Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 77


__ADS_3

     Angin malam mulai berhembus dengan pelan, mengayunkan dedaunan yang terus bergoyang seirama dengan arah angin yang menerpa mereka.


     Dari kejauhan tampak seorang pria yang sedang memakai jaket hitam dengan tangan yang dimasukkan kedalam saku celananya, ia terus saja melihat ke arah kiri dan kanan.



     Matanya tak pernah bosan menyapu apa saja yang ada dihadapannya dengan serius, Miftah yang merasa tak nyaman dengan kelakuan Firdaus memilih bertanya untuk menghilangkan kekesalannya.


     "Kaka! Kaka kenapa sih dari tadi kayak orang panik gitu? celinguk kanan! celinguk kiri! heran aku," resahnya sambil mengembuskan nafas panjang.


     "Kaka hanya berjaga - jaga aja..." jawabnya enteng.


     "Kaka ini... Apa yang perlu di jagain sih? ini kan kawasannya ramai banget orang! liat tuh! lampu jalan terang banget! terus orang yang berlalu lalang masih banyak benget... Jadi biasa aja lah Kaka..." herannya.


     "Yang namanya kejahatan itu gak mandang tempat," responnya acuh tak acuh.


     "Huh! terserah Kaka ajalah! mau aku bilang apa pun pasti Kaka tetap kekeh dengan prinsip Kaka," ucapnya mengalah.


     Firdaus hanya terkekeh saat melihat Miftah merajuk sambil terus menatap kedepan tanpa memalingkan wajah menghadap kearahnya.


     "Udah... Gak usah ngambek gitu..." ucap nya sambil menepuk pundak Miftah pelan dan Miftah hanya mengacuhkannya, mood nya untuk merespon sedang sangat buruk.


     "Cuekin aja terus," ucap Firdaus sambil melihat kearah lain.


     "Beneran nih mau di cuekin?" tantang Miftah.


     "Eh! jangan serius - serius dong Ratuku... Rajamu ini kan hanya bercanda... Kamu ini," ucapnya sambil mengangkat tangannya sejajar dengan dada lalu menggerakkannya.


     "Hmmm...," responnya.


      "Pendek amat tu responnya," komennya.


     "Suka - suka," ucapnya sambil memiringkan sebelah kepalanya dengan tubuh yang sedikit berpaling untuk menghadap kearahnya.


     "Oh iya! katanya tempat poto copynya gak jauh... Lah ini kita udah jalan hampir lima belas menit kok gak nyampe - nyampe," resahnya.


     "Hahaha... Sebenarnya Miftah juga gak tau dimana tempat poto copy yang dekat disekitar sini... Cuma biar cepat - cepat terlepas dari Kaka ya Miftah terpaksa bilang dekat," jujurnya sambil tersenyum kikuk.


     "Astagfirullah Miftah... Kamu ini malah buat Kaka makin pusing aja ya... Kaka jadi geram banget nih sama kamu! maunya kan kaka tarik hidungmu sampai merah sekalian," resahnya tak habis pikir dengan tangan yang memegang dahinya yang sudah sedikit berdenyut.

__ADS_1


     "Ya kan gak papa sekali - kali keluar jalan kaki! itung - itung olahraga malam," responnya yang kini sudah kembali menghadap lurus ke arah depan.


     "Kamu ini! yang ada olahraga itu bagusnya waktu pagi... Bukannya waktu malam... Kamu ini malah cari sakit aja," ucapnya menentang ucapan Miftah.


     "Makanya! capek kan? capek kan? capek kan?" tanyanya mengulang pertanyaan yang sama beberapa kali.


     "Ya capek lah... Masak iya enggak sih!" jawabnya yang hanya direspon dengan cengiran kuda oleh Miftah.


     "Kenapa kamu malah ketawa - tawa begitu hah? pasti kamu sedang berpikiran buruk untukku kan?" tebak Firdaus tak terima sedangkan Miftah makin membekap mulutnya kuat saking merasa geli.


     "Enggak kok," elaknya.


     "Aku gak percaya!" serunya yang kini sudah mengeluarkan kedua tangannya dari sakunya diganti dengan melipat keduanya dibawah dada.


     "Dah lah! kalau tak percaya," ucapnya acuh.


     "Lagian aku merasa heran sama Kaka... Udah tau jalan kaki itu capek... Apa lagi Kaka kan besok harus kerja... Kenapa Kaka gak dirumah aja... Lagian aku juga udah biasa putar - putar sana sini sekalian melihat - lihat kota agar tau beberapa tempat! jadi nanti kalau ada perlu apa - apa aku sudah tau mau beli dimana," ungkapnya.


     "Kalau seperti itu kan bisa juga naik motor Ratuku... Gak capek lagi..." keluhnya.


     "Emang susah yah kalau ngomong sama orang yang gak pernah jalan kaki," ledeknya sambil menatap malas ke arah Firdaus.


     "Ya terus maksudnya apa dong?" tanya Miftah.


     "Ya dari pada kita buang tenaga kita sia - sia kan lebih baik kita menghematnya untuk besok," jawabnya.


     "Udah kayak batre hp aja harus dihemat - hemat biar gak cepat lobet," responnya.


     "Kamu ini! kamu jangan pernah remehkan Kaka ya... Dulu Kaka udah pernah juga rasain jadi santri yang kalau perlu apa - apa harus pergi beli barang jalan kaki! tapi untuk sekarang kan gak perlu lagi," ceritanya.


     "Lagian kalau kita perginya naik motor kan tak hanya menghemat tenaga saja... Tapi juga menghemat waktu... Ingat! waktu itu bagaikan pedang! jika kita yang tidak memotongnya maka ialah yang akan memotong kita," sambungnya.


     "Iya - iya aku paham... Yang Kaka katakan itu benar kok!" responnya sambil mengangguk.


     "Nah... Gitu dong!" ucapnya senang.


     "Maaf ya Kaka... Miftah udah egois tadi," ungkapnya menyesal.


     "Gak papa... Yang penting sekarang kamu kan udah paham apa maksud dan fungsi dari apa yang udah aku katakan tadi," responnya sambil tersenyum kearahnya.

__ADS_1


     Miftah balas tersenyum.


     "Iya Kaka...," ucapnya.


     "Eh! Ratuku! coba kamu lihat kedepan deh! disebrang jalan sana. Sepertinya ada tulisan Poto copy deh diatas ruko itu," unjuknya sambil menyajarkan kepalanya dengan Miftah.


     "Oh iya... Kita beruntung kak malam ini!" senangnya.


     "Dan jangan lupa bilang-" ucapnya menjeda kalimatnya.


     "Alhamdulillah..." sambung Miftah tak berhenti merekahkan senyumannya.


     "Terus lah tersenyum seperti itu ya... Kecantikanmu akan terlihat berkali lipat saat kamu semakin banyak tersenyum," pujinya.


     "Hahaha... Kakaku ini bisa aja sih..." ucap Miftah yang tanpa sadar sudah mencubit pipi Firdaus pelan saking gemasnya.


     "Kalau gemas dengan ku ya bilang aja... Gak usah dipendam - pendam segala! jadi gak kuat kan sekarang," ucap Firdaus bangga sambil tersenyum penuh kemenangan kearahnya.


     Miftah langsung tersadar saat mendengar apa yang Firdaus ucapkan, pipinya sedikit memerah dengan wajah yang terus tertunduk.


     "Tuh kan! buktinya Ratuku yang imut ini sudah kehabisan kata - kata..." ucap Firdaus berniat untuk memancing kemarahannya.


     "Is Kaka! apaan sih! orang gak sengaja juga! udah pedean aja," elaknya sambil memalingkan wajah kearah lain.


     "Udah... Gak usah ditutupin... Dari tadi udah nampak kok rona yang muncul dipipimu," beritahunya yang membuat wajah Miftah semakin memerah seperti kepiting rebus.


     "Au ah! mumpung jalan udah sepi mendingan aku nyebrang duluan sebelum ada kendaraan lain lagi," ucapnya sambil berlalu dari hadapan Firdaus.


     "Eh! tunggu aku lah Ratuku... Masak ia Rajamu ditinggalin," dengusnya merasa kesal lalu ikut mengekor dibelakang Miftah.


     "Bodo amat! jalanan lagi sepi malah disia - siain! dasar kaka! sekarang yang terlihat membuang - buang waktu itu Kaka tau," ucapnya yang kini sudah hampir sampai diujung jalan.


     Firdaus pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Miftah yang kini sudah sampai di ujung jalan dan masih setia menunggunya sebentar.


     "Hah... Hah... Hah... Kamu ini tega banget sama aku! masak ia kamu main tinggal - tinggal begitu aja!" protesnya kesal.


     "Udah jangan banyak bicara lagi! ayo! biar cepat siap," ajak Miftah sambil menarik satu tangan Firdaus agar terus berjalan bersamanya.


     Firdaus tertegun sesaat, baru kali ini gadisnya yang untuk pertama kali berinisiatif untuk menarik tangannya terlebih dahulu sambil menggenggamnya kuat.

__ADS_1


     Karna merasa senang ia pun hanya menurut, rasa kesalnya kini sudah menghilang begitu saja saat mendapatkan perlakuan Miftah yang membuatnya suasana hatinya kembali berbunga - bunga.


__ADS_2