Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Apa Ini Kesempatan Terakhirku?


__ADS_3

Zara dan Rayyan sampai di rumah sakit yang dituju sekitar satu jam kemudian.


“Ma, Pa?” Keduanya langsung menyalami orang tua mereka dan adik-adik.


“Gimana keadaan Zunaira?” tanya Rayyan kepada semua yang ada di sana.


“Udah ditangani sama dokter, Kak. Tapi masih menunggu. Soalnya belum ada kamar yang kosong,” jawab Vita masih dalam keadaan tak tenang, “hari ini katanya lagi full banget.”


“Sama sekali nggak ada?” Rayyan bertanya lagi.


“Sama sekali, Kak. Jangankan kita, yang datang lebih dulu aja belum dapat kamar.”


“Kita bawa Zunai ke rumah sakit lain aja kalau gitu, Ma,” kata Zara memutuskan. Wanita cekatan itu gerak cepat untuk berbicara dengan pihak rumah sakit yang sedang bertugas.


Tak berapa lama, Zunaira pun dipindahkan ke rumah sakit lain yang tak jauh dari sana. Tentu tak asal memilih rumah sakit, karena Zara menunjuk rumah sakit yang menurutnya paling bagus secara fasilitas dan pelayanannya.


Setelah semuanya beres dan mereka sudah bisa duduk dengan tenang, barulah kemudian Vita dan Yudha membuka suara. Mereka menjelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Bahwa kemarin, Zunaira diam-diam pergi dengan Sammy, tapi salahnya dia berbohong padanya.


“Kesalahannya ada di kami juga. Sebenarnya kami bisa menasihati Zunaira baik-baik. Tapi kemarin Papa lepas kontrol, jadilah akhirnya seperti ini. Mungkin Zunai kepikiran terus, mogok makan dan akhirnya sakit,” kata Vita di akhir cerita.


“Ya ampun Si Sammy, kurang ajar tuh, anak. Bawa anak gadis orang tanpa izin,” kata Zara sontak naik darah. Dia nggak akan malu kalau Sammy bukan siapa-siapanya. Tapi di sini Sammy adalah karyawannya. Team-nya yang bekerja padanya selama ini. Astaga, memalukan sekali!


“Kamu harus tegur dia,” kata Rayyan kepada istrinya dengan nada setengah jengkel. Pasalnya sedikit banyak dia telah mengetahui siapa Sammy; salah satu orang kepercayaan istrinya yang di matanya adalah pemuda kurang beres. Slengean.


“Iya, nanti aku tegur dia supaya nggak berani ajak Zunaira pergi lagi.”


“Sebenarnya, kami nggak akan marah kalau Sammy suka sama Zunai. Tapi caranya harus baik, itu saja. Bicara dulu sama kami, jangan sembunyi-sembunyi seperti kemarin,” kata Yudha menyahuti.


“Tapi kalau Sammynya belum mau serius gimana itu, Pa?” tanya Zara lagi.


“Papa tetap nggak mengizinkan mereka kalau niatnya pacaran. Kalau memang belum mau serius, seharusnya mereka bisa menahan diri.”


Salahnya di sini, mereka tidak menundukkan pandangan, begitu yang biasa Yudha ajarkan kepada anak-anak. Sayangnya mungkin tidak masuk ke jiwa mereka akibat tingginya pengaruh gadget. Benda berbahaya perusak otak anak masa kini.


“Ya Allah, Zunaira dah dikasih lampu hijau begitu. Emang bener, sih daripada mereka berbuat dosa. Tapi apa kabar sama kita yang masih jomlo ya, Mar,” bisik Mauza pada saudara kembarnya karena mereka duduk berdampingan.


“Kita ngeri aja, Za. Sabar aja, tar juga dapet. Tuh kakak iparmu aja baru dapet jodoh umur berapa?” Pandangan Umar tertuju kepada Zara tanpa wanita itu ketahui.

__ADS_1


“Tapi dia kan goodlooking, Mar. Uangnya banyak. Lha, aku?” Mauza merasa miris dan melihat badannya sendiri yang cenderung mirip buntelan, “aku nggak punya keahlian selain makan mie pakai nasi.”


“Gila, lu. Jadi cewek jaga makan dikit, kek. Gimana nggak kembung? Gerobak mie ayam aja bisa masuk ke perutmu. Pantesan kembung!”


“Apa-apa jangan pakai urat dong, Mar. Kamu kalau lihat muka aku hawanya kecut melulu.”


“Diam!” ujar Umar dengan mata melotot, “dengerin tuh orang lagi pada ngomong.”


“Iya, iya ....”


“Ma, Zunai sadar, Ma!” pekik Umar begitu melihat adiknya membuka mata, sehingga semua mengucap hamdalah.


Salah seorang memanggil dokter untuk memeriksanya kembali.


...∆∆∆...


Brak!


Suara wadah rokok di lemparkan ke atas meja hingga sedikit mengagetkan seseorang di depannya. Yaitu Sammy.


“Lu dipanggil sama Bu Bos, tuh!” kata Damar, seorang video editor yang ada di dalam team Zara, “abis bikin kesalahan apa, lu?”


“Jangan macem-macem, Sam. Lu yang salah kita semua yang kena,” Damar mengancam.


“Lu nggak usah khawatir. Gue akan tanggungjawab kalau misalnya gue emang melakukan kesalahan.” Sammy beranjak untuk menghadap atasannya. Damar hanya berharap semoga Sammy keluar dari sana dalam keadaan kepala utuh.


Jantung Sammy berdebar kencang saat ia sampai di lantai tiga. Tepat di depan kantor Zara berada.


“Semoga ini nggak jadi kesempatan terakhirku kerja di sini,” batinnya mengharap. Sebab Sammy bingung, harus mencari kerja ke mana lagi selain menetap di sini. Artis lain belum tentu sebaik dan seroyal Zara. Ceroboh! Batinnya terus memaki diri.


Andai dia tak mengenal Zunaira, pasti kejadiannya tidak serumit ini. Sammy tidak berpikir jauh pada saat itu selain ingin mencari pelarian.


Dan kenapa harus Zunaira? Karena gadis lain biasanya hanya akan menguras kantongnya saja.


“Permisi,” ucap Sammy memberanikan diri mengetuk pintu.


“Masuk!” sahutnya dari dalam.

__ADS_1


Kini Sammy membuka pintu dan menatap kursi besar yang membelakangi dirinya. Tak lama kemudian kursi itu berputar menampakkan sosok wanita yang melihatnya dengan agak berbeda dari biasanya. Sangat kentara bahwa Zara sedang marah karena dia memang bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan kepalsuan. Lain cerita jika wanita itu sedang berakting di tempat syuting.


Sammy membuka suara lebih dulu untuk segera memecah keheningan di antara mereka, “Ada apa, Zar? Ada yang perlu aku bantu?”


“Ya, jauhi adik iparku kalau cuma mau main-main,” tegas Zara tanpa basa-basi dan langsung membuat Sammy sontak terdiam beberapa saat untuk berpikir. Dia tak menyiapkan jawaban sebelumnya. Ada pun beberapa kata pembelaan diri namun telah buyar dari kepalanya sebab karena kegugupan yang menyelimuti.


“Maaf, kemarin aku lancang mengajak Zunaira keluar. Seharusnya aku nggak melakukan itu,” kata Sammy tak kuasa menutupi apapun di depan wanita ini, “aku berani bersumpah nggak pernah menyentuhnya, kamu bisa tanyakan ini ke dia.”


“Tapi mempengaruhi?” tatapan Zara begitu menyelidik.


“Sekali lagi, aku minta maaf.” Sammy menundukkan kepala. “Sebenarnya aku nggak bermaksud begitu.”


Sadar nada bicaranya terlampau mengintimidasi, kali ini, Zara sedikit memperhalus, “Zunaira itu beda, jadi jangan kamu samakan dia sama gadis-gadis lain yang biasa kamu kenal. Ustaz Ray sangat marah waktu dengar kamu ajak adiknya pergi.”


“Apa ini kesempatan terakhirku menginjakkan kaki di sini?” tanya Sammy langsung ke poin utama.


“Kamu masih punya kesempatan.”


“Syukurlah kalau kamu masih mau menampung karyawan nakal sepertiku.” Akhirnya Sammy bisa bernafas lega.


“Aku nggak peduli kamu mau mainin gadis mana pun asal jangan adik iparku, Sam.”


“Ok, thank you sebelumnya, Zar. Aku janji nggak akan ganggu dia lagi.”


“Ya, tapi sekarang kamu tunjukkin ke aku kalau kamu benar-benar udah blokir dia.”


Sammy menelan ludahnya susah payah. Ya Tuhan, haruskah lagi-lagi seperti ini di saat ia menyadari bahwa setitik cinta sudah mulai tumbuh untuk seorang wanita?


Apa dia terlalu rendah untuk dipandang satu tingkat lebih tinggi sehingga mereka menolaknya?


Bahkan hanya untuk sekadar berteman sekalipun?


Akan tetapi Sammy tak bisa menolak, dia merogoh kantong sakunya dan menunjukkan apa yang baru saja Zara minta.


“Okay, makasih, Sam. Kamu sudah bisa keluar.”


Sammy mengangguk, kemudian keluar dari ruangan tersebut dengan kaki lemas. Semoga kalian puas! Batinnya berteriak.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2