
Kini Miftah mulai memberanikan diri untuk masuk kedalam, sebelum masuk ia harus lebih dulu membayar dipos yang terletak disamping gerbang masuk.
"Selamat datang dikebun jeruk Jengli," sambut dua orang yang bertugas untuk memberikan karcis agar dapat masuk kedalam.
Setelah membayar harga masuk ia pun menerima karcis tersebut lalu memberikannya kepada penjaga gerbang, salah satunya bergerak untuk membukakan pintu untuknya.
"Makasih ya kang," ucap Miftah pada mereka dan mereka hanya mengangguk sambil berkata "sama - sama neng,"
Miftah dapat melihat ada banyak para wisatawan yang berada didalam, ada yang sedang makan bersama, berfoto bahkan berjalan - jalan sambil menikmati pemandangan indah dengan sebuah keranjang yang bergantung dilengan mereka untuk memetik buah jeruk yang mereka suka.
Dari kejauhan ia melihat seorang pekerja yang sedang sibuk membawa tempat sampah yang penuh kepembuangan agar dibakar nantinya.
"Permisi kang! saya mau nanya boleh gak kang?" tanya Miftah setelah sampai dihadapannya.
"Iya neng! boleh saja... Emangnya soal apa neng?" responnya yang sudah berhenti melangkahkan kakinya.
"Ini kang... Saya hanya ingin tau, siapa pemilik kebun jeruk ini?" tanyanya.
"Oh... Kalau itu sih saya tau!" responnya.
"Siapa kang?" tanya Miftah penasaran.
"Beliau bernama pak Askari... Selain mengurus bisnis ini beliau banyak dikenal sebagai seorang ustad yang sudah banyak menghadiri beberapa Majlis salah satunya yang ada didekat Mosalla di perkampungan yang letaknya tak jauh dari tempat ini," jelasnya.
"Pak Askari! benar! itu adalah nama papaku... Cuman aku masih ragu, sebab bisa jadi itu orang lain! cuman jika melihat kebiasaannya yang suka mengisi beberapa majlis sampai mendapat gelar Ustad memang mencirikan papa banget," batinnya.
"Neng! jangan bengong neng! gak bagus neng," ucap pekerja tersebut sedikit mengeraskan suaranya hingga membuat Miftah sedikit terkejut.
"Eh! iya kang! makasih ya kang," ucapnya.
"Sama - sama neng," responnya sambil tersenyum.
"Oh iya kang!" sambungnya lagi.
"Iya neng!" responnya.
"Kira - kira pak Askari ada gak hari ini?" tanyanya.
__ADS_1
"Sepertinya ada neng... Tapi akhir - akhir ini pak Askari jarang mengontrol kebun ini... Jadi istrinya lah yang sering melihat perkembangan kebun dan mengarahkan para pekerja lainnya," jelasnya.
Sebenarnya hati Miftah merasa sakit saat mendengar kata istri dari perkeja tersebut.
"Maaf kang! memangnya ditempat ini gak ada Manajernya?" tanya Miftah.
"Ada neng! cuma kebetulan Manajernya sedang sakit! jadi semuanya seperti yang saya bilang tadi neng..." jawabnya.
"Jadi istrinya pak Askari sekarang hanya untuk menggantikan tugas Manajer saja?" tanyanya lagi.
"Iya neng! benar... Kadang beliau sekaligus menjadi mandornya juga," jawabnya lagi.
Miftah mengangguk mengerti, entah mengapa hatinya masih saja merasa sakit saat pekerja itu berkata tentang papanya yang dapat dengan mudah menikah lagi setelah meninggalkan mamanya.
"Papa! apa benar papa sudah menikah lagi? tapi dulu papa sempat bilang sama Miftah kalau wanita yang paling papa cintai setelah ibu adalah mama," batinnya dengan mata berkaca - kaca.
"Lho! mata neng kenapa nangis?" tanyanya khawatir padahal mereka baru saja mengenal.
Dengan cepat Miftah menghapus air matanya yang sudah terlanjur mengalir melewati pipinya.
"Enggak kok kang... Gak papa... Saya hanya merasa sangat senang karna dapat ketempat beliau... Sudah lama saya ingin masuk ke kebun milik beliau ini... Tapi saya selalu saja tidak punya waktu dan Alhamdulillah sekarang saja berhasil masuk kesini," senangnya.
"Iya kang... Akang sangat benar!" responnya terpaksa mengiyakan sesuatu yang sama sekali tak benar.
"Oh iya! bisakah akang mengantarkan saya sampai keruangannya pak Askari? saya sangat ingin bertemu dengannya," pinta Miftah.
"Baiklah! mari saya antarkan," ajaknya.
Miftah pun mulai mengikutinya dari belakang, hingga sampailah ia ditempat yang ingin ia masuki tapi langkahnya terhenti saat seorang wanita paruh baya keluar dari dalam sana, ia menggunakan baju berwarna hijau lumut dengan rok hitam panjang tak lupa jilbab berwarna hitam yang masih setia melekat untuk menutupi mahkotanya.
"Assalamualaikum..." ucap Miftah pada wanita itu.
"Wa'alaikum salam! maaf kamu ada apa ya kesini? kalau kamu datang kesini untuk melamar kerjaan maaf benget ya! lowongan untuk bekerja ditempat ini sudah tutup," responnya acuh tak acuh.
Miftah sebenarnya sedikit kesal dengan caranya menyambut kehadiran orang yang ingin bertemu cuman ia memilih tak menghiraukannya karna yang terpenting baginya sekarang adalah dapat bertemu dengan sang papa.
"Maaf tente... Niat saya kesini untuk bertemu dengan pak Askari," ucapnya.
"Oh! ada urusan apa kamu ingin berjumpa dengannya?" tanyanya sambil melipat tangan dibawah dada dengan tatapan tajam yang tak pernah lepas ia layangkan kepada Miftah.
__ADS_1
"Oh iya! kamu jangan asal panggil tante - tante ya kesaya! orang baru saja sudah berani memanggil saja bergitu! sekarang saya mau kamu memanggil saya dengan sebutan nyo-nya! n - y - o - n - y - a alias nyonya! paham!" ucapannya sedikit membentak usai mengeja namanya satu persatu.
Miftah sebenarnya sudah sangat kesal dengan sikap wanita itu, kesombongannya membuatnya hampir saja menjawab apa yang ia ucapkan, tangannya saja sudah merasa gatal ingin menunjuk tepat dihadapan wajahnya disertai cacian.
Namun, ia terus saja berusaha mengontrol emosinya.
"Yang sabar ya neng... Nyonya memang sikapnya begitu... Suka bersikap sombong dan berlaku tak sewenang dengan para pekerjanya jika tidak ada tuan," jelasnya sedikit berbisik ditelinga Miftah.
"Heh! apanya yang kamu bicarakan dengan gadis ini hah?" tanyanya dengan mata yang tak berhenti menatap tajam kearahnya.
"Hehe! enggak ada apa - apa kok nyonya," jawabnya kikuk lalu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Gak ada apa - apa kok ngomong! ya sudah! kamu lagi gak ada perlu kan sama dia... Jadi lebih baik kamu lanjutkan saja sana kerajaanmu," usir sang nyonya.
"Baik nyonya," responnya sambil mengangguk kepala.
"Neng! saya permisi dulu ya..." izinnya.
"Iya kang! makasih ya kang... Udah mau anterin saya sampai kesini," ucapnya sambil tersenyum.
"Sama - sama neng..." responnya sambil membalas senyuman.
"Udah sana kamu pergi! ngapain pake acara pamit - pamit segala lagi dengan orang yang gak dikenal! sok akrab banget sih," serunya sambil mengibaskan tangannya kearah pekerja itu agar cepat pergi menjauh.
"Dan kamu! ada hak apa kamu mencari pak Askari hah?" ucapnya kembali bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Saya hanya ngefans dengan pak Askari, beliau kan juga seorang ustad, sayang sangat senang karna akhirnya saya bisa juga sampai ke kebun beliau dan tujuan saya kesini hanya untuk meminta tanda tangan beliau kok," jawabnya terpaksa berbohong.
"Oh... Gitu rupanya... Tapi sayang... Pak Askari hari ini sedang tidak ada disini! jadi percuma juga kamu kesini untuk meminta tanda tangannya," beritahunya.
"Tapi gak papa... Kamu bisa datang lain hari! bye... Saya sangat sibuk! lagian sekarang saya juga ingin istirahat jadi saya harap kamu tidak mengganggu ketenangan saya," sambungnya lagi lalu membalikkan tubuhnya berjalan untuk masuk kedalam dan meninggalkan Miftah begitu saja.
Miftah tak habis pikir dengan ucapan wanita itu, bisa - bisanya ia berpikir kalau Miftah bakal sekepo itu hingga terus mengganggunya.
"Huh! sombong benget jadi orang," umpatnya dalam hati.
"Kalau suamimu tau sikapmu begini! kamu pasti bakal dipecat jadi penjaga kebun ini! sekalian aja dipecat jadi istri!" batinnya merasa geram lalu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat tersebut.
Miftah benar - benar dibuat dongkol dengan sikap istri pemilik kebun ini, jika memang benar itu istri kedua papanya ia pasti akan mendemokan sifatnya yang kejam dan tak berperasaan itu, keramahan pada pengunjung saja tidak ada sama sekali, untung pemilik asli sangat ramah, jika tidak! mana ada para pengunjung yang mau datang kesini lagi.
__ADS_1