Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Wedding Mauza


__ADS_3

125


Hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Mauza dan Sammy, akhirnya datang juga.


Pagi ini, semua keluarga Al Fatir sudah bersiap untuk menyambut mempelai laki-laki.


Akad nikah dan resepsi dilakukan secara sederhana di rumah dan hanya memasang sedikit tambahan tenda saja di halaman. Tak banyak neko-neko lantaran ini dari permintaan Mauza sendiri.


Mauza mempunyai pola pikir yang berbeda. Jika orang lain ingin bermewah-mewah an dalam menggelar acara resepsi pernikahannya dengan alasan hanya sekali seumur hidup, tetapi baginya, kehidupan selanjutnya lah yang harus lebih dipikirkan. Sebuah pernikahan tak hanya sekadar menyatukan kedua orang yang saling mencintai, namun kesiapan secara finansial.


Ada banyak sekali perencanaan yang harus mereka miliki di awal-awal kehidupan pernikahannya, terutama tabungan jangka panjang, hunian, serta pernak-perniknya. Dan semua itu harus dibeli dengan uang. Uang yang halal tentunya, bukan hasil merampok apalagi pesugihan babi ngepet.


Percuma saja menggelar pernikahan mewah dan megah, andai setelahnya mereka malah terlilit hutang. Rumah tangga dengan ekonomi melimpah saja tak menjamin hubungannya akan harmonis, apalagi sebaliknya.


“Kok, jam segini belum sampai?” tanya Yudha harap-harap cemas. Pria itu adalah orang paling ribet di antara yang lain karena sedari tadi tak henti bolak-balik seperti setrikaan. Melebihi pengantin itu sendiri. Sesekali melihat jam di tangan kirinya dan menanyakan hal yang sama.


“Duduk napa, Ya Allah, Mas,” ucap Vita malu dengan kelakuan suaminya hingga menarik pria itu supaya duduk tenang. “Sabar ... sebentar lagi juga datang. Kan Mauza sudah dikasih kabar tadi, jalannya agak macet.”


“Sabar dikit, Pa. Mobilnya udah deket, kok,” Mauza menunjukkan layar ponselnya kepada Sang Ayah.


“Heh, siapa yang menyuruhmu keluar sekarang?” Yudha melotot saat menyadari anak ini keluar dari kamar sebelum waktunya.


“Nggak ada yang nyuruh,” jawab Mauza tanpa merasa berdosa. “Kan, Mauza yang mau nikah.”


“Masuk!” titah Yudha kepada putrinya yang sontak di tertawa kan oleh banyak orang.


“Ya elah, entar juga disuruh keluar lagi. Apa bedanya sekarang sama nanti, Pa?”


“Nggak gitu konsepnya, Bambang,” sahut Umar.


Yudha menyuruh anak keduanya, “Mar, bawa anak gesrek ini ke kamar. Belum waktunya dia keluar.”


Umar mengiyakan. Anak itu menarik kembarannya masuk ke atas lagi. Harus dipegangin supaya bocah ini nggak kabur lagi. Umar hafal banget kembarannya yang belakangan suka kabur-kaburan. Bikin cemas orang saja. “Makanya kalau ada orang kawin itu diperhatiin, jadi paham. Main keluar-keluar aja, nggak sabaran banget.”


“Nikah kali, Mar. Kawin mah rahasia.”


“Terserah lu, dah.”


“Kamu kapan, Mar?” tanya Mauza setelah sampai di kamarnya, “maap ya, aku duluan. Pacarmu dateng nggak?”


“Nggak,” jawab Umar ketus.


“Lesu amat sih? Kenapa? Cerita dong.”


“Ya, gue nggak bisa keluar buat nemuin dia. Jadi dia marah.”

__ADS_1


“Kenapa nggak bisa nemuin?”


“Setiap malem Papa tidur di kursi. Gimana aku mau lewat?” jawab Umar, dia pun heran sebetulnya. Apa papanya itu nggak pernah ngambil jatah malam di kamar dengan istrinya? Apa mungkin sudah tidak lagi karena pinggangnya sering encok? Ah, bisa kurus lama-lama kalau dia terlalu memikirkan hal ini.


“Kasihan deh, lu ....” Mauza mencibirnya dengan juluran lidah.


“Nggak ada rasa empatinya sama saudara kamu, Za.”


“Lagian kenapa musti malem-malem keluarnya? Mencurigakan!”


“Kalau siang dia kerja. Nggak mungkin aku gangguin dia, bisa-bisa aku diputus.”


“Kerja apa?” tanya Mauza penasaran. Umar memang tidak pernah mau menceritakan detailnya pada Mauza karena takut rahasianya bocor sebelum waktunya.


“Dia itu Notaris PPAT. Punya kantor di pinggir jalan raya Bogor.”


“Kamu nemu di mana janda begitu?”


“Panjang ceritanya. Kalau aku ceritain sekarang bisa sampai besok.”


“Kamu wajib ngenalin ke aku, Mar. Jangan bikin aku metong penapsaran.”


“Iya, kapan-kapan, deh.”


Sementara di bawah.


“Alhamdulillah ....” jawab semuanya serentak, kemudian tempat pun dipersiapkan.


Singkat cerita, setelah acara-acara sambutan selesai dilakukan acara Akad nikah pun segera dimulai.


Sammy duduk di depan Yudha yang di sampingnya adalah seorang penghulu. Sedangkan di sisi Sammy dan belakangnya adalah para saksi.


“Jangan sampai salah sebut, apalagi nama mantan. Aku bisa memukulmu,” ancam Yudha terdengar lirih.


“Iya, Om,” jawab Sammy. Mencegah agar tak lidahnya nanti tak keceletot, bibir pria itu pun sembari merapal, “Mauza, Mauza, Mauza, Mauza, Mauza, Mauza.”


Setelah penghulu membacakan doa akad nikah, umumnya, mempelai laki-laki akan dituntun untuk membaca kalimat syahadat dan istighfar sebanyak tiga kali. Bertujuan agar mempelai merasa tenang, nyaman, dan mengharapkan ampunan dari Allah SWT. Barulah setelah itu, tiba saatnya mempelai laki-laki menjabat tangan ayah mempelai wanita. Terasa tangan anak semut itu basah oleh keringat dingin.


“Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Ananda Sammy Prayoga bin Almarhum Yunchen dengan anakku Adinda Mauza dengan mas kawin berupa uang tunai lima puluh juta rupiah, cincin seberat dua gram dan seperangkat alat sholat, tunai.”


“Saya terima nikahnya dan kawinnya Adinda Mauza binti Yudha Al Fatir dengan mas kawin tersebut, tunai,” jawab Sammy dengan lantang dan dengan satu tarikan napas.


“Gimana saksi, sah?”


“Sahhhh?!” jawab semuanya serentak.

__ADS_1


“Allahumma inni as aluka khoyrohaa wa khoyro maa jabaltahaa alaih. Wa a'udzubika min syarri haa wa min syarri maa jabaltahaa alaih.”


Mauza dikeluarkan dari kamarnya. Dituntun oleh Vita ke tempat resepsi, kemudian diperintahkan untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan. Baru setelah itu, dipertemukan dengan Sammy dan menjalani segala prosesinya.


Buku nikah yang dipamerkan oleh keduanya, adalah pertanda bahwa mereka telah dinyatakan sah sebagai suami istri.


Di tengah-tengah pesta, Zara merasa pinggangnya dicolek dari belakang, sehingga wanita itu sontak menoleh, “Oh, Nai? Ada apa, Nai?”


“Kalau Mama nyariin aku, bilang aku di atas ya, Kak. Pengen rehat bentar, kaki aku pegal.”


“Ok, Nai ....” jawab Zara disertai anggukkan.


“Kak Zara sendiri nggak mau istirahat dulu? Acaranya masih lama, lho.”


“Mungkin sebentar lagi, Nai aja dulu. Nanti Kakak nyusul, ya?” jawab perempuan berbadan besar itu.


Seperti apa izinnya barusan, Zunaira naik ke kamarnya. Gadis itu duduk di balkon kamarnya yang menghadap keluar gerbang. Kakinya diangkat ke atas meja. Diluruskan. Rasanya lelah sekali setelah setengah malam dia melek untuk membantu persiapan acara ini.


Seharusnya memang ada beberapa asisten rumah tangga yang membantu, tetapi tetap saja mereka kualahan. Tidak enak kalau sendirinya hanya ongkang-ongkang kaki. Memangnya saudara macam apa yang setega itu?


Kak Zara saja yang lagi hamil ikutan ribut. Masa dia yang sehat walafiat enak ngorok di kamar. Sudah kayak sapi saja yang tak punya perasaan.


Baru saja lima menit menyandar di kursi, ponselnya berdering tanda pesan masuk. Zunaira lekas membacanya lantaran takut penting.


Ternyata emang beneran penting. Sebab pesan itu dari Andrea Hirata, yang mengatakan bahwa dia sudah masuk ke dalam rumahnya.


Penasaran, Zunaira pun segera bangkit. Dia mengintip dari arah tangga, pria berusia 29 tahun itu menatap ke atas menemui pandangannya selama beberapa detik.


Huh, Zunaira kira Andrea akan melambaikan tangannya atau sekadar menyapa setelah pria itu melihatnya, ternyata tidak. Dia melintas lagi.


Ugh, kaku perut lama-lama.


Namun saat dia memutuskan untuk kembali naik, suara berat Andrea menghentikannya, “Kenapa naik lagi?”


Zunaira menoleh.


“Tak mau menemuiku?”


Andrea mengulurkan tangannya, “Ayo!”


Dia mengajaknya ke bawah. Menemaninya untuk berbicara dengan kedua orangtuanya.


Oh, jadi Andrea tadi melintas karena hendak menyusulnya? Yah, dia salah paham.


Bersambung.

__ADS_1


Oke kita lanjut ke season 2 ya. Di daerah ini Zara&Ray masih aku selipin karena mereka keluarga, hanya saja frekuensinya lebih sedikit. Sebab konflik mereka sudah selesai.


__ADS_2