Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 139


__ADS_3

Rosalia kini hanya memandang punggung Werdan yang sudah berjalan menjauh. Sejak berjalan tak pernah ia menyerah untuk membalikkan tubuhnya agar dapat memberikan tatapan tajam pada Rosalia.


     Ini kali pertama Rosalia berani melawan Werdan. Biasanya meskipun Werdan sering melakukan kekerasan padanya ia masih saja diam karna ia takut, akan satu hal yang terus terngiang dalam benaknya.


     Ia tak ingin kejadian masa lalunya dengan Askari terjadi lagi terhadap Werdan dan dirinya.


     "Mas! andai kamu tau kalau aku masih sangat cinta sama kamu mas, tapi kenapa setelah apa yang aku lakukan untuk kamu. Kamu malah berbuat seperti ini padaku mas?" batinnya merasa heran dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


     "Jujur ragaku sebenarnya sejak dulu sudah tidak kuat lagi bersama dengan mu mas! cuma hatiku masih berusaha membuatku bertahan untuk tetap ada disisimu," batinnya lagi sambil mematung di tempat.


     Rosalia yang sudah merasa lemas jadi jatuh terduduk.


     "Kenapa sih aku masih lemah saat di tinggalkan pria? kenapa sih aku gak bisa kuat melepaskan orang - orang yang hanya memanfaatkanku saja?" resahnya yang kini sudah menangis deras.


     Tadi ia sempat menjadi wanita yang tegas dan tak ingin tampak lemah di hadapan pria itu meskipun dia sudah tidak ada lagi di hadapannya.


     Permata yang melihat Rosalia hendak menolongnya, tapi langkahnya terhenti saat melihat Miftah sudah lebih dulu berjalan ke arah mamanya.


     Matanya jadi tertuju pada sosok Fahman yang mulai berjalan tertatih - tatih untuk masuk kedalam rumah.


     Ia berinisiatif untuk membantu Fahman terlebih dahulu. Masalah Rosalia ia sudah yakin jika Miftah pasti bisa menenangkannya, apa lagi itu adalah mamanya sendiri.


     "Bang!" ucap Permata yang sudah berdiri dihadapan Fahman.


     "Eh! Permata, kamu tidak apa - apa kan dek?" tanyanya sambil menatap sayu kearahnya.


     "Bang! harusnya adek yang tanya sama abang kalau abang ini kenapa sampai mau menantang Kak Werdan?" responnya balik bertanya.


     "Dia udah hina abang dek! dan abang gak mungkin diemin aja," responnya.


     "Tapi kalau begitu nyawa abang bisa terancam, adek gak mau kalau sampai abang kenapa - napa." ucapnya tanpa sadar.


     "Kamu benar - benar khawatir sama abang ya?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya, sebuah senyuman manis mulai memancar dari bibirnya yang sedikit berdarah.


     "Eh! udah ah bang! adek antar abang ke kamar aja ya, biar abang bisa cepat istirahat." elaknya.


     Fahman hanya terkekeh saat melihat Permata yang tampak begitu salting saat ia menanyakan hal itu padanya.


     Pipinya saja sampai bersemu merah, tapi rona itu sedikit terhalang untuk ia lihat karna Permata terus saja menunduk. Seakan tak mengizinkannya untuk mengetahuinya.

__ADS_1


     "Kenapa gak jawab pertanyaan abang dek?" protesnya.


     "Oh! maaf ya bang, adek gak dengar tadi soalnya." responnya terpaksa berbohong.


     "Masak iya?" ucapnya tak percaya.


     "Iya abang... Adek gak dengar jelas tadi," responnya masih tetap berbohong.


     "Baiklah, abang ucapan lagi yah? tapi jangan lupa di jawab abis itu." pintanya.


     "Udahlah bang... Ayo langsung adek antar abang ke kamar aja... Itu gak penting! nanti aja di ucapin laginya," responnya mencari cara agar Fahman tidak mengulang pertanyaannya.


     "Dengar ya dek! abang gak mau masuk ke kamar untuk istirahat kalau adek gak mau jawab pertanyaan dari abang." ucapnya kekeh.


     Permata hanya dapat mengembuskan napas pasrah karna Fahman tetap tak mau melangkahkan kakinya jika ia belum menjawab pertanyaannya itu.


     "Oke - oke! abang tidak perlu mengulang pertanyaan abang lagi, karna adek udah bohong sama abang." responnya pasrah.


     "Maksudnya?" tanyanya pura - pura bodoh.


     "Ya sebenarnya adek udah dengar! cuma tadi masih malu untuk menjawabnya," jawabnya.


     "Hmmm... Sebelumnya adek mau minta maaf dulu karna udah bohongin abang," responnya.


     "Gak masalah! abang maafin kok! jadi?" tanyanya sudah tak sabar.


     "Abang ini, nampak banget gak sabaran." resahnya sambil menghembuskan napas panjang.


     "Lagian kamu lama sih!" jujurnya.


     "Oke! adek emang bener - bener khawatir sama abang, adek gak mau abang kenapa - napa. Gara - gara adek abang jadi terkena kejahatan kak Werdan." sedihnya.


     "Udah gak usah sedih gitu... Intinya sekarang abang masih hidup kan? lagian kalau abang gak mencoba untuk berani, abang akan terus di hantui oleh rasa mengecut abang." beritahunya.


     "Iya abang... Tapi besok - besok jangan suka cari bahaya lagi yah!" nasehatnya.


     "Iya adeknya abang... Kalau gitu ayo antar abang ke kamar abang," ajaknya.


     "Ya udah ayo bang!" responnya sambil mengangguk lalu mulai menuntunnya untuk berjalan sampai ke dalam kamarnya.

__ADS_1


     Disisi lain Miftah yang sudah ada di belakang mamanya langsung memeluk pinggangnya erat.


     Rosalia jadi terkejut akibat perbuatan putrinya yang tiba - tiba itu.


     "Ma... Mama kenapa nangis ma? mama gak boleh sedih - sedih lagi yah gara - gara pria berhati busuk itu! sekarang kan udah ada Miftah," ucapnya sedikit berbisik.


     Rosalia tak mampu menjawab apa yang putrinya katakan, ia masih mematung sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong.


     "Ma... Mama harus tau, kalau pria yang seperti Werdan itu gak baik buat mama... Dia memang pantas untuk di tangkap karna perbuatannya itu." sambungnya.


     "Dan asal mama tau! keputusan mama ini adalah keputusan yang tepat dan sangat membuat banyak orang terbantu karna keyakinan mama, seandainya mama tetap membiarkan Werdan melakuan hal itu pasti jumlah korban yang teraniaya akan lebih banyak." sambungnya menjelaskan.


     "Iya sayang, kamu benar! makasih ya udah mau sadarin mama meskipun mama masih merasakan hal yang begitu berat." responnya.


     "Iya ma! Miftah yakin kalau mana itu adalah wanita yang kuat, dan tidak mudah di injak - injak lagi di mana pun dan kapan pun." semangatnya.


     "Amiiin ya Allah..." harapnya sambil mengusapkan kedua tangannya ke wajah.


     "Ma! lebih baik kita masuk aja yok kedalam, mama lebih baik istirahat aja dikamar agar diri mama mampu lebih tenang."ajaknya.


     "Iya sayang, ayo kita masuk sekarang." responnya.


     "Baik mama..." angguknya sambil tersenyum dan sang mama juga membalas senyumannya.


     Kini setelah membantu mamanya bangkit Miftah langsung menuntun sang mama untuk masuk kedalam rumah.


     Para bodyguard Werdan yang terluka sedang menunggu antrian untuk dibawa kerumah sakit karna ambulan yang baru datang hanya sebuah saja.


     Mereka tak lagi bekerja di bawah kendali Werdan, karna mereka hanya mau menjadi bodyguard di bawah kuasa Firdaus.


     Sejak dulu mereka memang ingin keluar menjadi bodyguard dari keluarga yang lain, tapi tertahan karna melihat pemimpin mereka yang begitu bertanggung jawab.


     Hingga akhirnya terdengarkah suara beberapa mobil ambulan yang datang untuk memberikan pertolongan pada bodyguard lainnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆

__ADS_1


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2