia berikan. Tapi demikianlah alam bekerja. Jika kita memberikan sesuatu dengan ikhlas, pasti suatu saat, kebaikan itu akan kembali ke pemiliknya tanpa bisa kita duga.
“Aku belum bilang makasih. Apa mereka balik ke sini lagi, ya? Mereka cuma lagi ibadah, kan?”
“Kamu bisa mengirimnya lewat pesan,” balas Andrea, kemudian beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya. “Lama menunggu mereka. Belum tentu juga mereka balik ke sini lagi. Jadi kita ke atas saja sekarang.”
Zunaira mendongak ragu hendak berdiri meninggalkan area. Dia tidak enak dengan yang lain jika harus pergi begitu saja. Namun, gadis itu juga punya kepentingan sendiri. Bagaimana, ya? Dia tampak berpikir.
Andre kembali berujar, “Ayo! Sebentar lagi mau ashar.”
“Dhuhur sama ashar,” jawab Andrea lempeng. Pancingan nya ternyata tidak mempan. “Memangnya maumu apa? Kecil-kecil otaknya ngeres!” pria itu menyentil keningnya cukup keras sehingga gadis itu mengaduh sakit.
Zunaira tertawa dan berujar dengan pelan, “Kirain mau malem pertama.”
“Masih siang, Ranya Sera Zunaira.”
Keduanya menuju ke lift. Meninggalkan Mauza sendirian. Jatuh cinta membuat mereka melupakan apapun yang ada di sekitarnya, bahkan kakak kandungnya sendiri.
“Zunai kalau udah bucin emang parah banget,” Mauza terkekeh memahami siapa adiknya itu yang dari dulu tak pernah berubah.
♧♧♧
Andrea membuka pintu kamar yang dituju. Sebuah kamar luas dengan view perkotaan yang indah. Ranjang yang lebar dan kamar mandi yang mewah, bahkan dilengkapi dengan sofa cinta. Sofa yang di desain khusus untuk memudahkan hubungan suami istri.
“Ini gila,” kata Zunai malu saat melihat bentuk sofa itu.
__ADS_1
“Apanya yang gila?” Andre bertanya seolah tak ada masalah apa-apa meskipun dia juga tahu apa yang sedang Zunaira maksud.
“Aku pernah lihat sofa itu di internet, hihhh!” Nai bergidik geli.
“Kita juga akan mencobanya nanti.”
Ucapan Andrea sontak membuat bulu kuduk Nai merinding. Ada sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya, tetapi tak tahu tepat di bagian mana perasaan aneh itu muncul. Ya ampun, Nai segera menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan visualisasi dirinya bersama Andrea di atas sofa tersebut.
“Nanti katanya, lho.”
Nai terus terngiang-ngiang. Dia segera melepaskan heels nya, kerudung luar, lalu menghapus make up nya dengan kapas yang tersedia di sana. Lantas masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih diri.
Beberapa menit kemudian, gadis itu keluar, bergantian dengan Andrea yang masuk ke dalam sana.
“Aku nggak bawa ganti Mas Andre,” ucapnya memberi tahu pria itu.
“Pakai dulu apa yang ada,” jawab Andre lanjut menutup pintu. Kemudian menyusul suara berisik air mengalir.
Keduanya salat berjamaah untuk yang pertama kali. Di saat itulah, Nai meneteskan air matanya. Tak pernah menyangka bahwa hari ini dia sudah sah menjadi seorang istri yang kelak akan memegang tanggungjawab yang cukup berat. Namun di sisi lain, dia juga bahagia karena bisa menikah dengan seorang pria yang dia cintai. Bukan hanya untuk sekadar pelarian semata.
Andrea menoleh setelah mengucapkan salam dan doanya. Pria itu mengulurkan tangan dan berujar, “Jadi istri yang baik, ya.”
“Insyaallah. Bimbing aku ya. Selalu ingatkan aku, sekiranya aku salah.”
Andre mengangguk. Dia menjulurkan tangannya untuk membuka mukena yang Zunai kenakan, sekadar ingin melihat rambutnya.
Mukena terlepas. Pria itu juga melepaskan ikatan rambut Zunaira hingga tergerai sempurna. Andrea memuji dalam hatinya saat melihat keindahan tersebut. Sedikit bergelombang, tapi justru kelihatan cantik seperti sengaja di curly di salon.
Tanpa mengatakan apapun, Andre memeluknya. Meraih tubuh Zunaira ke dalam dekapannya untuk menuntaskan rindu. Sudah lama dia tak merasakan pelukan yang sedemikian nyamannya.
Keduanya pindah ke sofa. Tubuh Nai yang kecil memudahkan pria itu untuk menggendongnya seperti koala. Keduanya saling memeluk dalam diam sembari menunggu azan menjelang.
Bersambung.
__ADS_1