
201
“Sakit nggak kakinya, Sam?” tanya Mauza karena mereka sudah berjalan cukup jauh. Memilih untuk pergi untuk menghindari perbincangan yang cukup asing bagi mereka.
“Dikit,” balas Sammy dengan napas terengah.
“Harusnya tadi aku minjam kursi roda aja.”
“Gapapa, sekali-sekali biar jalannya makin oke.”
“Tapi jangan maksain juga ya, Sam. Aku takut malah jadi cedera. Alhasil ... bikin kondisi kaki kamu makin memburuk.”
Sammy menggeleng. Ia tak mau dianggap lemah. Terlalu malu untuk mengeluh hanya karena sakit di kakinya, sebab di luaran sana banyak sekali orang susah yang lebih susah darinya.
Tak mengatakan apapun, Mauza menyerukkan pundaknya di bawah tangan Sammy. Membantu merangkulnya agar tubuh Sammy lebih seimbang.
“Kita mau pulang?” Sammy bertanya.
“Iya, tapi aku mau ngajak kamu duduk di sana dulu,” tunjuk Mauza pada kursi yang terletak di area taman rumah sakit tersebut.
“Kepalaku penat,” sambungnya. “Ya, barang kali kalau lihat yang ijo-ijo mata sama kepalaku bisa seger lagi.”
“Za,” ucap Sammy membuat Mauza menoleh seolah tengah bertanya: apa?
“Boleh minta peluk?”
Mauza tertawa kecil. “Kenapa harus minta? Tanpa kamu minta pun, aku pasti bakal memelukmu,” jawab Mauza sontak memeluknya.
Tanpa sadar, air mata Mauza mengalir deras di balik punggung suaminya. Dalam hati dia terus menyemangati diri, harus bersyukur, harus! Kamu nggak boleh melupakan nikmat Tuhan yang lain. Begitu seterusnya sampai Sammy bergerak melepas pelukannya.
Mauza menghapus segera air mata sialannya itu sebelum Sammy mendapatinya demikian. Khawatir, pria ini bertambah sedih melihat kondisinya. Dia sudah berjanji padanya untuk tak menangis lagi.
“Aku percaya, pelukan pasangan itu bisa membuat perasaan kita jadi lebih baik,” ujar Sammy menangkup sebelah pipi Mauza dengan satu tangannya, karena satu tangan yang lain digunakannya untuk memegang kruk.
Mauza mengangguk dan tersenyum.
Sedangkan di tempat lain, Umar-Alma, Zara dan Rayyan sedang berpencar untuk mencari keberadaan Sammy dan Mauza.
Setelah beberapa saat mencari namun tak kunjung ditemukan, mereka pun bertemu di satu titik.
“Gimana, ada nggak?” tanya Ray pada Alma dan Umar.
“Nggak ada,” jawab Umar. “Udah kucari ke mana pun padahal. Aku juga dah sempat tanya security mereka nggak terlalu ngeh.”
__ADS_1
“Apa kita cari ke parkir mobil?” Ray mengusulkan.
“Jangan gila Broh, mobil sebanyak itu mau kita cari satu-persatu? Kayak orang kurang kerjaan.” Umar tak setuju.
“Kupikir kita berpencar.”
“Cuma kita berdua yang berpencar. Alma sama Zara nggak perlu.” Umar berkata begitu karena dia memikirkan Alma.
Rayyan menyetujui sehingga akhirnya mereka pun berpisah. Tapi tak berapa lama, Umar malah menemukan kedua sosok manusia tengil itu berada di taman sedang cekikikan. Oleh karenanya, Umar segera menghubungi kakaknya untuk berhenti mencari.
“Kenapa? Udah ketemu?”
“Dua manusia tengil lagi bucin-bucinan di taman. Di depan pintu sebelah kiri.”
“Ok.”
Umar mengakhiri panggilan hingga kembalilah Ray padanya dan mereka langsung menghampiri Mauza dan Sammy bersama.
“Lho, kok? Ada kalian?” Mauza dan Sammy terkesiap saat melihat kedua saudaranya berdiri menjulang di hadapannya. Mereka bahkan kompak mengucek kedua bola matanya karena dikira salah melihat.
“Nggak mungkin kita nge-fly barengan kan, Za?”
Ya, mana mungkin mereka salah lihat secara bersamaan?
Umar mendengus mendengar Sammy bertanya seperti itu. Konyol. Nge-fly apa coba?
“Maaf, Kak.” Mauza menunduk. “Kami nggak ada dalam cerita kalian, kami nggak bisa terlibat. Jadi kami lebih baik pergi daripada nahan cemburu.”
Sammy memilih untuk diam.
“Maaf kalau pembicaraan kami bikin kalian nggak nyaman. Sebenarnya kami nggak ada niat buat kalian terbawa perasaan seperti ini.”
“I'm okay, Kak. Mungkin cuma kebetulan lagi baper aja kali.” Mauza memaksakan senyum.
“Kita balik ke sana, memangnya kalian nggak panas duduk di sini?”
“Seneng lihat yang seger-seger. Bikin hati damai.”
“Tapi mungkin kabar baik ini bisa bikin kalian lebih nyaman.”
Mauza mengerjap mendengar kakak pertamanya berbicara, lantas ia bertanya segera, “Kabar apa?”
“Udahlah, ayok. Jangan banyak tanya dulu, nanti kita omongin di sana. Panas ini, wey!”
__ADS_1
Mauza memasang wajah jeleknya pada saat Umar menimbrung. Seperti biasa, nada suara pria itu emang bikin orang jadi pengen ngajak gelud.
Ke empatnya kembali ke dalam. Mereka mencari tempat duduk yang sekiranya bisa dimuati oleh mereka bersama untuk menyampaikan suatu hal. Begitu juga dengan Alma dan Zara yang ikut bergabung di antara mereka. Ya, tentu saja. Sebab Zara lah yang akan menyampaikan kabar itu sendiri.
“Kalian bikin aku tegang,” ucap Mauza, “apa aku bikin masalah? Kalau iya, aku minta maaf ya. Jangan hukum aku yang berat-berat. Jewer telinga aja udah cukup.”
Konyol!
“Aku mau gantung kamu di monas,” celetuk Umar.
“Jangan harap, sebelum kamu gantung aku di monas, kamu udah lebih dulu aku san TET!” Mauza menggerakkan jarinya di leher seperti orang yang tengah menggores dengan pisau.
“Eh, udah-udah!” sergah Rayyan karena mereka terlalu banyak bercanda. Mereka sudah besar-besar, sudah pantas jadi tante-tente dan om-om, tetapi masih saja seperti anak kecil.
“Jelasin, Ra,” Rayyan mempersilahkan istrinya untuk bicara setelah keadaan sudah hening.
“Jadi gini, Za. Sebelum kami mencari kamu ... kami tadi sempat diskusi sebentar,” ucap Zara mulai menjelaskan maksudnya dengan sangat hati-hati agar tak sampai menyinggung hati keduanya. Mereka semua pun terdiam untuk menyimak.
“Kami tahu Mauza sama Sammy punya riwayat, maaf ... aku nggak tahu namanya tapi yang jelas, penyakit itu bikin kalian sulit memperoleh momongan.”
Mauza dan Sammy mengangguk. Hah? Ada apa ini? Kenapa mereka malah bahas soal anak lagi? Padahal sudah jelas-jelas mereka tak suka. Masih belum paham juga kah maksudnya kabur dari sana barusan? Ya ampun, pikiran Mauza dan Sammy mulai berkelana.
Zara melanjutkan, “Alhamdulillah, selama ini ... kami diberikan oleh Allah begitu banyak rezeki dan insyaallah, kami ingin rezeki kami bermanfaat bagi saudara atau teman-teman terdekat kami, Mauza, Sammy. Dan kalau boleh, kami ingin sedikit berbagi sama kalian,” jeda sesaat, Zara menambahkan, “kami ingin menawarkan program bayi tabung, sampai berhasil. Sekali lagi aku minta maaf, tapi kalau Mauza sama Sammy berkenan.”
Belum sempat Zara bernapas. Mauza sudah melompat kegirangan. “Aku mau, aku mau, aku mau?!!” jawabnya sangat antusias. Membuat semua orang hampir terpingkal dibuatnya. Pun dengan Sammy yang mengucap istighfar berkali-kali. Tak habis pikir kenapa dia bisa menikahi kucing reog seperti dia.
“Biasa aja kali?!” Umar berdecak sebal. Kendatipun begitu, Mauza tak peduli. Dia justru mengatakan, “Maaf ya, perkataan yang udah keluar dan udah disetujui, tidak bisa ditarik lagi!”
Mereka pikir, Mauza dan Sammy terlebih dahulu berdrama dengan pura-pura menolak dulu, lalu diterima kemudian seperti penerima-penerima rezeki kebanyakan. Ternyata tidak, pemirsa! Mauza nggak jaim-jaiman. Apa adanya. Kalau mau ya, dia akan bilang mau. Kesempatan tidak datang ke dua kali. Mauza tak mau, pemberi berubah pikiran jika ia terlalu lama menjawab.
Ya iyalah, memangnya siapa yang nggak mau bayi tabung gratis-tis? Dijamin sampai berhasil lagi.
“Iya, tenang aja. Orang aku juga mau program lagi,” sahut Zara tersenyum. “Jadi kita barengan.”
“Eh? Yang bener?” tanya Mauza mewakili semua orang. Bikin anak mulu perasaan!
Zara dan Ray tersenyum, mereka menjawab secara bersamaan, “Kejar setoran!”
Ya elah. Pada buru-buru amat sih? Pikir mereka semua.
Zara pikir, dia masih mempunyai sel telur bagus yang masih dibekukan di sebuah RS ternama. Sayang sekali kalau benda itu di biarkan.
Singkat cerita, tiga bulan kemudian setelah Sammy sembuh dan bisa berjalan normal lagi seperti semula, Mauza pun berhasil hamil. Pun sama dengan Zara. Mereka sepakat mengumumkannya di momen yang tepat, yakni pada saat keluarga sedang melakukan acara aqiqah anak pertama Umar yang berjenis kelamin laki-laki.
__ADS_1
Dan secara perlahan-lahan, Mauza dan Sammy pun segera menyusul ketertinggalan mereka selama ini akibat sakit, setidaknya agar bisa berdiri tak jauh dari saudara-saudaranya yang lain. Ujian ke empat rumah tangga anak-anak keluarga Al Fatir sudah selesai.
...Tamat....