
Dimalam hari Miftah masih saja tak dapat terlelap dengan tenang, matanya terus saja menatap langit - langit kamar tanpa berkedip. Tanpa ia sadari bola matanya seperti menampung beberapa kristal putih yang bening.
Kristal tersebut ibarat mata air yang baru saja keluar dari dalam bumi kemudian tumpah dan mengalir seperti tampungan air yang turun dari atas daun menyelusuri batang pohon.
"Ma... Pa... Mama sama papa dimana sih... Miftah kangen sama mama... Miftah ingin ketemu mama sama papa... Miftah kangen semua kehangatan yang dulu pernah mama dan papa berikan pada Miftah meskipun pertengkaran kecil kerap terjadi di antara kalian," ucapnya seorang diri lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah lain dan memeluk guling yang tepat berada dihadapannya.
"Ma... Pa... Miftah akan tetap sayang sama mama sama papa... Meskipun kalian sudah menumpahkan kekesalan kalian yang tak Miftah ketahui apa sebabnya," ucapnya lagi.
"Dulu Miftah hampir putus asa... Berlari tak tentu arah... Melihat jurang dan ingin menjatuhkan diri kedalam sana meskipun sebenarnya diri Miftah sendiri masih merasa takut," keluhnya.
"Miftah gak nyangka... Ternyata ulang tahun Miftah pada saat itu bukannya memberi kabar gembira tapi malah kabar duka yang begitu menyiksa, yaitu perpisahan kalian yang Miftah harap hanya dalam mimpi meskipun itu semua nyata,"
"Ma... Mama tau gak kenapa Miftah rela berubah kayak gini? padahal dulu kan Miftah adalah seorang gadis yang pendiam, tak banyak bicara tapi selalu tampak ceria dengan orang yang Miftah sayangi,"
"Miftah rela menjadi ebrek demi mendapatkan perhatian dari mama dan papa yang sudah tak Miftah ketahui lagi dimana," sedihnya dengan air mata yang tak pernah berhenti mengalir.
"Dulu Miftah sempat tak peduli lagi dengan mama dan papa karna rasa sakit hati Miftah pada kalian masih sangat berbekas! tapi hati Miftah bisa menjadi luluh karna ucapan kakek..."
"Kakek bilang 'kita sebagai makhluk ciptaan Allah harus saling memaafkan kesalahan satu sama lain menskipun awalnya sangat sulit... Apa lagi mereka orang tuamu... Orang yang telah melahirkan, merawat dan memberikan kebutuhanmu sampai kamu sebesar ini...' dan aku pada saat itu hanya mengangguk karena masih sulit untuk berbicara,"
"Miftah malah tak mau bersekolah selama sebulan sehabis kejadian itu... Lagian Miftah udah gak punya seragam lagi... Semua itu tertinggal dirumah, hingga benda berharga yang Miftah punya hanyalah baju yang saat itu sempat Miftah gunakan,"
Miftah terus saja berceloteh seorang diri, air mata masih saja berlomba - lomba keluar dari dalam sana, semenjak tinggal dengan kakek dan neneknya ia jadi sering berbicara sendiri hanya untuk menenangkan diri.
Tak berapa lama kemudian Miftah pun terlelap dalam mimpi indahnya usai menangis deras.
Lagian, ia juga tidak tau harus menumpahkan isi hatinya kemana, karna jika dengan kakek ia takut itu hanya akan membuat sang kakek jadi kepikiran.
🍃 **Masa lalu** 🍃
__ADS_1
Selama sebulan itu, seminggu hanya ia habiskan waktu didalam kamar saja, paling Miftah hanya keluar saat nenek menyuruhnya untuk makan tapi hanya beberapa suapan saja yang masuk kedalam mulutnya.
Sang nenek yang merasa khawatir dengan kondisi Miftah yang semakin hari semakin murung mulai mengadukannya pada sang kakek untuk mencari solusi.
Kakek mulai berpikir sesaat dan ia jadi tersenyum setelah menemukan cara ampuh agar Miftah jadi lebih bersemangat. Yaitu dengan cara berkebun dibelakang rumah bersamanya dan sang nenek supaya ia tak terlalu terlarut dalam kesedihan.
Miftah awalnya menolak saat kakek mengajaknya untuk keluar. Namun, bukan kakek Miftah namanya kalau tidak punya seribu akal yang mampu membuat sang lawan tidak tunduk kepadanya.
"Mif... Boleh gak kakek masuk kedalam?" tanya sang kakek lembut.
"Boleh kek..." jawabnya yang sedang berbaring memeluk guling diatas kasur.
Miftah memang tidur dikamar yang dulunya ditempati oleh anaknya yang kini sudah tak tinggal lagi dirumah ini semenjak menikah, tapi kamar itu tetap selalu dibersihkan oleh sang nenek.
"Krek,"
Suara gagang pintu mulai terdengar, Miftah tetap saja pada posisi awalnya, sang kakek hanya tersenyum saat melihat tingkah Miftah yang masih saja seperti biasa.
"Kamu pasti masih merasa sedih ya?" tanya sang kakek.
Sunyi, hanya kesunyian yang ada karna Miftah tak kunjung menjawab.
"Kakek tau... Pasti berat bagi kamu untuk melupakan orang tuamu dan menerima semua keadaan ini kan? tapi kamu harus tau satu hal. Suatu hal yang mungkin akan kamu sesali jika kamu tidak mau mengerjakannya," ucap kakek memancingnya untuk bertanya.
Miftah yang sangat penasaran mau tidak mau mulai bangkit lalu duduk disamping sang kakek dan kakek semakin tersenyum lebar karna ucapannya berhasil menarik perhatiannya.
"Memangnya apa itu kek?" tanya Miftah yang sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban dari sang kakek.
"Jawabannya adalah impian," jawabnya sambil menatap mata Miftah lekat.
__ADS_1
"Untuk apa aku mencapai impianku? toh orang tuaku malah tidak menginginkan aku untuk hidup kek!" resahnya yang kini sudah berlinang air mata, beberapa menit kemudian ia mulai menutup wajahnya yang sudah menangis sesegukan.
Sang kakek dengan penuh kasih sayang kembali mengusap puncak kepalanya sambil menyemangatinya.
"Miftah... Kalau kamu mau membuat mereka sadar dan mengerti bahwa kamu juga bisa hidup tanpa mereka kamu harus berusaha menggapai impianmu meskipun itu terbilang rendah... Yang penting kamu mampu melakukan pekerjaan yang bisa memenuhi kebutuhan mu sendiri tanpa harus mengadahkan tanganmu pada orang lain... Contohnya dengan kamu berkebun... Hasilnya kan bisa kamu manfaatkan sendiri bahkan jika kamu punya rezeki lebih kamu mungkin dapat menolong orang lain lagi... Buat mereka menyesal dan jadi mengingatmu kembali karna usahamu itu," peringat sang kakek yang langsung membuat Miftah sadar.
Miftah seperti baru saja keluar dari hutan yang penuh dengan kegelapan dan rasa takut yang mencengkram menuju kearah cahaya yang terang menerang.
"Kakek benar! Miftah harus berusaha," responnya dengan tangan yang tak lagi menutupi wajah dan sang kakek dapat melihat jelas warna matanya yang memerah.
"Miftah... Kamu harus dengar ya... Air mata mata yang mengalir di pipi indahmu ini tidak akan ada gunanya jika kamu tidak mau berusaha... Kamu bisa menggunakannya untuk menenangkan dirimu tapi jangan terlalu lama... Setelah kamu menumpahkan sedikit berusaha lah untuk menghapusnya kembali..." ucap sang kakek sambil menghapus aliran air mata Miftah dengan kedua ibu jarinya yang sedikit kasar akibat bekerja.
"Iya kek! Miftah pasti akan berusaha! Miftah besok mau kok sekolah disekolah lain dan menggapai impian Miftah setidaknya itu dapat menambah ilmu untuk Miftah agar tidak mudah di tipu oleh orang lain," semangatnya sambil memegang kedua pergelangan tangan sang kakek yang masih memegang pipinya.
"Nah... Itu baru cucu kakek dan nenek..." senangnya.
"Iya kek!" responnya yang tak berhenti tersenyum meskipun matanya sedikit sembab.
"Janji ya sama kakek! kalau cucu kakek yang cantik ini bakal belajar rajin - rajin disekolah nanti," ucapnya sambil mengulurkan sebelah tangan kanannya dihadapan Miftah usai melepaskan nya dari kedua pipinya.
Dengan gesit, Miftah langsung menyambutnya lalu menggenggam nya erat.
"Miftah janji! Miftah gak bakal kecewain kakek dan nenek! maaf selama ini malah membuat kalian semakin susah," sedihnya.
Sang kakek juga membalas genggaman kuat Miftah sambil berkata "kakek dan nenek gak bakal merasa susah! karna ada kamu kakek dan nenek berasa punya cucu sendiri..." responnya.
Miftah sangat senang lalu ia langsung memeluk kakeknya erat, sang kakek juga membalasnya tak kalah erat. Miftah sangat bersyukur karna Allah masih sangat baik kepadanya.
Sejak saat itulah kenarsisan Miftah muncul setelah ia mempunyai ponsel dari hasil kerja kerasnya sendiri usai beberapa bulan bekerja membantu sang kekak dan nenek berkebun.
__ADS_1
Niatnya cuma satu, ia hanya ingin orang tuanya melihat bahwa sanya ia mampu hidup mandiri tanpa mereka dan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi, ia terpaksa mengumbar Vidionya kesemua orang, berharap banyak orang yang menonton dan menyukai Vidionya hingga Vidio itu dapat di lihat oleh orang tuanya karna ketenarannya.
Sebenarnya Miftah sangat malu bergaya didepan kamera bahkan sampai berbicara banyak hal, tapi ini harus ia lakukan untuk membuat orang taunya sadar dan mau mencarinya kembali karna ia juga tidak tau apa nama akun orang tuanya di aplikasi apa pun sebab ia tidak pernah berani membuka ponsel orang tuanya kecuali nomor Wa mereka yang hanya tersimpan di dalam ponselnya, sayangnya ia sama sekali tidak menghafalnya.