Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

123


“Aku nggak mau kamu salah pilih akibat kamu terlalu cepat ngambil keputusan,” sambung Umar membuat Zunaira setingkat lebih paham. “Semoga kamu juga nggak cuma mau jadikan dia sebuah pelarian karena patah hati kemarin.”


“Ya nggak lah. Nggak mungkin aku sejahat itu, Kak,” jawab Zunaira menanggapinya.


“Wajar kalau aku kaget, secepat itu kamu bisa move on dari Si Semut,” jawab Umar sesekali menoleh kepada adik bungsunya yang diam penuh tanya.


“Aku sama sekali nggak bermaksud membuatmu gamang. Tapi kalau kamu udah yakin, tak masalah. Abaikan saja semua pertanyaan ku barusan.”


“Setahuku ... nggak ada yang aneh sama dia selama aku bekerja satu kantor dengannya,” kata Zunaira setelah berpikir sesaat.


“Ya sudah. Semoga saja dia sebaik yang kamu lihat selama ini.”


Terus terang, perkataan Umar memang membuat Zunaira bimbang. Namun ia berusaha keras untuk mengabaikannya. Dia tidak boleh mempermainkan perasaan orang yang sudah terlanjur berharap. Karena bagaimana pun, Zunaira pernah mengalaminya dan rasanya itu sakit sekali.


Sesampainya di rumah, Zunaira mendapati Mama dan Papanya sedang duduk berdua di ruang tamu, dengan posisi kepala Papa di pangkuan Mama. Tak ingin mereka merasa malu kepadanya, Zunaira lantas kembali keluar dengan hati-hati agar telapak kakinya tak sampai terdengar di telinga mereka.


Tetapi baru saja dia berada dia lewat depan pintu, datang Umar yang menyusul masuk sehingga gadis itu cepat-cepat mendorongnya sembari membungkam mulut yang dikenal runcing tersebut. Zunaira baru membuka tangannya dari mulut Umar pada saat mereka sudah berada di luar.


“Ada apa, sih? Kenapa kamu menutup mulutku!” protes Umar hampir saja berang.


“Kita lewat samping aja.” Zunaira menarik tangan kakaknya lagi. Dan dia baru menjelaskannya di samping rumah, kenapa mereka harus melewati pintu lain. Pasalnya, ada dua orang yang sedang bermesraan di ruang tamu dan dia sedang tak ingin mengganggu keromantisan mereka.


“Oh ... ngomong dong, dari tadi,” kata Umar menanggapinya.


“Lah, ini udah ngomong, Kak.” Zunaira menunjuk dirinya sendiri.


“Udah biasa itu, kamu hanya melihat sebagian kecil aja. Opa sering nge gep mereka sampai tua bangka itu melempari anak kandungnya sendiri pakai sapu. Bahkan sering dimarahin juga, nggak tahu tempat! Banyak anak di bawah dua puluh satu ples di sini, katanya.” Umar menirukan gaya bicara Abah Haikal.


“Apa setiap orang yang sudah berkeluarga juga akan seperti mereka?” tanya Zunaira kepada Umar. Gadis itu pun heran, manjanya papa melebihi anak kecil jika mereka hanya sedang berduaan saja.


“Tentu saja begitu. Semua orang yang sudah menikah pasti akan seperti mereka.”


“Kak Umar rada ngawur, ih! Kak Umar kan, belum menikah. Mana tahu?” Zunaira menatapnya penuh kecurigaan, “atau jangan-jangan ....”


“Apa yang kamu pikirin, anak kecil?” sela Umar, “kecil-kecil pikirannya ngeres. Pasti kebanyakan baca novel dewasa.”


“Nggak!” sanggah Zunaira, “Kak Umar diem-diem pasti udah pacaran juga kayak mereka, ya? Dosa ih! Aku bilangin Papa, nih!”

__ADS_1


“Sok tahu! Udah pinter ngancem ya, sekarang?” Umar mengacak-acak rambut Zunaira sampai gadis itu memekik kecil dan berakhir saling membalas.


...∆∆∆...


Kesepakatan Zara dan Rayyan pun berakhir. Mereka sudah bisa meninggalkan Hotel yang mereka singgahi selama tiga hari. Meskipun bisa dikatakan ... penginapan itu lumayan menguras kantongnya. Ya, bagaimana tidak? Bumil yang Ray bawa ini banyak sekali permintaannya.


Zara sudah terlihat lebih bahagia sekarang karena keributan sudah mulai mereda dan semua masalahnya, dia anggap selesai walau masih terkesan menggantung. Pasalnya, Hamidah masih menganggap dirinya adalah korban.


Tapi ya sudahlah, terpenting Hamidah sudah berani mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Perkara tulus atau tidak, itu urusannya dengan Tuhan. Dia-lah Maha Besar yang menilai segala sesuatunya kelak. Meskipun masih sangat disayangkan pula, karena wanita itu tak bersedia melakukannya secara langsung.


Semua aktivitas sudah mulai kembali berjalan normal. Hanya saja, Zara sudah mulai mengurangi aktivitasnya kecuali mendatangi kantor. Ray benar-benar sudah melarangnya keluar, andai tak ada urusan-urusan yang cukup mendesak. Itu pun harus pria itu sendiri yang mengantarnya.


Akan tetapi, masih ada ganjalan di hati Zara karena dia pasti akan kembali kehilangan orang terdekatnya, yakni Mauza. Sebab tak lama lagi, Mauza akan segera menikah.


Bukan tidak mungkin, bahwa pria yang akan menjadi suaminya itu akan melarang istrinya bekerja. Atau yang lebih mengejutkan lagi, bisa saja Sammy juga akan membawanya ke tempat yang jauh. Sesuai dengan tempat dia bekerja sekarang.


“Sammy itu kerja di mana sih, sekarang? Kok aku nggak tahu apa-apa?” tanya Zara kepada sang suami.


“Sammy itu kerja di Bekasi,” jawab Rayyan tanpa ingin memberitahukan semuanya sekarang tentang apa yang sedang dia kerjakan bersama Sammy. Ray hanya ingin memberinya sedikit kejutan pada istrinya nanti.


“Kerja apa di Bekasi? Jauh banget. Kan, rumahnya di sini. Terus gimana sama Mauza nanti kalau mereka sudah menikah? Apa dia mau dibawa juga?”


“Aku mau berangkat sekarang,” ujar Zara mengajak Rayyan untuk mengantarkannya ke kantor.


“Sebentar, aku ganti baju dulu.”


Setelah lima menit menunggu, akhirnya Ray keluar dengan sudah memakai baju yang lebih rapi daripada sebelumnya.


Namun saat di tengah perjalanan, Zara menghentikan suaminya dan mengatakan bahwa dia ingin ke rumah sakit terlebih dahulu karena harus menjenguk seseorang. Baru saja Cici mengabarinya, bahwa mantan ibu mertuanya, masuk rumah sakit.


Rayyan bertanya, “Kenapa sama beliau?”


“Sakit batu ginjal, By. Keadaannya udah parah, mungkin juga komplikasi.”


“Baiklah, kita akan segera ke sana.”


Sesampainya di rumah sakit yang dituju, Zara dan Ray segera menuju ke tempat di mana Ibu Tia di rawat. Mereka langsung menemuinya.


Di sana, terbaring wanita tua yang lebih kurus daripada yang terakhir kali Zara lihat. Wajahnya begitu pucat dan kuyu.

__ADS_1


Sembari menahan sakit, wanita itu menggenggam tangan Zara, berterima kasih karena sudah bersedia datang ke sini untuk menemuinya.


Beliau juga meminta maaf padanya tentang perdebatannya waktu itu. Mengakui bahwa sikapnya di waktu lalu hanyalah karena satu sebab, dia sangat mencintai anaknya. Tia baru menyadari bahwasannya didikan yang dia terapkan selama ini adalah cara yang salah, sehingga menyebabkan anaknya tumbuh dengan sikap dan sifat yang demikian.


Dengan kebesaran hatinya, Zara pun mengatakan, “Jangan khawatir ... Zara udah maafin Ibu sama Fasad.”


“Terima kasih, Nak. Terima kasih,” jawabnya disertai dengan lelehan air mata.


“Yang rajin minum obatnya ya, Bu. Supaya cepat sembuh.”


Tia menangguk.


Tatkala Ray dan Zara keluar, Cici pun mengikutinya. Mengucapkan kembali terima kasihnya karena sudah mau datang menemui Tia, setelah apa yang sudah pernah terjadi di antara mereka.


“Sama-sama, Ci. Orang tua lain saja aku hormati, apalagi Ibu Tia. Beliau kan, mantan Ibu mertuaku juga.”


Untuk pertama kalinya semenjak hubungan keduanya renggang, Zara mau menampakkan senyumnya lagi pada Cici. Dan hal ini membuat kedua mata perempuan itu mengembun. Penuh keharuan. Satu kata yang ingin ia dapatkan semenjak lama, yaitu kata maaf dari sahabatnya. Dan kini, keinginan itu sudah tersampaikan. Dia berharap ke depannya, mereka bisa terus berhubungan baik.


“Oh iya, kamu sendirian nungguin Ibu di sini?” Zara bertanya karena ia tak mendapati siapapun di sana bersama Cici.


“Hanya sendiri, Zar. Habis sama siapa lagi? Keluarga Ibu cuma aku sekarang.”


“Kamu baik sekali mau mengurus beliau. Pahala yang besar untukmu ... insyaallah.”


Cici mengangguk dan tersenyum.


Belum sempat mereka mengucapkan salam, seorang laki-laki berpostur tubuh tinggi dan hitam manis mengetukkan kedua kakinya di depannya.


Pria itu adalah Fasad. Dia baru saja keluar dari sel dan langsung menuju ke sini setelah mendengar bahwa ibunya sedang tak baik-baik saja.


Zara terkesiap. Wanita itu berdebar jantungnya melihat ketegangan dua laki-laki di depannya.


Suami dan mantan suami yang kurang akur, bertemu di dalam kesempatan yang sama?


Apa yang akan terjadi?


Bersambung.


Menuju ke season berikutnya, ya. Kalau season yang berikutnya ini bakalan nyampur. Antara Zunai, Mauza sama Umar. Semoga masih setia membersamai ceritaku.

__ADS_1


Hayo, Kalian suka sama pasangan mana, nih?


__ADS_2