
Pak satpam yang sedang duduk didalam pos merasa sangat senang karna telah diseduhi kopi oleh Bi Ati.
"Makasih ya Ti... Kamu ini lho! Baek banget sama aku! tiap hari dikasih kopi hangat yang enak tenan!" puji pak satpam.
"Enggaklah pak... Itu kan emang tugas saya, kalau udah siang nyonya bakalan suruh saya seduhin kopi buat bapak..." responnya merasa heran.
"Jadi ini dan kemaren - kemarennya bukan inisiatif Ati ya? wah... Saya salah paham dong! saya kira karna Bi Ati memang perhatian sama saya,"
"Atu enggaklah pak... Masak iya... Mana berani saya khianati suami saya dikampung."
Pak satpam yang baru saja menyeruput kopinya jadi memuncratkan apa yang ada di mulutnya.
"Frutttt..."
"Ya Allah pak... Bapak kenapa ini pak..?" tanya Bi Ati panik.
Pak satpam benar - benar terkejut, ia kira selama ini Bi Ati seorang Janda. Ternyata oh ternyata dia masih mempunyai suami, ia jadi merasa sakit hati karna terlanjur menyukai Bi Ati sejak berkerja disini.
"Hu..hu..hu.." bukannya menjawab pak satpam malah menangis.
"Lho... Bapak kenapa malah nangis?" panik bisa Ati yang sudah berdiri disamping pak satpam.
"Apa kopi yang saya buat terlalu panas ya pak?" tanyanya lagi.
"Enggak kok bi... saya cuma pahit hati aja bi..." Jawabnya asal.
"Ya ampun... Pasti kopi buatan saya rasanya pahit ya pak? apa saya lupa taruh gula ya didalamnya? tapi perasaan saya ada pak," pikir bi Ati.
"Hatiku yang sebenarnya butuh gula semanis kamu! gimana sih! hadeh... Cintaku malah bertepuk sebelah tangan lagi," batinnya.
"Ya sudah kalau gitu saya izin pamit aja yah pak... Saya mau buatin yang lain lagi aja," izin Bi Ati setelah mengambil alih secangkir kopi beserta tatakannya.
Dengan gesit pak satpam malah merebut kembali cangkir dan tatakan yang sudah dipegang oleh Bi Ati.
"Eis... Tak perlu repot - repot lah Ati... Ini aja udah cukup manis kok! tadi aku cuma abis kesambet setan pahit! jadi... Ya rasanya jadi ikutan pahit deh." racau ya yang benar - benar tak dapat dicerna oleh akal pikiran.
"Ya ampun pak... Pak... Mana ada setan pahit... Yang ada itu setan serem... Si bapak ini..." respon Bu Ati.
"Beneran ini Ti... Mana mungkin aku tipa tipu kamu sih..." ucapnya berusaha menutupi rasa tegangnya.
"Hedeh... Sibapak... Mana ada tipa tipu yang ada itu tipu - tipu... Gimana sih!" bingung bi Ati sambil membenarkan kalimat pak satpam.
"Hehe! eh! iya ya! maklum Ti... Lawakanku kadang suka meleset," responnya sambil memaksakan senyuman.
__ADS_1
"Ya sudah... Jadi ini kopinya mau Ati buatin lain gak?" tanyanya sebelum melangkah pergi.
"Ya enggaklah Ti... Yang ada kamu nanti makin capek lagi! ini serius lho... Udah manis banget kayak yang bikin! ups!"
Pak satpam yang tak sengaja mengucapkan kalimat terakhir jadi merasa salah tingkah, lalu langsung mengatup mulutnya.
"Maksudnya apa toh pa?" tanya Bi Ati merasa bingung.
"Untung dia gak paham," batinnya merasa bersyukur.
"Enggak ada apa - apa! maksudku ini kopinya manis banget kayak buatan istriku! iya - iya! istriku yang dirumah! hehe..." ucapnya cekikukan.
"Wah... Masak iya!" senang Bi Ati.
"Ya iyalah Ti... Ini emang wuenak! ples... Aroma kopinya itu lho..." ucapnya sambil kembali menyerup kopinya secara perlahan.
Namun, tiba - tiba iya memuncratkan kembali apa yang ada di mulutnya.
"Frutttt,"
Setelah mendengar suara.
"Tinnn!!!"
"Tinnn!!!"
"Tinnn!!!"
"Selamat datang tuan!" sambut pak satpam pada papa Firdaus.
Sang papa hanya mengangguk sambil tersenyum lalu masuk melewati pintu pagar, Sekar dan Rangga yang melihat tuan mereka pulang langsung berbagi tugas.
"Rang! siapa nih yang bakalan masukin mobil tuan?" tanya Sekar.
"Kamu aja deh! biar aku yang ambil kunci garasinya," jawab Rangga.
"Baiklah kalau begitu! aku tunggu kamu didepan garasi mobil ya,"
"Baik."
Lalu mereka pun berpencar untuk menjalankan tugas masing - masing, papa Firdaus sengaja meninggalkan mobilnya didepan rumah.
"Ayo putraku," ajak papa Firdaus sambil merangkul pundak putranya saat ia sudah berdiri disampingnya.
Ini adalah hari terbaik bagi Firdaus, karna ia jadi dapat sangat dekat dengan papanya bahkan mereka sampai sempat melakukan pertualangan menyelam dibawah laut bersama ditambah teman papa yang lucu membuat jiwa sepinya jadi terguncang.
__ADS_1
Setidaknya kegiatannya kali ini dapat membuat rasa frustasinya sedikit hilang, hingga ia jadi kembali bersemangat untuk menjalani hari - harinya dengan senyuman.
Sesampai didalam rumah tampak begitu kosong, sebelumnya ia sempat melihat ada dua sepeda motor yang tak ia kenali terparkir disamping pos.
"Apakah ada tamu? tapi tumben datangnya jam segini?" gumamnya dengan tangan yang memegang dagu.
"Kamu kenapa putraku?" tanya sang papa khawatir.
"Ini pa! tadi sebelum kita masuk rumah! Firdaus melihat ada dua sepeda motor yang tak pernah Firdaus liat terparkir disamping pos, kira - kita itu sepeda motor siapa ya? perasaan kita sangat jarang ada tamu yang berkunjung jam segini kecuali waktunya sangat mendesak," ungkapnya yang tak dapat lagi membendung rasa penasarannya.
"Emang iya ada dua sepeda motor?" tanya papanya memastikan.
"Is si papa! apa papa gak liat tadi? pasti papa waktu jalan gak perhatiin kiri kanan," tebak Firdaus.
"Hehe! kamu benar! lagian papa kan gak sejeli kamu," ucap sang papa sambil mengelus puncak kepala Firdaus.
Firdaus sangat malu saat sang papa melakukan hal itu saat usianya sudah dewasa, biasa hal seperti itu sangat sering ia dapatkan saat ia masih bersekolah dulu, semenjak ia bekerja ia jarang mendapatkannya karna urusannya sangat sibuk hingga waktunya dengan sang papa jadi sangat singkat.
"Enggak juga kok pa! mungkin papa kurang fokus karna sejak tadi udah lelah mengemudikan mobil..." elak Firdaus merasa malu setelah mendapatkan pujian dari sang papa.
Firdaus yang baru saja melihat Bi Ati yang berlalu dari hadapan mereka langsung mengehentikan langkah sang bibi.
"Bi! tunggu dulu bi!" serunya sebelum langkah sang bibi menjauh.
"Pa! Firdaus mau tanya sama bibi dulu yang pa! papa kalau mau istirahat langsung kekamar aja yah pa! Firdaus masih penasaran!" jujurnya.
"Hehe! ya sudah... Kalau gitu papa mau kekamar papa duluan ya? pinggang papa udah pegel banget nih soalnya," responnya.
"Apa perlu Firdaus bantuin pijit pa?" tawarnya.
"Gak usah Firdaus... Kamu kan juga capek... Nanti papa bakalan telpon aja tukang urut pribadi papa..." jelasnya.
"Oh... Baiklah kalau begitu," responnya lalu berlalu pergi dari hadapan sang papa yang juga sudah kembali melangkahkan kaki menuju kamarnya.
"Ada apa den Firdaus?" tanya Bi Ati merasa cemas saat Firdaus sudah berada dihadapannya.
"Enggak bi... Firdaus cuma mau tanya... Itu disamping pos kan ada dua sepeda motor ya? kira - kira punya siapa ya bi? apakah benar ada tamu? soalnya jenis motor itu Firdaus gak pernah liat ada digarasi..." jelasnya.
"Oh... Jadi itu... Kalau itu mah motornya teman neng Miftah den... Mereka lagi disamping rumah sama nyonya... Katanya sih mau buat kebun terong usai sholat tadi," jawabnya.
"Baiklah kalau begitu! Makasih ya bi," ucapnya.
"Sama - sama den..." respon Bi Ati lalu pamit untuk pergi kedapur dan Firdaus langsung mengangguk mengiyakan lalu dengan cepat ia mulai melangkahkan kakinya menuju ketempat yang tadi diberitahukan oleh Bi Ati.
"Sebenarnya siapa teman Miftah itu? setauku ia tidak memiliki teman dekat disana," herannya.
__ADS_1
Kini ia pun sampai ditempat tersebut, ia sangat terkejut saat mengetahui teman Miftah kaki - laki, entah kenapa ia seperti kehilangan kendali lalu langsung menghampiri seorang pria yang sedang berbicara dengan Miftah.