Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Terlalu Excited


__ADS_3

“Kak, Za!” ujar Zunaira tak suka kakaknya menyebut benda keramat berbentuk segitiga itu.


“Huhhh, nyebelin. Bukannya terima kasih, istrinya udah dibantuin beliin testpack. Malah di kunciin pintu dari dalem. Kamu tahu tuh nggak tahu, kita itu sampai dituduh hamil di luar nikah sama Si Engko pemilik apotek gara-gara beli alat itu. Semua demi siapa? Demi kamu wahai saudara Rayyan Eshan Altair.” Mauza menggerutu sambil menunjuk pintu itu, menganggapnya seolah objek sasarannya.


“Orang lagi bahagia sendiri mana mungkin kepikiran sama kita, sih, Kak,” demikian Zunaira beranggapan.


“Ada apa?” tanya Vita heran saat dia mendapati kedua anaknya berdiri di depan kamar anak pertamanya, “tidak boleh mengintip!”


“Siapa juga yang ngintip, Ma,” Mauza langsung menyanggah, “itu loh, Kak Zara ....”


“Iya, kenapa sama Kakak kalian? Kok tadi Mama dengar kamu teriak, Nak?”


“Selamat,” Mauza merentangkan tangannya sambil tersenyum, “Mama udah mau jadi grandma!”


“Iyakah?” binar mata wanita itu menunjukkan buncahan bahagia. Vita langsung menyambut pelukan anaknya setelah Mauza mengangguk. “Kita mau punya cucu, itu tandanya kita sudah tua, Mas. Alhamdulillah orang yang lebih tua dari kita di rumah ini pun masih sehat, panjang umur.”


Sementara di dalam, kedua orang tengah terpaku di tempat. Zara masih duduk termenung di tempat yang sama, dan Ray masih berdiri di depannya tanpa berusaha untuk melangkahkan kakinya lebih dekat. Namun dari pancaran mata dan lengkungan senyumnya, sudah dapat menggambarkan bagaimana membuncahnya perasaan mereka saat ini.


“Kamu kesetrum?” tanya Zara mengawali pembicaraan.

__ADS_1


“Kamu sendiri kenapa masih duduk disitu?” balasnya.


“Aku lemes ....” Zara masih belum bisa berdiri karena takut tubuhnya terhuyung. Bahkan sampai saat ini pun, wanita itu belum terlalu yakin bahwa dirinya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.


Kini Ray mendekati istrinya. Lalu berjongkok untuk mencium perut Zara dalam-dalam agar dapat merasakan kehadiran bayinya. Dia membenamkan kepalanya di sana tanpa mengeluarkan satu patah kata pun.


Zara semakin terharu, wanita itu mengusap-usap kepala Ray yang masih setia berada di perutnya. Zara berani bersumpah, adegan ini sudah ia bayangkan beratus-ratus kali di kepalanya semenjak dulu, dan hari ini ... semua khayalannya telah menjadi nyata.


Rasa bangga juga kian menyeruak di hati Rayyan karena hari ini ia mengetahui bahwa dirinya adalah seorang pria yang sehat. Kehamilan Zara menjadi pembuktian atas kejantanannya. Ada rasa puas karena akhirnya dia memiliki keturunan yang akan meneruskan apa yang akan dia wariskan. Aku adalah pria sejati, begitu batinnya bersorak.


“Aku pernah dituduh mempunyai gangguan infertilitas sampai aku mengira bahwa tuduhan itu memang benar,” ucap Rayyan dengan suara tertahan, “tapi hari ini ... kamu telah berhasil mematahkan semua anggapan itu.”


Ray kembali mengucap terima kasihnya berkali-kali kepada Zara karena dia sudah membuatnya menjadi lelaki yang sempurna. Lantas kemudian menuntun istrinya keluar setelah keadaannya jauh lebih baik.


Sungguh. Zara tidak pernah sebahagia sekarang. Pun dengan Rayyan. Pria itu sudah mulai terbayang, bagaimana rasanya dipanggil Papa, Papi, Abi, Ayah, Bapak atau apa?


Ah, memikirkan ini saja sudah membuatnya luar biasa. Apalagi ditambah bayangan kegiatan yang akan dilakukan bersama dengan anak-anaknya nanti.


Setelah hari mulai agak siang, keduanya memutuskan untuk kembali ke rumah. Bahkan saking excited nya, Zara sampai melupakan niatnya datang ke rumah Mama, bahwa ia akan mengundang Mama dan adik-adik iparnya untuk datang ke acara grand opening produk terbarunya di Mall Ci*******. Oleh karenanya, dia terpaksa menyusul obrolan lewat telepon.

__ADS_1


“Tuh, kan, Mami bilang apa tadi pagi. Pasti kamu itu hamil,” kata Miranda begitu sampai di rumah. Wanita itu sampai tak peduli meninggalkan pekerjaannya demi menemui anaknya sekarang juga begitu dia mendengar kabar bahagia ini. “Kenapa Mami bisa bilang begitu? Beda aja auranya. Mami udah pengalaman.”


“Auratnya?” Zara mengernyit tak paham.


Miranda menjawab dengan gemas, “Nggak pakai huruf T, Sayang!”


“Terus sekarang aku mesti ngapain, Mam?” Zara bingung dengan apa yang harus dia lakukan dengan kondisi barunya, “apa langsung ke rumah sakit aja? Apa gimana? Aku nggak tahu ....”


“Ya udah langsung aja supaya lebih pasti, tahu gimana keadaannya, usianya udah berapa,” jawab Miranda, si tipe orang yang paling tidak bisa menunggu besok.


Zara mengangguk, tapi kali ini Ray tidak bisa ikut serta karena sedang ada pekerjaan yang tidak bisa ia tinggal selama beberapa jam ke depan.


“Nggak papa kan, aku perginya sama Mami?” tanya Zara saat meminta izin pada pria itu.


“Sebenarnya aku pengen lihat dia. Tapi ya sudahlah, nggak papa. Kamu kasih lihat videonya aja nanti,” balas Ray mengantarkan istrinya ke depan, “hati-hati dijalan. Tolong bantu aku jaga dirimu sendiri saat aku nggak ada di sampingmu.”


Zara mengangguk. Ray bahkan mencium keningnya di sana tak peduli orang lain yang sedang menunggu istrinya di dalam mobil. Suatu hal yang tidak pernah pria itu lakukan sebelumnya, karena dia memang tipe lelaki yang tidak pernah memamerkan kemesraan di tempat umum. Kecuali secara tak di sengaja seperti insiden yang pernah dilihat oleh Devi pada saat itu.


Bersambung.

__ADS_1


Tebak-tebakan yuk!


Satu atau twins?


__ADS_2