
"Kaka... Tolong antar Miftah keruangan itu kembali Kaka... Miftah kangen mama Kaka..." ucapnya sambil menangis.
"Miftah dengarkan Kaka... Kondisi mamamu masih belum membaik... Mungkin beliau masih membutuhkan waktu untuk mengerti kondisinya saat ini," jelasnya.
"Tapi kak - " ucapan Miftah jadi terpotong saat Firdaus berkata "Miftah... Percaya sama Kaka... Cepat atau lambat mama kamu pasti akan kembali lagi ke sisi kamu."
Miftah hanya diam, ia masih terus membisu bahkan sampai mobil Firdaus kembali melaju untuk pulang kerumah.
Firdaus sama sekali tidak tenang saat Miftah masih terus saja menumpahkan air matanya, ia tau Miftah tidak menangis kencang seperti bayi tapi raut wajah kesedihan itu membuat Firdaus ikut merasakan sakit.
"Ratuku... Berhentilah menangis ya... Kan disini udah ada Rajamu," hiburnya sambil menghapus kembali aliran mata Miftah yang mulai terjun.
"Tapi Kaka kan bukan mama..." ucapnya serak akibat terlalu lama menangis.
Rangga yang sedang mengemudi jadi ikut merasa iba melihat kondisi Miftah saat ini.
Sejak tadi Firdaus sudah menghiburnya beberapa kali tapi tak ada satu pun cara yang mampu membuat Miftah jadi merasa lebih tenang.
"Aku ingin dipeluk sama mama Kaka... Pelukan mama sudah lama menghilang," lagi - lagi kelurahan itu kembali keluar dari bibirnya yang pucat.
"Dengar! kamu butuh pelukan kan?" tanyanya dan Miftah hanya mengangguk dalam pangkuan Firdaus.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu Firdaus langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggangnya hingga wajah Miftah jadi menempel pada dada bidang Firdaus.
Miftah sampai bisa merasakan dengupan jantung sang pemilik tubuh dengan sangat jelas.
"Kau ingin merasakan pelukan mamamu kan? jadi bayangkan saja kalau aku ini adalah mamamu yang sedang memberikan kehangatan untukmu," pintanya.
Miftah mencoba mengadahkan sedikit wajahnya dan Firdaus sontak saja melihat kebawah karena merasakan pergerakan.
Mata mereka saling ketemu dan itu membuat mereka mematung dalam sekejap.
Rangga yang tak sengaja melihat adegan tatap menatap itu langsung berusaha untuk fokus menyetir dan berpura - pura tidak melihat apa yang sudah ia lihat.
"Ya ampun... Gini amat ya kalau nasib jomblo," batinnya.
Firdaus yang tersadar langsung memutuskan kontak mata tersebut, ia benar - benar tidak ingin mengambil kesempatan disaat kondisi Miftah belum sepenuhnya sadar.
Saat ia mencoba untuk merenggangkan pelukannya Miftah malah ikut melingkarkan kedua tangannya di pinggang Firdaus.
Ia duduk miring diatas pangkuan Firdaus. Firdaus hanya diam, entah kenapa ia jadi kaku, hawa panas semakin ia rasakan tapi ia sedang berusaha untuk mengontrol dirinya.
__ADS_1
"Mama... Jangan lepaskan pelukanmu," racaunya dan Firdaus sedikit senang karna ucapannya berhasil membuat Miftah lebih tenang dan mampu berimajinasi dengan adanya mama disampingnya.
Tapi ia sangat sedih karna Miftah hanya berani memeluknya dalam bayangan orang lain.
Namun, ia masih memakluminya karna mereka masih belum menjadi suami istri. Ia mengeratkan pelukannya kembali lalu menompang dagunya diceruk leher Miftah.
Tanpa sadar karna merasa sangat nyaman Firdaus yang bersender dipintu mobil dalam keadaan memeluk Miftah jadi ikut masuk ke alam mimpinya.
Sepanjang perjalanan yang begitu menyiksa hati dan pikiran seorang bodyguard tampan yang berstatus jomblo, ia akhirnya bisa menghembuskan nafas lega saat mobil Firdaus sudah memasuki pekarangan rumah.
Miftah yang merasakan gerakan jadi terbangun dalam sekejap dan alangkah terkejutnya ia saat mengetahui wajahnya sudah menempel cukup dekat dengan dada bidang Firdaus yang ditutupi kaos hitamnya.
Dan yang membuatnya lebih terkejut adalah tangannya dan tangan Firdaus saling melingkar ke pinggang lawannya.
"Astagfirullah!" ucap Miftah yang mengagetkan Firdaus.
"Allah," ucap Firdaus lalu mulai duduk dengan tegap.
"Kaka... Apa yang sudah terjadi... Hanya itu saja kan sudah kita lakukan?" tanyanya sambil menunduk dan terlihat jelas jika pipinya sudah bersemu merah.
Firdaus yang merasa sedikit pusing saat dikejutkan dari tidur jadi hilang rasa kantuk ketika melihat wajah Miftah yang menurutnya sangat imut.
Sesampai didepan rumah Rangga langsung turun dan membukakan pintu untuk Firdaus dan Miftah yang masih setia dalam bopongannya.
"Baru sekarang kamu memikirkan kursi rodamu itu? di sana kamu malah sok kuat untuk tidak menggunakannya agar dapat berdiri dan dipeluk oleh mamamu," geramya yang kembali terbakar api emosi saat mengingat kejadian itu.
"Kaka marah padaku?" tanyanya dengan mata yang berkaca - kaca.
Firdaus hanya diam, ia benar - benar tidak menyangka jika Miftah bisa bersikap sangat lemah seperti ini hanya karna tak dapat di peluk oleh mamanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Miftah Firdaus langsung masuk kedalam sedangkan Rangga yang sudah berada didepan garasi langsung saja memasukkam mobil mewah tersebut.
"Hei Rangga! napa kusut banget tu muka?" tanya Sekar yang menyusul Rangga dengan maksud awal ingin bertanya bagaimana kondisi Miftah.
"Udah ah jangan tanyakan aku kenapa," ucapnya lalu berlalu meninggalkan Sekar untuk berdiri didepan pintu rumah kembali.
"Aneh! kira - kira kenapa ya? kepo aku," gumamnya sambil memijat dagunya.
Karna sangat penasaran dengan semangat tinggi ia kembali menanyakan hal yang sempat tak di jawab temannya tadi.
"Hei sob! kasih tau napa, siapa tau aku bisa bantu masalahmu." beritahunya.
__ADS_1
"Kamu gak mungkin bisa bantu aku," ucapnya.
"Lah! belum juga dibilang udah ngomong kayak gitu aja," resahnya.
"Kamu bukan cewek! mana bisa tanganin masalah hati," ungkapnya akhirnya.
"Lah! kan gak cuma cewek yang bisa tenangin kamu, aku sebagai teman cowokmu juga bisa lah hibur kamu! masak iya enggak bisa." responnya.
"Ya solusinya aku hanya ingin kamu jadi istriku emang bisa?" tanyanya dengan tatapan tajam.
"Ampun dah! mana bisa sob... Aku kan cowok," elaknya.
"Nah itu kamu tau, jadi lebih baik kamu diam aja karna solusinya cuma itu." geramnya.
"Iya dah aku diem aja! ternyata jiwa jomblomu ikutan meronta juga kan? karna liat kemesraan tuan Firdaus dan non Miftah," tebaknya lagi sambil menunjuk.
"Au ah! jangan bahas hal itu lagi! tugas kita sekarang hanyalah menjaga," beritahunya.
"Iya aku tau... Lagian kan yang masih jomblo bukan kamu aja kali... Aku juga masih jomblo tapi biasa aja waktu lihat kemesrahan pasangan lainnya," sombongnya.
"Alah! palingan juga kamu itu gay," ceplosnya yang langsung mendapatkan jitakan di kepalanya.
"Aduh! selow dong bang," candanya yang sudah bisa kembali tersenyum karena melihat kemarahan temannya yang menurutnya sangat menghibur.
"Aneh emang kamu! kita ketawa malah marah! kita marah malah ketawa! bener - bener kamu ini," herannya tak habis pikir.
"Suka - suka aku dong! makanya jadi orang jangan kepo - kepo," cibirnya.
"Lah! biasa kali seorang teman kepo dengan kesedihan temannya sendiri," ucapnya.
"Emang kita teman?" tanyanya yang bener - benar membuat api emosionalnya Sekar berkibar.
"Bukan! anak ayam," ucapnya acuh lalu kembali menghadap kedepan tanpa mau melihat kearahnya.
Rangga hanya membiarkannya, dalam hati ia sudah benar - benar puas usai berhasil memancing kemarahannya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇