
🍃 Didalam mobil 🍃
Firdaus masih diam membisu. Matanya masih terus memandang kedepan. Berulang kali ia menghembuskan nafas kasar disamping Miftah dengan tangan yang menggenggam setir mobil kuat.
Miftah jadi ikut khawatir saat melihat kondisi Firdaus yang sepertinya sedang tidak bisa disebut baik - baik saja.
"Kaka! apakah Kaka baik - baik saja?" tanya Miftah hati - hati.
Firdaus hanya diam.
"Kaka... Kalau Kaka terus saja mendiamiku seperti itu aku tidak akan pernah bisa tenang," ucapnya sedikit menggeser tubuhnya untuk menghadap kearah Firdaus.
Firdaus tetap membisu.
"Huh... Ya sudah kalau begitu! mau aku paksa pun Kaka bakal terus saja bersikap acuh," ambeknya sambil melipat kedua tangan dibawah dada dengan pandangan mata yang menatap lurus kedepan.
Setelah mendengar kata - kata Miftah yang terakhir baru Firdaus melihat kearahnya.
"Jangan ngambeklah Ratuku... Kecantikan mu nanti bakal hilang... Aku lebih suka melihat keceriaan mu dari pada wajah cemberut mu... Senyuman mu itu begitu manis... Sampai membuatku jadi bersemangat lagi menjalani hari," gombalnya sambil menyentuh pundak Miftah dan itu sontak saja membuat Miftah kembali berbalik menghadap kearahnya.
Tatapan mata mereka bertemu. Membuat sang pemilik hanya mampu merasakan dentuman yang terus memukul dari dalam.
"Deg!"
"Deg!"
"Deg!"
"Ya ampun Kaka... Kenapa suasana hatimu cepat sekali berubah - ubah seperti ini..? kamu bisa terlihat bengis dibeberapa menit dan menjadi begitu manis hanya dalam beberapa detik," batinnya dengan pipi yang kini sudah bersemu merah.
"Kamu makin manis aja kalau sedang tersipu begitu," pujinya lagi hingga membuat darah Miftah sedikit mendesir.
"Sejak tadi Kaka terus memujiku saja... Semua wanita kan memang manis... Ya tentunya dengan cara mereka sendiri..." jelasnya.
"Tidak!" responnya singkat.
"Kok tidak sih kak?" herannya.
"Ya karna menurut pandangan mata Kaka yang paling manis itu cuma kamu..." gombalnya lagi hingga membuat Miftah membekap mulut Firdaus.
"Sudah - sudah! lebih baik Kaka diam saja ya... mungkin karna kondisi Kaka sedang tidak baik jadi kebawa - bawa ucapan deh," cegahnya.
__ADS_1
"Aku serius Ratuku... Buktinya kan aku udah mau lamar kamu buat jadi istriku," ucapnya.
"Iya - iya terserah Kaka!" responnya acuh tak acuh sambil membetulkan posisi duduknya untuk menghadap tepat kedepan.
"Jangan dicuekin dong..." ucapnya sambil melihat kearah Miftah dan Miftah hanya diam.
"Jeh... Aku lagi ngomong sama orang ni lo... Bukannya ngomong sama patung," ucapnya lagi dan Miftah masih saja diam.
"Ya sudah lah kalau kamu mau cuekin Kaka... Untung aja tadi Kaka peka sama kamu! kalau enggak mungkin kamu udah dibawa sama mata - mata itu," ambeknya.
"Oh... Jadi ceritanya ngungkit nih... Gak ikhlas ya tolongin akunya... Kalau begitu kenapa Kaka tadi gak biarin aku disitu saja hah!!!" ucapnya sedikit membentak dikalimat terakhir dengan tatapan mata setajam silet ke arahnya.
"Hehe! canda Ratuku... Aku hanya berniat memancingmu saja... Habisnya cuma cara itu yang ampuh biar kamu gak diemin aku... Lebih baik kamu marah tapi masih mau respon... Dari pada jadi batu kan gak enak," resahnya.
"Iya - iya..." respon Miftah sambil menatapnya malas.
"Nah... Gitu dong!" senangnya.
"Gak enak kan dicuekin? nah... gitu juga perasaan aku saat Kaka tadi diemin aku," jujurnya.
"Wahai Ratuku... Rajamu ini tadi cuma sedang mengontrol emosinya yang bercampur rasa cemas... Jadi ya wajarlah kalau Kaka diam untuk tenangin diri sebentar," ungkapnya.
"Ya iyalah! kamu kan calon istriku... Ya aku wajib dong punya rasa khawatir sama kamu! kan kamu wanita yang aku cintai," jujurnya.
"Makasih ya kak... Aku hanya berpikir mungkin Kaka lebih menyukai wanita lain yang lebih lama Kaka kenal selain aku..." ungkapnya merasa mustahil meskipun awalnya ia pernah berkata bahwa ia sudah sangat yakin tapi tetap saja hatinya sering terbolak - balik.
"Jgerrrr!"
Bagaikan disambar petir disiang bolong. Firdaus hanya diam. Ia bingung untuk merespon apa yang di ucapkan oleh Miftah kepadanya, karna ucapan Miftah malah membuatnya mengingat Jannah.
Ia tau, Jannah adalah wanita pertama yang pernah ia cintai tapi sekarang hatinya malah berkata lain. Ketika ia ingin mencoba untuk jujur ia malah takut jika gadis yang sedang duduk disampingnya ini menghilang.
Sekarang yang ia inginkan hanya bahagia bersamanya, melakukan apa pun yang mereka inginkan demi kebahagiaan bersama sampai tali pernikahan tiba dan ikatan suci itu terikat.
Sejak awal Miftah menginjakkan kakinya ditempat tersebut, Firdaus langsung menyuruh dua orang mata - mata yang memang mengikutinya dengan mobil hitam pula untuk menjaga Miftah didalam sana.
Berkat adanya mereka Firdaus jadi tau banyak hal dan ia sangat memaklumi alasan Miftah untuk pergi kesana, ia hanya ingin menemui papanya yang sudah bertahun - tahun tak pernah lagi berjumpa.
Saat Miftah terancam bahaya, saat itulah perasaan Firdaus tidak tenang sejak menunggu didalam mobil, ia keluar tergesa - gesa tanpa pemberitahuan para mata - mata yang hendak menelponnya.
Hingga akhirnya ia dapat menemukan Miftah yang sedang dihadang oleh mata - mata sang nyonya, sebelum menyerang ia sempat mendengarkan apa yang di ucapkan oleh sang mata - mata dibelakang punggung nya dan itu membuatnya tak menerima itu semua.
__ADS_1
"Kurang ajar! kau ingin menjadikan gadisku pacarmu? itu sama saja dengan kamu mencari mati karna ingin merebut calon istriku dari tanganku," batinnya merasa geram di iringi suara gertakan gigi hingga membuat dua orang mata - matanya tak berani mendekatinya karna terlihat sangat menyeramkan.
"Ratuku... Kamu harus tau satu hal," ucapnya memberanikan diri.
Kemudian ia memberhentikan mobilnya sebentar didekat jalanan kota yang tampak sepi.
Ia melepaskan sabuk pengamannya lalu menghadap kearah Miftah dengan tatapan mata yang penuh dengan keseriusan.
"Kak! kenapa Kaka berhenti disini Kak? lho! kok sabuk pengamannya dilepas? Kaka jangan macam - macam ya sama aku! kalau Kaka berani macam - macam maka aku akan teriak," ancamnya sambil menunjuk Firdaus dengan jari telunjuknya tepat dihadapan wajah Firdaus.
Firdaus dengan lemah lembut menurutkan tangan Miftah yang sedang menunjuk tepat dihadapannya.
Matanya kini mulai berkaca - kaca. Ia bingung apakah ia harus mengungkapkannya atau tidak, tapi jika ia tidak mengatakannya padanya itu hanya akan membuat hatinya merasa sakit.
"Ratuku... Aku ingin bertanya padamu," ucapnya sambil menatapnya dengan tatapan dalam.
Miftah yang tak tega melihat raut kesedihan diwajah Firdaus hanya mampu mengangguk sambil menjawab pertanyaannya "ya silahkan!"
"Apakah kamu benar - benar mencintaiku Ratuku?" tanya Firdaus.
Miftah sangat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Firdaus, tapi ia harus kuat juga untuk menjawabnya secara serius.
"Sebenarnya... Aku sudah mencintai Kaka... Cuma aku masih bingung dengan perasaanku sendiri... Terkadang aku bertanya - tanya! apakah cuma aku yang merasakannya," jawabnya.
Firdaus hanya tersenyum, lalu ia meletakkan kedua tangannya diatas pundak Miftah.
"Ratuku... Jika seandainya kamu mendengar segala keburukan ku untuk mu dikemudian hari, aku harap kamu dapat memahaminya dengan perasaanmu sendiri," ucapnya.
"Maksudnya apa kak?" tanyanya masih bingung.
"Kamu harus tau... Untuk saat ini perasaan hatiku yang paling besar hanya ada untukmu! semoga saja untuk kedepannya juga begitu! aku harap kamu percaya dengan apa yang aku katakan ini Ratuku," ungkapnya dengan suara serak menahan perih yang ada didadanya.
"Memangnya apa yang Kaka sembunyikan dariku kak?" tanya Miftah ikut berkaca - kaca.
"Sekarang bukan saatnya untuk aku mengungkapkannya, karna aku masih belum sanggup untuk melakukannya. Aku harap kamu dapat memahaminya," jawabnya.
"Karna aku sudah sangat mencintai mu Miftah! seorang gadis yang dikenal anak sederhana disebuah perkampungan ternyata aslinya adalah seorang anak dari pengusaha yang cukup kaya," ungkapnya yang membuat Miftah membisu ditempat.
"Asal kamu tau! aku mulai menyukai kenarsisanmu yang membuat aku jadi sangat merindukanmu! aku serius! kalau aku sangat mencintaimu Ratuku," sambungnya lagi lalu kembali memasang sabuk pengamannya dan melajukan mobilnya santai setelah menyalakannya kembali.
Miftah masih saja diam ditempat, ia benar - benar bingung tapi ia harus mendengarkan juga apa yang Firdaus ucapkan agar menjadi jawaban untuk kunci masalah dihari kedepannya.
__ADS_1