
Pagi itu, semua keluarga Yudha dan Miranda berencana meninggalkan hotel GH. Sudah kesepakatan dari awal, bahwa mereka tak bisa menginap terlalu lama lantaran sudah banyak pekerjaan yang harus ditinggal.
Yudha yang notabenenya seorang pengajar, Ruben seorang dirut dan Miranda sebagai wakilnya, lalu Zara sebagai founder Zara.co, dan anak-anak yang sudah mulai mempunyai pekerjaannya masing-masing, tentu tak bisa seenaknya mengambil waktu cuti terlalu lama.
Kendati begitu, mereka tak melewatkan sarapan bersama sebagai perkumpulan terakhir.
“Mana, nih pengantin baru? Belum pada turun?” tanya Miranda kepada semua orang yang sudah lebih dulu hadir di sana. Yang tak lain adalah Umar, Mauza dan Zunaira. Sisanya, masih sedang berkemas barang-barang mereka.
Kursi dibentuk memanjang. Ruben duduk paling ujung, anak-anak di tengah, sedangkan Miranda duduk dengan Mike yang tak lepas dari keteknya. Bocah itu masih belum ingin bicara alias ngambek. Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa kakaknya sudah direbut oleh pria lain, demikian lebih tepatnya.
“Belum turun, Tante,” jawab Mauza.
“Maklum,” sahut Umar memancing senyum misterius semua orang.
“Maklum apa, Umar?” tanya Ruben.
“Habis ibadah, Om. Ah, Si Om mah, pakai pura-pura nggak tahu segala. Kayak nggak pernah aja.”
“Ssstt!” Mauza melotot untuk memberikan peringatan kepada saudara kembarnya, “jangan di dengerin ya, Om. Umar emang suka nggak jelas begini. Padahal waktu kecil nggak pernah kurang vitamin.”
“Nggak papa. Berjanda aja ya, Mar,” jawab Ruben melempar kembali tanggapan tersebut kepada seorang pemuda yang sedang nakal-nakalnya itu.
“Kalau bisa yang perawan aja, Om. Lebih menggigit katanya,” seloroh Umar membuat Mauza mendesis dan segera menutup telinga adik bungsunya. Padahal Zunaira sudah lebih dulu mendengarnya. Untuk sekian kalinya, telinganya terkontaminasi oleh perbincangan-perbincangan menyimpang.
“Parah banget dia,” kekeh Miranda, “Omnya sih, mancing-mancing!” dia menyalahkan suaminya sendiri.
“Kirain Si Om orangnya seram. Ternyata bisa bercanda juga ya, Tan,” kata Umar mengutarakan penilaiannya yang keliru.
Miranda membenarkan, “Iya, aslinya seperti ini kalau udah kenal, mah.”
“Pelit, nggak, Tante?”
“Kalau mau pedekate sama Tante aja yang uangnya lebih banyak,” sahut Ruben membuat Umar tertawa lagi.
“Wah, relate banget ya,” Umar menanggapi, “di mana-mana, nggak tahu kenapa perempuan uangnya selalu lebih banyak.” Dia berkaca dari mamanya sendiri. Karena dari sanalah uang jajan turun ke kantong sakunya, bukan dari Papa.
“Coba tanya dia, kenapa harus begitu?” Ruben menunjuk istrinya.
“Buat shopping, Mar.”
Keduanya saling bincang. Begitu juga dengan yang lain sembari menunggu Yudha, Vita, Ray dan Zara turun bergabung.
Di lantai 15.
__ADS_1
“Kayaknya kita lagi ditungguin, deh,” ucap Zara saat dia sedang mempacking semua pakaiannya lagi ke dalam koper. Berikut milik Rayyan juga. “Ini gara-gara kamu,” tuduhnya.
Sedangkan yang di salahkan hanya senyum-senyum. Dia setia memandangi sosok cantik yang hanya memakai mini dress itu sibuk bebenah.
“Masih lama?” tanyanya setelah beberapa saat, “ada yang mau aku bantu?”
“Nggak usah, ini udah selesai. Tinggal aku ganti baju.”
Rayyan mengangguk. Dia menghentikan Zara dengan menariknya ke atas pangkuan.
“Ray!” ujarnya berusaha melepas belitan tangan pria itu dari perutnya, “ini kita dah telat, loh....”
Mungkin bibirnya menolak, tapi tubuhnya jelas berkata lain. Zara selalu tak berdaya di bawah sentuhan lembut laki-laki itu.
“Nggak bisakah sehari lagi di sini?” pinta Ray masih ingin melepaskan gelora menggebunya acap kali melihat tubuh Zara yang terbuka seperti ini.
“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan siang nanti di outlet, supaya besok kita bisa pergi ambil hadiah dari adik-adik kita,” kata Zara mengungkapkan alasannya, “lagi pula kalau misal pun kita nggak pulang, semua keluarga lagi nungguin kita di bawah.”
“Baiklah kita turun sekarang.” Akhirnya Ray melepaskan Zara untuk mengganti bajunya. Selang sepuluh menit kemudian, keduanya keluar dengan hanya membawa bag dan barang-barang pentingnya saja. Mereka sudah menyuruh bellboys untuk membawakannya setelah fiks akan check out hari ini.
“Untung aku nggak pernah pakai pensil alis sama dempul tebel. Kalau nggak, berapa lama lagi kita turun ya, ampun.” Zara masih saja mendumel.
“Mama aja belum turun, tenang aja.” Ray baru saja berkirim pesan dengan mereka.
“Itu dia,” tunjuk Ray kepada sepasang suami istri yang sedang jalan sambil senyum-senyum itu.
“Selamat pagi anak-anak Mama,” sapa Vita kepada mereka berdua.
“Pagi juga, Ma, Pa,” jawab Zara dan Ray bersamaan.
“Kirain udah pada turun,” kata Zara lagi.
“Kita bebenah dulu. Tadi pagi kami tidur lagi setelah salat subuh, jadi kesiangan.”
“Tumben Mama sama Papa tidur lagi setelah subuh?” Ray bertanya sebab heran dengan ketidakbiasaan mereka yang baru saja didengarnya.
“Udah tua, Kak ... badan sudah gampang banget capek. Gampang sakit juga.”
Ke empatnya masuk ke dalam lift setelah salah seorang petugas membukakan pintu untuk mereka.
“Belum ada kabar terbaru dari kepolisian tentang pelaku, Ra?” tanya Yudha kepada menantunya.
“Belum, Pa. Agak susah nyari dia, soalnya nggak ada data yang nyangkut di kendaraan resmi; naik kereta, maupun pesawat,” jawab Zara, “dari pihak bank juga belum ada kabar bahwa Fasad melakukan transaksi.”
__ADS_1
“Berarti kemungkinan besar dia masih ada di sekitar sini,” kata Yudha lagi.
“Bisa jadi, Pa. Tapi ada kemungkinan juga kalau dia kabur pakai bus yang nggak perlu memakai identitas.”
Vita menyimak sambil merangkul anaknya. Dia bertanya-tanya tentang keadaan kepalanya yang terluka akibat pukulan kemarin.
“Masih sakit, tapi nggak terlalu mengganggu, Ma,” jawab Rayyan enggan diperhatikan sebegitu detailnya. Dia bukan lagi Ray yang agak jahiliyah seperti saat ia amnesia kemarin.
“Di minum nggak obatnya?”
“Iya, di minum. Kan, udah disiapin sama Zara.”
Ah, iya. Vita bahkan sampai lupa bahwa ada yang akan lebih memperhatikan anaknya mulai saat ini.
Huh, rasanya sangat lega sekali Rayyan sudah menemukan orang yang tepat. Tapi dia belum tenang karena PR nya masih banyak.
Umar, Mauza, Zunaira.
♤♤♤
Untuk pertama kalinya Rayyan menginjakkan kakinya di kantor Zara.
Dia pun melihat-lihat sekitar dan sempat berkenalan dengan orang-orang kepercayaan Zara di sana, sebelum akhirnya dia masuk untuk menemani Zara yang tengah mengecek semua laporan perusahaan. Dia duduk di belakang Zara untuk memperhatikan wanita itu menatap layar sembari menggeser-geser kursornya.
“Semua aman,” Zara bergumam, “kecuali bagian produksi.”
“Kenapa?” sahut Rayyan sekadar ingin tahu.
“Selama ini aku kerjasama, sama Cici. Tapi berhubung seperti ini, jadi aku terpaksa harus memutuskan kerja sama kita.”
“Nggak boleh dendam.”
“Aku nggak dendam, aku cuma memutuskan kerjasamanya, bukan tali silaturahminya.”
“Udah benar-benar terputus?” tanya Ray lagi untuk memastikan, “sudah ada kesepakatan dari kedua belah pihak?”
“Sebenarnya belum, sih.” Kemudian, Zara mengingat sesuatu, “Oh iya, kemarin aku dapat chat dari dia. Tapi belum aku baca.” Wanita itu segera meraih ponselnya untuk membuka pesan Cici. Namun, apa yang dia baca, ternyata sungguh-sungguh mengejutkan. Yang di mana, Cici memintanya untuk mencabut laporan Fasad dengan alasan jika pria itu sedang sakit.
“Setelah apa yang dia lakuin ke kami, kamu minta kami mencabut laporan?” gumamnya menanggapi pesan tersebut, “bayangin kalau kamu jadi aku, Ci. Kamu pasti nggak akan bisa ngomong gini.”
Seperti apapun dan bagaimana pun, Fasad harus tetap di amankan. Dia sedang sangat berbahaya bagi orang lain.
Bersambung
__ADS_1
Votenya jgn lupa!☹