
Bab 31.
Zara tersenyum lega setelah mendengarkan keputusan Miranda barusan yang akhirnya mau menerima Fasad sebagai menantunya. Tak terlihat ada kebohongan kali ini, dia menilai demikian lantaran mata sayu itu berkedip-kedip pelan. Menandakan apa yang baru saja dikatakannya adalah sebuah keaslian.
“Kenapa Mami menemui Fasad tanpa memberitahuku?” Zara bertanya, “atau Mami memang sengaja datang ke rumahku diam-diam?”
Embusan napas terdengar sebelum Miranda menjawab, “Mami ke rumahmu untuk mengambil bajumu, karena di sini nggak ada lagi baju yang pas,” Miranda menunjukkan tubuhnya sendiri yang harus selalu memakai ukuran Ekstra Large (XL). “Tapi kebetulan Mami ketemu sama Fasad dan kami memutuskan untuk berbicara empat mata.”
“Apa Mami bicara kasar? Dia marah besar.”
“Mami nggak bicara kasar apalagi memarahinya. Mami hanya bertanya, apa kesepakatan kalian sebelum menikah. Wajar kalau sebagai orang tua Mami bertanya begitu, karena Mami tahu betul anak Mami itu tipenya seperti apa. Mantan-mantanmu bisa dibilang sangat keren. Sementara dia?” jelas Miranda menjedanya beberapa detik, “kamu jangan tersinggung, Mami bicara fakta, dia sebelumnya ....” wanita tua itu membiarkan anaknya mencari jawabannya sendiri. “Setelah dia jawab, Mami melemparnya lagi sebagai diskusi. Kalau awal kesepakatan kalian seperti itu—ya, tetap seperti itu. Koreksi kalau Mami salah,” jelas Miranda membuat Zara menunduk lemah.
“Memang benar Zara yang membuat kesepakatan ini. Tapi kami nggak pernah membicarakan masalah perpisahan setelahnya, Mam. Kesalahan Mami di sini terlalu mencampuri urusanku,” ujarnya demikian.
“Sekali lagi ... Mami minta maaf. Karena kemarin, Mami juga menawarkannya sebuah kompensasi karena Fasad sudah mau berbaik hati dengan anakku, mungkin itu yang membuatnya tersinggung. Secara nggak langsung, Mami mengusirnya karena Mami pikir tugasnya sudah selesai, dan kamu juga akan tetap tinggal di sini bersama kami,” sambungnya.
Zara membungkam mulutnya yang mulai kembali terdengar isakan, “Kenapa Mami tega berbuat zalim sama orang yang sudah sebaik itu sama aku, Mam ....”
“Mami nggak tahu kalau dia baik. Ini memang salah satu dari banyaknya keburukan Mami, Sayang. Mami nggak bisa percaya sama orang yang baru dikenal.”
“Dia marah besar sama aku, Mam ... aku nggak pernah melihat dia marah segarang itu. Sampai dia melempar aku ke atas ranjang.”
Bola mata Miranda sontak membeliak, “Dia melemparmu?” tanyanya segera, “itu sudah nggak waras namanya!” sentaknya.
“Jangan ambil kesimpulan sebelum tahu masalahnya, Mam. Fasad punya masa lalu yang buruk ... dia memang sakit dan butuh pengobatan. Mungkin di depan orang-orang dia terlihat tenang. Tapi kalau ada yang mengusik, dia akan berubah jadi orang lain.”
“Bawa dia ke Psikiater,” kata Miranda tak ingin mengatakan hal lain lagi. Sebab Zara tak ingin dia ikut campur lagi urusan rumah tangganya. Biar dia menanggung semua risikonya sendiri. Toh, sangat banyak rumah sakit yang mau mengobati patah tulang, pikirnya.
🌺🌺🌺
Tak mempunyai aktivitas apa pun membuat Zara merasa tubuhnya menjadi lebih melar. Aneh. Biasanya orang yang mempunyai banyak pikiran akan mempunyai tubuh lebih kurus, tetapi ia malah sebaiknya.
__ADS_1
“Pipi aku jadi lebih besar,” gumamnya pada diri sendiri di depan pantulan cermin. Saat ini, dia berada di rumahnya sendiri semenjak tiga hari yang lalu, pasca pertemuannya dengan Fasad di Apartemen Nuansa. Menyetujui ucapan Ardito, agar ia tak menemuinya dulu sebelum Fasad menenangkan diri.
“Rambutku berantakan, padahal nanti siang mau ke rumah Lina.” Malas mencuci rambut, membuat Zara memutuskan untuk pergi ke salon langganannya. Mungkin karena sudah terlalu siang, jadi dalam sana sudah lebih ramai.
“Biasa, ya!” titahnya kepada salah satu pegawai yang biasa menanganinya.
“Baik, Kak.” Pegawai tersebut memerintahkan Zara untuk baring di tempat yang seharusnya, kemudian mulai mencuci rambutnya di sana.
“Ada nggak, sih? Pegawai yang bisa aku panggil ke rumah,” sela Zara di tengah keheningan mereka berdua, “malas banget kalau cuma mau cuci catok harus datang ke sini dulu. Lumayan jauh tahu.”
“Ada, dong, Kak. Tinggal di koling aja sayanya. Yang penting ada tambahan buat ongkos PP.” (Pulang Pergi)
“Kenapa nggak dari dulu, sih, ngasih tahunya,” kata Zara menanggapi, kemudian meraih ponsel agar wanita ini mencatat sendiri nomor teleponnya.
“Lah, Kakaknya baru ngemeng sekarang.”
Namun pada saat Zara selesai mencuci rambut dan pindah ke depan cermin—di antara deretan orang-orang yang tengah melakukan hal sama, Zara menemukan seseorang yang dia kenal.
Vita sama-sama terkejut dan refleks membuka mulut seperti hendak mengatakan sesuatu, tetapi batal karena Zara lebih dulu bertanya lagi. “Tante sering nyalon di sini juga?”
Zara meminta pegawai untuk pindah posisi supaya mereka bisa berdampingan. Dengan begitu, mereka jadi lebih mudah untuk mengobrol. Toh, tak ada yang salah untuk bisa berteman lebih akrab dengan siapa pun. Terlepas dari apa yang sudah pernah terjadi, setiap orang pasti punya masa lalu dan tak ada gunanya untuk di ungkit-ungkit kembali.
“Baru beberapa kali, Nak. Itu pun terpaksa.” Wanita paruh baya itu tiba-tiba berubah cemberut.
“Ih, kenapa Tante?” Zara tertawa. Lucu melihat ekspresi wanita ini.
“Tante takut suami Tante bosan, terus kepincut sama mahasiswa-mahasiswa cantik di kampus dia mengajar. Jadi Tante harus terlihat lebih menarik dan selalu awet muda.”
“Beliau nggak mungkin kepincut sama yang lain lah, Tan. Masa iya lari dari perempuan cantik yang sudah memberikannya empat anak.” Zara mengetahui semua ini dari Rayyan. Dulu, saat mereka masih dekat dan sering berbicara dengannya.
“Itu bisa saja, soalnya rumput tetangga selalu lebih hijau.”
__ADS_1
“Memangnya ada mahasiswi yang berani godain Prof Yudha, Tante?” Zara bertanya lagi,
“Eh, jangan salah!” sanggah Vita, “Mahasiswa sekarang itu genit-genit. Suamiku aja sering dikirim surat cinta!”
“Tapi kan, maaf ... Prof Yudha udah tua. Masa iya sih, mereka mau,” Zara masih saja terkekeh.
“Maulah, banyak alasannya. Salah satunya supaya dapat nilai tinggi.”
“Hmmm, anak zaman sekarang memang gitu. Tapi nanti giliran di goda balik, dia malah melaporkan pelecehan,” menurut Zara demikian, kemudian mengalihkan topik, “Tante ke sini sendirian?”
“Sama Si Bontot. Tapi dia di luar, bosan katanya nunggu di sini,” jawab Vita, “Zara sendiri sama siapa? Sama suami?”
“Nggak, Tante. Zara juga sendirian,” dia memaksakan senyum. Mendadak Zara terpikirkan, rumah tangga macam apa yang sedang dijalaninya saat ini? Punya suami seperti tak punya suami. Inilah definisi ambil keputusan sebelum berpikir, bukan sebaliknya; berpikir sebelum membuat keputusan. Akibatnya? Jelas sangat fatal.
“Maaf, bukannya mau body shaming. Tapi Tante lihat kamu agak gemukan, apa lagi isi?” Vita bertanya dengan pelan dan hati-hati, sebab pertanyaan ini sensitif dan dia tak ingin menyinggung perasaannya.
Zara sontak menyanggah, “Eh, belum, Tante. Mungkin lagi banyak makan aja, terus aktivitas juga berkurang akhir-akhir ini, jadi agak gemukan. Zara juga merasa gitu.”
“Oh, kirain. Anak Tante juga belum, tuh. Padahal dah berapa bulan. Sudah sering periksa juga.”
Zara sempat terdiam selama beberapa saat untuk berpikir, Hamidah belum hamil? Lantas kemarin, sewaktu di rumah sakit? Apa ucapannya tentang mual-mual itu hanya untuk memanas-manasinya saja?
Hamidah yang belum Hamidun, hehehe, batin Zara menahan senyum.
“Semoga segera diberi cucu, Tante.” Hanya itu yang dapat Zara katakan karena tak bisa mengatakan hal lain lagi.
“Aamiin ... makasih, Nak. Doa yang baik untuk kalian juga.” Vita tersenyum dan menggenggam tangannya.
Satu jam kemudian, mereka berpisah karena Zara selesai lebih dulu. Saat Zara keluar, dia pun sempat menemui Zunaira yang masih setia menunggu mamanya di dalam.
Siang itu, Zara tak langsung pulang ke rumah karena harus mengunjungi salah satu temannya, Lina yang baru saja melahirkan. Barulah malamnya, dia memutuskan untuk pergi ke Apartemen Nuansa. Menemui Fasad yang dia kira sudah cukup dibiarkan untuk menenangkan diri.
__ADS_1
Zara mengucap bismillah ketika dia sudah berada di depan unit yang di tuju. Tangannya terulur untuk mengetuk pintu, hingga terdengarlah suara sahutan dari dalam. Fasad meresponsnya dengan suara yang lebih tenang daripada terakhir kali mereka bertemu.