Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Mengecewakan


__ADS_3

153


“Aku titip mereka di rahimmu, semoga tumbuh dan menjadi bukti cinta kita,” ujar Andre begitu mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan.


Tentu setelah sang istri mendapatkannya lebih dulu. Seperti itulah yang seharusnya suami lakukan. Tak pergi sebelum istrinya juga merasakan kenikmatan yang sama.


Memangnya ada, lelaki yang demikian?


Ada. Banyak!


Bahkan lebih buruknya lagi, dia lekas-lekas tidur setelah itu tanpa merasa bersalah. Seolah-olah, seorang istri memang ditakdirkan untuk menyenangkan suaminya saja, atau memuaskannya saja. Tanpa berkesempatan untuk mendapatkan hak yang sama.


Padahal, meninggalkan istri sebelum dia menyelesaikan hajatnya adalah tindakan yang menyakitkan bagi mereka. Pun dapat menimbulkan bahaya yang besar andai itu terus-menerus terjadi.


Adapun keburukan lainnya, mereka (laki-laki), tega menggauli istrinya seperti cara bercampurnya para binatang. Yaitu tanpa melakukan pengantarnya dulu yang berupa ciuman, cum buan, pujian, serta kata-kata manis. Sungguh keji lelaki seperti itu sehingga membuat perempuannya merasa payah.


Itulah kenapa di dalam rumah tangga sering terjadi yang namanya aib perselingkuhan. Bukan lelaki saja yang mempunyai mata keranjang. Sebab wanita pun, sama-sama memiliki potensi.


Demikian karena si suami tak menggaulinya dengan baik, sungguh-sungguh di ranjang, dan penuh kasih sayang di dalam kehidupan rumah tangganya.


Pernah berumahtangga membuat Andre sedikit banyak mengerti hukum-hukum pernikahan. Sehingga bisa dia praktekkan pada pernikahan berikutnya. Andre berharap Nai menjadi yang terakhir baginya, dan segera memberikannya keturunan sebagai ganti kepergian anak pertamanya, Fero.


Nai terkulai lemas setelah selesai melakukan tujuan mereka. Perjalanan yang cukup menguras tenaganya, memompa jantungnya lebih cepat, dan membuat suhu ruangan menjadi lebih panas hingga membuat tubuhnya dipenuhi keringat.


Sebelah lengan kokoh melingkupinya, membalikkan tubuhnya agar saling berhadapan. Satu kecupan mendarat di keningnya yang membuat dia merasa satu tingkat lebih tinggi.


“I-L-Y,” ujar Andre membuat Nai mengernyit. “Nggak tahu?”


“Nggak,” jawab Nai tak sedang berbohong.


Suatu kebiasaan yang Andre lakukan. Pria itu menyentil keningnya dengan punggung jarinya sampai Nai mengeluhkan sakit.


Katanya pengen romantis. Giliran di romantisin duluan malah nggak paham. Dasar perempuan! Batinnya meneriaki.


“Tidur!” titah pria itu menutup mata bulat Zunaira yang masih saja segar setelah aktivitas melelahkan mereka.


“Jail, ih!” Nai menyingkirkan tangannya.


“Kalau nggak tidur-tidur, kamu bisa kena lagi.”


“Itu sih, emang maunya kamu.”

__ADS_1


“Maunya kamu juga.”


“Masih perih, hei!” kata Nai sedikit menyentak.


“Tapi boleh?” Andre kembali memintanya dengan hati-hati.


“Boleh, tapi besok kalau aku nggak bisa jalan kamu tanggung jawab, ya!”


Es batu tengah bercanda, “Kamu yang nanggung, aku yang jawab.”


Satu bantal guling melayang mengenai tubuh Andrea. Keduanya tak langsung tidur malam itu karena sisa kantuknya di habiskan untuk bercanda dan berbagi cerita tentang pengalaman hidup mereka, agar saling mengetahui masa lalu masing-masing.


Tentu tak berlebihan karena selain tak ingin merusak malam pertama mereka, keduanya juga harus saling menjaga perasaan pasangannya.


♧♧♧


“Gimana setelah kemarin kamu sudah ketemu sama Almahyra?” tanya Yudha keesokan harinya pada saat keduanya berkesempatan untuk duduk berdua.


Mereka baru saja membahas pekerjaan yang kemarin sempat terbengkalai. Ya, mumpung masih ada waktu sebelum berangkat, pikir Yudha melihat jam tangannya.


“Biasa aja,” jawab Umar tanpa menunjukkan ekspresi yang Yudha harapkan.


“Masih belum juga bisa menggantikan posisi Sarah?”


“Tapi cantik? Sesuai sama tipe mu?” Yudha bertanya lagi.


Umar mengangguk walaupun dia tidak tahu bagaimana keseluruhan wajah Alma yang sesungguhnya. Tetapi dari penglihatannya kemarin, wanita itu memiliki tatapan mata amat teduh dan mempunyai gesture tubuh yang anggun. Ketebalan alisnya sedang, bergradasi dan tertata rapi. Bulu matanya tebal meski tak dipakaikan riasan. Dari kulit tangannya terlihat sangat putih, dan tetap stylish meskipun dia mengenakan cadar.


Sekilas, Umar memujinya. Tetapi batinnya segera menampik jika dia teringat akan Sarah serta kebersamaan yang selama ini mereka ciptakan.


Oh tidak, Umar malah sedang membayangkan tubuh sempurna Sarah yang sudah pernah dia lihat waktu itu. Jujur saja, dia jadi candu dan terus terngiang-ngiang setelahnya, bahkan pernah melakukan perbuatan paling memalukan itu sendiri.


Ya Tuhan, maafkan aku. Aku tidak pernah sekurangajar itu sebelumnya.


Sepertinya, dia memang harus secepatnya menikah kalau tak mau bahaya tersebut terus terjadi.


“Umar!” panggil Yudha karena Umar tak kunjung menyahut.


“Iya?” jawab Umar gelagapan.


Yudha mendecak kan bibirnya. “Telinga kamu banyak kotorannya sepertinya. Papa panggil-panggil kamu sampai tiga kali tapi nggak nyahut juga!”

__ADS_1


“Maaf, Pa.”


“Kenapa? Lagi ingat janda itu?” tudingnya sangat tepat.


“Papa kenapa, sih? Kenapa sepertinya benci sekali sama Sarah? Menjadi janda juga bukan keinginannya, Pa!” protes Umar lantaran tak mau jika Sarah terus dibawa-bawa ke setiap perbincangan mereka. Dia orang yang paling mengenali Sarah dan wanita itu tak seburuk yang mereka pikirkan.


Sarah sebenarnya wanita yang baik, hanya saja dia sedang tertekan, hilang arah dan butuh bimbingan. Bukan malah dihakimi, seolah tidak pantas untuk bisa berada di sini bersama mereka.


Andai saja papanya tahu....


Ah, percuma saja. Tidak ada yang mau tahu apapun tentang dirinya. Mereka tak peduli.


“Oke, maaf kalau Papa salah. Bukan statusnya yang Papa maksud. Papa hanya malas menyebut namanya.” Yudha tidak pernah gengsi untuk meminta maaf kepada orang yang lebih muda darinya jika dia memang bersalah. Agar, anak-anaknya juga bisa melakukan hal yang sama sepertinya.


“Memangnya Sarah pernah bikin kesalahan apa sama kalian?” sambung Umar.


“Karena dia sudah banyak mengubah kepribadian mu!” sela Yudha segera. “Kamu banyak melawan orang tua setelah kenal wanita itu. Nggak sadar kah, Mar?”


Yudha mengelus dadanya. “Sakit, hati Papa, Mar. Setiap bentakan dari seorang anak pada orang tuanya adalah luka. Terus terang ... kami capek mendidik mu. Nggak ada anak-anak Papa yang lain seperti kamu ini.”


Umar diam saja. Dia melihat wajah Papanya yang memerah karena menekan luapan emosi yang sebenarnya sudah banyak dia tahan-tahan selama ini.


Tak berapa lama, pria itu berlalu begitu saja dari hadapannya.


Merasa tidak enak hati, Umar pun mengejarnya. Namun sayang, pintu kamarnya sudah tertutup rapat. Dan dia terlambat untuk menghentikannya.


“Pa!” seru Umar dari balik pintu. “Maafin Umar, Pa.”


Sunyi.


Tak ada sahutan dari dalam.


Kalau sudah seperti ini. Ngalamat. Umar tak bisa berbuat apa-apa lagi selain pasrah dengan keadaan yang terjadi.


Umar pun menoleh ke belakang, dia melihat mamanya yang ternyata juga tengah memperhatikannya diam-diam. Tetapi setelah sesaat saling bersitatap, wanita itu melanjutkan kembali aktivitasnya tanpa mengatakan apapun. Mungkin ... dia juga sudah terlanjur kecewa.


Dan lagi-lagi karena ulahnya.


“Yang aku heran, kenapa aku nggak pernah ada benarnya di mata kalian? Selalu saja salah.”


Umar pun melangkah pergi.

__ADS_1


♧♧♧


Bersambung.


__ADS_2