Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 65


__ADS_3

     Suasana tampak makin tegang saat beberapa orang pelayan mulai menghampiri meja mereka untuk membawa makanan yang dipesankan oleh sang mama.


     Bau makanan itu memang sangat harum, bahkan baru saja di lihat sudah mampu membuat saliva mereka hampir menetes diatas meja.



     "Pantas saja harganya fantastis,"


     Gumaman Miftah tak sengaja didengar oleh Wahyu.


     "Ya... Itu biasalah! karna makanan ini dibuat dari iga sapi wagyu dengan filet seberat 8 ons. Hal yang membuatnya super mahal adalah karna wagyunya asli dari Prefektur Miyazaki diKhusyu, Jepang,"


     Wahyu menjelaskannya sedikit berbisik kepada Miftah.


     "Segitunya ya kak?"


     "Iya... Tapi harganya yang mahal bukan karna alasan itu saja,"


     "Terus karna alasan apa juga dong?"


     Miftah yang merasa heran hanya mampu mengajukan pertanyaan untuk menghilangkan rasa penasarannya.


     "Karna perawatan sapinya yang luar biasa,"


     "Oh... Gitu... Pantas saja!"


     Miftah yang sudah mengetahui hanya mampu merespon dengan senyuman yang tak berhenti merekah dari bibirnya.


     "Nah! makanannya sudah ada dihadapan nih! kalau mau disantap ya silahkan ya... Tapi jangan lupa baca doa dulu oke!" peringat sang mama.


     Yang lainnya hanya mengangguk mengerti, Miftah pun mulai memotong steak itu secara perlahan hingga menjadi potongan dadu yang kecil lalu menyocolkan potongan tersebut kedalam saos yang sudah ditaruh didalam sebuah mangkok kecil.


     Ia hanya mampu memuji makanan itu didalam hati.


     "Ya Allah... Steak ini enak banget... Udah mah dagingnya terasa lembut... Dan cocok banget sama saosnya."


     Mama hanya tersenyum senang saat mereka sudah menyantap steak tersebut dengan lahap.


     "Oh iya! kalian mau minum apa?"


     Mereka yang awalnya masih fokus mengunyah makanannya jadi memberhentikan aktivitas mereka, lalu melihat ke asal suara yang memberi pertanyaan.


     "Miftah jus jeruk aja ma," ucapnya sambil tersenyum dihadapan mamanya.


     "Baiklah! kalau yang lain?"


     Mereka mulai berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari sang mama.


     "Aku jus Alpukat tante," jawab Zaldira.


     "Aku samain aja sama Zaldira tante," ikut Zamrud sambil mengangkat sebelah tangannya sedagu.


     "Ikut - ikutan aja! bukannya pilih sesuai selera sendiri."


     Zamrud hanya terkekeh saat mendengar dengusan Zaldira yang sama sekali tak rela jika sama dengannya.


     "Sudah... Gak usah kayak gitu... Cuma minuman doang pun!"


     Zamrud langsung memalingkan wajahnya kearah lain saat Zaldira menatapnya tajam.


     "Huh!"


     Zaldira hanya membuang nafasnya kasar.


     "Aku jus jeruk juga tante," ucap Wahyu kembali membuka suara.

__ADS_1


     Setelah mengetahui minuman apa yang mereka inginkan, mama langsung memanggil salah satu pelayan yang kebetulan sedang menulis pesanan yang di inginkan dimeja lain dan letaknya pun tak jauh dari meja mereka.


     Sesampainya dimeja mereka.


     "Hai! saya pesan dua jus jeruk dan tiga es alpukat," sebut sang mama.


     "Baiklah nyonya! apakah ada lagi yang ingin anda pesan?"


     "Tidak ada."


     Setelah bertanya sambil menulis pesanan yang disebutkan sang mama diatas kertas putih, baru ia berlalu meninggalkan meja setelah mengucapkan.


     "Kalau begitu saya izin pamit nyonya,"


    Mama hanya mengangguk kepadanya yang sudah membungkukkan sedikit badannya.


     Tak berapa lama kemudian minuman pesanan mereka pun datang, mereka akhirnya dapat merasakan sensasi dari minuman mereka masing - masing.




     Miftah sengaja memilih jus jeruk agar matanya dapat sedikit terbuka akibat rasa asam yang ada dari buah jeruk, sedangkan Zaldira hanya ingin memanjakan lidahnya dengan kelembutan buah alpukat yang telah dihancurkan.


     Usai menghabiskan apa yang mereka pesan sambil berbicara banyak hal, mereka pun memutuskan untuk keluar dari tempat mewah tersebut.


     Mama menyuruh mereka untuk menuju ke kendaraan mereka masing - masing sedangkan ia harus menuju ke meja kasir untuk membayar semua total makanan dan minuman yang disajikan tadi.


     Untuk kali ini Zaldira memilih tak ingin membalas dendam terhadap apa yang Zamrud lakukan tadi meskipun ancaman sudah pernah ia berikan, ia benar - benar tak ingin mencari masalah lagi dengannya dan diam adalah solusi terbaik baginya untuk saat ini.


      "Kira - kira abis ini kita kemana ya?" tanya Wahyu pada Zamrud.


     "Ya pulanglah! emang mau ngapain lagi?"


     "Kamu ini! ada - ada saja! lebih baik setelah ini kita langsung minta izin pamit pada nyonya," usul Zamrud yang benar - benar kekeh dengan keyakinannya.


     "Tapi perasaanku kita bakal ikut Miftah deh!" tebak Wahyu.


     "Udah kamu jangan ngaco! lagian kita kesana mau ngapain hah? ya gak bakalan mungkin lah... pasti mereka bakal istirahat setelah sampai kesana, mana matahari panas banget lagi."


     Wahyu hanya diam. Ia tidak mau berbicara terlalu panjang, sekarang ia hanya memilih menunggu kedatangan sang mama agar semua lebih jelas.


     Dari kejauhan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih tampak mudah berjalan kearah mereka, siapa lagi kalau bukan sang mama.


     "Yok! kita semua langsung capcus ketempat mama!" ajaknya yang langsung membuat mereka terkejut.


     "Maaf tante... Lebih baik kami pulang aja kerumah kami... Lagian untuk apa kami kesana? kita kan sudah merayakan pertemuan kita disini," ucap Zaldira tak ingin merepotkan sang mama.


     "Sudah... Gak papa... Nanti kita disana juga bakal bantuin Miftah nanam terong abis sholat Dzuhur nanti."


     "Oh... Jadi gitu... kalau begitu aku akan ikut nyonya," respon Zaldira bersemangat.


     "Kamu semangat banget kayaknya dek," ucap Miftah sambil tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih dan bersih.


     "Tentu saja! Kalau untuk membantu kak Miftah no satu lah! lagian hari ini kebetulan sekali aku gak punya pr jadi bebas deh keluyuran kemana - mana," senang Zaldira.


     "Kamu udah kayak tuyul aja keliaran terus," cibir Zamrud tanpa sadar, lalu saat ia baru saja mengingat apa yang ia ucapkan, dengan cepat ia membekap mulutnya sendiri.


     "Hadeh... Zaldiranya lagi diem dia malah kasih umpan! bakal jadi kayak api ditumpahkan minyak tanah nih!" resah Wahyu yang kini sudah geram dengan mulut temannya yang asal ceplos saja.


     Zaldira yang mendengar apa yang Zamrud katakan jadi terpancing sesaat, niatnya tadi yang tak ingin menghakimi Zamrud sudah sirna dalam sesaat.


     Kini terlihat jelas dari matanya bahwa ia sedang sangat marah, buktinya tatapan tajam masih ia layangkan pada pelaku ucapan tanpa berkedip sedikit pun.


     "Aduh! mati aku! sekarang entah apa yang akan dia lakukan kepadaku! aku benar - benar gak bisa melawan jika dengannya,"

__ADS_1


     Ia mulai melangkahkan kakinya ke arah Zamrud, Zamrud yang merasa terancam mulai berlari ke arah lain setelah berkata "Wahyu! tolongin aye dong! mampus aye ini! dan aye yakin banget! pasti sasaran empuk dia kuping aye."


     Wahyu memilih acuh pada Zamrud yang sudah berdiri ketakutan disampingnya.


     "Hai... Aku juga gak tau... Itu kan salahmu... Ya kamu lah yang harus selesaikan," respon Wahyu dengan suara rendah.


     Zaldira yang sudah dikuasai emosi hanya mampu mengejar Zamrud sekuat tenaga dan saking cemasnya Zamrud berlari sambil terus melihat kebelakang, ia benar - benar tidak menyadari bahwa didepannya sudah berdiri kokoh sebuah pohon beringin besar.


     Ia tidak memikirkan apa pun, yang ia inginkan untuk saat ini hanyalah bebas dari monster Zaldira.


     "Bhuk,"


     Zamrud jadi jatuh terduduk usai menabrak batang pohon besar tersebut, ia berusaha untuk bangkit tapi pinggangnya masih terasa sakit, hidungnya saja sampai merah jadinya.


     Zaldira yang baru saja sampai setelah melihat kejadian tadi hanya merasa puas lalu langsung meledeknya sebelum pergi.


     "Hahaha! itulah akibatnya kalau mulut gak bisa di jaga! padahal sebelumnya aku tak ingin lagi memikirkan balas dendam saat kita didalam restoran tadi! cuma, Kaka jadi mamaksaku untuk melakukannya,"


     "Tega banget kamu! aku lagi kesakitan kamu malah ketawa." ucap Zamrud merasa geram.


     "Suka - suka aku dong! hahaha! oh iya pohon besar! makasih banget yah karna kamu udah buat orang mulut lemes ini jatuh dengan hidung yang sudah memerah dan pinggang yang pastinya ya... Sakit banget pasti! pasti... Dan pastinya iya... Yu... Hu!" senangnya.


     "Karna aku masih baik aku tak akan menyalurkan rasa kesalku lagi pada Kaka! karna semua rasa itu sudah dibantu sama pohon ini! I Love You pohon! bye..." ucapnya pada pohon yang hanya diam tanpa merespon saking senangnya.


     Zamrud yang mendengar ucapan Zaldira yang di akhiri dengan lambaian tangan pada sang pohon hanya mampu mendengus pasrah, toh! ini karna kesalahannya juga yang berlari tanpa melihat kiri kanan bahkan depan belakang, saking cemasnya.


     "Hey! kamu mau kemana? bantuin aku dulu dong!" pinta Zamrud.


     "Bantuin Kaka? cih! ogah banget! lebih baik aku cepat - cepat nyusul mereka." respon Zaldira tanpa rasa kasian sedikit pun pada korbannya.


     Sebenarnya ia masih ingin membantu Zamrud, cuman ia memilih membiarkannya saja supaya dapat menjadi pelajaran untuk kedepannya baginya.


     Dengan sudah payah Zamrud mulai bangkit dengan tangan yang memegang bagian pinggang  yang di rasa masih sakit, ia berjalan sedikit membungkuk sambil terus merintih.


     Rasa sakit di hidungnya tak seberat rasa sakit yang ada di pinggangnya, hingga ketika ia sampai dihadapan mereka, mereka hanya mampu menggeleng - gelengkan kepala melihat nasibnya yang sungguh memprihatinkan.


     "Makanya! kamu besok - besok gak usah cari gara - gara lagi," nasehat Wahyu sambil menaruh sebelah tangannya kepundak Zamrud.


     "Iya - iya..." responnya malas.


     "kak Zamrud emangnya kenapa?" tanya Miftah prihatin.


     "Iya bener benget! jalannya aja udah kayak kakek - kakek." sambung sang mama.


     "Biasa kak... Tadi kak Zamrud itu larinya gak hati - hati! buktinya saat berlari kepalanya terus saja diputar kebelakang, Kaka sama sekali gak melihat kiri kanan bahkan depan. Itu pun hanya sesekali," jelas Zaldira tanpa diminta.


     "Jadi apa yang terjadi?" tanya Miftah lagi.


     "Iya! apa yang terjadi?" sambung sang mama.


     "Ya kak Zamrud nabrak batang pohon beringin yang disana itu," tunjuknya dengan ibu jari.


     "Ya ampun... Pantas saja hidungnya sampai merah! sakit gak kak?" tanya Miftah sambil menatap kearah Zamrud.


    "Enggak... Ya sakitlah! gimana sih kamu..." jawabnya sedikit geram sambil terus mengelus pingangnya.


     "Baiklah kalau gitu kita langsung lanjutin perjalanan aja ya!" usul sang mama dan yang lainnya hanya mengangguk setuju sambil berkata "baiklah."


     "Yu! lo aja yang bawa motor dah! pinggang aye masih sakit nih! dan gak boleh nolak!" perintah Zamrud.


     "Iya, lagian mana berani aku nolak keinginan mu! yang ada aku malah dilempar ke langit ketujuh lagi sama kamu," resahnya sambil menghembuskan nafas pelan.


     Zamrud hanya tertawa saat mendengar ucapan temannya itu, lalu ia memberikan kunci motornya pada Wahyu.


     Setelah merasa siap mereka pun langsung meluncur ketempat tujuan, dan seperti biasa mama yang menjadi pemimpin diperjalanan lagi.

__ADS_1


__ADS_2