Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Zunaira Dilarikan Ke RS


__ADS_3

Puas menangis dan tak tahu apa yang harus dilakukan membuat Zunaira tertidur dengan sendirinya. Bahkan mungkin saking nelangsanya ia sampai tak peduli telah melewatkan kewajibannya shalat dzuhur dan ashar. Suatu hal yang tidak pernah ia tinggalkan sesibuk apapun. Hingga akhirnya ia harus meng-qhodo nya sekaligus.


Anehnya setelah itu, Zunaira melihat makanan hangat yang disediakan di atas meja kamarnya. Sudah pasti mama yang menyediakannya karena tidak mungkin dilakukan oleh orang lain.


Setidaknya perhatian kecil ini membuat Zunaira sedikit bahagia karena diam-diam Mama masih peduli kendatipun masih marah padanya. Namun sayangnya, gadis itu tidak sedang naf su makan. Dia masih saja larut dalam kesedihan karena terus teringat akan kemarahan kedua orang tuanya siang lalu.


Bingung dan takut keluar kamar membuatnya lagi-lagi Zunaira menghabiskan waktunya di tempat tidur. Begitu seterusnya berharap waktu terus berlalu hingga hari berganti dan masalah ini bisa ia lewati.


“Zunaira mana?” tanya Vita keesokan harinya pada saat semua anak-anaknya berkumpul untuk sarapan pagi.


“Tadi aku panggil-panggil masih tidur, Ma,” jawab Mauza setelah meneguk minum.


“Kalian jangan terlalu keras mendidik Zunaira. Dia tidak seperti anak-anakmu yang lain, dia lebih sensitif,” sahut Umi Ros menasihati anak dan menantunya.


“Benar, caramu menegur dia kemarin terlalu keras. Dia anak perempuan, bukan laki-laki. Harusnya kamu bedakan itu,” kata Abah menimpali, beliau bertukar pandang dengan putra pertamanya. Namun kemudian, beliau membesarkan hatinya karena mereka pun tak seratus persen bersalah selain kurang tepatnya cara menegur, “Tapi tidak apa-apa, menjadi orang tua adalah belajar seumur hidup. Jadi jangan bosan membenahi diri karena ini kewajiban dan tanggungjawab kalian.”


“Terima kasih nasihatnya, Bah,” kata Yudha setelahnya.


“Biar aku yang cek,” sahut Umar beranjak dari tempat duduknya berniat menuju ke kamar adik bungsunya.


Namun kini khawatiran Yudha dan Vita semakin menjadi pada saat Mauza menambahkan, “Aku juga sempat cek makanannya tadi, tapi masih utuh. Dia nggak makan dari kemarin. Kenapa, ya?”


“Kenapa nggak bilang dari tadi!?” Umar sontak menyalak tajam. Dasar Lola!


Detik itu juga, semua orang beranjak dari tempat duduknya kecuali kedua orang paling tua, Opa dan Oma. Semuanya naik ke kamar Zunaira.


“Nai!” panggil Mauza dan Vita bersamaan begitu tiba di atas.


Mereka semua mendekati gadis itu yang masih terlelap dengan bibir memucat.


“Nai janji ngga akan bohong lagi ....”


“Ya Allah, Nai!” Yudha panik begitu mendapati bibir anaknya bergetar saat berbicara dengan mata tertutup. Tak hanya itu, giginya juga gemeretak. Zunaira tengah menggigil kedinginan.


Yudha dan istrinya segera menyentuh kulit tubuh Zunaira untuk mengecek keadaannya. Namun nahas, pasalnya suhu tubuh gadis itu sangat tinggi.


“Mauza! Tolong cariin Mama termometer, cepat!” titah Vita kepada anak ketiganya.


Yudha sendiri gegas untuk menyiapkan mobil. Sedangkan Umar langsung membopong tubuh kecil adiknya di belakang. Dia berjalan turun dengan gesit. Terus terang ini mengkhawatirkan semua orang yang melihatnya. Tapi beruntung mereka tiba di bawah dengan selamat. Percayalah, ini hanya bisa dilakukan oleh orang-orang terlatih.

__ADS_1


Pagi itu semua orang batal sarapan karena harus mengantar Zunaira ke rumah sakit.


“Tiga puluh sembilan,” kata Vita melempar termometer yang baru saja digunakannya. Wanita itu menangis tanpa suara.


Yudha mewanti-wanti istrinya, “Kamu jangan panik, nanti imun kamu bisa turun juga.”


“Gimana nggak panik dia nggak mau buka matanya,” jawab Vita segera.


“Nai janji ngga mau bohong lagi ....” Nai terus bergumam di tengah-tengah sakitnya. Ini sudah sering dialami oleh Zunaira pada saat demam.


Satu hal yang tidak pernah lupa, Zunaira juga pernah mengalami demam tinggi seperti ini dengan penyebab yang sama. Yaitu saat dia melakukan kesalahan. Bahkan parahnya, tubuhnya sampai kejang-kejang hingga harus dibawa ke Instalasi Gawat Darurat dan dirawat selama satu Minggu.


“Zunaira itu paling nggak bisa dimarahi, tapi aku kelepasan kemarin,” Yudha mengakui kesalahannya.


“Tapi kalau nggak ditegur, kita yang salah. Dia nggak bisa dibiarkan karena belum terlalu paham mana yang salah dan mana yang benar,” Vita menanggapi, “hanya saja, porsinya memang beda sama anak-anak yang lain. Dia lebih sensitif, itu saja.”


“Papa mamafin, Nai ....”


“Iya, Sayang. Papa sama Mama sudah maafin Nai. Mama minta maaf juga, ya. Mama janji nggak akan marah-marah lagi asalkan Nai cepat sembuh, okay?” Vita terus mengompres dahi Zunaira yang ada di atas pangkuannya.


Sesampainya di rumah sakit, Zunaira langsung dilarikan ke IGD dan hanya satu orang saja yang boleh menemaninya. Yaitu ibunya.


“Iya, Pa?” ucap suara Zara dari seberang. Yudha yang meneleponnya.


“Oh, iya nggak papa, Pa. Tapi Raynya lagi mandi. Apa ada yang perlu Zara sampein?”


“Zunaira masuk IGD. Kalian berdua ke sini sekalian ada yang ingin kami sampaikan.”


“IGD?”


“Iya, Nai demam.”


“Oh, ya ampun ... kok bisa demam?” Dari suaranya, terdengar Zara sangat ingin tahu lebih lanjut. Namun sepertinya dia menahan pertanyaannya karena selanjutnya dia kembali mengatakan, “Baiklah, kami akan segera ke sana, Pa.”


♧♧♧


Zara baru saja menutup teleponnya. Dia kemudian menyampaikan perihal ini kepada sang suami, bahwa Zunaira baru saja dilarikan ke IGD dan meminta mereka berdua untuk datang ke sana sekaligus ada hal yang akan mereka sampaikan.


“Semoga nggak ada masalah yang serius,” kata Ray menanggapi ucapan istrinya barusan, “kok bisa sampai masuk ke IGD?”

__ADS_1


“Katanya sih, demam. Tadi aku pengen nanya lebih banyak sebenernya, tapi nggak enak sama Papa. Karena kedengarannya beliau juga panik. Ya udahlah, toh, nanti kita juga bakal ke sana.”


“Padahal aku ada jadwal kajian online siang ini. Nggak mungkin dibatalin mendadak.”


“Aku juga ada agenda rapat sama Bu Raka,” balas Zara sama-sama mempunyai schedule sendiri. “Tapi gimana pun family tetap lebih penting. Acaramu siang, kan?”


Rayyan mengangguk.


“Masih bisa lah. Jam Indo itu jam molor, telat dikit nggak papa. Dah biasa,” kata Zara lagi.


“Ya, coba nanti aku kasih tahu ke panitia supaya dirundingkan lagi bagaimana baiknya.”


Zara memeluk Ray dengan cara nakal seperti biasa. Dia sangat senang sekali meraba bagian-bagian tertentu yang membuat tubuh Rayyan menjadi panas sehingga pria itu segera menjauhkan tubuhnya, “Jangan mancing-mancing. Kamu itu suka sekali membuatku terlalu lama di kamar ini.”


“Enggak, ah!” Zara selalu saja mengelak. Padahal selepas itu, dia tertawa sendiri.


“Suami, oh suami? Kerjaannya bangunin istri tengah malam.” Zara melenggang ke kamar mandi dengan suara mengejek.


“Playing victim!”


Tawa Zara terdengar semakin renyah di dalam sana.


“Jangan terlalu lama mandinya!”


“Apa?” jawab Zara sambil melongok kan kepalanya di pintu. Tentu setelah dia membuka pakaiannya.


“Sengaja?”


“Nggak.”


“Nggak salah.”


“Mau ikut nggak?” ajaknya sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mata.


Ray berdecak. Kemudian segera menutup pintunya dari luar. Pria itu mencoba memaklumi istrinya yang sekarang yang sebenarnya masih sangat manja dan suka bermain-main. Mungkin karena kurangnya perhatian dari sosok seorang ayah di masa kecilnya yang membuatnya demikian.


Bersambung


Votenya jangan lupa ya, mak-emak.

__ADS_1


Follow instagram @ana_miauw untuk info update selanjutnya.


Komen lebih dari 50 aku kasih 3 bab.


__ADS_2