Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Mentang-Mentang Aku Nggak Laku?


__ADS_3

46.


“Apa harus seperti ini cara Mami, agar anaknya segera menikah?” tanya Zara begitu Miranda masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Rayyan begitu saja. Sehingga membuat sopir yang ada di sana mendadak keluar, karena tak enak jika harus mendengar perdebatan mereka.


“Jawab, Mam!” kedua bola mata jernih itu menuntut jawaban, “ apa sebegitu rendahnya aku, hingga Mami tawarkan aku kepada laki-laki itu lagi? Laki-laki yang udah menghina aku sampai aku frustrasi dan hampir bunuh diri.”


“Sayang ... dengar kata Mami,” Miranda memosisikan duduknya, “dia bersikap seperti itu dulu karena tidak tahu kejadian yang sebenarnya.”


“Aku dah maafin dia, Mam,” sela Zara merasa dirinya sudah berada di posisi paling benar, “tapi bukan untuk berteman, apalagi menjalin hubungan.”


“Mami tahu kamu masih punya rasa cinta sama dia, Sayang.”


“Kenapa Mami bisa bilang seperti itu? Memangnya Mami tahu isi hati aku seperti apa?”


“Apa yang Mami tidak tahu tentang anakku, darah dagingku sendiri. Di rumahmu banyak kenangan kalian berdua yang nggak pernah kamu buang. Jaket, buku, video, foto, apa itu kalau bukan namanya cinta? Benci nggak akan menyimpan apa pun tentang dia. Kamu nggak bisa bohong sama Mami, Zara.”


“Enggak, Mam. Aku nggak mau dia melamar aku ... plis ....” Zara menggelengkan kepalanya. Air mata mulai menderai pipi. “Mami nggak mikirin perasaan aku? Mami senang aku menerima bekas orang lain?”


“Istighfar, Zara!” sentak Miranda mematahkan perkataan anaknya, “ucapanmu yang terakhir itu sebaiknya kamu tarik lagi. Nggak pantas kalau ini sampai terdengar di telinga orang lain. Kalau kamu masih menyimpan dendam seperti ini—lantas apa bedanya kamu sama dia?”


Selalu seperti ini, sambung Miranda dalam hatinya. Zara selalu butuh waktu lebih lama untuk memaafkan orang yang pernah menyalahinya.


Zara menatap Maminya lamat-lamat. Sedang bibirnya terkatup rapat bersiap mendengarkan wanita itu berbicara lagi.


“Ray memang punya salah sama kamu. Sangat boleh kalau kamu menolaknya. Tapi kamu harus tahu, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk terus memperbaiki diri, menjadi lebih baik dan bahagia,” tuturnya dengan suara yang lebih rendah, “jangan sekali-kali kamu berpikir kalau dia nggak pantas mendapatkanmu karena punya banyak sekali dosa. Ya, dulu Ray sombong, tapi kamu nggak perlu membalasnya. Tuhan aja memaafkannya, kenapa kita enggak? Memangnya kita siapa?"


Miranda mengusap pipi putrinya, "Lihat Mami. Lihat seberapa besar dosa Mami di masa lalu. Tapi Tuhan masih tetap sayang sama Mami. Dengan memberikan Mami suami dan anak-anak yang baik sepertimu. Kesucian yang kamu maksud bukanlah kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Karena yang dibutuhkan setiap pasangan adalah kesetiaan, kejujuran dan kepercayaan," Miranda menggenggam tangannya, sebelum kemudian terlepas oleh karena perkataan ini, "menikahlah dengannya. Dia sangat sungguh-sungguh ingin menebus kesalahannya dan membahagiakanmu.”


“Ya, aku mau nikah, Mam ... aku juga tahu usiaku udah banyak. Tapi bukan sama Ray ....” dia tetap bersikeras.


“Terus kamu maunya sama siapa? Sama Fasad?” tanya Miranda tak habis pikir, “Mami tahu dia masih sakit di Bandung.”

__ADS_1


Zara terkesiap. Ternyata Mami lebih tahu daripada dirinya.


“Ray masih lebih baik daripada Fasad. Itu menurut Mami. Meskipun dia duda, dia jelas nggak pernah belok. Apa kamu nggak takut, andai Fasad sudah pernah berhubungan dengan seorang pria juga? Nggak takut ketularan penyakit, kamu, Nak?” ujar Miranda menjedanya sejenak, “jangan kamu bantah juga apa perkataan Mami barusan. Bukan sedang menuduh, tapi hanya menerka. Ini hanya sebatas kekhawatiran Mami saja kepada anaknya.”


Namun Zara mengabaikan ucapan Miranda barusan memilih untuk menanyakan hal lain, “Kapan Mami bertemu sama mereka?”


Mereka yang dimaksud adalah Ray dan orang tuanya.


“Kemarin, dan mereka bahas semuanya dari awal. Ray sudah sendiri karena istrinya menyerah merawat dia yang sama sekali nggak bisa mengingatnya.”


“Jadi semua ini kalian yang mau?” Zara memperjelas, "agar kami menikah?"


“Ya, kalau kamu nggak keberatan. Kalau tetap mau nunggu Fasad, ya, terserah.” Miranda mengedikkan bahu. “Begitu, kan, maumu?”


Zara terdiam.


“Apalagi alasannya? Kamu menolak banyak orang, pasti karena ada yang sedang kamu tunggu. Mami nggak akan pernah bisa maksa. Tunggulah dia. Tapi sampai dia benar-benar sembuh dulu. Mami nggak mau dengar nanti kamu jadi korban kekerasan kalau dia sedang kambuh jiwanya.”


Kita lihat saja, batin Miranda mengingatkan.


Wanita itu sangat heran dengan anaknya yang sampai segitunya mengejar dan mengharap Fasad. Padahal pria itu telah membuangnya.


Mungkin antara cinta dan kasihan sangat tipis perbedaannya, sehingga Zara hampir tak bisa mengenali.


🌺🌺🌺


Flashback.


Malam itu, usai Miranda dan Vita membayar obatnya, keduanya menuju ke suatu Cafe yang terletak tak jauh dari Apotek. Semua orang turun dari mobil mereka, tak terkecuali. Termasuk Yudha yang ternyata ikut bersamanya, walau sebelumnya dia tak ikut turun ke Apotek.


Ke semuanya pun membahas tentang masa lalu anak mereka.

__ADS_1


“Dulu waktu saya tanyakan, anak saya memang membantah kalau dia ada hubungan dengan Zara,” kata Vita menatap lawan bicaranya, Miranda, “ya, memang benar seperti itu. Tapi setelah diam-diam saya selidiki, ternyata anak saya mencintainya. Ada foto-fotonya di kamar yang tidak sengaja saya lihat dan saya amankan.”


“Sebaliknya pun begitu,” balas Miranda, “Zara juga menyimpan jaketnya yang saya kira adalah barang yang spesial. Kemungkinan besar dia juga masih cinta. Karena sampai sekarang ... dia belum bisa menerima laki-laki mana pun.”


“Maafkan anak saya yang tidak bisa memberi sikap tegas, Bu Miranda. Mereka saling jatuh cinta karena Ray sendiri mengizinkan orang lain masuk ke dalam hatinya. Padahal dia sudah punya pinangan sendiri. Aneh memang. Tapi ... begitulah kenyataannya. Mungkin pada saat itu, anak saya berpikir bahwa hubungannya dengan yang sebelumnya sudah tidak bisa diselamatkan.”


Vita meminta pendapat suaminya, serta agar pria itu ikut melanjutkan.


Sedangkan, Ray sendiri hanya menyimak. Menahan kepalanya yang teramat pening karena terus berusaha mengingat-ingat apa yang tengah mereka ceritakan.


“Betul,” Yudha mengangguk, “sebenarnya sudah saya yakinkan berkali-kali sebelum dia menikah, ‘anakku, apa kamu sudah yakin betul akan menikahi Hamidah, kami tidak akan memaksa. Seandainya kamu sudah memiliki kriteria sendiri pun, tidak masalah. Kami akan terima. Karena kami yakin, kamu paling tahu yang terbaik untukmu sendiri’.


"Tak lupa kami juga memberikannya banyak nasihat, seperti yang biasa dilakukan oleh para orang tua pada anaknya, saat dia hendak menikah. Dan jawabannya, dia sangat yakin dengan pilihannya itu. Tanpa kami tahu, bahwa sebenarnya dia sedang marah dengan Zara ... yang pada saat itu terseret kasus ... maaf, prostitusi.”


Miranda dan Ruben mengangguk untuk menandakan bahwa mereka tak keberatan Yudha mengatakan sebagaimana adanya.


“Andai kami tahu dari awal, bahwa Ray mengambil keputusan ini karena sedang dalam keadaan emosi, maka kami akan mencoba memberinya waktu lebih lama lagi untuk berpikir. Sayang, semua sudah terlanjur terjadi.”


“Mungkin sudah menjadi jalannya seperti itu, Prof,” sahut Ruben, “takdir memang nggak ada tahu.”


Yudha menyetujui. Bahkan kejadian kecelakaan itu, serta amnesia yang di derita oleh anaknya, dia pikir ini adalah sebuah teguran untuk mereka semua. Agar berhati-hati karena semua yang dimiliki, termasuk ilmu adalah milik Tuhan yang harus di amalkan sebaik-baiknya.


Miranda tersenyum malu, “Sebenarnya, saya malu mengakui ini. Tapi saya pikir kalian harus tahu kalau saya adalah orang paling pertama penyebab semua masalah."


Merasa diberi kesempatan berbicara, Miranda pun mulai menceritakannya, "Pada awalnya, saya memang tertarik dengan Ustaz Ray. Pertama kali saya melihat dia ceramah di salah satu masjid besar di sekitar rumah. Kami berkenalan di sana dan entah kenapa, saya merasa dia adalah laki-laki yang tepat untuk mendampingi anak saya kelak. Zara butuh pria seperti itu untuk membimbingnya supaya jadi lebih baik. Sehingga terbesit dalam benak saya untuk menjodohkan mereka.


"Saya yang memintanya untuk mengisi kajian di rumah, memintanya untuk mengajari anak saya yang punya kelakuan sangat-sangat random. Tentu dengan maksud dan tujuan lain ... agar mereka lebih sering bertemu, yang secara alami, kebersamaan itu lama-lama bisa menumbuhkan perasaan cinta.


"Saya minta maaf sekali. Saya pikir Ustaz Ray pada saat itu masih sendiri. Baru saya ketahui belakangan kalau ternyata Ustaz Ray sudah mempunyai tunangan. Tapi semua sudah terlanjur. Sikap egois saya mengalahkan semua ketidakmungkinan itu. Karena saya punya harapan saat tahu hubungan Ustaz Rayyan dan calon istrinya tidak terlalu baik. Sekali lagi saya minta maaf... saya menyesal sekali,” urai Miranda benar-benar merasa bersalah.


Vita menggenggam tangan Miranda dan menatapnya lamat, “Kita sama-sama punya salah, Bu. Saya juga sempat termakan gosip yang beredar mengenai putri Anda. Yang secara andil, sudah mempengaruhi anak saya sendiri untuk ....”

__ADS_1


“Ya, saya tahu,” sela Miranda, “itu naluri alami seorang ibu yang tidak ingin putra kesayangannya menikah dengan seorang ... ya, seperti yang diberitakan, bukan? Apalagi, Ray seorang Ustaz. Apa kata dunia? Seorang ustaz menikah dengan mantan artis esek-esek," Miranda tersenyum, "tak apa, semua ibu pasti akan melakukan yang terbaik untuk anaknya. Termasuk saya.”


__ADS_2