Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Biar Adil Dua-Duanya


__ADS_3

120


“Ra ...” panggil Rayyan karena dari tadi Zara hanya diam saja, tepatnya semenjak mereka pulang dari kediaman Kyai Mohd Noor.


Tidak ada orang lain di mobil ini selain mereka berdua, lantaran Mauza, Rayyan perintahkan pulang bersama security yang mengantar mereka menyusulnya.


“Apa?” jawab Zara singkat tanpa menoleh.


“Kamu marah, ya?”


“Nggak.”


“Kalau nggak kenapa diam?”


Bahkan pemandangan pinggir jalan raya lebih menarik baginya daripada suaminya sendiri.


Rayyan mengulurkan tangannya untuk mengusap perut sang istri. Dan dia tersenyum karena usapannya kali ini dihadiahi getaran-getaran kecil yang begitu terasa di telapak tangannya. Sebelumnya belum pernah, sehingga Ray merasa haru. “Pinternya anak-anak Abi ....”


Namun karena sedikit meleng, Ray dan Zara hampir saja celaka. Sebab kini kendaraan besar dengan kecepatan di atas rata-rata, berlari menuju ke arahnya karena mobil ini terlalu memakan jalan ke tengah-tengah.


“By! Awas!” teriak Zara dengan mata dibelalakkan. Tangannya pun sontak erat mencengkeram pegangan yang ada di atas samping kepalanya agar dia bisa bertahan di tempatnya.


Huh, sedikit lagi mereka pasti keserempet kalau saja Ray tidak segera membelokkan sedikit setirnya. Keduanya bernapas lega dan mengucap hamdalah karena baru saja lepas dari maut.


Ray menepikan mobilnya untuk memastikan keadaan Zara sekarang. “Kamu nggak papa, kan? Ada yang kena, atau sakit?”


“Nggak ada,” jawabnya. Kedua bola matanya terlihat berkilauan. Menyesali dirinya yang terlalu marah dan berakibat mengundang bahaya.


“Atau kamu mau minum?”


Zara menggeleng. Dia hanya butuh pelukan sekarang. Untungnya, Rayyan peka dengan bahasa tubuhnya.


“Maaf aku hampir mencelakai kita semua,” kata Rayyan sembari memeluk dan mencium bibirnya. Dia juga menyesali tindakannya yang tidak berhati-hati. “Ya sudah kita lanjut lagi.”


Namun karena situasi sedang tidak menyenangkan, Rayyan tidak membawanya pulang ke rumah, melainkan ke salah satu Hotel yang tidak jauh dari sana.


Dia ingin menyelesaikan masalahnya berdua tanpa ada siapapun yang tahu. Dan itu hanya bisa dia dapatkan di tempat lain, bukan di rumah yang terdapat banyak anggota keluarga. Sedangkan, pulang ke rumah Mami Miranda juga tak mungkin. Sebab situasi belum benar-benar aman.


“Nggak papa, malam ini kita di sini?” Rayyan bertanya lagi untuk memastikan. Tapi ternyata, Zara setuju-setuju saja untuk dibawanya ke mana pun.


Zara turun menggunakan cadar yang selalu tersedia di mobilnya untuk menghindari pandangan atau tangkapan layar orang-orang. Pun dengan Rayyan yang juga memakai masker agar wajahnya tak terlalu kentara. Kemudian, melakukan check in.

__ADS_1


Hanya menunggu beberapa menit, keduanya di antar oleh petugas Hotel ke unit kamar mereka.


Pintu langsung dikunci karena Rayyan ingin segera menghamburkan tubuhnya ke pelukan Zara serta menyampaikan permintaan maafnya kepada istrinya itu.


“Aku sengaja nggak ngasih tahu sama kamu supaya kamu nggak ikut. Eh, Mauza malah nganterin kamu ke sana. Jadi kacau suasananya.”


“Kacau karena nggak bisa meluk mantan lebih lama?” sindirnya membuat Rayyan terkekeh.


“Aku suka melihatmu cemburu. Itu tandanya aku semakin dicintai.”


Zara tak menanggapi. Karena wanita itu malah membuka semua kancing-kancing kemejanya hingga terlepas.


“Kenapa dibuka?” Ray mengernyit, “apa kamu mau?”


“Jangan kepedean, Suami,” cibirnya dengan lirikan sebal, “ini bajunya tadi udah kena tangan sama tubuh Hamidah, jadi harus direndam sama air panas. Kamu juga harus mandi, aku nggak suka kamu bau parfumnya.”


“Sampai segitunya?” lagi-lagi Ray tersenyum, “padahal cuma sebentar banget.”


“Nggak peduli mau sebentar mau lama, pokoknya kamu harus mandi.”


“Terus besok aku pakai apa kalau bajunya di rendam di sini?”


“Ya, nggak usah keluar sampai bajunya kering.”


“Loh, kenapa kamu lepas juga bajuku?”


“Nggak adil kalau cuma aku yang nggak bisa keluar,” ujar Rayyan menanggapi pertanyaan Zara, “kita akan menghabiskan waktu di sini sama-sama.”


“Kalau begini caranya, bisa-bisa yang keluar empat,” akhirnya Zara tak kuasa menahan tawa.


Baju-baju Zara mulai teronggok di lantai. Keduanya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka mandi bersama.


Di kediaman Al Fatir.


“Kok pulang sendiri? Kakakmu mana?” tanya Vita begitu Mauza sampai di rumah.


“Kirain udah nyampe duluan, Ma. Ternyata belum?” jawab Mauza menuangkan air minum ke dalam gelasnya. Melihat pertarungan mantan istri dan mantan suami membuat tenggorokannya lumayan kering. “Mungkin sebentar lagi kali.”


Mauza mengambil tempat duduk.


“Nggak berantem kan mereka?” Vita mendekati sang anak dan mendaratkan tangannya di pundaknya. Memijatnya pelan.

__ADS_1


“Ya gitulah Ma. Hamidah masih sama kayak dulu. Susah dibilanginnya. Bikin eghhh!” Mauza mengekspresikan bagaimana gemasnya dia terhadap mantan kakak iparnya yang super mengesalkan itu dan suka semau-maunya sendiri. “Pakai peluk-peluk segala lagi.”


Vita mengerjap tak percaya mantan menantunya bisa melakukan hal sedemikian lancangnya kepada lelaki yang sudah berstatus menjadi suami orang. “Hamidah berani peluk Kakak?”


“Iya. Tapi Kak Ray langsung lepas, kok. Untungnya Kak Zara nggak begitu baperan. Jadi mereka nggak berantem di sana.”


Oleh karenanya, Vita berpikir, mungkin mereka sedang menyelesaikan masalahnya berdua di luar. Bisa saja ke Cafe atau ke Hotel misalnya, seperti yang dia lakukan saat waktu muda dulu saat mengalami masalah. Vita tersenyum. Ray tidak beda jauh dari sang ayah.


“Nah, itu tuh! Sebelah situ sakit, Ma. Lebih keras lagi,” pinta Mauza merasai badannya yang pegal-pegal.


“Kesempatan ini, mah,” balas Vita meski tangannya masih saja bergerak.


“Salah Mama sendiri pegang-pegang. Kan, aku ketagihan jadinya.”


♧♧♧


Kedua bola mata Hamidah terlihat sembab setelah menangis sepanjang malam. Rasa malu juga tidak dapat dia enyahkan dari wajahnya, sehingga dia memutuskan untuk menutupinya dengan cadar, agar tak menjadi perhatian orang-orang.


Sebenarnya, tidak ada semangat untuk mengajar hari ini, kalau saja Hamidah tak mengingat tanggung jawabnya. Namun apa yang terjadi setelah Hamidah sampai di sana?


Hamidah justru dipanggil oleh Kepala Ponpes yang menyatakan bahwa beliau telah mengundurkan dirinya dari sana dan tak diperbolehkan untuk mengajar lagi.


“Kebetulan sudah ada yang menggantikan posisimu, Ning. Jadi sekali lagi ... saya minta maaf yang sebesar-besarnya,” ujar pria itu sopan dan terdengar sangat berhati-hati.


“Ta-tapi kenapa? Saya nggak bikin masalah di sini,” ujar Hamidah tak habis pikir dengan apa yang baru saja dia terima.


“Memang Ning nggak bermasalah di sini, tapi masalah Ning di luar sana terbawa masuk ke dalam dan kami tidak mau itu.”


Hamidah menunduk malu.


Berita ini sudah menyebar di area Ponpes dan jelek sekali terdengar di telinga beliau. Sebab menurutnya, seorang pengajar harus baik perilaku maupun tutur katanya. Agar bisa menjadi contoh bagi murid-murid mereka.


“Saya sudah bicarakan ini semalam dengan Pak Kyai Mohd Noor juga. Jadi nggak masalah, ya.”


Ya sudahlah. Mau diapakan lagi. Dia sudah dikeluarkan, pikir Hamidah pasrah. Dengan berat hati, dan menahan malu, wanita itu berpamitan kepada rekan-rekannya yang lain. Kemudian pergi.


Di perjalanan, tangisnya kembali mengalir deras. Hatinya begitu perih.


Hamidah sadar, tidak seharusnya dia mencintai seorang makhluk melebihi dia mencintai-Nya. Karena pasti akan demikia akibatnya. Kecewa.


“Apa ini yang di maksud oleh Ny. Miranda kemarin?” Hamidah bergumam.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2