
181
Umar menguap berkali-kali saat ia bangun dari tempat tidurnya. Bahkan saat berjalan keluar pun, dia masih merem melek. Matanya sulit dibuka.
Begitulah rutinitasnya sepanjang hari. Umar akan tidur lagi setelah dia melakukan kewajibannya. Biasanya sarapan sudah siap saat dia bangun.
Umar sangat dimanjakan oleh Alma. Sehingga lambat laun, dia sangat bergantung pada wanita itu. Bahkan urusan sekecil apapun, termasuk dalaman, sudah di siapkan oleh Alma. Umar hanya tinggal mandi, makan, lalu keluar rumah. Kemudian pulang juga sudah dipersiapkan lagi.
Alma benar-benar istri yang top-markotop. Kalau saja pahala itu nyata terlihat, mungkin Alma sudah banyak mengantongi pahalanya. Hasil dari baktinya kepada sang suami.
“Alma!” Umar memanggil wanita itu saat dia keluar kamar. Kurang afdol rasanya jika pertama kali bangun tidur, ia tak melihat istri tercinta.
“Almahyra!”
Eits, tunggu! Kok sekelilingnya jadi gelap? Ada di mana dia sekarang ini?
Umar mengucek matanya agar tak terlalu kabur. Barang kali dia salah lihat.
Yah ... ternyata Umar salah jalan. Tujuannya mau masuk ke dapur malah menyusup ke gudang. Habis mimpi apa barusan? Inilah akibat kalau dia merem terus.
“Ya Allah, Bang? Kamu ngapain masuk ke gudang?” Alma terkekeh saat melihat suaminya seperti orang bingung dan linglung di sana. Mana rambutnya berdiri semua seperti habis kena badai petir.
“Aku mau mencari mu ke dapur. Tapi kenapa malah jadi ke sini?”
Alma menarik Umar dari gudang, lalu menguncinya kembali.
“Makanya kalau bangun tidur itu duduk dulu, berdoa, habis itu ke kamar mandi. Minimal cuci muka.”
“Aku takut kamu ilang,” jawabnya seraya terus menguap.
“Abang ih, kalau mau nguap itu ditutup. Pamali. Terus bajunya ke mana?”
“Malas pakai baju. Panas.”
Kebiasaan. Umar tidak pernah pakai baju kalau tidur. Bikin malu saja.
__ADS_1
Keduanya berjalan ke ruang tengah. Mengetahui apa yang akan terjadi di sana, Bi Yati yang sedang mengepel langsung melarikan diri. Pasalnya pagi hari seperti ini bagi mereka adalah time to manja-manjaan dan bucin-bucinan.
Beruntung wanita itu sudah tua; sudah kenyang dengan masalah percintaan. Kalau yang kerja di sini masih gadis, pasti bakal ambyar melihat kemesraan mereka berdua. Besoknya auto nikah.
“Kan aku dah berkali-kali bilang. Kalau habis subuh jangan tidur lagi. Nggak baik.” entah berapa kali Alma berkata demikian. Tapi tak pernah digubris oleh suaminya yang super cuek itu.
“Yang penting udah salat subuh,” Umar beralasan seperti yang dikatakan oleh orang-orang pada umumnya.
“Ada salah seorang ulama yang bernama Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, beliau berkata, tidur setelah subuh berbahaya bagi tubuh karena bisa melemahkan dan merusak badan. Sebab ada sisa-sisa metabolisme yang seharusnya diurai dengan berolahraga atau beraktifitas,” papar Alma menurut pengetahuan yang masih dia ingat.
“Ya, besok-besok,” Umar menanggapi.
“Besok-besok apa?” Alma memastikan karena menduga nyawa pria ini belum terkumpul. Sebab Umar kini tengah terpejam di pangkuannya. Mengusek-usekkan kepalanya diperut layaknya anak kecil kepada ibunya.
Umar berkata setengah menggumam, “Katanya suruh olahraga? Nggak tidur lagi?”
“Kupikir Abang nggak denger. “Mandi sana!” titah Alma.
“Masih ngantuk, Al. Sebentar lagi ....”
“Lima menit lagi.”
Tawar menawar pun dilakukan. Namun setelah beberapa menit berlalu, pada akhirnya bukan hanya Umar yang saja kembali tertidur, melainkan Alma juga.
Mereka baru bangun satu jam kemudian. Lalu membersihkan diri sama-sama. Ya, membersihkan diri versi mereka.
Sekitar jam sembilan, Umar baru berangkat dari rumah menuju ke Cafe untuk mengontrol sekaligus mengambil pemasukan. Dia juga sempat melakukan pertemuan dengan beberapa orang yang ingin menawarkan produknya, barulah setelah itu ia menuju ke Tangsel. Ada hal penting yang harus dia selesaikan sendiri.
Ada project baru yang rencananya akan melibatkan Pak Jamal juga untuk mencarikannya tempat yang strategis.
Seharian Umar berada di sana untuk mengunjungi beberapa lokasi yang bisa dia sewakan dengan bujetnya. Mulai dari satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya dia menemukan tempat itu.
Umar menyudahi kunjungannya pada saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Lagipula, Alma sudah wara-wiri menghubunginya dan menanyakan jam berapa dia pulang.
“Ini udah jam tujuh lho, mau sampai jam berapa nanti. Dah tahu Cirendeu, Lebak bulus macetnya kayak apa,” kata Alma setengah merengek.
__ADS_1
“Sebentar lagi, Al. Ini udah mau jalan.”
“Oke, Miss you.”
“Miss you to.”
Keduanya saling berbalas kiss seolah mereka tengah berciuman langsung. Sebenarnya menurut Umar ini aneh. Tetapi, lagi-lagi karena Alma lah yang membuatnya mau melakukannya.
Telepon ditutup. Namun baru saja masuk ke mobil, telepon kembali berdering. Sehingga ia mengurungkan niatnya untuk menyalakan mobil.
“Aris,” gumam Umar. Aris dalah salah satu pegawai Cafenya. “Ngapain dia telepon malem-malem gini?”
Umar menggeser icon panggilan di layarnya, lalu menempelkannya di telinga. “Iya, Ris? Kenapa?”
“Ada perempuan yang ingin bertemu dengan Anda, Pak,” jawabnya.
“Siapa?”
“Ibu Sarah.”
“Saya nggak ada janji sama dia, suruh pergi saja. Saya sedang sibuk.”
“Saya juga sudah bilang seperti itu, Pak. Tapi orangnya nggak mau pergi. Ada hal sangat penting yang harus dibicarakan dengan Anda, begitu katanya Pak.”
Umar mematikan telepon. Mau tak mau, ia harus menemuinya.
“Mau apa lagi dia?”
Satu setengah jam berlalu. Akhirnya Umar sampai di tempat tujuan.
Terlihat wanita itu sedang duduk termenung sendiri di tempat paling ujung. Seperti yang biasa Sarah lakukan dulu saat mereka baru pertama kali berkenalan. Dia selalu terlihat melankolis. Demikianlah dulu cara Sarah membuatnya iba, lalu muncul hasrat ingin melindunginya, dan lama-kelamaan akhirnya jadi perasaan cinta.
“Awas saja kalau minta belas kasihan!” batin Umar percaya diri.
Bersambung.
__ADS_1