
79
Akan tetapi ... sepertinya Vita tidak bisa memaksa sang anak setelah melihat ekspresinya yang hampir menangis. Oleh karenanya, dia tersenyum lalu berkata dengan lembut agar tak sampai menyakiti hati anaknya, “Ya, sudah. Kalau memang Zunei tidak mau menjawab sekarang, nggak papa. Tapi besok-besok kamu harus jujur sama Mama, ya!”
Zunaira mengangguk. Pun dengan Mauza yang akhirnya mengalah untuk tak melanjutkan keributan ini.
Ternyata ia tidak setega itu memperlakukan sang adik yang sudah hampir menangis. Zunaira tak mempunyai mental sekuat dan sebaja dirinya andai disudutkan seperti yang baru saja terjadi.
“Maaf, Zun. Udah, kamu nggak usah nangis. Aku cuma nggak mau kamu dapet cowok blangsak. Karena aku yakin kamu nggak pintar-pintar amat menilai kaum berpedang.”
“Orang dia cuma nanya kabar aja, kok, Kak,” alasan Zunaira tetap sama. Dalam hati ia heran dengan kakaknya. Sampai segitunya dia memikirkan dirinya. Padahal mereka hanya berkirim pesan biasa. Tidak menjurus ke hal-hal negatif karena justru saling mengingatkan dalam hal beribadah.
Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Mauza. Adiknya memang terlalu polos dan lugu untuk menilai gerak-gerik seorang pria yang mempunyai maksud tertentu.
Kasihan sekali kalau Zunaira justru masuk ke dalam perangkap pria yang kurang tepat. Dia terlalu baik untuk akhirnya disakiti.
Awal pertemuan mereka sebenarnya sangat sederhana. Yakni pada saat Zunaira ikut keluarganya melamar Zara untuk jadi istri Kakak pertamanya.
Pada saat itu Mauza dan Zunaira sedang foto secara bergantian di depan backdrop. Dan yang jadi masalah adalah, hasil foto yang dibidik oleh Mauza sangat jelek. Berbanding terbalik dengan Zunaira yang merasa sudah memotretnya secara maksimal.
Tak ayal, akhirnya keributan pun terjadi. Sebab Mauza tak mau mengulang untuk mendapatkan hasil lebih baik. Mauza memang kakak yang menyebalkan, pikirnya.
Pertikaian ini memancing seorang pria berkalung kamera untuk mendekat. Dia menawarkan diri dan langsung ditanggapi antusias oleh Zunaira.
Zunaira pun berpose sendiri dan merasa puas setelah mendapat hasil yang dia inginkan. Sebab saat ini ia membutuhkan feed terbaru untuk sosial medianya. Maklumi saja, dia hanyalah anak muda yang mempunyai banyak teman dan masih gemar memamerkan sesuatu yang menurutnya menyenangkan.
“Tapi aku mau gambarnya sekarang, bisa?” tanya Zunaira kepada pria yang bernama Sammy itu.
“Bisa,” jawabnya, “sebentar, aku salin ke sini dulu.” Sammy menunjukkan benda kecil berbentuk persegi panjang yang biasa digunakan untuk menyimpan file. “Nanti aku kirim ke mana?”
“Emmm....” Zunaira kesulitan menjawab karena dia tidak hafal nomornya sendiri.
“Do you have lovagram?”
“I-iya, aku punya.” Zunaira menunjukkan profilnya yang penuh dengan gambar estetik.
“All right.”
Tak berapa lama setelah pria itu pergi, Zunaira menemukan pesan berisi foto yang dia minta dan dia pun mengucapkan terima kasihnya lewat balasan.
Namun pada saat malam, dia kembali menemukan chat lagi dari pria bernama akun @Sammy_yunchen itu.
__ADS_1
Pria itu menanyakan apakah dia bagian dari keluarga Rayyan?
Lantas Zunaira pun menjawab: iya. Kemudian berlanjut menanyakan hal-hal lain yang sebenarnya hanya diujarkan untuk sekadar berbasa-basi.
Zunaira yang masih lugu pun, menjawab semua pertanyaan Sammy dengan sangat jujur tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Tidak ada air yang masuk kalau tidak ada celah pintu. Dari awal, Sammy memang mempunyai ketertarikan. Dan keyakinannya pun bertambah pada saat dia melihat foto-foto cantik Zunaira yang terpajang di feed lovagram nya, hingga menarik dirinya untuk mengenal lebih jauh.
Kini malam pun hadir, Vita mengadukan masalah ini kepada suaminya untuk meminta pendapat sekaligus solusi, bagaimana jika anak bungsunya itu mulai dekat dengan laki-laki?
“Itu artinya anak kita udah dewasa,” demikian tanggapan Yudha, “ya, meskipun aku juga tidak setuju dengan caranya pemuda itu. Seharusnya kalau suka dia datang ke sini. Minta izin sama kita.”
“Aku nggak masalah kalau laki-laki itu baik, Mas. Yang aku khawatirkan itu sebaliknya,” kata Vita lagi, “aku nggak mau kalau anak kita, Zunaira sampai dipermainkan sama laki-laki yang nggak bertanggung jawab. Anak kita bukan untuk coba-coba.”
Entah kenapa kalau dalam hal-hal demikian Vita masih lebih yakin dengan Mauza. Sebab anak perempuannya yang satu itu lebih berani dan lebih bisa membentengi diri dibanding Zunaira yang cenderung lemah dan mudah dibohongi. Itu saja yang dia khawatirkan sekarang.
“Siapa orang itu?” tanya Yudha.
“Zunaira belum mau menjawab. Aku beri dia kesempatan untuk menceritakannya sendiri lain waktu.”
“Tolong awasi dia jangan sampai keluar ke tempat-tempat yang kurang jelas.” Yudha berpesan seperti itu karena tak bisa menjaganya secara penuh karena kesibukannya.
♤♤♤
Sebelum mendapat rekan kerjasama yang cocok dari pabrik printing lain, hari ini Zara melakukan rapat dengan seorang desainer ternama untuk meluncurkan produk terbaru. Selain hijab dan produk-produk muslimah lainnya tentunya.
Kali ini, dia menggandeng Rakasiwi untuk memintanya mendesain sebuah produk berupa bag, yang bisa di klaim unggul dari berbagai hal. Baik dari segi kualitas, harga, mau pun kegunaan.
Asisten Sang Desainer yang bertugas untuk mendampingi atasannya itu kini menghubungkan laptopnya ke proyektor sehingga gambar yang ditujukan pun, nampak di layar lebar.
“Nah, kurang lebih seperti ini, Bu Zara. Dengan memakai jenis bahan yang sudah saya jelaskan tadi, selain bagus, kita masih bisa menjualnya dengan cukup terjangkau. Pas dan ramah di kantong anak-anak muda,” ujar perempuan itu menjelaskan keunggulannya. “Bagaimana menurut Anda?”
“Sepertinya saya cocok. Tapi ...” Zara menyebutkan kekurangannya beserta tambahan permintaannya.
“Baik, semua permintaan Ibu Zara sudah kami catat, ya. Sebagai contoh, nanti akan saya tunjukkan bentuk matangnya di pertemuan selanjutnya.”
“Kapan, Bu Raka?” tanya Zara.
“Secepatnya, nanti saya kabari lewat manager Anda,” Ibu Raka menunjuk Belle.
“Bel? Kamu ingetin saya kapan harus rapat lagi dengan beliau,” Zara memberinya pesan yang langsung ditanggapi oleh perempuan itu, “baik, Bu.”
__ADS_1
Minggu ini semua pekerjaan berjalan lancar. Pun dengan Rayyan yang sudah kembali mengajar di Ponpes, atau mengisi kajian-kajian terjadwal. Baik secara online mau pun offline atau ke tempat-tempat undangan langsung.
Namun ada yang mengganjal di hati Zara karena sampai detik ini, belum ada kabar terbaru dari kepolisian tentang pencarian tersangka pemukulan yang waktu itu hampir mengakibatkan pernikahannya dibatalkan.
“Belum ada kabar, tapi polisi masih terus melakukan pencarian kok,” kata Miranda pada putrinya yang baru saja bertanya soal ini.
“Polisi macam apa itu? Nyari satu orang aja nggak bisa.”
“Namanya juga manusia biasa. Tapi nanti pasti ketangkep, Sayang. Memangnya selebar apa dunia ini?” jeda sebentar, Miranda melanjutkan, “pasti Cici tahu di mana pacarnya, tapi sepertinya dia memang nggak mau Fasad cepat ditemukan.”
Namun pembicaraan harus terhenti pada saat keduanya mendengar ponsel Zara berdering tanda panggilan masuk. “Ray, Mam,” ucapnya memberi jawaban atas wajah penuh tanya wanita itu.
“Ya udah, kamu angkat aja dulu. Mami juga mau mandi,” Miranda masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia pun merasa tubuhnya lengket karena sama-sama baru saja sampai di rumah setelah seharian bekerja.
“Ya, Ray?” tanya Zara setelah panggilan tersambung, “ada apa? Katanya kamu mau pulang agak malam hari ini?”
“Kamu di mana?”
“Baru aja pulang,” jawab Zara.
“Kamu mandi sekarang, aku sudah dekat,” titahnya terdengar tak terbantahkan.
“Iya, nggak usah dibilangin juga nanti aku pasti mandi. Emang kenapa, Ray?” tanya Zara tak habis pikir dengan perintah suaminya yang menurutnya sangat tak biasa.
“Jangan banyak tanya dulu. Mandi aja cepat!”
“Iya, tapi kenapa?” tanya Zara lagi, “aku juga mau tahu alasan-”
“Ada yang menaruh obat perangs*ng di minumanku,” potong Ray segera.
“Maksudmu?” Organ tubuh paling penting di bagian dadanya seolah lepas seketika.
“Ya, aku butuh menyalurkannya sekarang. Simpan semua pertanyaanmu nanti kalau aku sudah tiba di rumah dengan selamat.”
“Ray ....” Zara terisak ketika sambungan telepon telah terputus.
Ya Tuhan ... apa lagi ini?
♤♤♤
Bersambung.
__ADS_1