Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 205


__ADS_3

                             🍆 Malam 🍆


     Miftah dan Firdaus baru saja selesai melaksanakan Sholat Isya bersama Fajar, dan kini putra kecil mereka itu sudah tertidur di atas kasur usai melepas sarung sholatnya yang kecil.


     "Fajar kelihatannya sangat lelah ya sayang," ucap Firdaus sambil melihat ke arah putranya.


     "Iya mas, tampaknya sih begitu. Soalnya ia tadi sempat bermain juga dengan teman - teman sekolahnya yang kebetulan juga hadir di acara Zaldira, syukurlah kalau mereka dapat berteman baik ya mas meski Fajar masih baru di sana." responnya sambil menyandarkan kepalanya pada pundak Firdaus dalam keadaan masih mengenakan mukena.


     "Oh iya mas, gimana kondisi Jannah sekarang?" tanya Miftah khawatir.


     "Kamu gak perlu cemas begitu sayang, sekarang Jannah sudah hidup bahagia kok." jawabnya sambil tersenyum.


     "Maksud mas apa?" tanyanya bingung.


     "Jadi saat kami telah bercerai, ketika pulang Jannah gak sengaja ketemu sama pria yang dulu sempat melamarnya tapi ia tolak." beritahunya.


     "Terus?" keponya.


     "Terus mereka akhirnya berbincang di sebuah kafe, dan ujung - ujungnya memutuskan menikah. Sejak dulu pria itu ternyata masih menunggu Jannah, ia tidak peduli seberapa lama yang penting dapat bersamanya dan ia tak ingin menikah selain dengannya." jelasnya.


     "Kok bisa gitu ya mas?" heran Miftah.


     "Itulah kehidupan sayang, di dalamnya pasti terdapat banyak misteri yang tak pernah kita duga sebelumnya. Dan ini adalah satu - satu contoh nyata yang dapat kita lihat, bahkan rasakan sendiri." jelasnya yang mulai melingkarkan tangannya pada pinggang Miftah.


     "Iya mas, aku paham. Dan aku-" ucapannya jadi terhenti.


     "Aku apa sayang? katakan saja tak apa, mas akan dengarkan kok. Mau itu pahit atau pun manis," tanyanya sambil menenangkan.


     "Aku mau minta maaf sama mas, karna tidak mau memberikan mas kesempatan untuk menjelaskan. Dan gara - gara keegoisan aku putra kitalah yang menjadi korban, sampai - sampai ia tak dapat merasakan kasih sayang seorang ayah yang cukup." sedihnya yang sudah mengeluarkan bola kristalnya.


     "Sudahlah... Itu kan masa lalu, cukup kita jadikan pelajaran. Tidak usah kita ingat hanya untuk mengembalikan luka yang telah kita perban, yang penting sekarang kan kita sudah bersama." nasihatnya.


     "Iya mas, makasih banyak ya mas." senangnya.


     "Sama - sama sayang, apa pun yang membuatmu bahagia." responnya lalu mengecup puncak kepalanya.


     "Emmm mas, ada satu hal lagi yang ingin aku tanyakan padamu mas." ucapnya lagi hingga Firdaus jadi penasaran.


     "Apa itu sayang?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Kata Jannah dulu hubungan waktu awal pernikahan kamu dan dia sempat baik - baik saja, namun kenapa sikapmu dua tahun ini jadi berubah? bahkan tubuhmu saja sampai kurus karna kamu tak nafsu makan." tanyanya meminta penjelasan.


     "Oh... Kalau masalah itu di sebabkan aku membaca salah salah satu novelmu yang berjudul 'Kisah Hidup Sigadis Terong' dan di dalamnya berisi tentang semua kisah nyata dirimu sendiri kan?" tebaknya yang tentu saja benar hingga Miftah sampai terkejut saat mendengarnya.

__ADS_1


     "Ya ampun, aku lupa mas kalau aku udah pernah berteman denganmu di Mangatoon." ucapnya sambil memegang dahinya.


     "Dan aku benar - benar tak menyangka jika kamu akan membacanya, meskipun aku tidak mengikutimu lagi saat itu." sambungnya.


     "Aku awalnya juga tak terlalu tertarik sih dengan novel, aku lebih suka dengan komik. Namun entah kenapa hatiku begitu tertarik untuk membaca novel mu tersebut, sampai aku paham dan merasa sangat bersalah." ungkapnya.


        🍆 Rangkaian kata di Novel Miftah 🍆


     Aku hanyalah gadis yang bodoh, apa karna dia pikir kalau aku hanyalah seorang petani terong yang haus akan kenikmatan cuma mengingatkan hartanya? tidak, aku tidak butuh.


     Sudah berapa lama aku tinggal bersamanya, hingga tanpa sadar cinta pun ikut bersemayam di dalam lubuk hatiku.


     Aku benci, tapi aku juga tidak bisa menolak takdir yang telah di tetapkan oleh-Nya untukku.


     Dan dia juga selalu berpikir jika aku hanyalah gadis yang sukanya berpose saja di depan kamera dan mencari perhatian segala insan.


     Padahal itu tidak seperti apa yang dia kira, itu demi orang tuaku semata. Mereka dulu begitu tega meninggalkankanku hanya karna masalah hati mereka, hingga aku di jadikan bulan - bulanan pada saat itu tanpa rasa kasian.


     Sekarang takdir kembali menyiksaku saat aku tau jika suamiku tak mencintaiku, dia hanya menjadikanku alat untuk membebaskan jabatannya. Sungguh hina bukan? sangat!


     Mulai sekarang aku akan pergi jauh dari kehidupannya dan tak akan pernah mau menatap wajah penuh tipuan itu untuk yang kesekian kalinya.


            🍆 Kembali pada saat ini 🍆


     "Mas, apa kamu menghafalnya? kenapa begitu sama?" tanya Miftah merasa heran.


     "Aku tidak menghafalnya sayang, tapi kata - kata itulah yang selalu berputar dalam memori ingatanku hingga aku semakin merasa kehilangan." jawabnya.


     "Dan kata - kata itu juga yang mampu menahan diriku untuk tidak menyentuh Jannah meskipun ia sudah menjadi istriku,"


     "Karna aku tak ingin menyakitinya, jadi aku memilih untuk diam saja dan menyendiri. Tidak ada lagi sinar sama sekali yang dapat aku lihat saat itu,"


     "Hingga tiba saat - saat Jannah mengatakan kalau ia ingin bercerai dariku dan tanpa ragu memintaku untuk menjatuhkan talak pada malam itu demi kebahagiaanku,"


     "Awalnya aku heran dan tak mampu, tapi ujung - ujungnya aku paham jika aku tidak bisa terus - terusan menutupi perasaanku yang begitu mencintaimu." jelasnya.


     Miftah masih menyimak apa yang suaminya katakan.


     "Iya mas aku paham sekarang, mari kita kembali membuka lembaran baru kehidupan kita lagi dan berusaha menjadi insan sekaligus orang tua yang lebih baik untuk Fajar." tekat Miftah.


     "Iya sayang, semangat berjuang!" serunya melepas pelukan mereka dan membawa satu tangan Miftah untuk di angkat ke atas.


     Lalu mereka pun tertawa secara bersamaan, dan tangan yang tadinya terlepas hingga menganggur jadi kembali memeluk antara satu dan yang lainnya.

__ADS_1


     "Sayang, kamu mau gak kalau kita merajut kembali malam pertama pernikahan kita? di pantai kemarin itu?" tanya Firdaus.


     "Maksudnya apa mas?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Ya mengulang semuanya lagi sampai selesai, kemarin kan sempat tertunda dan kita cuma bisa merasakan keromantisan malam hari. Katanya kamu mau aku ajak diving di dalam lautan," peringat Firdaus.


     "Oh iya ya mas, aku hampir lupa. Kenapa enggak? aku maulah mas kalau di ajak diving. Asalkan jangan kamu ingin menambah bayi," ucap Miftah sambil terkekeh pelan.


     "Hahaha kalau sekalian memangnya kenapa? toh Fajar sudah agak besar kan? dia pasti juga mengingatkan teman bermain," respon Firdaus meminta pertimbangan.


     "Itu ma sebenarnya gak terlalu ngarah ke Fajar mas, tapi kamu. Sudahlah mas... Fokus saja dulu sama Fajar, lagian dia sudah lama tidak bermain puas sama kamu. Nanti kalau duluan punya adik perhatian kita jadi tidak terlalu banyak sama Fajar," jelas Miftah menolak.


     "Ya sudahlah, kalau begitu besok kita akan pergi ke pantai ya. Fajar biar di rumah dulu sebentar sama mama dan papa," jelasnya.


     "Memangnya gak merepotkan mama dan papa mas?" cemasnya merasa tidak enak.


     "Ya enggak dong... Malahan mama sama papa paling senang kalau main sama anak kecil, apa lagi kalau cucu mereka sendiri. Karna kemungkinan besok juga mereka enggak terlalu sibuk," jelasnya.


     "Syukurlah kalau begitu ya mas," ucapnya merasa lega.


     "Iya sayang, besok pagi kita berangkat ya. Biar langsung bisa diving sama hiu paus," responnya.


     "Ya ampun... Baru dengar aja Miftah udah merinding mas, tapi penasaran gimana rasanya kalau udah dekat dengan hiu paus itu." bayangnya.


     "Sudah... Jangan di bayangin, besok yang penting kita nyemplung." canda Firdaus.


     "Hahaha iya mas, kalau gitu kita tidur aja yuk mas. Miftah udah lelah banget," ajaknya.


     "Oke, tapi lepas dulu itu mukenanya. Masakan iya tidur pakai mukena," peringatnya.


     "Atu ya iyalah mas, lagian siapa juga yang mau tidur pakai mukena. Mas ini yang enggak - enggak aja deh," heran Miftah sambil menggeleng - gelengkan kepalanya juga memegang dahinya dengan satu tangannya.


     "Hehe, kan takutnya... Hanya mengingatkan aja kok," jelasnya.


     "Iya deh iya..." respon Miftah.


     Mereka pun bangkit untuk melipat pakaian sholat masing - masing, lalu pergi  ke kamar mandi baru tidur di atas kasur usai membaca doa sebelum tidur.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2