Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Awas-Awas!


__ADS_3

178


Sepasang suami istri berjalan terpisah di koridor rumah sakit. Mereka adalah Alma dan Umar. Keduanya baru bisa datang setelah beberapa jam yang lalu mendapat kabar bahagia, bahwa keponakan kembarnya sudah lahir.


Andai saja Vita tak meneleponnya, pasti keduanya tidak tahu kabar itu. Sebab Umar maupun Alma adalah orang yang sama-sama malas membuka grup keluarga. Grup gaduh yang membuat memorinya penuh dan wara-wiri berdering.


Entah apa saja yang mereka bahas, dan yang pasti hampir semuanya adalah urusan dapur perempuan, masalah keuangan dan resep makanan. Nggak penting-penting amat untuk kemajuan hidupnya yang setengahnya di isi dengan pengangguran.


Ya ampun, Umar ingin sekali keluar dari grup rempong yang mengganggunya setiap waktu itu. Tapi sayangnya, dia masih ingat warisan.


“Abang, tungguin!” Alma setengah kesal karena Umar berjalan mendahuluinya tanpa berniat untuk menuntunnya, seperti yang Alma harapkan. Dasar kepala batu, nggak peka!


Umar berhenti dan menoleh, “Kamu jalannya lambat.”


“Aku pakai gamis, takut keslimpet kalau jalan cepat,” Alma menjawab, “coba kalau cuma pakai bikini, pasti kecepatannya lebih dari 60 km perjam.”


“Ngayal,” kata Umar segera.


“Di gandeng napa istrinya, Bang? Jangan berlagak kayak cowok lajang.”


“Ya, iya!”


Demikianlah kurang lebih yang selalu Alma lakukan agar dia bisa mendapatkan perhatian lebih dari suaminya. Mengesalkan memang. Tapi tidak ada cara lain lagi selain mendongkrak nya lebih dulu. Ya, daripada dipendam sendiri dan bikin dia jadi cepat gila?


“Di kamar mana mereka, Al? Masih ingat nggak nomornya?” tanya Umar pada saat mereka sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Tepatnya di deretan kamar rawat inap.


“Kan Abang yang dikasih tahu,” jawab Alma tak habis pikir dengan suaminya yang gampang sekali lupa. Sudah seperti aki-aki saja, pikirnya.


“Lupa. Sebentar, aku telepon Mama lagi.” Setelah memanggil, Umar menempelkan ponselnya di telinga.


Ia menyimak baik-baik nada sambung yang dia dengar. Aneh, sejak kapan Mamanya punya nada sambung? Mana lagunya Lingsir Wengi lagi. Horor sekali lagu kesukaan mamanya itu!


“Ya, halo. Ada apa, 'A Umar? Ada yang bisa dibanting?”


“Loh, kok suara Mama berubah?” Umar terkejut. Kenapa dia justru mendengar suara Pak Jamal.


“Loh kok, tanya saya? Kan situ yang telepon.”


“Hampura, Pak Jamal. Saya salah sambung!”


“Nggak jelas kamu, 'A.”


“Kamu apalagi.” Umar langsung menutup panggilannya. Kesal, tentu saja. Dia memang tukang marah-marah.


Alma hampir terpingkal dibuatnya. “Makanya kalau mau telepon orang di lihat dulu jangan asal pencet.”

__ADS_1


“Hapenya rusak kali.”


Alma geleng-geleng kepala. Sudah ketahuan salah pun, dia tetap tidak mau disalahkan. Stop mengatakan perempuan memang selalu benar, karena pada dasarnya, laki-laki pun sama. Tidak mau disalahkan.


Umar kembali melakukan panggilan. Tetapi lagi-lagi, orang lain yang menjawab teleponnya.


“Maaf, pulsa anda tidak cukup untuk melakukan panggilan ini.”


Membuat Umar semakin naik pitam. “Apalagi ini? Anjayyyy! Kenapa pula pakai acara habis pulsa segala, malu-maluin aja. Ini pasti gara-gara tadi salah sambung. Nomor Pak Jamal beda operator.”


Alma pusing, dia lantas berkata, “Sudah, sudah! Biar aku aja yang telepon Mama.”


Belum sempat Alma menelepon, kepala orang muncul dari pintu yang ada di hadapan mereka, yang sontak membuat keduanya latah bersamaan, “Eh, ayam ayam ayam ayam!”


Ok, dari sini saja sudah terlihat, mereka memang benar jodoh.


“Eh, kambing kambing kambing!” balas pria itu yang ternyata adalah Sammy.


“Elu ternyata, Mbing! Kenapa nggak bilang dari tadi kalau kalian ada di kamar ini?” Umar bertanya kemudian.


“Mana kutangku kalian ada di sini?” jawab Sammy. Jika saja dia tak mendengar kegaduhan di luar, maka Sammy tak akan membuka pintu karena penasaran.


“Shittt. Kamulah yang seperti kutang! Di mana mereka?”


“Nah itu, dia!” ucap Vita pada saat melihat kedua anaknya masuk. “Tiga jam Mama nungguin kalian datang. Habis pada dari mana?”


“Biasa, tuntutan alam,” jawab Umar menyalami semua anggota keluarganya yang ada di sana.


“Bukan tuntutan alam kamu mah, Mar. Tapi memang MARUK,” sahut Yudha ditertawakan banyak orang.


“Tips supaya hubungan asmara awet, langgeng, mulia, jaya, makmur, sentosa, abadi.”


“Astaga, Umar, Umar ....”


Ada yang menggeleng, ada yang berdecak, ada yang menepuk keningnya mendengar hal tersebut yang setelah dipikir-pikir, sedikit ada benarnya.


“Selamat ya, Kak. Udah jadi Ibu sekarang,” ucap Alma kepada Zara sambil menyerahkan kadonya yang berupa kotak besar. Berisi pakaian bayi.


“Makasih, Alma. Repot-repot segala.”


“Nggak repot, itu cuma baju sama sepatu.”


“Rayyan mana?” Umar bertanya.


“Masih ada di ruang bayi.”

__ADS_1


“Bener dapet sepasang?”


“Iya.”


“Bukan maen.”


“Umar juga sebentar lagi mungkin nyusul ....”


Alma mengucap amin mendengar doa baik dari kakak iparnya itu.


“Belum dikasih nama?” tanya Umar lagi.


“Belum,” jawab Zara. “Sebenarnya kita udah ada beberapa pilihan, tapi masih belum klik yang mana.”


“Mau yang Arab atau blasteran?” tanya Mauza.


“Apa aja yang penting bagus,” jawab Zara.


Mauza pun mencarikan referensi nama bayi untuk Zara. Namun, nama yang di tunjukkan malah membuat wanita itu harus menahan tawa karena isinya ngawur semua.


Ada: So Lee Hin, Soo San, Mi So Un, Bon Cha Be, Bo Lot, So Bee Rin, Park Goo Nawan, Kun Tea, Boor Han, Soe Gie Gie, Soe Kam Tee, Sang Su Din, dan masih banyak lagi.


“Aduh, jahitanku bisa lepas,” ucap Zara.


“Mauza, kamu jangan jahilin kakakmu. Kasihan, sakit lho itu ...” anak itu terkena himbauan orang tuanya.


“Iya, Ma. Hiburan aja biar nggak spaneng.”


“Zunai belum kelihatan?” Alma menanyakan keberadaan adik iparnya karena tak terlihat di sana.


“Dia lagi kurang enak badan. Malah tidur di rumah Mama sekarang,” jawab Vita, “Mama jemput karena dia sendirian di rumahnya. Kalau di rumah kami kan, banyak orang yang ngawasin.”


“Suruh berhenti kerja aja Si Nai. Toh, ada lakinya yang kerja,” sahut Miranda yang dari tadi tengah sibuk berselancar dengan ponselnya. Dan karena kesibukan itu pula, sedari tadi dia tak begitu tanggap dengan sekitar.


“Masih nyari orang katanya, betul begitu Nak?” Vita bertanya kepada Sang Menantu yang terbaring tenang. Tidak seperti operasi caesar pada umumnya, dia diberi perawatan yang khusus sehingga tidak begitu merasakan nyeri pada luka bekas sayatan tersebut.


“Betul, Ma. Tapi biasanya nggak lama, kok.”


“Apa yang bisa dimakan?” Yudha merasa dirinya tengah kelaparan. Vita baru ingat, satupun di antaranya belum ada yang sempat sarapan. Oleh karenanya, mereka izin untuk keluar lebih dulu.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Rayyan kembali bersama dokter dan suster yang membawa baby twins mereka.


“Awas, awas! Yang pakai make up silakan dihapus dulu. Kulit bayi sensitif.” Ayah bayi langsung menunjukkan sikap posesifnya saat semua orang saling berebut untuk mencium kedua anaknya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2