Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Mengalah


__ADS_3

94


Vita tersenyum. “Kamu itu salah paham. Mama sama Papa itu sama sekali tidak pernah melarangmu bekerja. Kami hanya tidak ingin kamu terlalu kelelahan, Sayang. Karena Mama tahu kondisimu. Tapi kalau kamu merasa bisa melakukannya, ya tidak masalah.”


Jawaban Vita barusan sontak membuat Zunaira menganga tak percaya. Benarkah? Benarkah apa yang baru saja ia dengar barusan?


“Jadi boleh?” tanya Zunaira lagi untuk memastikan.


“Boleh, yang penting kamu bisa jaga dirimu sendiri, itu saja pesan Mama. Tapi ingat, jangan jauh-jauh dari sini biar kami masih bisa memantau.” Wanita itu mencoba memberikan anaknya kepercayaan dalam menjaga dirinya sendiri di luar sana.


“Nai mau kerja di tempat yang sama juga kayak Kak Za,” ujar Zunaira lagi serupa orang yang tengah memohon.


“Nanti Mama coba hubungi Kakak iparmu, ya.”


Zunaira tersenyum. Gadis itu tampak senang luar biasa karena akhirnya dia dibolehkan untuk bebas.


Apa yang sudah pernah terjadi sebelum hari ini, sedikit banyak sudah mengubah cara berpikir Vita dan Yudha. Mungkin benar, sikapnyalah yang terkesan melarang sehingga Zunaira terpaksa berbohong padanya.


Zunaira tidur dalam keadaan senang dan bahagia. Sudah mulai terbayang olehnya bekerja di tempat yang sama dengan Sammy. Yang secara otomatis juga bisa sering bertemu dengannya. Pasti akan sangat menyenangkan dan membuatnya lebih bersemangat lagi.


Malam ini, dia pun membuat akun lovagram baru agar bisa melihat Sammy di laman profilnya. Karena akun sebelumnya masih di blokir.


“Ternyata aktif. Dia selalu memosting laman story nya setiap hari.”


Ada hasrat ingin menghubunginya lewat akun ini, tetapi Zunaira urungkan karena sungkan jika sebagai perempuan, harus menghubungi laki-laki lebih dulu. Terlihat jelas gambaran dirinya di mata pria itu bahwa dia tengah mengejarnya seperti perempuan yang tidak punya harga diri lagi.


“Tapi kalau aku nggak chat duluan, dia nggak bakal tahu akun aku yang baru,” batinnya kembali menarik ke belakang, “au ah, pusing!”


Zunaira pun menelungkup kan tubuhnya. Tidur. Berharap Sammy datang dalam mimpi. Karena hanya dengan cara seperti inilah dia bisa meluapkan rindu.

__ADS_1


Namun pagi harinya, sebuah kenyataan pahit seakan menjatuhkan dirinya kembali setelah semalam ia diterbangkan dengan sepucuk harapan. Mama mengatakan bahwa Kakak ipar sedang tak memiliki lowongan pekerjaan yang pas untuknya. Bahkan dari sekian banyak yang melamar pun, belum ada yang mendapat tanggapan apa-apa dari penanggungjawab.


“Kalau pun ada, nanti di cabang lain. Nggak bisa bareng sekantor sama Kak Za. Apa Zunai mau nunggu?”


Pertanyaan Mama membuat senyum Zunaira langsung surut. Gadis itu menggelengkan kepala. Tidak mau.


Mauza juga sama-sama sedih setelah melihat adiknya seperti ini. “Pasti kamu ingin bisa ketemu Sammy setiap hari, ya, Nai?”


“Sudah ... begitu saja kamu langsung patah semangat,” ujar Yudha mengusap kepala putri bungsunya, “memangnya harus sekarang? Nanti lain hari juga pasti ada pegawai yang keluar. Lalu Nai bisa masuk untuk menggantikan.”


Dalam hati Mauza berpikir, “Apa Papa belum tahu, ada yang ingin selalu Zunai temui?”


Kendati demikian, Mauza tidak sedang berusaha untuk mengatakannya lantaran tak ingin Papanya lantas berpikir macam-macam.


“Memangnya kamu betul-betul ingin bekerja di sana?” tanya Yudha lagi. Seperti tidak ada tempat lain saja pikirnya. “Kenapa? Apa kedengarannya keren?”


Lagi-lagi Zunaira hanya mengangguk. “Maaf, Pa. Aku bohong lagi ....”


Mendapat suntikan semangat dari papanya membuat Zunaira akhirnya bisa tersenyum. “Makasih, Pa.”


“Sama-sama cantiknya Papa ....”


Tatkala ruangan ini hanya tersisa mereka berdua, Vita mendekati suaminya dan berujar, “Selalu kamu yang bisa menenangkannya.” Dia bermaksud membicarakan Si Bungsu.


“Anak gadis kalau sudah mulai jatuh cinta memang agak sulit diberi masukan,” katanya menanggapi ucapan sang istri, “sudah gitu sensitif lagi. Kalau kita kurang sabaran, bisa seperti kemarin kejadiannya.”


“Benar. Anak muda zaman sekarang sudah beda ya, Mas. Kalau dulu, rata-rata seusia dia sudah mempunyai pikiran sangat matang dan bisa memecahkan masalahnya sendiri. Sedangkan anak kita malah baru berkembang.” Vita membayangkan masa kecilnya sendiri yang penuh dengan perjuangan.


“Zaman dulu hidup lebih keras. Untuk sekadar jajan saja, seringnya anak-anak harus mencari sendiri karena orang tuanya tak punya. Sedangkan anak-anak kita tidak pernah mengenal persoalan seperti itu, Moy. Apa yang mereka minta, pasti akan selalu ada hanya dengan sedikit usaha saja, tidak perlu bersusah payah dulu.”

__ADS_1


“Semoga setelah ini Zunai semakin dewasa dan punya pola pikir yang lebih luas lagi.”


“Ya, kita izinkan dia keluar untuk mencapai tujuannya.”


Namun selang satu hari, dua hari, sampai lima hari, kenyataan yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.


Tidak ada kabar dari Zara tentang kabar lowongan tersebut sehingga Zunaira kembali menanyakan hal ini kepada orang tuanya.


“Belum ada, Nak ... kalau ada pasti Kakak iparmu sudah menghubungimu,” jawab Vita kepada Zunaira yang mende sahkan napas kecewa.


Mauza pun mulai resah saat Zunaira seolah mendesak. Dia tidak bisa baik-baik saja di saat saudaranya sangat menginginkan posisinya, sedangkan sebenarnya, dia sangat bisa mencari di tempat lain.


Oleh karenanya, malam itu sebagai kakak yang baik, Mauza mengatakan, “Nai, kalau kamu mau, kamu bisa gantiin aku.”


Walau hatinya perih. Walau hatinya begitu menyayangkan setelah selama lima hari ini dia sudah mulai mempunyai chemistry di tempat barunya, tetapi Mauza tidak mau jadi seorang kakak yang egois dan terkesan tak mau mengalah.


Zunaira mendongak tanpa mengatakan apa pun. Gadis itu bingung.


“Kenapa, Nak?” tanya Vita tak habis pikir, “kamu sudah training di sana selama lima hari. Sia-sia sekali kalau kamu mendadak keluar seperti ini. Belum tentu kakak iparmu juga setuju kalau posisimu diganti. Susah kalau dia sudah klik dengan satu orang. Mama sudah tahu karakternya.”


“Nanti aku yang bilang. Pasti Kak Zara setuju. Kan, Zunai sama-sama adik iparnya juga. Apa bedanya Zunai sama aku?” jawab Mauza.


“Tapi Zunai tidak sekolah di bidang itu,” kata Vita menyanggah lagi. Tentu bukan sikap yang baik sebagai orang tua yang berat sebelah. Biarpun Mauza punya pembawaan yang lebih keras, bukan berarti dia harus selalu mengalah kepada adiknya yang mempunyai fisik kurang sempurna sepertinya. Sebab dia pun juga berhak memiliki apa yang seharusnya dia miliki.


“Nggak masalah itu, Ma. Tinggal belajar aja, kok. Nggak sesulit yang kita kira. Temen-temen di sana juga baik-baik dan sabar banget sama orang baru. Jadi nggak usah khawatir ....”


“Terus Mauza sendiri gimana?”


“Gampang aku, mah.” Mauza beranjak berdiri, “Ya udah. Aku mau telepon kakak ipar dulu.” Gadis itu gegas meninggalkan mama dan adiknya yang kini saling pandang.

__ADS_1


“Kak Za sayang sama Nai. Nai harus terima kasih sama Kak Za, ya?”


Zunaira mengangguk. Dia tersenyum karena akhirnya keinginannya tercapai.


__ADS_2