
Omong kosong kalau rencana mereka akan beristirahat. Kenyataannya, sampai jam dinding menunjukkan pukul lima lebih pun, mereka masih cekikikan saat membahas acara pernikahan. Tepatnya pada saat keduanya bertukar cincin. Mereka mengaku tangannya gemetar.
“Gugup,” Ray menjelaskan alasannya hanya dengan satu kata.
“Ke ekspos kamera nggak, ya?” tanya Zara, “nanti kalau videonya selesai diedit kamu lihat, deh.”
Ray tak menjawab, matanya terpejam sambil memeluk guling bernyawa itu. Dia terlalu nyaman mengendus wangi kulit aroma lembut creme canele yang tentu saja tak sabar untuk dia reguk manisnya.
“Jangan tidur, Ray. Ini udah hampir jam enam.”
“Hmm....”
“Ray banguuun.” Zara berusaha menjauhkan belitan tangan Ray dan kepalanya yang menyusruk di pinggang, tapi cukup alot. “Jangan tidur dulu waktunya nanggung.”
Lagi-lagi Ray hanya menggumam seolah perkataannya tidak terlalu penting.
“Ray ....”
“Apa, Sayang?” Meskipun menjawab, tapi Ray tetap berada di posisinya. Hingga Zara pun terpaksa berdiam diri karena terkunci. Dan dengan sendirinya, kedua bola mata Zara malah ikut terpejam. Perempuan itu tidur. Justru Raylah yang bangun untuk mengecek notifikasi pesan masuk.
Banyak sekali pesan-pesan yang mengucapkan selamat kepadanya. Bahkan tak sedikit dari mereka yang menyuarakan protes karena tak turut di undang ke acara.
Dari banyaknya pesan, ada yang paling menonjol. Yakni dari mantan istri. Tapi setelah membaca, dia hapus lagi karena tak mau Zara sampai membacanya. Isinya tak lain hanya mengucap selamat. Ya, itu saja. Selebihnya Ray tak peduli.
Rupanya selama ini banyak sekali teman-temannya yang sekadar bertanya kabar. Tapi tenggelam lantaran dia biarkan, sebab belum mengingat siapa saja mereka.
__ADS_1
Namun rasanya tak mungkin jika ia balas satu-persatu banyaknya pesan tersebut. Oleh karenanya, Rayyan mengetik sederet status, yang rencananya akan dikirim ke semua kontak agar semua bisa membacanya.
Bismillah...
Alhamdulillah wasyukurillah, kabar saya sangat baik.
Terima kasih doa dan ucapan selamat dari saudara dan teman-teman semuanya yang tidak bisa saya balas satu-persatu.
Dan alhamdulillah, kabar baiknya saya juga sudah sembuh dari sakit apa pun dan insyaallah, ke depannya saya bisa kembali beraktivitas normal lagi seperti biasa.
Tap.
Status terkirim yang seketika dibanjiri komentar-komentar positif.
Ray tersenyum, kemudian menoleh kepada sang istri yang tengah tidur dengan mulut terbuka. Astagfirullah. Melongo begitu. Untung nggak ada cicak jatuh menimpa ke mulutnya. Apa begini kebiasaan tidurnya?
Zara terbangun setelah terdengar suara azan mendering dari ponsel. Dia membuka mata dan langsung menyandarkan punggungnya ke headboard. Raut wajahnya tampak sangat malas untuk bangun dari tempatnya.
“Masih pusing?”
Zara mengangguki pertanyaan Ray barusan. Pria itu sudah menggelar dua sajadah menghadap kiblat. Dia persiapkan untuk berjamaah.
Usai shalat isya, keduanya pun turun untuk gabung makan malam dengan keluarga yang ternyata sudah menunggunya.
__ADS_1
^^^From: MyFunFooDiary^^^
“Loh, udah pada dateng? Kirain belum,” kata Zara menarik kursi dan menekan rasa malu. Dia sudah menguatkan mental agar tidak tumbang saat nanti di bully oleh warga sekitar.
Ray melakukan hal sama, tapi dia langsung sibuk berbicara dengan Ruben dan kedua orang tuanya. Ada saat dia menunjukkan luka di kepalanya yang katanya masih terasa sangat berdenyut. Pertanda bahwa mereka membicarakan insiden siang tadi.
“Udahlah ... kalian aja yang lama. Keburu laper, saya,” jawab Umar pedas.
Mauza menyahut, “Kamu mah, ampun ya, Mar. Sama kakak ipar nggak sopan-santunnya.” Mauza menatap Zara dan sedikit menganggukkan kepala merasa tak enak, “tahan-tahan sama dia ya, Kak. Dia mulutnya kayak cabe syaiton.”
Zara tersenyum, “Nggak papa, Kakak tahu dia cuma bercanda.” Dia menoleh ke kiri di mana Mike dan Maminya berada. Mereka duduk berdampingan, tapi anehnya, mereka saling memunggungi.
“Kenapa lagi, sih, itu anaknya, Mam?” Zara tak bisa menahan diri untuk bertanya kepada Miranda yang sama-sama berwajah asem seperti adiknya.
“Minta pulang dia. Nggak betah katanya. Mami bilang, pulang aja sendiri. Eh malah ngambek. Ngancem banting HP.”
Zara beranjak mendekati Mike. Dia menarik kursi di sebelahnya untuk duduk di sana. Berniat untuk membujuknya.
Namun sebelum Zara mengucap kata, Mike melempar alat makan di depannya ke lantai sangat keras, sehingga hampir membuat semua orang terlonjak.
“Aku sebel sama Kakak!? Hwaaaaaaa?! Kenapa kakak nikahnya sekarang, ha?! “KENAPA NGGAK BILANG-BILANG DULU SAMA AKU?!” tangis Mike pecah. Mulut bocah itu menganga lebar dan wajahnya banjir air mata. Dia terlihat sangat menderita sekali. Namun di mata orang lain, Mike justru terlihat lucu sehingga semua orang yang ada di sana malah menertawakannya.
“Kenapa Kakak harus ngomong dulu sama kamu, Mike?” tanya Zara tak habis pikir. Pantas saja selama ini Mike sering menghilang. Ternyata diam-diam dia marah besar dengannya.
♡♡♡
__ADS_1
Bersambung....