
“Alhamdulillah ...” ujar ketiga orang yang baru saja mendengar penjelasan dr. Junita bahwa Zara serta kandungannya masih baik-baik saja. Ray, Miranda mau pun Ruben sudah bisa bernapas lega sekarang.
“Tapi ... ada tapinya,” kata dr. Junita lagi.
“Apalagi sih, Dok?” tanya Miranda segera, “kamu jangan nakut-nakutin kita.”
“Nggak ... nggak nakut-nakutin. Zara harus bedrest selama satu minggu setelah ini. Kalau bisa, jauhkan dulu dia dari ponselnya. Benda itu berpengaruh banget sama perasaannya, lho. Kalian nggak bisa ngontrol apa saja yang dia lihat bukan? Takutnya nanti dia stres lagi.”
“Ya, ini tugas suaminya. Dia yang tahu.” Miranda menoleh ke arah menantunya yang masih terlihat sedikit cemas.
Ray mengangguk. Pria itu pun mengucapkan rasa terima kasihnya kepada dr. Junita, karena melalui perantaranya lah istri dan anaknya bisa selamat.
“Maaf udah ngerepotin kamu malem-malem begini, Dok. Mana besok harus tetep berangkat lagi. Duh, maaf ya, Dok. Habis mau gimana lagi?” kata Miranda sangat tidak enak melihat sahabatnya itu sudah tak karu-karuan. Lelah, lapar dan mengantuk jadi satu.
“Wes, rapopo, Mir. Santuy aja,” balas dr. Junita tersenyum. “Udah dulu, ya, Mir? Kalau ada apa-apa nanti minta tolong sama dokter jaga saja. Waktunya aku rehat.”
“Sekali lagi, makasih banyak.”
Kedua wanita sebaya itu cepika-cepiki sebelum akhirnya berpisah. Kini ketiganya masuk ke dalam ruang rawat untuk menemui Zara yang masih terbaring pucat. Bahkan dalam keadaan tidur pun, keningnya pun masih terlihat berkerut. Bisa dibayangkan, segila apa dia memikirkan semua masalahnya?
“Ini efek obat tidur aja kan, Sus? Nggak pingsan lagi kan?” Miranda bertanya pada seorang suster yang sedang visit.
“Nggak, Bu. Memang dikasih obat tidur sama dr.Junita tadi supaya Bu Zara bisa cepat istirahat.” Kemudian Suter juga menjelaskan bahwa ini memang sengaja dilakukan karena Zara terus saja panik dan menangis.
Jam sudah hampir pagi lagi. Ray menunggu semua orang terlelap di sana supaya dia bisa mencuri kecupan singkat di kening istrinya dan sebuah pelukan rindu.
“Maaf sudah membentakmu tadi ... cepat sehat, ya?” ucapnya tanpa butuh di dengar. Sebab Ray tak mau sampai membangunkannya.
Ray terlebih dahulu membatalkan semua acara Zara yang sudah terjadwal selama seminggu ke depan, sebelum akhirnya dia pergi ke kantor polisi. Karena Papa mengabarkan bahwa Mauza sudah ditemukan dan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit karena demam parah. Namun begitu, Ray ingin menemui Sammy terlebih dahulu karena ingin mendengar secara langsung dari mulut pria itu sendiri, kenapa dia membawa pergi adiknya.
Mami: Mami, maaf tadi pergi nggak pamit. Ray ke kantor polisi sekarang. Mauza sudah ditemukan.
__ADS_1
Begitu pesan yang dia kirim waktu Ray berada di perjalanan. Dia pun menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Kusam, berantakan, rambutnya awut-awutan, bajunya pun masih baju yang sama seperti kemarin. Hampir-hampir dia tak mengenali dirinya lagi. Masalah ini benar-benar telah menyita waktu dan pikirannya.
“Tapi setidaknya aku lega karena Zara sama anakku baik-baik aja.” Rayyan menahan dirinya agar tak sampai mengeluh.
Telepon yang berdering kini mengalihkan fokusnya. Papa memanggil ....
“Iya, Pa?”
“Sudah di mana kamu sekarang?” tanya Yudha yang saat ini masih berada di kantor kepolisian.
“Masih jauh, Pa. Baru keluar dari RS.”
“Papa tidak bisa menunggumu karena harus segera menyusul Mamamu sekarang. Jadi tolong kamu jemput Umar. Dia minta datang ke sini setelah mendapat kabar ini, tapi sayangnya tidak ada kendaraan yang bisa dia pakai.”
“Apakah harus, Pa? Umar emosian. Aku takut dia berbuat yang tidak-tidak di sana.”
“Mungkin kalau di kantor polisi dia tidak akan melakukannya.”
Dan kekhawatirannya nyata terjadi. Umar meradang-radang di kantor polisi. Pria itu hampir saja memukul Sammy yang pada saat itu wajahnya sudah babak belur karena beberapa pukulan. Entah dipukul oleh siapa saja, yang jelas Sammy sangat terlihat menyedihkan. Wajah yang biasa putih bersih itu kini berubah merah kebiruan. Demikianlah yang biasa terjadi jika seseorang, siapa pun itu yang masuk ke dalam sel tahanan. Sakit, perih, tertekan, malu, bahkan tak berdaya.
“Demi Tuhan, Mar. Aku nggak berbuat macam-macam sama saudaramu. Aku hanya menolongnya, Mauza kedinginan karena kehujanan,” jelas Sammy berusaha membela diri di tengah ketidakberdayaan nya.
“Alah, basi!?” sentak Umar dengan sorot mata menyala. Lagi-lagi anggota tubuhnya tertahan oleh Rayyan pada saat dia hendak memukulnya. Dia tampak emosi sekali. Darahnya meruap-ruap melihat tampang menyebalkan pria songong di depannya. “Lepasin, Kak. Lepasin! Laki-laki modelan seperti dia mana bisa dipercaya?! Aku heran, kenapa dua adik perempuanku harus digilir sama satu orang ini. Apa itu tidak memuakkan?! Sok kegantengan!?”
“Umar?!” balas Ray lebih keras lagi, “tahan dirimu sedikit. Memukulnya sama saja menimbulkan masalah baru. Kamu bisa dilaporkan atas kasus penganiyaan. Nggak ada salahnya kalau kita dengarkan penjelasan dia dulu. Bagaimana kalau ternyata dugaan kita salah?”
Sammy menunduk, dia menunggu Ray kembali berkata sesuatu.
“Aku berikan kamu kesempatan untuk menjelaskan,” kata Ray setelah suasana Umar tampak lebih tenang.
“Terima kasih, Pak Ustaz. Saya akan jelaskan,” Sammy membalasnya. Lalu mulai menceritakan bagaimana itu semua bisa terjadi. Awal dari mereka bertengkar, kemudian Mauza marah padanya sampai gadis itu lari meninggalkan studio.
__ADS_1
“Ya, ini salahku. Semua salahku karena sudah coba-coba mendekati Nai hanya untuk menyakitinya. Wajar kalau Mauza ataupun kalian sangat marah. Aku siap menerima segala sesuatunya, apa yang akan kalian lakukan terhadapku.”
“Tentu saja aku akan mencekikmu sampai-”
“Mar?!” potong Rayyan agar Umar tutup mulut. Mata itu melebar seolah memberinya peringatan dan bahasa supaya dia terdiam menunggu lawannya selesai bisa.
Lantas Sammy melanjutkan, “Kami kehujanan selama beberapa lama. Tapi masih dalam keadaan bertengkar karena Mauza tetap bersikeras menjauhiku dan menyuruhku untuk cepat pergi. Sedangkan di sisi lain, aku juga mengkhawatirkannya.”
Sammy melanjutkan, bahwasanya ia tak tega meninggalkannya dalam keadaan demikian. Mauza seorang gadis, pergi dalam keadaan marah, hujan lebat, malam-malam, hanya sendirian pula. Apalagi Mauza tak membawa barang-barangnya, ponsel, dompet dan lain-lain. Secara diam-diam, dia pun mengikutinya sampai Mauza berteduh.
“Setelah aku pikir Mauza dalam keadaan aman dan hujan mulai reda, aku mutusin buat balik ke studio karena takut Zara mencariku. Tapi nggak lama setelah itu, aku justru melihat Mauza pingsan. Aku menolongnya dan membawanya ke penginapan terdekat,” jelasnya menarik napas sejenak, “dan satu lagi, bukan aku yang menggantikan bajunya, tapi room service perempuan yang sedang bertugas malam hari.” Penjelasan Sammy harus terhenti karena sontak di sela oleh Umar.
“Lalu kenapa nggak kamu antar pulang, atau pesankan dia kamar yang lain, bodoh?”
“Umar, aku ini sedang buntu. Tadinya Mauza mau aku anterin pulang saat itu juga. Tapi aku capek sekali, Mar. Aku berniat tiduran selama beberapa menit saja agar tubuhku bisa sedikit membaik. Tapi nggak tahu kenapa malah ketiduran sampai pagi.”
“Alasan saja kamu?!” Umar masih belum bisa menahan emosinya, “jawab, sudah kamu apakan saja adikku!? Kamu sudah menghitamkan namanya!”
Andai tak di nodai sekalipun, nama Mauza akan tetap hitam. Ternoda. Kejadian ini sangat berpengaruh pada masa depannya kelak. Semua orang yang mendengar pasti akan mengira bahwa Mauza sudah tak suci lagi.
Memangnya siapa yang mau mempercayai bualannya, bahwa mereka tak pernah melakukan apa-apa di sana? Laki-laki dan perempuan di satu kamar hotel yang sama? Semalaman? Apalagi kalau tidak untuk melakukannya hal itu?!
Bahkan nama keluarganya pun saat ini sudah ikut tercoreng karena satu orang ini, sialan! Pikir Umar sedemikian jauh.
“Aku nggak nyentuh dia, Umar. Demi Tuhan, aku rela Tuhan cabut nyawaku sekarang juga kalau aku berbohong. Aku emang orang brengsek, sangat jauh sekali dari orang-orang alim seperti kalian. Tapi aku tahu batasanku. Aku nggak akan merusak perempuan yang mati-matian menjaga dirinya. Tanyakan hal ini padanya kalau kau tak percaya. Sudahlah ... kalau kalian memang sangat ingin aku di sini, tidak apa-apa. Aku terima.”
Sammy pasrah pada akhirnya karena tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia pun meminta sipir untuk mengembalikannya ke sel. Mau tak mau ia harus menjalani hukumannya jika Mauza pun enggan menceritakan kebenarannya.
Bersambung.
Sorry genks, nulis sambil ngantuk nih. Kalau ada yang salah sila di komen di paragraf aja ya✌️🥱
__ADS_1
Happy reading. Mon maaf telat karena otor abis pergi keluar kota.