
Jantung Miranda terasa kebas setelah mendengar kabar tidak menyenangkan dari seberang. Menantunya mengabarkan bahwa anaknya baru saja mengalami kram perut hingga pendarahan.
Tak ada hal lain lagi yang bisa Miranda lakukan selain menyarankan Rayyan agar secepatnya membawa Zara ke rumah sakit. Meski berbagai pertanyaan mengendap di kepalanya, menuntut jawaban kenapa hal buruk ini bisa terjadi. Sebab yang terpenting sekarang adalah menghubungi Dokter Junita. Karena dialah dokter kandungan Zara dan hanya dia pula yang paham akan kondisinya.
“Ya ampun Dokter Junita baru aja ngelepas atribut. Bener-bener baru pulang. Pakai dokter umum dulu, ya, Mir. Perutku aja masih kosong melompong ini, belum sempet dipikirin ...” jawab dr. Junita Indarti SpOG., saat Miranda memintanya untuk memeriksakan Zara segera.
“Kalau urusan perut kosong masih bisa kamu tunda sebentar atau sambil di isi di jalan. Sementara dua cucuku, enggak, Dok. Kondisinya sekarang lagi genting banget.” Suara Miranda bergetar. Air matanya sudah tumpah membasahi pipinya. “Plis, Dok ... mereka butuh banget pertolonganmu. Mereka lagi dalam perjalanan, sebentar lagi sampe.”
“Ya sudah, baiklah. Aku ke sana secepatnya. Tapi mohon maaf kalau aku agak terlambat, ya. Soalnya ada yang harus aku urusin dulu sekarang. Nggak bisa ditinggal gitu aja,” akhirnya sang Dokter menyetujui.
“Gapapa, asalkan Dokter Junita kasih instruksi sama dokter jaga seandainya Zara tiba lebih dulu”
“Siap, Mir. Kamu tenang, ya. Aku akan melakukan yang terbaik.”
“Makasih banyak, Dok. Aku juga mau nyusul ke sana sekarang.”
“Iya sama-sama.”
Miranda langsung menuju ke rumah sakit saat itu juga. Tanpa mempedulikan tampilannya yang hanya memakai piyama, kerudung instan dan sandal jepit biasa. Pun dengan Ruben, tapi dia masih terlihat lebih baik karena menyempatkan diri untuk memakai jaket selama Miranda menggunakan waktunya untuk menelepon.
“Devi, kamu jagain Mike. Tolong jelasin ke mana saya pergi kalau anak itu nyari-nyari saya,” pesan Miranda sebelum wanita itu pergi.
“Baik, Bu.” Mulut Devi terlihat komat-kamit merapal doa agar majikan dan calon bayinya selamat.
“Yakinlah, mereka baik-baik saja,” ujar Ruben berusaha menenangkan istrinya. Keduanya berjalan tergesa menuju ke IGD begitu mereka tiba di sana.
“Mami?” ucap Ray begitu mendapati kedua mertuanya.
“Gimana keadaan Zara, Nak?” tanya Miranda segera.
“Masih di dalam. Lagi ditangani sama Dokter Junita,” jawab Rayyan.
“Alhamdulillah kalau beliau sudah datang. Tadi Mami yang maksa beliau supaya balik lagi ke sini. Aslinya jadwal praktek atau lain-lain sudah selesai,” paparnya sambil menjatuhkan tubuhnya di sebelah Rayyan. Ruben pun begitu.
__ADS_1
“Nangis nggak anakku?” tanya Miranda lagi. Dia sangat hafal bagaimana anak perempuannya apabila terkena masalah yang cukup fatal. Salah satunya pada saat papinya meninggal, waktu itu Zara sangat-sangat histeris dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
“Luar biasa,” jawab pria itu. Sontak ia mengingat kembali jeritan memekikkan istrinya pada saat mereka di dalam mobil. Dalam keadaan demikian, Ray kebingungan harus bagaimana cara menyikapinya.
Bahkan Zara tak sengaja telah melukai tangannya akibat cengkeraman yang terlalu kuat karena ketakutan yang dia alami. Pendarahan ini membuatnya seperti hendak melahirkan.
“Makanya kalau aku bilang pulang itu pulang. Aku suamimu, yang setiap perkataan benarnya harus kamu dengar. Kamu itu capek, stres, butuh istirahat,” tegas Ray pada saat mereka berada di perjalanan menuju ke sini.
“Iya, maaf ... maaf kalau aku nggak nurut. Ini salahku ... salahku ....” Zara sesenggukan sembari terus menyalahkan dirinya.
“Ra! Zara!” kata Rayyan menyentak agar Zara berhenti menangis, “dengerin aku sekarang. Stop nangis, okay?”
“Nggak, aku nggak bisa ... gimana kalau terjadi apa-apa sama anak kita, ha?”
Ray menepikan mobilnya sejenak dan memaksa Zara untuk menatap matanya, “Istighfar, Ra ... istighfar. Berhenti menangis karena yang sekarang kita butuhkan adalah doa. Bukan tangisan. Kamu mau anak kita selamat kan? Bersabarlah sedikit!”
Zara mengangguk pada akhirnya. Dia baru bisa berhenti menangis setelah beberapa saat kemudian.
“Sebenernya Mami punya banyak pertanyaan, kenapa kejadiannya bisa sampai begini? Terus kenapa kok Zara bisa sama kamu? Bukannya hari ini jadwalmu mengajar? Lalu di mana Mauza?” serentetan pertanyaaan Miranda membuyarkan lamunannya.
“Nggak papa, ceritain aja.”
Lantas Ray pun menceritakan kenapa Zara bisa stres sampai mengalami pendarahan. Wanita itu mengabarkan bahwa Mauza hilang bersama Sammy. Hal ini baru disadari oleh Zara setelah dia selesai melakukan syuting on air nya.
Pasalnya, mereka pergi tanpa pamit dan tak kunjung kembali setelah Zara tunggui di sana cukup lama. Nahasnya lagi, Mauza tak membawa serta satu pun barang-barangnya.
Mereka, termasuk Yudha dan Vita sempat mencari di berbagai tempat yang biasa Sammy dan Mauza kunjungi, tapi sayang semuanya nihil. Mereka harus pulang dalam keadaan tangan kosong.
“Kami memutuskan untuk lapor polisi setelah itu, Mi. Tapi bisa dibilang percuma. Karena sampai detik ini, mereka masih belum melakukan pencarian. Penjelasan yang masih aku ingat, hilangnya Mauza masih belum memenuhi syarat lapor. Mereka harus menunggu 1x24 jam karena tak ada bukti kuat yang mengharuskan mereka mencari saat itu juga.”
“Apa harus mati dulu baru mereka cari?” tanya Miranda langsung naik pitam, “wah nggak bener, nih. Kayaknya aku harus bertindak.”
“Mami ... tahan dulu amarahmu. Mami boleh melakukan apapun setelah tahu pasti, gimana keadaan anak dan cucu kita.”
__ADS_1
Namun Miranda tak mengindahkan ucapan suaminya. Sebab diam-diam, Miranda langsung menghubungi seseorang untuk segera membereskan masalah ini.
♧♧♧
Pukul 04:15
BRAKKK!
Pintu salah satu unit kamar Hotel bintang empat di buka paksa oleh beberapa orang berseragam. Yang suara gebrakannya menggetarkan jantung seorang pria yang sedang terlentang di sana.
Meski tak sedang bersama dalam satu ranjang, namun pembelaan dari mulut saja tak bakal bisa menyelamatkan tangannya dari borgol polisi.
“Saya nggak ngapa-ngapain Mauza. Justru saya menolongnya, dia sakit karena terlalu lama kehujanan, apa kalian nggak lihat?” kata Sammy berharap perkataan ini dapat menyelamatkannya.
“Sakit itu dibawa ke dokter, bukan di bawa ke Hotel. Basi sekali ucapanmu itu. Telinga saya sudah khatam dengar omongan semacam ini,” jawab salah seorang Polisi.
Sammy di duga melakukan dan pelecehan. Sebab Mauza ditemukan dalam keadaan memakai busana yang berbeda dari sebelumnya.
Bagaimana tidak?
Mauza hilang semalaman. Ditemukan bersama Sammy di salah satu unit kamar hotel. Celakanya lagi, dia sedang tak mengenakan atasannya. Apa ada alasan lain yang dapat menampik bukti nyata? Jika dihubung-hubungkan, sudah pasti akan nyambung.
Hanya Mauza yang dapat menyelamatkannya saat ini. Tapi sayang, kondisinya masih menggigil demam. Jangankan untuk membelanya, menyelamatkan dirinya sendiri pun tak bisa ia lakukan.
Sammy di gelandang ke kantor polisi untuk dimintai keterangan. Di sana, dia bertemu dengan Yudha yang langsung memukulnya tepat di area hidung hingga bagian tersebut mengalir sekucur darah.
Lelaki itu tak mengatakan apapun selain memandanginya penuh kebencian. Tentu saja demikian dan Sammy paham apa isi pikirannya yang jelas sama seperti mereka.
Sekali lagi Sammy jelaskan ini hanyalah kesalahpahaman. Tapi sepertinya itu hanya sia-sia belaka lantaran Yudha tak mau mendengarkannya sama sekali.
Sementara itu, Vita dan Zunaira membawa anaknya ke rumah sakit yang sama dengan menantunya.
Tangisan kedua manusia itu tentu berbeda. Jika Vita terluka karena khawatir anaknya telah di nodai, sementara Zunai kecewa karena beranggapan bahwa Mauza telah mengkhianatinya.
__ADS_1
Apa ini sebab Kak Sammy menggantungkan aku?