Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Ingin Memulainya


__ADS_3

116


“Aku kebelet, Kak. Aku pipis dulu, ya!” Zunaira beralasan karena ia sedang enggan menjawab banyak pertanyaan Mauza. Sebab hubungan yang sedang dia jalani, memang belum benar-benar pasti.


Gadis itu pun menutup pintu meninggalkan Mauza yang memaku sendiri. Dalam hati Mauza bertanya: apakah aku kembali menyakitinya?


Di balik pintu itu, Nai bersandar. Matanya merembes. Dia harus legowo kepada Mauza yang sudah banyak sekali mengalah padanya dibandingkan dia yang hanya mengalah satu kali ini.


“Aku bisa pergi dari rumah ini kalau nanti aku nggak nyaman sama kebersamaan mereka.” Zunaira menghapus air matanya.


“Tuhan pasti sudah mempersiapkan jodoh yang terbaik untukmu,” kata Mama beberapa waktu lalu saat dia mulai mempercayai Mama untuk menyimpan semua rahasianya.


“Anak muda, patah cinta itu soal biasa. Mama juga dulu pernah mengalaminya saat baru-baru menikah sama Papa. Bahkan lebih berat daripada kisah percintaan kalian. Mama sudah pernah sedikit menceritakan kepada kalian bukan?”


Zunaira mengangguk. “Tapi Mama sama Papa kan, akhirnya bersatu karena ternyata ... Papa lebih mencintai Mama,” balasnya kurang setuju karena cerita mereka jelas berbeda.


“Konteksnya sama, Sayang. Yang menjadi jodohmu akan tetap menjadi jodohmu walau sejauh apapun kalian berpisah. Hanya satu kuncinya, ikhlas. Yakin saja kalau Tuhan sudah mempersiapkan cerita yang lebih istimewa untuk jalan hidup kita.”


“Berarti nggak menutup kemungkian kalau Nai sama Kak Sammy masih bisa berjodoh?” tanya Zunaira lagi saat ia masih belum bisa mengeluarkan diri dari kubangan perasaannya pada pria itu.


“Mungkin saja,” jawab Vita, “mudah bagi Tuhan membolak-balik hati manusia. Tapi, sebaiknya jangan terlalu berharap. Itu tidak baik karena akan menyakitkan jika harapan besarmu dipatahkan.”


Zunaira menunduk. Sejatinya perasaan kepada Sammy itu masih ada. Hanya saja, keinginannya untuk memiliki sudah tidak sebesar dulu. Setelah ia mengetahui bahwa dirinya ternyata hanya salah paham. Sammy hanya menyukai Mauza. Bukan dirinya.


Karena ucapan Mamanya lah, perlahan Zunaira bisa sedikit-sedikit melupakan.


Minggu kemarin, seseorang mengajaknya ta'aruf melalui Papanya. Pria itu adalah Andrea. Pria yang tak banyak bicara tapi bergerak seperti mesin. Sat-set dengan tindakan.


Pertemuan mereka memang tidak terlalu berkesan karena sifat Andrea sendiri yang dingin dan kaku layaknya orang bisu. Tapi ternyata pria itu punya pita suara saat Zunaira membuktikan sendiri, dengan cara menginjak kakinya.


Ya, bagaimana Zunaira tak merasa geram? Pasalnya, setiap kali gadis itu menjelaskan sesuatu pada Andrea panjang lebar, tanggapan pria itu sangatlah mengecewakan. Dia tidak mendengar sahutan apapun selain hanya melihat anggukkan kepala atau deheman saja. Tidak jelas, apakah penjelasannya masuk di kepalanya, atau justru keluar lewat telinga bolong.


“Berani-beraninya kau menginjak kakiku, Zunaria!” seru Andrea.


Sudah nyolot, salah pengucapan lagi.


“Zunaira Pak ... bukan Zunaria,” Nai meralat. “Jadi dana ini akan masuk ke sini dulu, baru nanti .... Kemudian ....”


“Hemm.”


“Apa Anda sedang sakit gigi?” tanya Zunaira keheranan.


“Tidak.”

__ADS_1


“Lalu, kenapa Anda tidak pernah menjawab dengan kalimat yang lebih panjang?”


“Kenapa? Kamu suka yang panjang?” tanya Andrea segera.


Ya ampun, pikiran Nai jadi traveling ke mana-mana sekarang gara-gara kata panjang barusan. Aiistt, malunya sampai ubun-ubun. Pasti wajahnya sudah hampir memerah sekarang.


Andrea meralat sambil menyentil kening Zunaira dengan punggung jarinya, “Tanggapannya, bukan yang lain! Kecil-kecil pikirannya sudah kotor.”


“Saya diam saja dari tadi.” Zunaira mengelak.


“Lalu suaramu yang lalu siapa? Setan?”


“Sudah, sudah!” pungkas Nai, “jadi penjelasan saya udah masuk apa belum di kepala Pak Andre?”


“Aku lebih pintar darimu! Hanya melihat berkas itu saja aku sudah paham apa keseluruhan isinya, jadi tidak perlu susah-susah kamu jelaskan,” tukasnya lalu meninggalkannya pergi.


Kalau begitu kenapa diam saja dari tadi, Yang Mulia?


Dari sanalah, Andrea mulai sering memperhatikannya. Tak jarang, pria itu mengirimkan camilan atau segelas kopi pesanan ke meja kerjanya. Meski tak pernah sepatah kata pun terucap, Zunaira tahu, siapa orang yang telah berbaik hati padanya.


Hal itu terjadi berulang-ulang sehingga suatu ketika, Zunaira mendatangi Andrea untuk mempertanyakan apa maksud dia melalukan hal tersebut.


“Nggak boleh?” tanya Andrea mengangkat sebelah alisnya.


“Saya memang ingin memulainya,” ujar Andrea dengan lugas.


Selama beberapa saat Zunai tertegun. Apa begini, cara pria dingin itu melamar seorang wanita?


Zunaira menggeleng, “Aku nggak mau pacaran.”


Sebenarnya bukan demikian maksud Zunaira. Tetapi gadis itu kesulitan untuk sekadar menjelaskannya, sebab ditatap sedalam ini oleh Andrea membuat pikirannya jadi ambyar dan sedikit salah tingkah.


“Kamu mau aku langsung menikahimu?” Andrea to the point.


“Bukan begitu, maksudnya ... emm maksudnya ....”


Penjelasan Nai terlalu lama sehingga Andrea menyela, “Atau kamu sudah punya pacar?”


“Aku udah bilang aku nggak pernah pacaran!” sanggah Nai setengah kesal.


“Baiklah kalau kamu minta aku datang langsung ke rumah.” Selepas bicara seperti itu, Andrea lekas-lekas pergi. Bahkan seperti tak memberikannya kesempatan untuk menjawab sepatah kata pun. Benar-benar hmmm?!!


Keesokan harinya, Zunaira bekerja seperti biasa layaknya tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Bahkan pertemuan keduanya yang membahas segala persoalan pekerjaan pun, tampak normal.

__ADS_1


Nai juga menganggap ucapan Andrea kemarin adalah ucapan bercandaan atau lelucon lelaki ngawur yang tidak akan pernah dibuktikan.


Namun, ternyata dugaannya salah!


Ucapan Andrea sangat bisa dipegang. Karena pada sore harinya, Andrea benar-benar datang ke rumah membawa orang tuanya untuk menyampaikan niat baik.


Akan tetapi, Yudha tak bisa menjawab dengan pasti karena keputusan tetap ada di tangan Zunaira, karena dia lah yang akan menjalaninya kelak. Oleh karena itu, Yudha hanya meminta sedikit waktu untuk mempertimbangkan jawabannya.


Dan hari ini, Zunaira membuka kembali CV ta'aruf milik Andrea. Terjadinya sesuatu mengenai Sammy dan Mauza hari ini, membuatnya semakin yakin bahwa Andrea lah yang akan menjadi jodohnya. Bukan kisah sebelumnya yang pernah gagal.


“Baiklah, aku terima ajakan ta'aruf mu.”


Zunaira mengirimkan pesan kepada seseorang di seberang sana.


Sedangkan di kamar bawah, Vita sedang menginterogasi suaminya yang lagi-lagi membuat keputusan terlalu cepat tanpa berpikir terlebih dahulu. Terlebih, dia tak melibatkannya dalam keputusan besar ini.


“Kamu anggap apa aku, Mas? Harusnya kita rundingkan terlebih dahulu masalah ini sama-sama. Jelas kami kaget sekali dengan keputusanmu barusan.”


“Mau nunggu apa? Nunggu anak kita masuk angin dulu baru kita nikahkan? Kamu yang mau menanggung dosanya?” tanya Yudha dengan nada meninggi. Semua pria memang demikian, mereka merasa lebih berkuasa di rumah sehingga kadang tak butuh pendapat istrinya. Karena menurutnya, mereka lah pemegang kendali semua keputusan.


“Bawa sana-bawa sini, masuk angin, perut bisa kembung. Tahu kan, maksudku?” sambung Yudha.


“Tidak seperti itu juga ... memangnya anak kita semurah itu?” Vita menanggapi suaminya yang masih ngomel-ngomel terus semenjak tadi.


“Setan emang satu. Tapi temannya banyak. Jangan salah kamu! Siapa yang bisa jamin mereka tidak bersentuhan?”


Vita tak kuasa melawan sang suami. Oleh karenanya, dia terdiam.


Ya sudahlah. Memangnya siapa yang bisa mengganggu gugat keputusan lelaki itu?


“Nggak ada yang bisa Kakak berikan buat kamu, Dek. Selain doa, semoga pernikahanmu nanti lancar, menjadi yang pertama dan terakhir, langgeng sampai akhir hayat,” ucap Rayyan pada malam harinya setelah acara empat bulanan selesai.


“Aamiin, makasih, Kak ... doa yang baik pasti akan kembali ke pemiliknya.”


Ray dan Zara sama-sama mengaminkan. Begitu juga dengan yang lain saat Yudha mengumumkan rencana yang tak terduga ini ke hadapan semua keluarga. Ya, mumpung mereka sedang berkumpul. Tunggu kapan lagi ada kesempatan seperti ini?


“Niat baik memang harus disegerakan,” ujar Ruben pada besannya.


“Kalau kita percaya ini baik, kenapa tidak?” balas Yudha sembari menyesap kopinya.


Huhhh, pria itu sudah bisa sedikit bernapas lega karena satu-persatu tanggung jawabnya, sudah mulai terangkat.


Tinggal Umar sama Zunaira saja setelah ini yang mungkin ... juga tidak akan lama lagi.

__ADS_1


__ADS_2