
Tanpa ia sadari air matanya jadi jatuh di atas tanah lalu menimbulkan bekas titik yang coklatnya lebih pekat.
"Ya Allah... Makasih banyak... Aku gak nyangka jika hasilnya seindah ini... Dan ini sangat mampu membuat hatiku yang dulu sempat hancur saat melihat kebunku yang tak lagi berbentuk jadi terobati sekarang," batinnya merasa tenang.
"Ratuku! kenapa kau menangis hmm? apa ada yang salah dengan kebun Terongmu ini? pasti Rangga dan Sekar sangat tidak becus merawatnya ya?" bisiknya tepat di telinga Miftah yang di tutupi jilbab dengan mata yang terus menatap tajam pada dua nama yang sudah tertunduk takut.
Miftah yang mendengar suara Firdaus jadi terkejut di buatnya karna begitu tiba - tiba.
"Ya ampun Kaka... Bikin kaget Miftah aja deh," dengusnya sambil memukul pelan seblah bahu Firdaus.
"Yah... Kaka nanya kok malah di pukul sih Ratuku? kamu gak sayang apa sama Rajamu ini? makin akit akunya nanti... udah akit hati malah tambah akit fisik lagi," candanya sambil memanyunkan bibirnya kedepan.
"Isss... Kaka kok jadi lebay lagi sih? akit... Akit... Bahasa bayi itu ma... Kaka kan udah gede, masak iya ngomongnya masih cadel! yang benar saja." resahnya tak habis pikir.
"Emang yang benarnya apa Ratuku?" tanyanya pura - pura tak tau dan itu sukses membuat Miftah semakin terbakar api emosi di buatnya.
Dengan susah payah ia menarik napas panjang lalu mengeluarkannya.
Itu ia lakukan berulang kali untuk meredakan amarahnya, namun Firdaus dengan konyolnya malah memberi instruksi pada Miftah lewat kata - katanya.
"Iya benar seperti itu, tarik... Lepaskan... Tarik... Lepaskan... Tarik... Lepaskan..." ucapan itu terus saja di ulang - ulang seirama dengan gerakan Miftah.
"Kaka... Berhentilah memberi instruksi padaku... Aku tidak butuh instruksi darimu... Yang ada malah makin panas nanti..." tegurnya yang kini telah mengepalkan kedua tangannya.
"Jadi kamu beneran marah dari tadi sama Kaka?" tanyanya berpura - pura bodoh.
"Kaka ini beneran bodoh apa beloon sih?" tanyanya sambil menunjuk kearahnya.
"Beloon? Kaka tapi taunya cuma baloon," responnya sambil mengetuk - ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya.
"Isss... Kaka ini... Sama aja itu artinya beloon dengan baloon... Cuma beda bahasa aja... Bener - bener deh!" dengusnya sambil menghembuskan napas kasar.
Kaki Miftah juga tak tinggal diam, kini satu kakinya sejak tadi sudah sibuk di hentakkan di atas tanah berulang kali.
Tanpa sengaja matanya tertuju pada dua sosok pria berjas hitam yang sibuk menunduk sejak tadi.
"Lho! Kaka Rangga sama kak Sekar kenapa nunduk terus dari tadi?" herannya dan mereka hanya menggeleng.
"Emm... Pasti ada yang gak beres ini," pikirnya sambil menatap tajam ke arah Firdaus.
__ADS_1
"Eh! sello dong tatapannya Ratuku... Rajamu ini bisa terluka karna kena tatapan silet tajam dari mu nanti," pintanya yang kini sudah berkeringat dingin.
"Kaka... Aku mau tanya, tadi Kaka udah apain Kaka Rangga sama Kak Sekar ha?" tanyanya berusaha lembut dengan senyuman yang di paksakan dan itu benar - benar tidak bisa di bilang cantik.
"Gawat! aku malah mengeluarkan aura seram Miftah ini," batinnya cemas sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Kalau diem pasti ini benar - benar ada hubungannya sama Kaka," tebaknya.
"Mana mungkin," elaknya sambil mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepalanya.
"Mengelak aja bisanya, tapi Miftah yakin banget bahwa gak ada yang bisa membuat kak Rangga dan Kak Sekar terlihat pucat begitu selain Kaka." ucapnya yang kini sudah berjalan kehadapan Rangga dan Sekar.
"Kak Rangga... kak Sekar... Apa benar jika kak Firdaus yang udah buat kaka jadi takut?" tanyanya serius.
Mereka memilih bungkam, tanpa mau menjawab pertanyaan dari Miftah.
"Oh... Sekarang Kak Rangga sama Kak Sekar udah gak sayang lagi yah sama Miftah? makanya lebih milih menutupi rasa takut Kaka selama ini ya?" tebaknya lagi.
Firdaus yang merasa tidak ada lagi jalan yang mampu menutupi kesalahannya kini memilih terbuka saja.
"Sudah jangan introgasi mereka seperti itu lagi," tahan Firdaus.
"Karna yang membuat meraka jadi takut itu adalah aku, tatapan mataku tadi begitu menyeramkan bagi mereka sebab aku sempat mengira kalau kamu itu di tangisi oleh mereka." ungkapnya.
Miftah yang mendengarkan apa yang Firdaus katakan hanya mampu menggeleng di buatnya.
"Ya ampun... Kaka ini pikirannya aneh aja, yang benar saja Kak Rangga sama Kak Sekar berani nangisin Miftah. Nanti yang ada malah di amuk sama Kaka yang super dzuper garang ini," resahnya sambil menopang pinggang.
"Ya kan siapa tau Ratuku," kekehnya yang masih tetap pada pendiriannya.
"Huh! terserah! sepertinya apa pun yang Miftah katakan tetap tidak ada artinya bagi Kaka," acuhnya yang kini lebih memilih masuk ke dalam perkebunan terong yang buahnya begitu berkilat akibat di terpa sinar sang mentari.
"Kak Rangga... Kak Sekar... Ayo kesini," panggil Miftah dan mereka hanya menurut.
"Kaka gak di ajak nih Ratuku?" tanyanya tapi hanya menjadi angin lewat bagi Miftah.
Miftah sengaja mengacuhkan Firdaus agar dia sadar letak kesalahannya.
"Kamu bener - benar gak dengar apa yang Kaka tanyakan apa enggak sih Ratuku?" Firdaus kembali berseru tapi tetap di abaikan oleh Miftah.
__ADS_1
"Miftah," ucap Rangga yang membuat sang pemilik nama menoleh.
"Iya kak Rangga ada apa?" tanyanya sambil tersenyum manis.
"Apa tidak baik mengacuhkan tuan Firdaus yang wajahnya sudah semerah tomat itu?" peringatnya sedikit berbisik.
"Biarin aja, siapa suruh suka soudzon sama Kak Rangga dan Kak Sekar," respon sambil melipat kedua tangan di bawah dada.
"Tapi Miftah, lebih baik jangan kamu acuhkan deh! karna itu tidak baik nantinya... Jangan terlalu pikirkan kami karna kami sudah terbiasa," cemas Sekar ikut angkat bicara.
"Oke - oke," pasrahnya yang kini sudah mendekat ke arah Firdaus lalu menarik tangannya.
Firdaus jadi tersenyum karna tak lagi di abaikan. Namun, wajahnya jadi kembali datar saat Miftah malah mengajaknya ke hadapan Rangga dan Sekar.
"Kaka! aku ingin Kaka minta maaf dulu sama kak Rangga dan Kaka Sekar, jika tidak Miftah malas berbicara dengan Kaka nantinya." pintanya menunjuk ke arah dua pemilik nama tersebut.
"Miftah, lebih baik jangan deh." peringat Rangga lagi yang sudah panas dingin.
"Iya Miftah benar apa yang di katakan Rangga tadi," sambung Sekar dengan kondisi yang sama.
Miftah tidak merespon apa yang di katakan oleh Rangga dan Sekar karna ia benar - benar tak ingin di tolak permintaannya untuk saat ini.
"Baik Ratuku! jika ini yang membuatmu senang akan aku lakukan," responnya hingga membuat Sekar dan Rangga terkejut saat mendengarnya.
"Oh iya! aku minta maaf ya karena sudah salah paham pada kalian, kalian mau kan memaafkan bos kalian ini?" tanyanya yang menekan kata bos saat mengulurkan tangannya ke depan mereka.
"Ya tentu saja," jawab mereka bersamaan lalu balas menjabat tangan Firdaus secara bergantian.
"Nah! sudah kan?" ucap Firdaus menatap Miftah dalam.
"Iya Kaka sudah," responnya sambil tersenyum.
Firdaus juga balas tersenyum sedangkan Rangga dan Sekar semakin terheran - heran saat melihat tingkah mereka yang kondisi hatinya sangat cepat berubah dan benar - benar serasi jika di satukan nantinya.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
__ADS_1
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇