
102
“Aku percaya Mauza bisa jaga diri. Tapi itu berlaku untuk martabatnya sebagai perempuan. Lalu, gimana kalau di serang secara fisik? Apa dia juga bisa menjaga dirinya?” Banyak sekali yang Zara terka-terka dalam pikirannya.
“Tolong jangan buat pikiranku bertambah keruh,” balas Ray dengan napas yang terdengar memburu, “kalian sudah mencari ke mana saja?”
“Aku dah hubungi dua-duanya, tapi nggak di angkat. Aku juga udah tanya-tanya sama hampir semua orang di studio, tapi menurut security yang lagi bertugas, mereka emang lihat dua orang keluar lewat lobby. Laki-laki dan perempuan dengan ciri-ciri yang hampir sama seperti Mauza sama Sammy.”
“Ra, tenang, jangan panik. Sekarang kamu pulang, ya. Aku lagi menuju ke sana.”
“Aku mau nungguin kamu di sini, plis ....”
“Zara, kamu pulang!” kali ini Ray lebih tegas daripada sebelumnya. “Tolong pedulikan kondisi kamu sekarang. Kamu sedang bertanggung jawab sama dua nyawa kecil lainnya. Ini udah malam. Kamu udah terlalu lama di luar, harus segera istirahat.”
“Aku baru bisa tenang kalau udah tahu pasti di mana mereka ....” akhirnya Zara tangis Zara pecah. “Gimana aku nggak panik begini? Mauza meninggalkan semua barang-barangnya di sini, By ....”
Wanita itu sesenggukan. Terbesit dalam hatinya rasa sesal karena telah mempertahankan Sammy di dalam lingkungannya. Andai Zara tahu apa yang bakal terjadi hari ini, pasti dia tidak akan segan mengeluarkannya saat itu juga. Sebab bagaimana pun, keluarga adalah segalanya baginya.
Rayyan yang ada di sana semakin kebingungan saat mendengar Zara menangis. Sedangkan perjalanan terasa sangat panjang dan tak kunjung habis ia telusuri walau sudah berusaha menginjak pedalnya lebih maksimal.
Kini dia beralih menghubungi keluarganya. Menanyakan: apakah adik bungsunya itu sudah pulang ke rumah?
Karena sampai detik ini, Mauza belum juga kembali kepada istrinya.
“Tadi istrimu sudah telepon Mama nanyain Mauza. Sekarang Kakak juga. Jangan bikin panik Mama sama Papa dong, Nak?” ujar suara Vita dari seberang. “Benar sampai sekarang belum balik?”
“Belum, Ma. Coba tolong tanyakan sama Zunai, ke mana biasanya Mauza atau Sammy nongkrong. Siapa tahu mereka ada di sana, mungkin sekedar cari kopi atau apa?”
Ray mencoba berprasangka baik. Ya, mungkin saja mereka mengantuk saat menunggui Zara syuting terlalu lama. Oleh karenanya, mereka mencari kopi atau makanan. Namun lupa untuk pamit atau memang tidak bisa melakukannya karena suatu sebab.
Atau Mauza sakit? Lalu Sammy mengantarkannya ke klinik? Atau ....
“Mauza nggak pernah seteledor ini sebelumnya. Kalau mau pergi, dia pasti pamit dulu sama orang terdekatnya, Nak ....” perasaan wanita itu kian gelisah. Dia menyerahkan ponselnya pada Si Bungsu.
“Sammy biasanya suka nongkrong di restoran dekat kantor sama Cafe Kenangan. Alamat rumahnya di Kelapa dua, komplek Hijau Indah no 1x. Kalau Kak Za ... aku kurang tahu, Kak. Soalnya tiap hari dia perginya berdua sama istri Kakak. Tapi mestinya kalau mereka pergi berdua, pasti ada di tempat yang sama,” papar Zunaira sebelum akhirnya panggilan telepon mereka akhiri.
Ray terlebih dahulu menyusul istrinya karena wanita itu menolak pulang jika tak bersamanya.
“Nai menyebutkan beberapa tempat yang biasa kunjungi,” ujar Ray kepada Zara saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Sementara Pak Heru sendiri ditugaskan untuk mencari ke tempat-tempat tongkrongan anak kota yang masih buka di jam-jam malam seperti ini.
__ADS_1
“Ya, kita akan cari ke sana,” kata Zara kemudian.
Namun, setelah beberapa jam mencari mereka berdua di tengah-tengah hujan lebat yang mengguyur gelapnya suasana kota, Sammy dan Mauza tak juga ditemukan.
Ray mendapat laporan dari rumah, bahwasanya Papa dan Mamanya juga ikut mencari. Tetapi hasilnya sama sepertinya. Nihil.
Tak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, Ray dan Zara memutuskan untuk melaporkan hilangnya kedua orang itu ke kepolisian.
Akan tetapi, lagi-lagi urusan mereka harus tersendat. Pasalnya untuk melaporkan kasus orang yang hilang, mereka harus menunggu selama 1x24 jam terlebih dahulu.
Sebab dari laporan yang mereka terima, tidak ada indikasi adanya dugaan pidana atas penyebab hilangnya terlapor, misalnya tentang penculikan atau pembunuhan. Intinya, laporan tidak bisa diproses saat ini juga lantaran tidak disertai saksi dan bukti yang kuat.
“By aku takut Mauza nggak di temukan. Atau di apa-apain sama Sammy,” kata Zara saat mereka sudah dalam perjalanan menuju pulang.
Kali ini Ray tak menanggapi. Pria itu tak mampu lagi untuk mengurai ulang penjelasannya supaya istrinya itu bisa tenang.
Ray paham, Zara sangat merasa bersalah karena merasa dirinyalah orang pertama penyebab hilangnya Mauza. Semua ini tidak akan terjadi apabila Zara tak membawanya ke sana.
“By perut aku sakit ....” Zara merintih sembari memejamkan mata dan mengusap perutnya.
“Eh, yang bener kamu, Ra?” Ray menoleh. Pria itu semakin panik. Pikirannya seketika bercabang memikirkan segala macam prasangka.
Entah apa yang menyebabkannya, Zara merasakan aneh di bagian bawahnya. Apakah kursi yang ia duduki juga terkena air hujan, sehingga terasa basah?
“Allah!” seru Rayyan menahan kilatan rasa pedih di ulu hatinya.
♧♧♧
“Aku bilang nggak usah ngikutin aku!” seru Mauza di bawah guyuran hujan.
Beberapa saat yang lalu Mauza memang pergi sendiri, berniat untuk menghilang sejenak dari keramaian.
Tapi tanpa dia sangka-sangka, ternyata Sammy mengejarnya, sehingga ia memaksakan kakinya untuk terus berjalan. Menjauhi pria yang sangat menyebalkan itu.
Mauza pikir Sammy akan berhenti dan menyerah, tetapi dugaannya salah. Sebab Sammy terus saja mengikuti ke mana pun dia pergi.
“Ini hujan apa kamu nggak lihat? Bajumu basah kuyup, lama-lama kamu bisa sakit, Mauza! Jangan ngeyel!” balas Sammy tak kalah nyaring.
“Pergi dari sini brengsek! Aku nggak mau, aku nggak peduli sama apapun yang kamu omongin sekarang! Pergi sana, PEMBOHONG!?”
“Aku mau bertanggungjawab atas kesalahanku, aku akan mengakuinya langsung sama Nai dan memberikannya kepastian. Tapi sekarang kamu pulang, ya? Aku antar ke rumah. Ini udah malam, selain bahaya, pasti keluargamu sedang mencarimu sekarang,” bujuk Sammy dengan suara pelan. “Ayolah, aku paham kamu sayang sekali sama adikmu, tapi jangan sampai kamu mengorbankan dirimu seperti ini.”
__ADS_1
“Aku bilang enggak ya enggak! Kamu denger nggak sih?” Mauza melempar apa pun yang ada di dekatnya untuk mengenai Sammy. Dia benar-benar benci sekali dengan pria ini. Ingin sekali memukul wajahnya yang pura-pura memelas di depannya. Baginya, yang terlihat sekarang Sammy adalah pria yang jahat, playboy, sok oke, sok kkegantengan, batinnya terus merutuk.
“Pergi?! Aku bilang pergi! Nggak usah ngikutin aku!”
Lantaran terus menolak, Sammy akhirnya berhenti di sini. Tetapi bukan berarti ia pergi begitu saja. Dia tak mungkin meninggalkan Mauza berjalan sendirian di malam-malam hujan gelap seperti yang sedang terjadi.
Ke mana Mauza akan berteduh?
Siapa yang akan melindunginya nanti kalau ada suatu bahaya yang mengancam?
Di dunia ini, tak semua orang baik hatinya. Apalagi para penjahat kelam*n yang suka berkeliaran di mana-mana. Mauza adalah perempuan yang masih gadis dan cantik tentunya. Tentu adalah santapan lezat bagi mereka yang haus akan kehangatan.
Sammy mengikuti saja ke mana pun gadis itu pergi secara sembunyi-sembunyi. Sampai akhirnya, dia berhenti di sebuah pos security kosong. Melihat dari bangunannya, sepertinya ruangan kecil itu memang sudah tak pernah digunakan lagi.
Sepertinya ada yang lupa. Mauza meninggalkan barang-barangnya di tempat penitipan. Dia tak membawa uang sepeserpun apalagi ponselnya sehingga gadis itu terlihat agak menyesal sudah pergi sedemikian jauh. Dan mungkin saja, dia juga telah lupa arah jalan pulang.
Baju basah kuyup, sendirian, malam-malam, tak bawa uang. Bukankah ini amat sial baginya?
“Makanya jangan keras kepala, siapa suruh kamu kabur sampai ke sana, hmm? Masalah aku cuma sama Nai, bukan sama kamu,” gumam Sammy dari kejauhan. Dia bersembunyi di balik salah satu rumah penduduk. Jarak antara mereka berkisar lima meteran, kurang lebih.
Sammy lupa. Nai adalah adiknya. Tentu saja Mauza akan marah besar setelah mengetahui kenyataan buruk ini. Siapa juga yang akan bersenang ria dan haha hihi setelah mendengar dengan mata kepala sendiri, jika saudaranya dipermainkan sesuka dengkulnya?
Pertanyaan yang ada di benak Mauza saat ini adalah, kenapa harus Zunaira yang Sammy gunakan untuk ajang coba-coba?
Kenapa tidak orang lain saja yang mungkin mempunyai mental lebih kuat?
Beberapa menit berlalu. Air hujan sudah mulai surut. Aspal pun perlahan juga mulai mengering dari genangan air.
Melihat demikian, Sammy memutuskan untuk kembali karena mengira situasi sudah mulai aman. Toh, Mauza juga menolak untuk dia temani. Gadis itu sudah sangat muak sekali dengannya.
Eh, tunggu-tunggu. Kenapa Sammy jadi sakit hati dan tidak rela jika Mauza muak kepadanya? Kenapa memangnya? Ada masalah?
Namun pada saat langkahnya mulai jauh, dia mendengar suara seperti orang terjatuh.
Nyata. Pada saat berbalik, dia melihat tubuh Mauza tumbang di aspal. Oleh karenanya, Sammy segera menghambur untuk menghampiri.
“Mauza!” serunya sambil mengguncang tubuhnya, “hei, bangunlah!”
Hening. Tak ada pergerakan dari tubuhnya apalagi suara selain bibir pucat yang bergetar. Fiks. Mauza kedinginan.
Pikiran Sammy buntu. Yang terlintas dalam benaknya saat ini hanyalah selimut. Ya, dia butuh selimut tebal untuk menggulung tubuh Mauza agar dia tak lagi kedinginan. Dan kain itu hanya bisa ia dapatkan di tempat penginapan.
__ADS_1
Dengan sekali hentakan, tubuh Mauza yang sebenarnya lumayan berat tersebut, berhasil terangkat di punggungnya. Sammy membawanya ke penginapan terdekat.
Bersambung.