
161
“Cantik itu berdasar dari hati bukan dari penampilan,” Mauza menanggapi pernyataan Umar barusan, “tapi menurutku, dengan penampilan Alma yang lebih tertutup, itu dah bisa membuktikan kalau dia memang lebih cantik daripada Sarah.”
Mauza menepuk pundak Umar, “Niatkan menikah untuk ibadah, Mar. Bukan untuk yang lain. Percaya aja sama Papa, beliau nggak mungkin memilih orang yang salah untuk pendamping hidup anaknya.”
“Yaaa ...” Umar membalas dengan nada malas. Kemudian menunjukkan ponselnya yang sedang berdering, “Tuh, laki lo nelpon tuh! Makanya kalau ke mana-mana itu bawa HP. Pergi jauh cuma bawa badan doang. Ntar kalau ada apa-apa atau mau beli apa-apa gimana?”
Mauza menerima ponselnya, tapi sudah mati. “Kan ada kamu, Mar. Nanti kalau mau makan atau jajan tinggal minta.”
“Tapi jangan yang mahal-mahal kalau nggak mau kutinggal buat jaminan.”
“Ih, Si Umar mah, meni pelit pisan. Dari dulu nggak pernah berubah!” Mauza kesal. Dia menjewer telinga Umar sehingga pria itu sontak berteriak.
“Aaa! Sakit, sakit, sakit! Aku lagi nyetir bodoh!” Umar mengusap-usap telinganya yang terasa hampir mau copot. Merah sebelah.
“Dulu juga gitu, capek-capek aku bantuin di Cafe. Back up karyawan yang lagi libur berharap dapet persentase dari kamu karena aku lagi butuh. Eh, begitu selesai malah cuma di traktir makan doang. Sialan lu, Mar! Kamu kalau orang lain dah aku tendang burungnya biar nggak bisa cocok tanam.”
“Cewek mah gitu, ya. Yang udah basi terus aja di ungkit-ungkit. Pantes hidupnya nggak pernah tenang,” balas Umar sesekali menoleh ke arah Mauza yang sedang dendam kesumat padanya.
“Kayak hidupmu tenang aja, Mar. Orang kamu juga banyak masalah.”
“Dah ah, mumet gue. Dah cepet telepon balik Si Semut Gatal itu. Dia lagi nyariin, tuh. Dah butuh lu kali. Tapi awas, ya! Meskipun begitu, aku nggak mau direpotin apalagi di suruh putar arah. Aku dah terlanjur setengah jalan. Salahnya sendiri ikut.”
Mauza memutar bola matanya. Oh, Tuhan. Padahal dia sudah tahu, hidup bersama Umar memang penuh dengan ancaman. Tetapi dia terus saja dekat-dekat dengannya. Tidak pernah kapok.
Mauza segera menghubungi Sammy kembali. Kontak pria itu di beri nama Si Semut. Kemarin kontak ponsel Ray dia namain Tukimin, sekarang Sammy di namain Si Semut olehnya. Hadeh.
“Hallo!” seru Sammy di seberang telepon.
“Ya, ini aku.”
“Yank, baju aku yang warna orange mana? Sama sabuknya, tasnya, kabel charger sama celana dal*m yang warna ijo di mana, Yank?”
“Ya ampun, Sammy!” Mauza kesal dan seketika menutup sambungan.
Dia kira Sammy akan minta maaf padanya atas kejadian semalam atau membujuknya untuk pulang, setelah mengetahui dirinya ternyata pergi dengan Umar. Ternyata, pria itu meneleponnya hanya untuk menanyakan barang-barangnya saja. Ugh! Ngeselin banget. Dah gitu diketawain sama pria di sebelahnya, lagi.
__ADS_1
Njir, berarti dari semalam dia cuma marah sendirian?
Apa sesepele itu, ya? Masalah seorang wanita di mata pria?
Percuma saja aku marah, batin Mauza menggeliat.
Setelah beberapa puluh menit mengendara, akhirnya Umar dan Mauza tiba di sebuah di kompleks yang tergolong sangat privasi. Tempat berdirinya beberapa rumah sewa milik orangtuanya. Biayanya pertahun, ada yang hampir mencapai angka empat puluh hingga lima puluh digit. Sesuai dengan tingkat perekonomian Indonesia sekarang.
Tetapi, semua itu tak seindah yang dibayangkan oleh banyak orang, karena mereka selalu menghitung dari pendapatan kotornya saja. Sebab pemasukan dan pengeluaran kadang tak sesuai karena ada saja yang harus mereka perbaiki. Demikian bisa membuat mereka menggelontorkan dana tak terduga. Terlebih, nilai rupiah di zaman sekarang ini sudah semakin tak berarti. Tak ada lagi mie ayam satu mangkok sepuluh ribu seperti di tahun 2020, karena sekarang mereka hidup di tahun 2040-an.
“Dah berapa lama aku nggak ke sini ya, Mar? Masih asri ya, tempatnya,” gumam Mauza mengawasi sekitar. Sedangkan Umar sendiri tengah berjalan ke arahnya. “Kita ke rumah yang mana nih, Mar?”
“Itu depanmu,” Umar menunjukkan rumah mewah yang di depannya terdapat anak kecil tengah bermain bola.
“Ih, ada dedek gemesssh.” Mauza mendekati bocah tersebut, menjembil pipinya. “Siapa namanya, Adek?”
“Axel ....”
Axel? Bukannya Axel ...?
Umar mengernyit. Lah iya, itu Axel anak Sarah. Sedang apa anak itu di sini?
Seketika Umar terkesiap. Dia begitu terkejut saat mendapati wanita itu berada di sini. Rongga dadanya pun seakan menyempit sehingga tak bisa menghirup udara dengan mudah.
Tak sampai di situ, Umar juga semakin dibuat retak pada saat menyusul seorang laki-laki yang dia pikir adalah Damian. Lelaki yang sering Sarah sebut saat dia sedang berdua dengannya.
“Oh, jadi kalian mau rujuk? Kenapa nggak bilang dari kemarin?”
“Iya, Mum?” anak itu mendekat dan meraih tangan Mumnya. Dalam sepersekian detik, Axel sudah berada di dalam gendongan.
Sial, wajah Sarah tampak tenang saja walaupun ada Umar di hadapannya. Atau memang sengaja berpura-pura tenang, agar tak dicurigai oleh Damian demi keselamatan hubungannya?
“Oh, ada tamu rupanya? Apakah Anda pemilik rumah sewa ini?” pria bernama Damian itu bertanya kepada Umar yang hanya diam saja. “Saya tadi di antar kan masuk oleh seorang penjaga. Beliau mengatakan, dia adalah orang kepercayaan Anda.”
“Iya, Pak,” jawab Umar dengan sopan.
“Saya sangat cocok dengan rumah ini. Sayangnya ada aliran air yang masih rusak sehingga mengakibatkan banyak dinding yang bocor. Jadi meskipun saya sudah mengirimkan down payment, kami belum bisa menempatinya,” pria itu mengajukan komplain.
__ADS_1
“Baik, biar saya cek dulu.”
Damian mempersilakan Umar dan Mauza untuk masuk ke dalam sana.
“Sialan, kalau aku tahu rumah itu bakalan di sewa sama Damian, aku nggak akan menyewakannya!”
Nama yang dilaporkan oleh penjaga adalah Erick, tanpa dia ketahui jika di belakangnya ada nama Damian. Dan Umar tak menyadari itu karena dia berpikir logis, memangnya dia saja yang bernama Damian di belahan dunia yang maha luas ini?
“Mar, kamu baik-baik aja, kan?” Mauza menghawatirkan kembarannya yang tiba-tiba berubah sikap. Masih kentara meskipun dia berusaha keras menyembunyikan nya.
“Aku baik-baik aja, Za,” jawab Umar berdusta. Malu sekali kalau dia harus berterus-terang.
Usai mengecek, mereka pun keluar dari rumah itu menemui penjaga di sini. Namanya Pak Jamal yang kebetulan sedang menunggunya pula untuk memberikannya laporan.
“Barusan sudah saya cek, Pak Jamal tinggal hubungi tiga orang tukang. Nanti kalau sudah selesai hubungi saya lagi, ya,” titah Umar pada pria itu.
“Iya, 'A. Siap.”
Damian ikut mendekat dan bertanya, “Bisa dikira-kira kapan selesainya, Pak Umar? Saya harap Anda segera menyelesaikannya karena rumah saya yang di ujung sana sudah cukup berantakan. Nggak mungkin kami tinggali lebih lama lagi. Banyak debu.”
Umar mengikuti arah telunjuk Damian ke bangunan yang tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri. Rumah itu terlihat sedang dalam tahap renovasi.
Ya, Damian memang sengaja menyewa tempat ini agar kepindahan mereka tak terlalu jauh.
Kenapa pertemuan ini harus terjadi di saat Umar sudah mulai melupakan wanita itu? Bahkan secara kebetulan, mereka menempati rumah yang Umar sewakan? Bukankah ini menyebalkan baginya? Namun, mengusirnya juga tidak akan mungkin. Apa kata dunia?
“Saya usahakan secepatnya,” jawab Umar tak memberikan jawaban yang pasti sehingga membuat Damian menyentaknya.
“Iya, kapan? Jelasnya saja. Jangan bertele-tele. Saya sudah terlalu lama menunggu ini.” Nada suara lelaki itu terdengar sangat tegas. Kaku sepertinya orangnya. Oh, ternyata pria seperti ini yang digilai oleh Sarah? Sampai membuatnya tak bisa move on?
“Mas!” panggil Sarah berusaha mengingatkan Damian agar tak terlalu kasar padanya. “Maaf ya, Pak ....” kali ini, Sarah menatap mantan pacar dan adiknya tentu saja. Berkata dengan santainya kepada mereka seolah tak pernah saling mengenal.
Cih! Umar mendecih pelan.
“Satu minggu sudah selesai,” jawab Umar tampak biasa. Tak mau terpancing karena bisa membuat suasana jadi tak nyaman.
Keduanya pun pergi dari sana. Ada sejumput penyesalan dari dalam hati Umar. Kenapa dia harus datang ke sini? Kedatangan yang membuat hatinya kembali terkoyak.
__ADS_1
Bersambung