
Malam pun tiba, Miftah baru saja keluar dari kamar dengan pakaian serba hitam. Tak lupa dengan kaca mata hitam yang tertahan di batang hidungnya.
"Kamu mau kemana?" tanya suara berat seseorang hingga membuat Miftah hampir melompat dibuatnya.
"Astagfirullah... Kaka ngagetin aku aja," ucapnya sambil mengelus dadanya karna detak jantung yang sudah berolahraga.
"Ada apa sih kak?" tanya Miftah.
"Bukannya dijawab! malah kamu balik tanya! aku tanya sama kamu kalau kamu mau kemana Ratuku..." jelasnya merasa lelah.
"Aku mau keluar sebentar kak," jawabnya.
"Ngapain?" tanyanya lagi.
"Kok Kaka kepo sih?" resahnya yang mulai cemas karna takutnya Firdaus tidak mengizinkannya untuk keluar malam ini.
"Ya kan wajar Kaka kepoin calon istri Kaka," responnya sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Is... Gak boleh kepo - kepo kak! ini urusan cewek," resahnya lagi.
"Kamu ini! asal mau keluar pasti alasannya gitu! apa gak ada alasan lain apa," ucapnya sambil menghembuskan nafas berat.
"Emangnya aku harus punya alasan apa lagi kak?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Ya kamu pikir aja sendiri," jawabnya acuh.
"Orang dipikiranku cuma itu," responnya sambil menunduk.
"Yaudah deh! kamu boleh pergi! tapi Kaka yang akan temani kamu," aturnya.
"Apa? ditemani sama Kaka? gak ah kak! Miftah udah besar! bukan bocil kesasar yang harus dikasih unjuk jalan! jadi bye aja ya kak... Assalamualaikum..." ucapnya sambil berlalu dari hadapan Firdaus.
"Lah! emang aku udah bilang boleh pergi?" tanya Firdaus.
"Udah," jawabnya singkat.
"Kapan?" tanyanya.
"Tadi," jawab Miftah.
"Syaratnya apa?" tanyanya.
"Ditemani," jawab Miftah.
"Sama siapa?" tanyanya.
"Au! sama siapa ya! lupa aku," jawabnya sambil menatap langit - langit kemudian mengetuk - ngetuk jari telunjuknya di dagunya.
"Sama Kaka Ratuku..." beritahunya meskipun ia sudah tau jika Miftah hanya pura - pura amnesia mendadak.
"Oh iya ya!" responnya sambil menyengir kuda lalu menepuk dahinya pelan.
"Kamu sih! malah lupa," gemas Firdaus sambil menarik batang hidung Miftah, hingga kaca mata yang Miftah kenakan menjadi miring seketika.
"Is Kaka... Kaca mata Miftah jadi miring tau..." dengusnya dengan wajah cemberut.
"Baru pulang dari kerja kita baikan! masak sekarang mau marahan lagi," keluhnya.
"Lagian kakanya sih!" resahnya.
"Ya kan Kaka emang begini! gak bisa jauh dari kamu gitu," ucapnya sambil menyengir kuda.
"Alah! gombal," remehnya.
"Biarin aja," respon Firdaus cuek.
"Lagian kamu waktu bilang Assalamualaikum, Kaka kan belum sempat jawab juga tadi. Kamu malah main nyelonong pergi aja," sedihnya.
__ADS_1
"Hadeh... Yaudah kalau gitu mumpung pakaian Kaka juga sudah sangat rapi, ayo deh kita berangkat bareng." ajaknya sambil menarik satu tangannya.
"Yang benar?" tanyanya seakan tak percaya saat Miftah tanpa paksaan dengan mudah mengajaknya setelah sedikit berdebat tadi.
"Iya Kaka... Kaka mau pergi apa enggak sih? sebelum aku berubah pikiran," dengusnya.
"Ya maulah... Apa lagi sama kamu," gombalnya hingga membuat Miftah memilih acuh dan tanpa peduli langsung pergi dari hadapan Firdaus sambil kembali menarik satu tangannya.
"Eh! malah ditarik lagi!" senangnya.
"Biar cepat! kalau tunggu Kaka malah kelamaan," ucapnya sambil menatap malas kearah Firdaus.
"Gak papa walaupun terpaksa. Yang penting kamu udah mau aja gandeng duluan tanganku," ucapnya sambil tersenyum.
"Terserah Kaka aja," responnya hingga tanpa mereka sadari kini mereka telah selesai menuruni anak tangga dengan berbeda ekpresi.
Miftah turun dengan wajah datarnya sedangkan Firdaus turun dengan wajah penuh senyuman.
Sesampai didepan rumah, Miftah hendak menyuruh Rangga untuk menyupir mobil tapi tiba - tiba Firdaus mencegah keinginan Miftah.
"Ngapain sih naik mobil mulu! motor aja napa sekali - kali," putusnya.
"Yaudah asalkan jangan motor Ninja," responnya setuju.
"Lho! kenapa?" tanya heran.
"Ngeri aku kak! udah lah kalau Kaka gak mau mendingan kita naik mobil aja," ambeknya sambil melipat kedua tangannya dibawah dada.
"Iya deh iya," ucapnya menyerah.
Akhirnya, mau tidak mau Firdaus pun mengabulkan keinginan Miftah. Ia menyuruh salah satu bodyguardnya untuk mengambil motor apa pun asalkan bukan Ninja.
Tak berapa lama kemudian sebuah motor Vario berwarna hitam keluar bersama Rangga, salah satu bodyguard yang tadi sempat ia suruh.
"Cepat naik," suruh Firdaus sambil mengarahkan tatapannya kebelakang punggungnya.
Miftah sebenarnya sangat kaku ketika harus duduk tepat dibelakang Firdaus, cuma ia tidak punya alasan untuk menghindar. Lagian bibirnya juga sudah terlanjur mengizinkan Firdaus untuk mengantarkannya.
"Kok gak naik - naik sih! ayo cepat naik... Kamu mau telat ya?" tanya Firdaus tak sabaran.
"Iya... Sabar napa kak," resahnya sambil menghembuskan nafas berat.
"Kalau aku hanya mengandalkan kesabaranku, maka sampai berganti musim pun kamu masih mematung disitu." responnya.
"Masak iya selama itu," komen Miftah yang sudah berjalan kearah Firdaus.
"Ya bisa aja! kamu udah kayak orang yang gak sering ketemu denganku saja. Malahan kamu udah mau jadi calon istriku, tapi sikapmu masih saja seperti orang yang baru pertama bertemu." ungkapnya.
"Iya deh iya... Mana helmku," pintanya sambil mengulurkan satu tangannya.
Setelah memberikan apa yang Miftah pinta, baru ia kembali fokus kedepan usai Miftah menaiki motornya.
"Udah?" tanya Firdaus sambil melihat kearah kaca spion dengan satu alisnya yang terangkat.
"Udah kak," jawabnya dan Firdaus hanya tersenyum saat melihat wajah Miftah yang tampak sedikit cemas.
"Udah... Gak usah khawatir! aku ini handal lho... Membawa motor! kamu gak perlu memasang mimik cemas begitu," beritahunya.
"Is! siapa yang cemas? aku malah sedang menahan rasa gugupku! gara - gara aku mau duduk dibelakang mu jantungku malah tak berhenti berdetak keras sekarang," batinnya merasa kesal.
"Kita jalan ya Ratuku," ucapnya.
"Berhentilah memanggilku itu ketika kita diluar rumah," peringat nya karna takut ada yang mendengar.
"Memangnya kenapa? kan aku gak teriak - teriak ini," tanyanya.
__ADS_1
"Pokoknya lebih baik jangan, nanti kalau ada yang dengar gimana? apa Kaka gak malu hah?" responnya merasa resah.
"Untuk apa aku merasa malu? toh! gak lama lagi kita juga bakal menjalin ikatan suci, jadi bukan sebuah keromantisan belaka." ucapnya merasa heran.
"Iya deh! terserah Kaka aja! kalau gitu ayo kita jalan," responnya merasa pasrah.
"Oke! kalau terserah aku ya begitu! aku hanya ingin terus memanggilmu Ratuku! dimana pun dan kapan pun," putusnya.
"Udah... Kalau kita terus berbicara lagi kapan sampainya sih?" protesnya.
"Iya - iya... Kita jalan sekarang ya..." ucapnya.
"Iya Kaka baik... Sekarang cepatlah Kaka kendarai motornya..." pintanya.
"Baiklah," responnya lalu kembali menghidupkan gas motor.
Tak berapa lama kemudian mereka pun sudah melaju ketempat tujuan.
"Oh iya kak! nanti turunin akunya jangan didekat Restoran ya," peringat Miftah.
"Lah! emangnya kenapa?" tanyanya seakan tak menerima apa yang Miftah inginkan karna itu tujuannya.
"Kaka... Dengan penampilan Kaka yang seperti ini, maka penyamaran ku akan sia - sia juga karna terbongkar nanti! jadi dari pada - dari pada Kaka nurut aja ya..." ucapnya memohon.
"Oke jika alasannya begitu," terimanya terpaksa.
Miftah pun jadi tersenyum saat mendengar hal tersebut.
"Makasih ya Rajaku..." ucapnya sambil memeluk erat pinggang Firdaus saking senangnya.
Firdaus hanya tersenyum.
"Akhirnya dipeluk juga," senangnya semakin tersenyum lebar.
"Eh!" ucap Miftah yang baru menyadari perlakuannya, wajahnya saja sampai bersemu merah.
"Udah gak usah ditutupi... Orang udah jelas terlihat kok," tawa Firdaus.
"Sudah ah! Kaka fokus kembali sama jalanan aja," ucapnya dengan kepala yang terus menunduk, sedangkan Firdaus masih tak berhenti tertawa.
"Iya deh iya..." responnya.
Motornya terus melaju membelah jalanan besar tersebut, tampak jelas lampu malam yang terus berkerlap kerlip dibeberapa pohon.
_____________________________________
Hai kaka semuanya... 🤗
Makasih ya... Karna sudah mau mampir ke Novel kedua Star... 😇
"KEBUN TERONG SIGADIS NARSIS"
Star sangat berterima kasih bagi Kaka - Kaka yang sudah mau memberi Ranting, like, vote bahkan sampai membaca dan mengomentari karya star... 🙏😊
Star sangat senang hingga jadi lebih semangat... 😄
Dimana bulan disitu bintang 😀
Dimana gelap disitu terang 🤣
Terima kasih bila tlah datang 😆
Star beri ucapan salam sayang 😘
Oke... Sampai jumpa di part selanjutnya ya...
Makasih untuk Kaka - kaka yang selalu hadir...
__ADS_1
🍃🍃🍃🍃🍃 🙏🙏🙏 🍃🍃🍃🍃🍃