Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Karena Kamu Penyebabnya


__ADS_3

138


Seharusnya hari ini adalah hari lamaran Zunaira. Namun anehnya, tidak ada yang mempersiapkan apapun sampai detik ini sehingga menimbulkan tanya dalam benak Mauza. Bahkan tadi pagi, dia melihat Zunaira tetap bersiap untuk berangkat bekerja.


Enggan menanyakan langsung, Mauza terpaksa menanyakan kepada Mamanya kenapa bisa terjadi. “Nggak ada apa-apa kan, Ma?”


“Kita doakan aja semoga seperti yang kita harapkan, Nak,” jawab Vita yang sedang mengupas buah untuk suaminya.


“Apa ada hubungannya sama aku?”


“Nggak ada Sayang, ini masalah mereka berdua. Andre juga sedang berduka kemarin, jadi acaranya terpaksa di undur.”


“Siapa yang meninggal?” Mauza berbisik lantaran takut terdengar sang adik.


“Anaknya, dia punya anak.”


“Innanillahi ....” ucapnya terkejut. Selain ikut sedih, Mauza juga menyayangkan, karena ternyata Andre sudah pernah berumahtangga. “Aku baru tahu kalau Mas Andre statusnya ....”


“Itulah yang jadi masalahnya, Nak.”


“Menurut Mama gimana?”


“Nggak gimana-gimana, Mama sama Papa tidak mempermasalahkan status. Kalau mereka mau lanjut, kami akan dukung. Kalaupun sebaliknya ya, mau gimana lagi? Kami harus menghargai keputusan adik kamu. Dan Andre harus menanggung kesalahannya karena sudah membohongi kita semua.”


“Tapi Andrenya udah jujur dan minta maaf, Ma?”


“Sudah, tadinya kita juga sempat kecewa. Tapi nggak mungkin kalau kita mau ikut marah juga.”


Mauza menghela napasnya. “Lagian kenapa harus bohong? Kalau jujur dari awal kan, nggak gini kejadiannya.”


“Qadarullah, Nak. Awalnya Andrea hanya takut Nai menolak statusnya. Mereka juga kurang pendekatan. Keduanya sama-sama pendiam, jadi miss komunikasi.”


Terdengar suara langkah kaki di anak tangga membuat mereka segera mengalihkan bahasan.


“Ma?” panggil Zunai. Gadis yang sudah sangat cantik dengan busana kerjanya itu mendekat dan mengulurkan tangannya. “Aku mau berangkat dulu, ya.”


Vita membalasnya dengan kecupan di pipi kanan kiri sang anak. “Mama pikir kamu sudah ngambil cuti hari ini.”


“Aku malas nganggur, Ma. Nggak enak.”


Vita memujinya. Nai yang dulu sudah berbeda dengan Nai yang sekarang. Jika dulu dia akan sakit andai dia terlalu banyak beraktivitas, sekarang sudah tidak lagi karena justru sebaliknya. Dia sudah dewasa dan mandiri dalam mengambil keputusan.


“Ada yang ngantar Nai?” tanya Vita.

__ADS_1


“Kak Umar?” Zunaira bermaksud menanyakan kakaknya, apakah dia sudah bersedia keluar kamar?


“Kakakmu itu masih patah hati, jangankan keluar. Makan aja cuma secuil. Entah lidahnya lagi pahit atau matanya yang agak nanar, dikasih pisang aja yang dimakan malah kulitnya.”


Nai dan Mauza tertawa.


“Butuh praktisi rukyah nggak?” sahut Mauza tak terduga dengan perilaku kembarannya yang selalu absurd.


“Papa juga bisa,” jawab Zunaira.


Vita segera menimpali, “Demit rukyah demit mana bisa? Papa baca ayat kursi setannya malah lebih hapal.”


Lagi, keduanya tertawa.


“Ternyata crocodile bisa patah hati juga,” kata Mauza ingin tertawa lagi. “Gayanya suka ngajarin orang, suruh gini-gitu, anu-ini. Dia sendiri gagal nikah langsung kayak mau mati. Musti di apain ya, Ma? Biar mau bangun.”


“Papa mau jodohin dia sama anak temannya,” jawab Vita, “tapi kalau Umar mau. Biar jadi obat maksudnya. Kebetulan anaknya baik dan dia juga sudah siap menikah.”


“Kek mana orangnya, Ma?”


“Mama juga belum lihat, kata Papa pakai cadar orangnya.”


“Umar kan suka cewek-cewek seksi, mana mau?”


Mereka kembali ke fokus utama. Zunaira akhirnya berangkat dengan security yang sewaktu-waktu bisa mereka perintah jika dalam keadaan terdesak. Daripada terlalu lama menunggu taksi online yang belum tentu dapat. Sedangkan waktu sudah semakin siang.


Beberapa menit berlalu, Zunaira sampai di kantor. Dia melewati pintu khusus karyawan, lalu menuju ke lantai empat. Melewati sedikit lorong dan beberapa kubikel, lalu masuk ke dalam ruangannya.


Namun begitu meletakkan tasnya ke meja, Nai menemukan sesuatu di sana. Yaitu satu buah buket bunga mawar putih. Kebetulan bunga itu adalah bunga kesukaannya. Ah, siapa yang menaruh bunga ini di sini? Romantis sekali.


Nai mengambil benda itu, kemudian mendekatkan ke hidungnya dan menghirup aromanya dalam-dalam. Wanginya sangat menentramkan jiwanya. Membuatnya berangan-angan tengah berada di tempat yang indah dan luas bersama kekasihnya kelak.


Di tengah-tengah ikatan tersebut, jatuh selembar kertas ke lantai. Dia mengambil benda tersebut yang di dalamnya terdapat tulisan:


Maafkan saya, Nai. Saya akan memberikanmu waktu dan akan selalu menerima apapun keputusanmu. Lanjut atau sebaliknya~Andrea H.


Zunaira tertegun. Apa sikapnya sudah keterlaluan? Mendiamkannya di saat Andrea juga sedang dirundung kemalangan?


Andrea baru saja kehilangan anaknya. Hatinya pasti masih sangat hancur. Lalu seenaknya dia menambah bebannya lagi di waktu yang tidak tepat?


Tidak. Sebenarnya Nai tidak setega itu. Tetapi hatinya menolak untuk menyambutnya kembali baik dalam waktu dekat. Setidaknya ... Nai harus memberikannya sedikit pelajaran agar Andrea tahu, bahwa apa yang dilakukannya adalah kesalahan yang besar. Dia telah membohonginya dengan menyembunyikan statusnya.


Bagaimana jika mereka sudah menikah dan Andrea masih menyembunyikan statusnya? Lalu secara tiba-tiba di hari pertama Nai menjadi seorang istri, dia langsung dikejutkan dengan kedatangan seorang anak yang memanggil nya Mama?

__ADS_1


Bukankah demikian bisa semakin mengejutkan lagi?


...∆∆∆...


Tiga hari berlalu semenjak kepergian Fero, Andrea belum juga masuk ke kantornya. Dan itu membuat Zunaira semakin bertambah khawatir.


Nai ingin menghubunginya dulu, tetapi gengsinya terlalu tinggi. Namun semakin dibiarkan, pria itu juga semakin membiarkan.


Andrea bukan tipe lelaki yang selalu memulai duluan. Sedangkan, dia sudah sangat butuh kejelasan.


Walau bagaimanapun, Nai pernah trauma dengan suatu hubungan. Ada juga sekelebatan rasa takut. Takut andai Andrea tak mau memperbaiki atau memperjuangkannya lagi.


Nai pun menggigit bibir bawahnya, kebiasaan buruk yang selalu dia lakukan jika sedang dalam keadaan bingung dan gelisah.


“Aku harus gimana? Apa aku hubungi aja sekarang?”


Dia mencari kontak nomor Andrea. Namun saat hendak memanggil, Nai mengurungkan niatnya dan kembali menelungkup kan ponselnya lagi ke atas meja.


“Apaan sih? Kamu itu terlalu berlebihan, Nai!”


Nai mengacak rambutnya frustasi.


Dan di tengah-tengah kegelisahannya memikirkan Andrea, Belle memanggilnya untuk segera datang ke ruangannya karena ada sesuatu yang akan dia bahas. Dan ini lumayan menegangkan baginya.


“Ada apa, Bu?” tanya Zunaira ketika sudah berhadapan dengan wanita itu.


“Bu Nai, ini gawat,” jawab Belle mempertegas wajahnya. Menandakan bahwa yang akan di sampaikannya adalah sebuah masalah yang cukup besar. “Setelah berhari-hari Pak Andrea nggak masuk, barusan beliau mengirimkan surat pengunduran diri ke Bu Zara. Apa kamu tahu?”


Nai menajamkan pendengarannya. Hah? Apa dia tak salah dengar?


“Tapi bukankah beliau libur karena sedang berduka?” Nai berpendapat.


“Benar, tapi seharusnya nggak sampai mengundurkan diri.”


Tak mendengar respon dari Zunaira membuat Belle kembali melanjutkan, “Bu Zara telepon saya tadi dan beliau langsung marah. Andrea itu orang penting, dia salah satu kepercayaannya juga. Beliau nggak mau Pak Andrea sampai keluar.”


“Apa yang harus saya lakukan, Bu?”


“Ini tugasmu,” katanya. “Kalau kamu tanya kenapa, boleh saya sebutkan alasannya?”


Zunaira mengangguk.


“Karena kamulah yang menyebabkannya. Kamu satu-satunya orang yang berhubungan dengan Pak Andre.”

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2