Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Berjuang Untuk Sembuh


__ADS_3

Bab 44


Ardito: aku minta maaf atas kejadian kemarin.


Begitu pesan yang baru Zara baca dari ponselnya di hampir tengah malam seperti ini. Kebetulan, ia baru saja selesai membersihkan wajahnya dari sisa-sisa make up yang menempel. Mengganti bajunya dengan piyama tidur, kemudian duduk di balkon kamarnya sembari menghirup udara malam yang menurutnya lebih segar daripada udara AC yang tertutup, pengap dan kurang sehat.


“Aku pikir kamu dah ngelupain kejadian kemarin,” gumamnya, “soalnya diem-diem bae sampai besok harinya kayak nggak pernah terjadi apa-apa. Lagian ngapain juga datang tiba-tiba, sih, To ... kan, minimal bisa kirim pesan dulu.”


Jari lentik itu kembali menggulir layar ponselnya ke bawah lantaran masih ada pesan lain yang belum terbaca.


Ardito: Aku sama sekali nggak nyangka ibuku bakal ngucapin kata-kata yang nggak senonoh seperti itu sama kamu. Sekali lagi aku minta maaf yang sebesar-besarnya.


Hembusan napas terdengar menyeruak dari rongga pernapasan Zara. Dia yang tak ingin menyimpan dendam atau pun kemarahan, lantas segera menjawab. Demi menjaga hubungan pertemanan mereka agar tetap terjalin. Berharap kelak mereka bisa bertemu lagi dalam keadaan baik-baik saja.


Percayalah, punya musuh itu sangat tidak enak.


Zara: jangan terlalu dipikirkan. Ini bukan salah kamu dan aku nggak mau ambil hati ucapan ibu kamu kemarin. Tenang aja. I’m fine.


Tentu harus seperti itu, untuk apa meladeni orang kurang waras. Tapi dalam hatinya saja karena tak pantas Zara mengatakannya secara langsung. Aneh memang aneh. Datang sendiri tanpa di undang, tapi pas ditolak langsung emosi dan meradang-radang.


Ardito: ternyata hati kamu seluas itu. Terima kasih, Zara. Kamu ternyata baik sekali. Tapi sangat disayangkan, karena aku nggak bisa mendapatkan kamu. Dan mungkin sebentar lagi, aku juga harus siap kalau kamu bakal dimiliki orang lain lagi. Dari sini aku percaya hanya Fasad yang beruntung karena pernah bisa memiliki kamu.


Ardito: btw kalau boleh tahu, kenapa Fasad ngelepas kamu gitu aja? Padahal aku pikir waktu itu kamu berusaha untuk mengejarnya. Entah itu benar atau cuman perasaanku aja. Maaf aku kepo.


Zara: aku yang salah, Dit... aku terlalu menganggap dia teman padahal dia merasa lebih dari itu. Terus ada masalah pribadi juga sama keluarga yang nggak bisa aku ceritain.


Ardito: makasih karena udah mau jawab. Berita yang dulu, udah sempat kamu bantah. Tapi aku belum yakin kalau nggak tanya langsung sama orangnya.


Zara: berita yang mana? Berita tentang aku banyak banget.


Ardito: yang ada di Hotel.


Zara: oh, itu? Aku nggak bermaksud sombong atau apa pun. Tapi kalau memang hanya butuh uang dengan nominal sekian, aku rasa aku punya. Jadi kenapa harus menjual diri?

__ADS_1


Ardito: iya, sih. Wajar kalau mereka kurang tahu. Soalnya kamu nggak terlalu terbuka dari keluarga mana kamu berasal. Sukses untuk kamu, ya. Aku jadi berhenti menduga-duga. Seharusnya ibuku nggak kemakan gosip supaya beliau nggak berani ngata-ngatain kamu lagi.


Zara: kalau pun iya, nggak seharusnya beliau bersikap seperti kemarin. Ini berlaku buat semua orang yang nanti jadi jodoh kamu, Dito. Supaya Ibu kamu kelak belajar untuk lebih bisa menjaga ucapannya.


Ardito: jujurly aku sedih. Tapi ya, mau gimana. Nggak bisa menghentikannya. Ini masalah yang serius. Aku dah rencanain matang-matang, lain hari nanti, perempuan yang akan jadi istriku nggak akan aku ajak tinggal sama mereka. Ini terlalu mengerikan.


Zara: semoga seperti yang kamu harapkan.


Ardito: aamiin.


Zara mencukupkan diri dari balkon karena angin malam berhembus semakin kencang. Lantas mengunci pintu dan merebahkan diri di atas ranjang dengan posisi terlentang. Sedang ponsel masih di tangannya, membaca pesan-pesan penting lain yang masuk.


Tiba-tiba terlintas dalam benaknya untuk bertanya soal Fasad. Rasanya tidak mungkin kalau Dito tidak tahu sedikit pun kabar tentang mantan suaminya itu. Bukankah mereka berteman cukup dekat?


Zara: apa kamu tahu di mana Fasad sekarang?


Agak lama Zara menunggu balasan. Padahal pesan terakhirnya sudah terbaca. Centang biru.


Ardito: di Bandung. Masa nggak tahu.


Zara: kerja? Atau kuliah lagi?


Ardito: Memangnya dia nggak ngabarin kamu, apa? Jauh amat jarak kalian sekarang.


Zara: sebenernya aku malu ngakuin ini, (emoticon meringis) udah lama dia blokir aku.


Ardito: ini biasa dilakukan oleh orang-orang kalau mereka pengen move on.


Zara: aku sendiri enggak, ah.


Ardito: berarti kamu nggak cinta.


Zara: sok tahu. Biar cinta kita nggak harus melakukan itu.

__ADS_1


Ardito: dah, tenang aja. Walau pun dia blokir kamu, dia tetap melihatmu dan mendoakanmu dari kejauhan. Dan asal kamu tahu aja, dia suka sekali dengan perubahanmu yang sekarang. Kamu lebih terkontrol, tenang, dewasa dan yang pasti semakin mahal.


Zara: dia tahu semuanya tentang aku, Dit?


Tanya Zara sangat penasaran.


Ardito: tentu. Termasuk ajakan ta’aruf ku sama kamu kemarin, dia senang banget.


Tanpa sadar buliran air mata Zara meluncur begitu saja. Membayangkan Fasad tersenyum sambil mengacungkan jempol ke arahnya, seperti yang biasa pria itu lakukan pada saat dirinya naik ke atas podium atau tempat persembahan.


Zara: dia masih sendiri?


Ardito: Fasad masih dalam masa pengobatannya.


Zara: sampai separah itukah dia, Dit?


Ardito: kalau untuk itu aku nggak tahu. Cuma dia sendiri, keluarga dan dokter yang bisa mengukur seberapa parahnya. Tapi terakhir kali yang aku dengar dari teman yang lain, ternyata selain mental health dia juga mengidap bis*ks. Kamu tahu artinya itu apa?


Deg ....


Zara langsung tergugu begitu melihat pernyataan Ardito yang mengungkapkan bahwa Fasad masih belum bisa sembuh dari penyakitnya. Ah, pasti dia tersiksa sekali.


Betapa pengaruh pola asuh anak dari orang tuanya sangatlah besar bagi masa depan sang anak. Ditambah lagi dengan masuknya Fasad ke pergaulan bebas—yang hampir semua orang malah justru membiarkan dia keliru. Menganggap perilaku yang menyalahi fitrah itu wajar, lucu, menghibur dan menyenangkan. Pun tanpa mereka tahu, dengan memperlakukannya demikian, membuat dia menjadi semakin menikmati luka. Padahal dalam nuraninya, dia meronta-ronta membutuhkan pertolongan.


Dari sini Zara mendoakan yang sangat-sangat terbaik baginya. Semoga segera pulih dan bisa melanjutkan impiannya yang belum tercapai.


Tak lama Ardito kembali mengirimkan pesan. Banyak sekaligus.


Ardito: dia punya statement untuk nggak berhubungan secara resmi dengan seseorang sebelum dia sembuh total. Supaya nantinya tidak ada yang saling menyakiti.


Ardito: fyi, di jaman sekarang banyak banget orang yang mengalami hal sama seperti Fasad/Grace. Lalu mereka menikah dengan perempuan—rata-rata untuk menutupi rumor yang beredar. Menyelamatkan nama orang tuanya, atau bahkan karena tak ingin orang tuanya kecewa dengannya. Tapi Fasad bukan tipe orang yang seperti itu. Seperti yang aku jelaskan tadi. Supaya nanti di dalam pernikahannya, tidak ada yang saling menyakiti. Kamu pasti tahu, dia orang yang sangat memikirkan orang lain.


Ardito: tolong jaga rahasia ini. Aku percaya kamu.

__ADS_1


Zara tak lagi membalas pesan tersebut. Dia ikut merasakan sakit yang luar biasa. Dan demi menguranginya, Zara menuju ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Rasa hangat dari kucuran air shower melemaskan otot-ototnya yang menegang. Menyirami panas jiwanya yang sedang meruap-ruap.


Bersambung.


__ADS_2