Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 128


__ADS_3

Kini pelukan Miftah dengan sang mama sudah terlepas.


     "Ma... Makasih ya udah izinin Miftah peluk mama lagi," ucapnya sambil menghapus sisa air matanya.


     "Lho... Kenapa harus berterima kasih sayang..? Kamu kan anak mama..." responnya sambil mengelus puncak kepala Miftah.


     "Gak... Miftah gak nyangka aja ma... Ternyata keinginan Miftah akhirnya terwujud juga..." ucapnya sambil tersenyum.


     "Alhamdulillah... Allah sudah menyadarkan mama," responnya sambil mengelus sebelah pipi putrinya.


     "Oh iya! lebih baik kita ngobrol bareng didalam aja ya..." ajak sang mama dan mereka hanya mengangguk setuju.


     Diruang tamu Miftah duduk disamping mamanya.


     "Ma... Setelah ini bisa gak nanti kita bicara sebentar?" tanyanya.


     "Tentu saja boleh sayang..." jawabnya.


     "Jadi gini putraku... Sebenarnya hari pernikahan kakamu akan dilaksanakan hari ini... Tapi karna ada suatu hal kami harus menundanya," beritahunya.


     "Iya ma... Tapi apa halnya?" tanyanya yang tak dapat lagi membendung rasa penasarannya.


     "Jadi mantu mama sangat ingin bertemu dengan orang tuanya dulu sebelum hari pernikahannya datang... Tapi sebelum hari ini tiba hanya mamanya saja yang belum berhasil ia temui dan ajak berkomunikasi kembali..." jelasnya.


     "Oh... Fahman paham! pasti Miftah sangat ingin mendapatkan restu dari keduanya hingga mereka bisa hadir juga di pernikahannya sekaligus menjadi penghulu bagi papanya," ucapnya sambil mengangguk.


     "Kamu benar putraku," respon mamanya sambil tersenyum.


     "Oh iya Rosalia! namamu Rosalia kan?" tanya mama Firdaus sambil menunjuk kearahnya.


     "Iya nyonya," jawabnya mengangguk.


     "Bisa gak ikut saya sebentar?" tanyanya.


     "Mama mau kemana sih?" tanya sang papa curiga.


     "Ssttt... Udah papa diem aja! ini ma urusan wanita," jawabnya sambil menatap malas suaminya.


     "Kok gitu sih ma..." ucapnya sedikit jengkel.


     "Biarin aja! lagian kepo banget sih," responnya acuh tak acuh.


     Tanpa pikir panjang sang mama langsung menarik tangan Rosalia untuk mengikutinya.


     Yang ada diruang tamu hanya menatap penuh rasa penasaran kearah mereka.


     Saat mereka sudah pergi kebelakang rumah, baru Miftah mulai mengangkat suara.


     "Kak!" serunya.


     "Apa Ratuku..?" tanyanya menatap Miftah.


     "Is Kaka... Miftah serius tau..." jawabnya merasa resah.


     "Iya ini Kaka serius Ratuku..." responnya.


     Sang papa yang sudah bed mood memilih masuk ke kamar untuk menonton tivi sambil berbaring.


     "Oh iya Fahman! kamu sudah bisa istirahat dulu ya... Mungkin nanti malam kita akan berbincang kembali," ucap papanya.

__ADS_1


     "Baik pa," reaponnya sambil mengangguk.


     Tiba - tiba Fahman teringat kembali dengan Permata dan ucapannya pada Rosalia yang akan membantunya.


     "Lebih baik aku menyelamatkan Permata sekarang juga," pikirnya.


     Lalu Fahman pun keluar rumah dan menyuruh sang bodyguard untuk mengeluarkan kembali mobil yang sempat dipakainya tadi usai berpamitan dengan kakanya dan calon adik iparnya.


     Sebelum sampai disini sebenarnya mobil biru dongker itu sudah lebih dulu di antar oleh dua orang bodyguard orang tuanya.


     Satu membawa mobil dan yang satu lagi membawa motor.


     Jadi saat mobilnya sudah ditinggal dirumah saudaranya yang tak jauh dari bandara, sang bodyguard yang bertugas mengemudikan mobil bisa pulang di bonceng temannya.


     "Ini tuan mobilnya," ucap Rangga yang baru turun dari dalam mobil sedangkan Fahman sudah berdiri diluar pintu mobil.


     "Thanks," ucapnya lalu masuk kedalam mobil.


     Tanpa menunggu waktu lama akhirnya mobil itu hilang dari pandangan mata usai keluar dari pintu gerbang.


     "Hey sob! Kayaknya tuan Fahman biru - buru banget ya," ucap Sekar saat Rangga sudah berdiri kembali di sebelahnya.


     "Iya! kamu benar! sepertinya ada hal penting yang harus segera diselesaikan," tebaknya.


     "Mungkin saja," responnya.


           🍃 Dibelakang rumah 🍃


     "Maaf! ada apa ya nyonya membawa saya kemari?" tanyanya sedikit cemas.


     "Sudah... Biasa saja Rosalia..." jawabnya mencoba menenangkan.


     "Sudah... Kamu tidak perlu memanggilku nyonya... Putrimu dan putraku kan juga mau menikah ini... Panggil saja saya Dahra! sepertinya kita sebaya," pintanya sambil tersenyum.


     "Baiklah Dahra," ucapnya berusaha menutupi kegugupannya.


     "Jadi apa yang ingin kamu tanyakan padaku?" tanyanya penasaran.


     "Ini masalah putrimu! Miftah," jawabnya sambil menatapnya dalam.


     "Apa kau tau? putrimu selama ini sudah bersusah payah mencari kamu dan suamimu untuk menghadiri pernikahannya dengan putraku," jelasnya.


     "Dia pasti sangat senang dengan kehadiran kalian berdua, dan Miftah juga sudah berhasil bertemu dengan papanya." beritahunya.


     "Benarkah?" tanyanya tak percaya.


     "Iya... Berarti acara pernikahannya bisa dilaksanakan dua hari lagi dong," senangnya.


     "Iya..." responnya.


     "Oh iya! aku dan suamiku ingin membuat baju kapelan lho... Apa kamu dan suamimu ingin ikutan juga?" tanyanya menawarkan.


     Rosalia hanya menunduk, ia bingung ingin menjawab apa, karna suaminya sudah lama tidak bersamanya lagi sedangkan suaminya yang sekarang baru saja menceraikannya kemarin.


     "Maaf Dahra! mungkin aku gak bisa terima tawaran kamu," tolaknya halus.


     "Lho! kenapa?" tanyanya bingung.


     "Apa Miftah tidak pernah menceritakan tentang masa laluku dengan suamiku padamu?" bukannya menjawab Rosalia malah balik bertanya.

__ADS_1


     "Tidak! ia hanya berkata kalau ia sangat merindukan kamu dan suamimu, gak lebih dari itu." jawabnya.


     Rosalia jadi tersenyum saat mendengarnya.


     "Hmm... Putriku memang gadis yang sangat kuat dan paling pintar menyembunyikan luka, sebenarnya batinnya merasa rapuh tapi wajahnya yang selalu memancarkan senyuman membuat ia terlihat seperti anak yang tidak mempunyai tekanan sama sekali." ucapnya sambil memandang kedepan.


     "Memangnya kalian ada masalah apa dulu?" tanyanya.


     "Kalau boleh tau sih..." sambungnya lagi.


     "Dulu akibat api kecemburuanku yang begitu besar aku sampai meluapkannya pada suamiku tanpa mau mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu," ceritanya.


     "Hingga pertengkaran yang tak dapat lagi untuk dicegah terjadi di hari yang seharusnya menghadirkan kebahagiaan tapi malah sebaliknya," sambungnya.


     "Maaf telah membuatmu sedih," ucapnya merasa tak enak.


     "Tak masalah," responnya berusaha untuk tersenyum.


     "Jadi karna hal itu kalian jadi bercerai?" tebaknya.


     "Benar! padahal Miftah sempat mencoba untuk menenangkan kami, tapi kami yang sudah hilang kendali jadi buta dengan keadaan dan malah menumpahkan semua rasa kesal kami padanya." jelasnya.


     "Aku dulu sempat berpikir kalau Miftah memang sudah tidak memiliki orang tua lagi karna tinggal dengan kakek dan neneknya, ternyata mereka adalah orang yang menolongnya." ucapnya mengambil kesimpulan.


     "Mungkin saja! jika bukan Miftah yang lebih dulu menemukan mereka pasti sebaliknya," responnya.


     "Tapi kamu udah menikah lagi belum?" tanyanya.


     "Udah," jawabnya.


     "Suamimu?" tanyanya lagi.


     "Kami sudah menikah lagi semenjak bercerai dengan pasangan kami masing - masing tanpa sepengetahuan Miftah," jelasnya.


     "Pantas saja Miftah harus cari kalian satu - satu," ucapnya sambil memegang dahinya.


     "Iya! ia pasti sangat terkejut," responnya.


     "Ia dapat menemukan papanya duluan karna dulu ia sempat di ajak ke perusahaan papanya," beritahunya.


     "Sedangkan aku paling hanya sering mengajaknya main ke mall dan masak di dapur aja," beritahunya lagi.


     "Tapi aku kayaknya yakin banget kalau suamimu itu masih cinta deh sama kamu," ucapnya yang sontak saja mengejutkan Rosalia.


     "Mana mungkin," elaknya merasa mustahil.


     "Ya mungkin aja..." responnya.


     Rosalia hanya diam, ia agak ragu saat mendengar penuturan Dahra kepadanya.


     Satu sisi jika apa yang dikatakan Dahra benar, ia pasti akan merasa sangat bahagia.


     Tapi satu sisi lagi ia juga merasa tak pantas, karna sudah pernah menyerahkan kehormatannya pada pria lain selain suaminya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2