Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Apa Kita Pernah Mengenal?


__ADS_3

Bab 41


“Iya, jadi, itu tujuan kami kemari, Bu,” ujar lelaki tua itu setelah mengutarakan maksud kedatangan mereka.


“Sebelumnya saya juga berterima kasih atas niat baiknya yang ingin mengajak ta’aruf anak saya, Zara. Tapi sebagai orang tua, saya membebaskan anak saya untuk memilih. Jadi untuk jawabannya, nanti kita tanyakan saja langsung ke orang yang bersangkutan. Utamanya ... karena dia yang nanti akan menjalani.”


“Memangnya anaknya ada di rumah?” sahut Bu Rusdi.


“Ada, dia tadi baru aja selesai foto shoot di belakang.”


“Katanya sudah hijrah?” pertanyaan ini membuat Miranda sedikit kebingungan. Maksudnya apa, sih?


“Memang sudah, Bu. Tapi yang namanya anak muda pasti ingin mempunyai kegiatan. Dia punya banyak pengikut di sosial medianya. Sayang kalau akunnya tidak dimanfaatkan.”


“Tapi seharusnya kalau sudah berhijrah jangan lakukan kegiatan apa pun yang bisa mengundang perhatian banyak orang,” menurutnya, “bisa kena penyakit ain, lho.”


“Alhamdulillah, anakku itu ...” Miranda mencari bahasa yang paling mudah dipahami oleh ibu-ibu yang sepertinya agak gaptek tentang dunia maya, “kalau bahasa gampangnya jualanlah.”


“Tapi kalau sudah menikah, mending dihentikan. Kurang baik.”


“Tergantung. Kalau pakai akunnya buat sesuatu yang bermanfaat ya ... menurut saya boleh-boleh aja.”


Miranda tak suka hidup anaknya di atur-atur oleh orang lain. Sebab menurutnya, Zara justru sudah menginspirasi banyak orang untuk menjadi seorang muslimah yang menutup auratnya. Membantu mengubah cara pandang banyak wanita di belahan dunia ini, bahwa berhijab itu tetap bisa cantik.


“Maaf, saya hanya berpendapat saja,” ujar Bu Rusdi karena melihat mimik muka Miranda kurang suka dengan opininya.


“Iya, nggak papa, Bu. Wajar isi kepala orang beda-beda,” Miranda berusaha memaklumi, “ya sudah, saya panggilkan anak saya sekarang,” katanya kemudian beranjak ke dalam. Menemui anaknya yang ternyata sedang menelinga percakapan mereka dari balik tembok pembatas.


“Kamu di sini rupanya, itu Ardito ngajakin ta’aruf. Mau nggak?” bisiknya hampir tak terdengar.


“Cuma lihat Emaknya aja dah ngeri, Mam,” Zara bergidik ngeri, “nggak, ah.”


“Semoga aja mereka nggak sakit hati sama jawabanmu. Sampaikan dengan bahasa yang baik, ya.”


“Okay, Mam.”


Keduanya lantas keluar dan duduk bersama.


“Selamat sore, Pak, Bu, Ardito,” sapa Zara dengan senyum.


“Sore juga, Nak,” jawab Rusdi dan istrinya bersamaan, pun dengan Ardito yang melakukan hal sama.


“Pasti Tante udah jelasin apa tujuanku ke sini, Zar,” ujar Ardito menatap Zara penuh harap, “apa kamu mau menerima ajakan ta’aruf ku? Insyaallah, aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu.”


Zara tersenyum, “Sebelumnya aku minta maaf, Dit...,” Zara menahan rasa tak enak hatinya, “sebenarnya berat banget ngucapin ini, tapi ... aku harus jawab sekarang. Daripada digantung kan, nggak enak.”


“Aku tahu jawabannya,” sela Dito sebelum Zara selesai berbicara, “kalau boleh tahu, apa alasannya, Ra? Apa sudah ada orang lain yang lebih dulu melamarmu?” gurat wajah pria ini terlihat sangat kecewa, terlebih orang tuanya.


“Sebenarnya belum. Tapi karena memang belum ada yang cocok aja, Dit,” jawab Zara seramah mungkin, “semoga setelah kejadian ini, kita masih tetap berteman, ya.” Dia segera mengalihkan bahasan kendati selanjutnya Bu Rusdi kembali ke poin utama.


“Memangnya kamu itu mau cari yang seperti apa, sih, Nduk?” tanya Bu Rusdi, “Ardito anakku ini juga baik, loh. Nggak pernah macam-macam dia, coba deh lihat track recordnya. Dito bersih dari kriminal apa pun.”


“Bukan begitu masalahnya, Bu,” sanggah Zara.

__ADS_1


“Mau cari yang kayak ustaz?” Bu Rusdi bertanya lagi, “kayaknya sih, nggak mungkin. Selain janda, kamu juga pernah terlibat kasus prostitusi. Masih ada yang melamar aja harusnya alhamdulillah ....” namun kemudian Pak Rusdi langsung menyentaknya, “Bu!”


Zara dan Miranda sontak mengucap istigfar. Pun dengan Ardito yang sama sekali tak menyangka ibunya bakal mengeluarkan ucapan sedemikian mengejutkan.


“Maaf, Bu Rusdi. Tapi kalau kedatangan Anda ke sini cuma mau memfitnah, mending Anda pergi aja, deh,” balas Miranda bersungut-sungut, “wajarlah, namanya orang yang ngajak ta’aruf, pasti dapat dua kemungkinan. Penerimaan atau penolakan. Jadi dari rumah memang sudah harus siap menerima kenyataan terburuknya.”


“Okay, kami pulang!” balas perempuan itu sengit, “orang kenyataannya begitu, kok, ngelak. Anda pikir Anda siapa? Barang bekas aja sok jual mahal. Kamu pikir, saya nggak tahu masa lalu Anda itu seperti apa?”


Miranda langsung menyentak, “Eh, kenapa jadi bawa-bawa masa lalu saya?!”


“Buah jatuh emang nggak jauh dari pohonnya,” perempuan paruh baya itu kembali mencibir.


“Bu, jangan seperti ini,” lerai Rusdi dan juga Ardito.


“Maafin Ibu saya, Tante,” ujar Ardito sangat-sangat merasa tidak enak.


“Bawalah cepat Ibumu pulang, sebelum dia buang pahala di sini lebih banyak lagi. Kasihan ibadah bertahun-tahun hilang gara-gara julidin orang,” sindir Miranda pedas.


“Sok suci kalian, penjual agama!” ujar Bu Rusdi saat ditarik oleh suaminya keluar.


“Sudah, cukup, Bu. Ayo kita pulang!”


“Dih, ngapain jual-jual agama. Kami udah kaya tujuh turunan, Mak! Usaha saya ada di mana-mana! Tanah saya banyak, rumah saya banyak, mobil saya juga banyak!”


“Mam, udah!” Zara mengajak maminya masuk ke dalam agar tak terus meladeni ucapan sampah orang itu.


“Nanti dulu, Mami mau pastikan dia pergi tanpa ninggalin jejak. Siapa tahu dia ninggalin bom atom di sini.”


“Astaghfirullah ... Mam.” Zara menggelengkan kepalanya keheranan.


🌺🌺🌺


“Jadi ... kemarin itu, ada orang yang ngajakin aku ta’aruf, Ci. Keren, sih, karena dia berani datang langsung ke rumahku sekaligus bawa orang tuanya. Aku nggak mau sebutin namanya, ya,” ujar Zara bercerita dengan Cici di Sushitei tempat mereka membuat janji kemarin.


“Terus?” Cici memintanya untuk kembali melanjutkan.


“Tapi aku tolak. Eh, emaknya marah-marah, dong. Ngatain aku ‘Anda pikir Anda siapa? Barang bekas aja sok jual mahal’. Duh, ya ampun ... bener-bener kaget aku,” Zara menirukan gaya bicara Bu Rusdi kemarin. “Padahal aku omongnya baik-baik, loh. Sama sekali nggak kasar. Gimana kalau kasar, ya? Bisa disantet mungkin aku, Ci.”


“Ya Allah, Zar. Tajem banget, tuh mulut emak-emak. Berani banget ngomongin langsung di depan orangnya, haha. Spil, dong namanya.”


“Jangan ah, nanti kamu kepoin dia.”


“Penapsaran banget gue.”


“Yang jelas kamu pasti kenal. Profesinya artis juga, tapi nggak terlalu terkenal, sih.”


Cici menggenggam tangannya, “Apa pun itu, yang terpenting kamu diselamatkan dari orang-orang seperti mereka,” ucapnya dengan tulus. “Kamu tahu, nggak? Itu bukti bahwa Allah itu sayang sama kamu, karena Dia membuka kedoknya lebih dulu sebelum kalian terlanjur semakin jauh.”


“Kamu bener, Ci ....”


“Tapi mau tahu dong, siapa orangnya?”


Zara sontak memutar bola matanya, “kirain udah nggak penasaran lagi. Nyesel aku kasih tahu kamu.”

__ADS_1


“Hehehe....” Cici meringis, “ya, udah, deh kalau nggak boleh. Yang penting makannya kamu yang bayarin.”


“Dih, yang ngajak kemarin siapa?” candanya.


Berteman dengan Cici selama kurang lebih satu tahun ini ternyata cukup menyenangkan. Dia sama seperti Fasad tapi dengan bentuk perempuan. Zara baru menyadari bahwa selama ini Tuhan mengambil orang terdekatnya untuk Dia gantikan dengan yang lebih baik lagi.


Setelah puas mengobrol dan makan-makan enak, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang—karena tanpa sadar, sudah lama sekali mereka menghabiskan waktu di tempat ini.


“Tapi kamu nunggu di sini sebentar, ya, Ci. Ada yang mau aku beli di market.”


“Aku temenin, deh.”


“Serius?”


“Masa aku bohong, sih? Aku juga mau beli camilan!” wanita itu malah berjalan mendahuluinya.


“Dih, aku malah ditinggalin!” cibir Zara.


“Kelamaan mikir, kamu. Pantas nggak nikah-nikah.”


“Daripada kamu, cepet-cepet tapi cepet bubar juga.”


“Ampun, ya. Nggak kehabisan omong, kamu, ni.” Namun begitu, Cici tak bisa mengelak karena seperti itulah kenyataannya.


Keduanya pun mengambil keranjang dan mulai mencari barang-barang yang mereka beli. Dan karena tujuan mereka berbeda, Zara membuat kesepakatan, bagi siapa yang akan selesai lebih dulu—dia akan menunggunya di depan kasir.


“Ini ukuran yang lebih besar ada nggak, Kak?” Zara menanyakan barang yang dibelinya kepada karyawati yang kebetulan tengah melintas.


“Ada, tapi di tempat lain. Kakak cari yang nomor berapa memangnya?”


“42 cm.”


“Saya bantu carikan, ya, Kak.”


“Okay, terima kasih.”


Namun pada saat Zara mulai kembali melangkah untuk mengambil barang yang lain, dia justru tertabrak oleh seorang pria hingga barang yang ada di tangannya terbang ke lantai.


Bukan barang jatuh itu yang membuatnya terkejut, melainkan seorang pria yang menabraknya.


“Maaf, saya sedang buru-buru. Kamu nggak papa?” ujarnya menampakkan kekhawatiran.


Zara mematung. Dia merasa tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan saat menatap lelaki ini sehingga tak bisa bergerak, apalagi mengeluarkan suara.


“Sepertinya kamu terkejut sekali. Sekali lagi saya minta maaf, saya benar-benar nggak sengaja. Saya bantu ambilkan barangmu, ya?” pria itu berjongkok dan kembali memasukkan barang yang jatuh itu ke dalam keranjangnya.


“Te-terima kasih,” jawab Zara terbata.


Mungkin pria itu menyadari caranya melihat sehingga dia kembali bertanya, “Apa kita pernah mengenal sebelumnya?”


Hah, lelucon macam apa ini?


Bersambung.

__ADS_1


Kalau ada keanehan tolong komen di paragraf itu, ya. aku gak cross check ulang soalnya.


__ADS_2