
78
Tiga hari menikmati honeymoon di kota Hujan terasa begitu menyenangkan bagi Ray dan Zara. Kelak, kenangan indah inilah yang tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang masa.
Seperti sepasang pengantin baru pada umumnya, minggu pertama pernikahan adalah tahap penyatuan. Pada tahap ini, setiap pasangan akan lebih bergairah dan romantis satu sama lain.
Keduanya ingin selalu menghabiskan waktu bersama setiap saat, seperti orang yang baru berpacaran. Ya, memang benar begitu, bukan? Mereka tak pernah menjalani masa-masa pacaran sebelumnya.
Tapi hari-hari itu sudah berlalu. Karena selanjutnya, keduanya sudah harus kembali ke tempat asal untuk mulai menjalani kehidupan pernikahan yang sesungguhnya dan mulai memikirkan bagaimana cara menyikapi kebiasaan pasangan.
Mulai muncul pula kesadaran bahwa masing-masing juga memiliki kekurangan dan sikap yang mungkin tak diduga sebelumnya.
Seperti halnya Rayyan yang suka menaruh baju kotor sembarangan. Ini sering dikomplain oleh Zara. Pada suatu waktu Ray memang mengubahnya. Tapi yang mengesalkan, yang masuk ke lubang entah kenapa hanya separuh. Mungkin karena pria itu asal melempar dan malas memperbaikinya lagi.
Zara sendiri pun mempunyai kebiasaan buruk. Salah satunya mandi yang terlalu lama. Rayyan pun heran. Sebenarnya, apa saja yang Zara lakukan di dalam sana? Apa setiap perempuan memang suka berlama-lama di dalam kamar mandi? Apa cara mandi laki-laki dan perempuan berbeda? Aneh sekali, pikirnya.
Kebiasaan ini membuatnya sering kali harus mengungsi kamar mandi lain jika terpaksa. Misal sedang kebelet atau hendak cepat pergi.
Pagi ini, di sebuah ruangan, dua wanita karir sedang berbincang.
“Kupikir kalau aku dah pulang kamarku udah beres, Mam. Biar jadi surprise, gitu. Eh masih acak-acakan,” kata Zara karena tak nyaman tidur kamar lain, “pasti masih lama selesainya.”
“Orangnya baru sempet ngerjain kemarin. Lagian penempatan lemarinya segala macem harus di ukur dulu biar sesuai sama keinginanmu. Emangnya sulap yang cuman dibalik langsung jadi?”
“Desain interior yang lain kan banyak, Mam,” Zara masih saja protes.
“Mami udah terlanjur menghubungi mereka, nggak enak kalau dibatalin. Kasihan. Nanti kita dianggap PHP.”
Oh iya, ya. Batin Zara segera dapat memahami.
“Mami nggak ngantor hari ini?” tanya Zara setelah beberapa saat. Keduanya kini tengah asyik menyesap minuman hangat tanpa satu orang laki-laki pun karena mereka sedang keluar dengan kepentingan masing-masing. Sedangkan Mike sudah berangkat sekolah.
“Mami mau ke dokter gigi,” jawab Miranda, “mau scalling. Kamu sendiri nggak ke mana-mana, Sayang?”
“Nggak, Mam. Besok aja. Masih capek,” keluhnya sembari menunjukkan pinggangnya yang sakit.
“Di usia-usia suamimu itu emang lagi sangat membara, tenaganya juga masih ....”
“Mami!” potong Zara dengan mata melotot penuh peringatan, “jangan terlalu vulgar nanti ada yang denger.”
Namun Miranda terlihat tidak terlalu peduli. Mereka sudah sama-sama dewasa yang sangat paham bahasan demikian.
__ADS_1
“Kalau baru bangun tidur itu stretching dulu, minimal lima belas menitlah. Kamunya males, sih,” Miranda menunjukkan posisi anaknya yang kini malah tiduran setengah menelentang di sofa, “kebiasaan hidupmu itu nggak sehat. Kalau ke kantor pun kamu cuma duduk seharian. Nggak ada pergerakan.”
Zara meringis, “Yang penting nggak merem.”
“Apapun itu, hidupmu udah nggak sehat,” Miranda mengulang. Wanita itu kemudian beranjak dari duduknya dan menyambar bag nya yang ada di atas meja. “Mami mau pergi sekarang, kamu mau ikut nggak?”
“Ikut nggak ya?” Zara berpikir sesaat sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut. “Ya udah, sekalian aku juga mau bleaching. Lama nggak nunggunya?”
“Nggak, Mami udah buat janji.”
“Sebentar, mau ganti baju dulu.”
Keduanya masuk ke dalam mobil. Kali ini, Zara yang menyetir sendiri karena Heru sedang mengantar Mike sekolah.
Mereka tiba di sana tiga puluh menit kemudian. Namun mereka sama sekali tak menyangka bahwa akan bertemu dengan salah seorang perempuan yang belakangan ini menyenggol kedamaian hidup keluarga baru bahagia ini.
Wanita itu juga sedang mengantre untuk memeriksakan gigi di dokter yang sama. Secara kebetulan pula, nomor antrean mereka pun berurutan.
Tak ada pembicaraan selama beberapa menit kala mereka duduk agak berjauhan. Tetapi diam-diam, keduanya saling melirik dan memperhatikan. Kedirian mereka sama-sama kuat sehingga tak ada yang mau bertolak meski kebencian dalam hati masing-masing begitu mengoyak.
Zara benci karena secara tak langsung wanita itu telah menebar fitnah tentang dirinya.
Hamidah benci dan kesal karena merasa Zara telah merebut hati Rayyan dari awal, sehingga ia tak mempunyai tempat di hati Rayyan lagi.
“Ya, saya!” jawab Hamidah mengangkat tangan. Kemudian masuk ke dalam ruangan dokter. Hanya sendiri.
“Kamu nggak mau ngomong apa gitu sama dia?” tanya Miranda mengarah ke perempuan itu, “mumpung lagi ada kesempatan yang sama. Mami yakin kalian nggak akan ketemu secara sengaja.”
“Aku lagi males buang-buang energi, Mam,” jawab Zara. Dia masih terlihat lesu karena belakangan ini sering kurang tidur.
“Takutnya dia macem-macem lagi.”
Zara terdiam memikirkan. Meski pada akhirnya dia memang tak berbuat apa-apa juga. Sebab masalah sudah mulai redam saat ini.
Tetapi pada saat Miranda dipanggil di urutan selanjutnya, ketiganya sempat berpapasan. Tepat di pintu masuk ruang praktek itu. Miranda tak mau melewatkan momen ini, sehingga tanpa sepengetahuan anaknya dia berbisik tajam kepada Hamidah, “Hidupmu akan jauh lebih tenang kalau kamu juga nggak mengganggu ketentraman hidup orang lain. Paham?”
Hamidah sempat menoleh sekilas untuk mencerna setiap perkataan Miranda. Namun ia langsung melintas setelah itu. Tapi jangan salah. Lututnya gemetaran di sepanjang perjalanan pulang karena tak pernah sekalipun dalam hidupnya, ia di ancam seperti ini.
Berbeda dengan wanita yang ada di dalam ruangan dokter, Miranda membatin: semoga Hamidah nggak kena mental. Ya, dia hanya sebatas mengancam saja supaya Hamidah menutup mulutnya yang sempat menggiring opini menyudutkan putrinya. Karena menurutnya, Zara tidak harus menanggung semua itu.
♧♧♧
__ADS_1
“Ngapain kamu cengar-cengir sendiri, Zun?” tanya Mauza saat melihat adik bungsunya seperti sibuk mengetik pesan balasan.
“Nggak papa. Emang nggak boleh?” jawab Zunaira, “kan ini mulut saya.”
“Ya, nanya,” kata Mauza lagi duduk bergabung di sebelahnya. Karena dia penasaran, Mauza pun bertanya lagi, “kamu lagi DM-an sama siapa?” tebaknya, “jangan-jangan kamu dah punya pacar, ya?”
“Nggaaak... belum. Aku cuma temenan,” sanggah Zunaira dengan gelengan kepala.
“Bohong, ya? Aku bilangin Papa sama Mama, nih,” ancam Mauza.
“Kita cuma temenan, plis jangan bilangin sama Papa sama Mama ....” secara tidak langsung gadis polos itu mengakui bahwa dirinya tengah dekat dengan seseorang.
“Nah, tuh, kan! Ketahuan kalau kamu....”
“Cuma temenan, Kak. Plis ... jangan bilangin sama Papa-Mama, ya!” Zunaira memohon ketakutan.
“Tega-teganya kamu, Zun. Kakak aja yang lebih tua belum punya. Awas, ya! Aku nggak mau dilangkahin duluan sama kamu. Kamu nggak boleh nikah sebelum aku kawin, titik!”
“Kita cuma temenan, kok. Suer!” Zunaira menunjukkan kedua jarinya membentuk huruf V untuk meyakinkan Mauza.
“Temen-temen lama-lama jadi demen.” Mauza mencoba mendekat untuk merebut ponsel Zunaira yang akhirnya terjadilah saling berebut.
“Sini ... Kakak mau lihat kamu lagi DM an sama siapa. Jangan-jangan sama cowok berandalan! Aku seorang kakak yang wajib melindungimu dari cowok buaya itu!”
“Jangan ... Kak, jangan! Dia cowok baik-baik, kok.” Dengan sekuat tenaga Zunaira mempertahankan ponselnya.
“Mau lihat sebentar doang, kek gimana orangnya.”
“Kak Za jangan! Jangan!”
Sampai kemudian Vita datang karena mendengar keributan mereka. Bermaksud untuk melerai. “Hei, ada apa, ini? Kenapa ribut-ribut?”
“Ini, Ma! Zunaira udah berani pedekate sama cowok.” Mauza mengadu karena tak mendapatkan apa yang dia ingin ketahui. Ya, dia memang sedikit resek, sih orangnya. Sama-sama menyebalkan seperti kembarannya, Umar.
“Bener itu, Nak?” tanyanya pada Si Bungsu.
“Kita cuma temenan, kok, Ma. Cuma tanya kabar aja. Ya, kita temenan....” Zunaira sangat panik dan ketakutan. Bahkan sudah hampir menangis.
“Siapa orangnya, Nak? Apa Mama kenal?” tanya Vita lagi sangat ingin tahu.
Zunaira membungkam. Gadis itu benar-benar takut untuk menjawab karena posisinya memang serba salah. Dijawab salah, tak dijawab pun apalagi.
__ADS_1
Bersambung.