
Foto berdua dengan memegang buku nikah sudah dilakukan. Kini para orang tua dipersilakan untuk naik ke atas pelaminan untuk memeluk kedua anak-anak yang sudah mereka berikan restu.
“Selamat ya, Nak. Semoga kalian bahagia, jadi keluarga yang sakinah, mawadah warahmah,” ujar Vita dan Yudha kepada putra pertamanya yang dibalas dengan pelukan hangat serta ucapan terima kasih yang mendalam.
Di samping Rayyan ada Miranda dan Ruben yang juga tengah memeluk putrinya.
“Selamat ya, Sayang. Akhirnya Mami punya mantu juga ... huhuhu....” Miranda tak berhenti sesenggukan hingga Ruben tak kuasa menahan tawa. Kenapa istrinya jadi kalap begini?
Setelah dirasa cukup, mereka bertukar posisi. Menantu dengan mertua, mertua dengan menantu, begitu pun di sebelahnya.
“Selamat datang di keluarga Al Fatir, menantuku,” ujar Vita dan Yudha dan disambut uluran tangan dan pelukan hangat oleh Zara.
“Terima kasih sudah memberikan kami restu, Ma, Pa. Doakan agar ini menjadi pernikahan yang terakhir untuk kami....”
“Itu pasti, Nak. Kalian akan selalu kami doakan agar pernikahan kalian langgeng, dikaruniai anak yang salih dan salihah, dan yang pasti bahagia dunia akhirat.”
Yudha hanya tersenyum dan menyambut karena semua doa telah dipanjatkan oleh istrinya.
Pun sama dengan apa yang Vita lakukan, Miranda dan Ruben pun begitu. Bedanya, mereka agak sedikit kocak.
“Yang sakit kepalanya doang kan, Ray?” tanya Ruben.
“Iya, cuma ini,” jawab Ray polos.
“Ya, bisa lah,” kata Ruben lagi.
Miranda sontak tergelak saat ekspresi wajah Ray berubah aneh dan setengah bingung. Mungkin butuh beberapa lama pria itu memahami maksud suaminya.
Tentu seharusnya Ray tahu apalagi dia sudah pernah menikah. Namun dia baru ngeh setelah beberapa saat kemudian dan langsung tertawa juga.
“Ow ya, ampun. Aku kira apa.”
“Kalau butuh ginseng boleh telepon Mami ya, Ray,” Miranda menambahkan, “ntar dibikinin.”
Tanggapan Ray yang melebarkan mata sambil tersenyum penuh makna menjadikan kode, bahwa dia menyetujuinya. Alhasil, mereka pun tertawa sepanjang momen itu.
__ADS_1
“Kayaknya lupa ingatannya bikin berkah. Dia jadi suka dibecandain sekarang. Dulu mah, boro-boro. Muka aja lempeng melulu.”
Vita membenarkan apa yang baru saja diucapkan oleh Miranda. Sepertinya benturan keras itu sedikit banyak telah mengubah kepribadian anak pertamanya yang semula pendiam jadi sedikit bertingkah. Tak jauh beda dari Umar, Rayyan juga sudah memiliki banyak akal bulus untuk mencari celah. Agar setiap kesalahannya bisa dimaklumi.
Momen bersama kedua orang tua mempelai sudah selesai. Berganti dengan orang lain yang sebenarnya mempunyai tujuan sama; memberikan ucapan selamat dan doa. Bedanya, hanya lebih rusuh sedikit.
“Om Dara, Onti Alif,” ujar Ray yang langsung disela oleh Zara.
“Kebalik, Pak.”
Alif sontak menatap horor, “Berani-beraninya!”
Ray tergelak. Kata-kata Omnya masih sama seperti tadi pagi. Sepertinya benar apa kata Papa, Om Alif memang tidak punya banyak kosakata lagi selain tersebut.
“Ngetes, Om. Kalian masih jeli apa, enggak? Ya nggak, Onti D?”
“Gapapa, Sayang. Karena kamu good looking jadi selalu termaafkan.” Onti D tersenyum dan memeluknya setelah ia memeluk Zara terlebih dahulu dan berbasa-basi dengannya.
Antrean diskip karena masih banyak. Kini giliran adik-adik mereka naik ke atas pelaminan. Paling pertama adalah Mike. Wajahnya memang lempeng-lempeng aja waktu mengajak kakaknya bersalaman. Tapi mata yang sembab tidak bisa menyembunyikan, bahwa anak ini telah banyak menangis. Mike merasa kehilangan kakaknya yang baru beberapa tahun ini tinggal serumah dengannya. Oleh karenanya, Mike menolak saat di ajak bersalaman oleh kakak iparnya. Sebab dia merasa, Rayyan telah mengambil Kak Zara dari dalam hidupnya.
“Eh, kok gitu, Mike?” tanya Zara ketika Mike menyembunyikan tangannya dan memasang wajah ditekuk.
“Mike cemburu sama kamu kayaknya. Jangan diambil hati, ya.”
Waktu hari lalu, Zara pernah memberitahu kepada Rayyan bahwa sikap adiknya memang sedikit mengesalkan. Mike bukan tipe adik penurut pada umumnya yang mau disuruh-suruh oleh kakaknya. Tetapi dia adalah tipe adik yang lebih sering mengajaknya berdebat.
“Gapapa, kalau sakit hati pun udah ada obatnya,” Ray menanggapi disertai dengan lirikan yang sulit diartikan.
“Idih! Pura-pura nggak liat, ah,” cibir Zara. Andaikan orang lain tahu, sebenarnya otak Zara juga sudah tidak beres semenjak tadi karena mulai traveling ke tempat-tempat yang nanti akan mereka jelajahi bersama. Di sudut-sudut rumah mereka kelak: kamar, meja, dapur, hmm apalagi, ya?
“Iyuh, lagi bahas apaan!” suara Mauza, Umar, dan Zunaira menghentikan mereka.
“Mau tahu aja,” jawab Ray singkat.
“Selamat, ya, Kak. Kadonya menyusul. Kita nggak punya banyak duit jadi patungan,” Mauza memberitahu.
__ADS_1
“Kado apa pakai patungan segala?” Rayyan penasaran.
“Bukan apa-apa. Cuma sekadar kado kecil-kecilan buat merayakan cinta. Ya, sekitar tiga harianlah di suatu tempat yang lumayan kece. Nanti aku kirim infonya, deh,” kata Mauza lagi.
Umar menambahkan, “Pokoknya kalian harus berangkat ke sana. Kami marah kalau pemberian kami ditolak.”
Zunaira hanya bisa tersenyum setelah mengucapkan selamat. Dia hanya ikut-ikutan ajakan sesat kakak kembarnya. Tak berani protes walau kadang telinganya ikut terkontaminasi bakteri-bakteri yang mirip dengan salmonella.
Beberapa jam berlalu. Akhirnya berdiri menyambut datangnya tamu dan sesi foto berdua pun rampung dilakukan.
“Kaki aku kram.”
“Heels mu terlalu tinggi,” Rayyan menanggapi keluhan istrinya.
“Capek, lapar, ngantuk,” terdengar Zara mengeluh lagi, “begini aja udah kayak apa rasanya, apalagi yang pesta sampai ganti baju berkali-kali.”
“Mau istirahat dulu di atas?” Rayyan menawarkan opsi, namun dia tarik kembali karena ... “nggak mungkin, ya?”
“Nggak enak sama orang banyak.”
“Kita gabung aja sama mereka, nanti capeknya bisa hilang.”
Zara menyetujui. Keduanya pun turun dari pelaminan untuk bergabung dengan mereka yang saat ini tengah melakukan bincang bersama sambil mendengarkan nyanyian-nyanyian istimewa. Dari Om Alif, Onti D, Mami dan lain-lain yang mereka persembahkan khusus untuk pengantin yang sedang berbahagia.
Sesekali Zara dan Ray melayani mereka yang mengajak berfoto. Namun dengan genggaman tangan yang tetap menyatu. Seolah tak ingin terpisah lagi.
Kumandang adzan ashar membubarkan semua orang dari tempat acara. Semua keluarga pun naik ke atas menuju unit kamar hotel mereka masing-masing. Tak terkecuali.
Begitu lift terbuka, semua orang di dalamnya keluar dari sana dan tak berhenti saling menggoda pasangan baru.
“Jangan sekarang, nanti masih ada acara makan malam bersama,” Miranda mengingatkan.
“Iya aku juga tahu ini masih siang, Mam,” jawab Zara gemas sendiri karena dari tadi terus jadi bahan olokan banyak orang.
Usai Miranda dan semua keluarganya menjauh, Ray berbisik, “Iya, memang nanti. Tapi minimal sekarang harus simulasi dulu.”
__ADS_1
♡♡♡
Bersambung.