Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 10


__ADS_3

          Kini, tampak seorang gadis sedang berjalan dengan perasaan riang ditanam bunga. Cahaya mentari hangat mulai menerpa wajah putihnya yang bersih. Dan hembusan angin juga ikut bermain dengan cara meniup kerudung nya kesana kemari.



     Namun, keindahan itu menjadi lenyap saat cuaca yang awalnya begitu menghangatkan kini berganti menjadi sebuah kegelapan dengan petir juga angin kencang yang sangat dahsyat hingga membuatnya hampir terpental. Tapi tubuhnya seakan sedang ditahan oleh seseorang yang mempunyai tangan yang sangat kekar.


     "Bertahanlah istriku! aku akan menolongmu! tolong setelah ini kamu jangan tinggalkan aku lagi. Aku berjanji tidak akan mengecewakan pernikahan kita. Jadi aku mohon padamu! tetaplah bersamaku sampai kapan pun," ucap pria tersebut yang tak lain adalah Firdaus.


     "Istri? dengar ya! aku ini bukan istrimu dan kita bahkan belum tunangan apa lagi menikah!" elaknya sambil menghempaskan tangannya dari genggaman Firdaus.


"*Apakah kamu telah melupakan hari pernikahan kita sayang?" tanya Firdaus sedih*.


     "Cih! aku tidak akan pernah percaya dengan apa yang engkau katakan. Lebih baik sekarang engkau pergi dan jangan pernah kembali lagi sesuai kesepakatan kita ketika berdamai dihutan," geramnya.


     "Tapi aku tidak akan menyetujuinya sampai kapan pun! kau tetap istriku untuk selamanya! aku mencintaimu Miftah! sangat!" resahnya.


     "Ku mohon lepaskan aku! izinkan aku pergi! aku tidak ingin melihat mu lagi sampai kapan pun! pergi! pergi!" teriak Miftah frustasi.


     Disisi lain seorang pria sedang berbicara dengan temannya diteras rumahnya.


"Hai Zamrud! dimana kau menemukan gadis itu?" tanya temannya yang bernama Wahyu.



     "Dihutan," jawabnya singkat.


"Lha! emang kamu ngapain dihutan? pagi - pagi lagi," tanyanya.



"Kepo amat sih!" sengit Zamrud karena merasa tak nyaman dengan pertanyaan temannya itu.



"Jeh... Sama temen deketnya aja kayak gitu kamu Zam," ucap Wahyu sedih.


     "Hedeh... Punya teman ya! tapi sayang keponya luar dalam kayak biji monas," cibir nya.


"Lha itu apa... Lagi. Masa biji monas dibilang kepo," resahnya.



"Lagian lu bawel banget," respon Zamrud acuh tak acuh.



"Beneran nih mau cuekin aku? ya udah lu gue end," ucapnya.


__ADS_1


"Terserah! Bodo amat! gak peduli!" jawabnya yang langsung membuat emosi Wahyu memuncak, hingga ia jadi bangkit dan hendak melangkah meninggalkannya.



Tapi langkahnya jadi terhenti saat Zamrud berkata " alah! gitu aja ngambek kayak ciwi kagak dikasih duit. Sini duduk! biar aye dongengin cerita aye tadi pagi," ajaknya yang berhasil mengubah keinginan Wahyu yang hendak pergi jadi langsung duduk manis seperti kucing yang mau dikasih makan.


     Dengan malas Zamrud pun mulai menceritakan semuanya " jadi gini! lu pasti tau kan kalau aye baru aja abis beli burung dara tiga hari yang lalu? terus waktu pagi aye lagi sibuk bersihin kandangnya. Abis bersihin kandang tu burung, aye berniat buat kasih dia makan karna stok makanan dia yang ada didalam udah abis. ketika aye mau isi air buat dia minum, tiba - tiba aja mak aye manggil gue begini 'Zam... Zam... Air zam - zam cepat lu kemari! bantuin emak ngulek sambel! mata emak udah merana ini abis ngupasin bawang harus ngulek sambel lagi! gantian dong zam... Air zam zam,' nah! gue pun yang mendengar mata emak gue merana langsung bergegas menuju kedapur! sialnya itu pintu tempat sangkar burung aye lupa ditutup. Akhirnya dia terbang keluar deh!" ceritanya panjang lebar.


     Wahyu yang mendengar cerita Zamrud hanya mampu tertawa terbahak - bahak.


"Napa lu malah ketawa?" tanya Zamrud kesal.



"Lagian cerita kamu lucu banget. Masak iya mata emak lu pake acara merana segala," jawabnya cengengesan.


     "Atu gimana lagi, matanya aja sampek merah benget kayak darah." responnya acuh tak acuh.


"Ada - ada saja kamu Zam! masak mata bisa berubah warna jadi semerah darah! emangnya Vampir apa?" tawa Wahyu.


     "Emang bapak mu kemana?" sambungnya penasaran.


"Kalau sibapak ma jangan ditanya! kerjaannya nonton bola sambil minum kopi dikamar. Bahkan tu lidah sampe udah berapa kali kebakar akibat gak sadar. Saking serunya nonton, tuh kopi jadi berasa dingin padahal kan baru diseduh sama emak aye. Buktinya asapnya aja masih mengepul. Lagian kalau sibapak disuruh ulek sambel yang ada malah merepotkan orang lain," jawabnya.


     "Merepotkan bagaimana maksudmu?" tanya Wahyu bingung.


"Hadeh... Jadi si bapak kalau ngulek sambel, yang ada sambelnya pada abis tumpah kesana kemari ples muncrat sana muncrat sini. Dari pada ngedenger celocehan emak yang sibuk omelin kerjaan bapak ya lebih baik aye aja," jelasnya yang langsung diangguki oleh Wahyu tanda mengerti.


     "Terus," respon Wahyu.


"Terus aye kan sampek gak nyadar udah sampe mana aye kejar. Walau pun udah ada matahari tapi kalau dihutan sendirian gimana rasanya ayo? pasti kamu juga takut kayak aye, ditambah lagi aye malah mendengar suara gadis yang menangis! makin merinding aja aye, hingga akhirnya kaki aye gak sengaja nyenggol punggung seorang cewek! sialnya giliran aye liat ke bawah kepala dia malah nyangak keatas! udah ma matanya bengkak sedikit merah dengan kondisi jilbab yang sudah berantakan! jadinya kami sama - sama berteriak saking terkejutnya. Tapi selesai berteriak ia malah pingsan. Dengan sigap aye menangkap tubuhnya kembali walau sempat jauh sedikit," lanjutnya.


     "Tapi saat aye melihat wajah gadis itu aye jadi yakin gak yakin. Tapi mau bagaimana lagi, ternyata memang dia." jelasnya.


"Dia siapa?" tanya Wahyu.



"Miftahul Jannah," jawab Zamrud yang langsung membuat ekspresi wajah Wahyu jadi terlihat sangat terkejut.



"Apa?" tanyanya tak percaya.


     "Biasa aja kale," ucap Zamrud sambil memandang malas kearah Wahyu.


"Tapi dia kan cewek yang udah lima belas kali nolak surat cinta dari kamu," ucap Wahyu bingung.


__ADS_1


"Sudah lama dia menghilang! akhirnya kalian di izinkan bertemu kembali," sambungnya sambil tersenyum.


     "Sudahlah! itu kan cuma masa lalu! gak perlu dibahas lagi oke! sekarang yang terpenting semoga ia cepat sadar," ucap Zamrud.


"Kamu memang pria yang penyabar zam! aku harap kalian benar - benar berjodoh untuk kedepannya," ucap Wahyu.



"Semoga saja," respon Zamrud sambil tersenyum senang.


     Namun, keasyikan mereka bercerita jadi terganggu saat mereka mendengar suara teriakan dari kamar gadis itu di istirahatkan " pergi! pergi!" hanya itu yang mereka dengar saat pintu kamar telah dibuka.



     Saat Zamrud mendekatinya, sebuah tamparan mendarat sempurna dari tangan Miftah ke wajahnya yang tampan itu.


     "Plak,"


     Zamrud hanya mampu merintih kesakitan sedangkan Miftah baru saja tersadar. Saat melihat kondisi Zamrud yang sedang merintih kesakitan Miftah tanpa tang ting tung langsung bangkit dan meminta maaf padanya.


     "Maaf kan aku! aku tidak sadar! kamu pasti orang yang telah menolong ku ketika dihutan tadi! tolong maafkan aku ya," ucap Miftah dengan kesadaran yang masih belum terkumpul semua.


     "Sudahlah tidak apa - apa," respon Zamrud sambil membalikkan wajah kearah Miftah dan saat melihat wajah pria yang ada dihadapannya Miftah sangat terkejut. Bahkan, ia sampai jatuh terduduk diatas lantai yang dingin.


_____________________________________


Hai kaka semuanya... 🤗


Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇


"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"


Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote, favorit bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊


Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄


Dimana bulan disitu bintang 😀


Dimana gelap disitu terang 🤣


Terima kasih bila tlah datang 😆


Star beri ucapan salam sayang 😘


Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...


Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...


   🍃🍃🍃🍃🍃  🙏🙏🙏  🍃🍃🍃🍃🍃

__ADS_1


    


__ADS_2