
197
Beberapa orang petugas medis berjalan terburu-buru mendorong brankar yang terdapat pasien tabrakan di atasnya, menuju ke ruangan Instalasi Gawat Darurat.
Sementara itu, satu lelaki lain yang dianggap keluarganya, di minta untuk tinggal di luar. Pria itu sangat panik dan kebingungan sehingga belum bisa mengabarkan siapapun, apalagi keluarganya. Sebab hal itu takut membuat kondisi Mauza menjadi lebih buruk.
“Ya Tuhan ... gimana ini?” gumamnya. Ya, orang itu adalah Umar. “Aku nggak tahu, gimana perasaan dia kalau tahu Sammy kecelakaan. Lagian ada-ada aja, sih. Mauza aja belum sembuh, sekarang ada lagi. Dasar supir sialan?!” maki Umar sangat kesal.
Sebelum dia ke sini, pria itu sempat memukuli pelaku sampai babak belur. Dia tidak berhenti memukulinya kalau saja tak ada orang yang melerai dan mengamankan pelaku ke Polisi.
Pelaku adalah seorang driver rumahan yang sedang mengantarkan majikannya ke suatu tempat. Dia mengaku sedang mengantuk sehingga menyebabkan hilangnya fokus saat mengemudi.
Mereka memang bersedia dan berjanji akan bertanggung jawab membiayai Sammy sampai sembuh. Akan tetapi jika suami kembarannya ini sampai mengalami kelumpuhan, Umar tidak akan memberinya ampun.
“Kalau cuma bayar rumah sakit, kami juga bisa. Tapi kalau sampai lumpuh seumur hidup, apa yang bisa kalian lakukan, ha? Mau ganti sama kaki kalian?”
Umar tahu betapa Mauza sangat mencintai suaminya. Sammy adalah segalanya, bagian dari hidupnya yang tak pernah bisa terpisahkan. Apa jadinya jika dia kehilangan pria itu? Kesempurnaannya? Hal-hal yang tidak bisa lagi mereka lakukan seperti sebelumnya?
“Driver brengsekkk?!!” Umar mengumpat berkali-kali. Setelah berapa lama berpikir, akhirnya Umar memaksakan dirinya untuk menghubungi Papa.
“Waalaikumsalam, Mar. Ada apa? Papa lagi dijalan,” jawab Yudha begitu telepon dari Umar tersambung dan mengucapkan salam. Suatu hal baru yang hampir tak pernah Umar lalukan sebelum menikah dengan Alma.
Ya, menikah dengan wanita itu sedikit banyak telah mengubah kepribadiannya. Kendatipun emosian tetap menjadi number one dari seorang Umar, tetapi demikian masih tetap lebih baik daripada sebelumnya.
“Pa, Sammy kecelakaan,” kata Umar setelah beberapa saat.
“Apa?!” suara Yudha terdengar sangat terkejut. “Kecelakaan gimana?”
Umar pun menjelaskan, bahwa Sammy kecelakaan setelah membeli bunga untuk Mauza di seberang jalan. Namun setelah mendapatkannya, dia malah tertabrak mobil sedan yang dikendarai oleh supir yang mengantuk.
“Innanillah, terus gimana keadaan Sammy sekarang?” tanya Yudha segera.
“Masih ada di tangani, Pa. Belum ada satupun dokter atau perwat yang keluar yang bisa aku tanya.”
“Terus pelakunya gimana?”
“Udah di amankan sama pihak kepolisian. Mereka janji untuk bertanggung jawab meskipun hukuman tetap berjalan.”
“Mauza udah tahu, atau keluarga yang lain?”
“Itu dia, aku nggak punya keberanian untuk kasih tahu mereka, Pa. Lukanya ada di mana-mana dan cukup serius. Prediksiku ada tulang kaki yang patah,” papar Umar membuat Yudha menahan napas.
__ADS_1
“Ya Tuhan, ada-ada aja. Luka yang kemarin aja belum sembuh, sekarang ada lagi yang lebih berat.”
“Jadi gimana menurut Papa? Gimana cara aku kasih tahu mereka, Pa? Aku bingung.”
Tak hanya itu. Kecelakaan yang terjadi di depan mata kepalanya sendiri juga membuat Umar mengalami trauma dan merasa bersalah. Seandainya tadi dia saja yang membelinya dan Sammy tetap di dalam mobil, pasti kejadiannya tak seperti ini.
Ah, tetapi, bukankah apapun yang terjadi adalah kehendak Tuhan?
Umar ingat perkataan Alma, sebagai manusia yang beriman, dia tak boleh berandai-andai karena demikian adalah suatu tanda bahwa dia adalah makhluk yang tak memiliki rasa syukur.
“Biar Papa aja yang kasih tahu. Kamu di situ aja. Tunggu sampai Papa datang,” kata Yudha pada akhirnya membuat Umar bernapas lebih lega.
“Makasih, Pa.”
Panggilan ditutup. Kali ini, Umar memutuskan untuk menghubungi Alma dan mengatakan bahwa dia sedang berada di IGD.
“Hah, siapa yang sakit, Bang?” tanya Alma segera.
“Sammy,” jawab Umar. “Sammy kecelakaan.”
“Ya Allah, Sammy ... kenapa bisa? Gimana ceritanya?”
“Ok, Bang. Aku segera ke sana.”
“Hati-hati, Al. Jangan lari-lari.”
“Iya ....”
Alma yang sedang berada di lantai empat pun, tepatnya di ruangan Mauza, langsung menuju ke lantai satu untuk menemui suaminya.
“Abang!” wanita itu berlarian sambil memekikkan suaminya supaya melihat kedatangannya. Dan hampir saja dia terjatuh saat sandal yang dipakainya terasa licin. Beruntung Umar segera menangkapnya, kalau tidak ... entah apa yang akan terjadi.
“Kan udah kubilang, jangan lari-lari. Ini membahayakanmu, Alma!” sungut Umar yang sesungguhnya amat takut hal buruk terjadi.
Alma, bukan hal yang baik berbuat kesalahan di saat situasi sedang sebegini kacau. Seharusnya Alma mendengarkannya barusan.
“Maaf, Bang. Aku janji nggak akan gitu lagi ....” ucap Alma menyesali perbuatannya.
“Coba kalau aku nggak segera menangkapmu, apa yang terjadi sama kalian?!”
“Abang ... maaf ....” Alma bergelayut mesra pada sang suami dan berulang kali mengecup pipinya. Beberapa kali pula kata maafnya meluncur, hingga akhirnya Umar pun luluh.
__ADS_1
Alma tahu, ia adalah kelemahan Umar sekarang. Tak ada siapapun di hatinya kecuali dirinya. Itu sebabnya Umar tak bisa marah padanya lebih lama.
“Jangan di ulangi lagi, ya?” ucap Umar dengan intonasi lebih rendah dan embuat Alma mengangguk.
“Aku itu sayang banget sama kamu, Al. Jadi aku takut terjadi apa-apa sama kamu. Sehat-sehat ya, kalian.” Umar mengusap perut Alma dan mencium keningnya dalam-dalam dan membuat Alma tersenyum haru. Kesabarannya sudah berbuah manis sekarang.
Sedangkan di tempat lain, Vita terpaksa harus keluar dari ruang rawat ketika suaminya menelepon.
“Ada apa sih? Pakai nyuruh aku keluar segala. Penting banget, ya?”
“Iya, emang penting, Moy. Penting banget. Ibu Utami ada di sana?” tanya Yudha.
“Ya, dia lagi nemenin Mauza ngobrol, Mas. Mauza juga udah mau makan sekarang.” Vita tersenyum. Demikian saja sudah membuatnya bahagia tak terkira. Seorang ibu memang begitu.
“Sayang ....” Yudha tampak berat menyampaikan sesuatu.
“Iya, Mas. Ngomong aja,” ucap Vita pelan.
“Aku takut kamu panik, terutama Mauza.”
“Sampaikan dulu ke aku, nanti kita bicarakan lagi upaya selanjutnya, ya.” Vita memaksakan suaminya agar mau berterus-terang.
“Menantu kita, Sammy ... Sammy kecelakaan.”
“Ya Allah!” pekikan Vita teredam oleh tangannya sendiri.
“Ya, dia ada di IGD sekarang ditunggu sama Umar.”
“Pantesan Alma keluar tadi, Mas. Gimana ceritanya? Umar, Umar anak kita nggak papa kan, Mas?” Vita sangat panik. Dia juga berpikir kecelakaan ini terjadi pada mereka berdua karena mereka pergi bersama. Menggunakan satu mobil yang sama.
“Ssst, kamu jangan panik, jangan panik! Aku jelasin, ya. Yang kecelakaan itu cuma Sammy, nggak dengan Umar karena Sammy ketabrak pas lagi nyeberang jalan,” papar Yudha dengan gamblang agar istrinya segera dapat memahami.
“Gimana cara aku ngasih tahunya, Mas?”
“Kamu tunggu di sana, aku segera sampai.”
“Siapa yang kecelakaan, Bu?” tanya Utami membuat Vita menoleh dan hampir menjatuhkan ponselnya yang masih ada di telinga.
bersambung.
maaf kalau typo. tolong diingatkan ya.
__ADS_1