Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 109


__ADS_3

Dimalam hari, Miftah kini sedang duduk di kursi yang ada diluar balkon sambil menikmati hembusan angin malam yang meniup rambut panjangnya yang indah.


     Suasana malam tanpa redup, tak ada bintang apa lagi bulan yang menerangi gelapnya langit.


     Tiba - tiba sebuah pesan masuk dari nomor telpon yang belum dikenalinya.


     - Seseorang -


Assalamualaikum... Apa benar ini nomor Miftahul Jannah?


     - Miftah -


Wa'alaikum salam... Maaf! ini siapa ya?


     - Seseorang -


Ini Pak Askari, pemilik perusahaan kebun jeruk


     - Miftah -


Papa 😆


     Miftah sangat senang ketika mengetahui jika itu adalah pesan dari papanya.


     - Pak Askari -


Ternyata benar ini nomormu ya nak... 😊


     - Miftah -


Iya pa... Ini nomor Miftah... Papa dapat nomor Miftah dari siapa pa? 😄


     - Pak Askari -


Papa minta sama Virgo soalnya papa liat kamu sering berbicara dengannya, mungkin saja dia punya ternyata ia 😊


     - Miftah -


Oh... Iya pa 😁


     - Pak Askari -


Tapi papa liat kalian kayaknya bukan dekat biasa deh! apa kalian saling mencintai?


     Pertanyaan papa sontak saja membuat Miftah jadi terdiam sejenak.


     - Miftah -


Enggak pa... 🤗


     - Pak Askari -


Masak iya sih... Udah ngaku aja sama papa... Kalian saling mencintai kan? cocok juga kayaknya kamu sama Virgo.


     Miftah sangat terkejut mendengar apa yang papanya katakan. Jantungnya saja sampai berhenti berdetak, bagaimana tidak? jika sampai cetan ini dibaca oleh Firdaus pasti ia salah paham.


     - Miftah -


Pa... Miftah serius pa... Miftah sama Virgo itu gak ada hubungan apa - apa... 😅


     - Pak Askari -


Putri papa gak bohong kan? 😏


     - Miftah -


Ya ampun... Miftah serius papa... Bahkan berapa hari lagi Miftah bakal menikah dengan pria yang Miftah cintai.


     - Pak Askari -

__ADS_1


Sama Virgo ya?


     Miftah tak habis pikir dengan papanya, kenapa sang papa terus - terusan menyebutkan nama Virgo.


     Tiba - tiba terdengar suara panggilan dari luar saat Miftah hendak membalas, dan karna terlalu buru - biru ia sampai tak melihat dengan benar apa yang ia kirim barusan.


     "Cklek," suara pintu terbuka.


     "Eh! Kaka rupanya, ada apa Kaka kemari?" tanyanya sambil tersenyum manis.


     Bukannya menjawab Firdaus malah balik bertanya "kenapa belum tidur?" tanyanya dengan tatapan tajam, tak lupa dua tangan yang sudah ia lipat dibawah dada.


     "Oh... Anu... Aku tadi lagi cetan," jujurnya.


     "Cetan? sama siapa?" tanyanya lagi sambil mengangkat sebelah alisnya dan itu membuat tenggorokan Miftah jadi kering karna tak bisa berbicara.


     "Sama papa," jawabnya.


     "Kamu jangan pernah berani menipuku ya Ratuku," ucapnya sambil memegang dagu Miftah dan kini wajahnya dan wajah Miftah hanya berjarak beberapa meter saja.


     Dengan cepat Miftah menghempaskan tangan Firdaus yang memegang dagunya.


    "Kaka bisa gak sih berpikir positif? masak iya Kaka se posesif itu sama aku," resahnya sambil memunggungi Firdaus.


     "Tapi aku yakin banget tadi kamu sedang berbicara dengan pria sambil senyum senyum sendiri," ucapnya hingga membuat Miftah terdiam.


     "Tunggu! bagaimana Kaka bisa tau? apakah di balkon juga dipasang cctv? yang benar saja," batinnya sambil mengerutkan dahi.


     "Kan Ratuku diam! berarti benar dong apa yang Rajamu ini katakan," tebaknya dan Miftah langsung membalikkan badannya menghadap kearah Firdaus.


     "Kaka! sebelum aku menjawab pertanyaan Kaka! Kaka jawab dulu pertanyaanku," pintanya serius sambil berkacak pinggang.


     "Oke! silahkan Ratuku," ucapnya sambil tersenyum miring.


     "Biasa aja senyumnya, udah kayak liat mangsa aja." resahnya.


     "Ya kan kamu emang mangsa Kaka," ucapnya santai.


     "Apa? ingin memukulku? oke! silahkan saja Ratuku," ucapnya sambil merentangkan tangannya.


     "Sudahlah lupakan," ucap Miftah yang tak mau mengikuti egonya.


     "Kaka! apakah di dinding balkon juga Kaka pasang Cctv?" tanyanya.


     "Iya! tapi hanya untuk balkonmu saja sih..." ungkapnya dan Miftah hanya menghembuskan nafas kasar setelah tebakannya benar.


     "Kaka! kalau Kaka pasang Cctv disitu nanti auratku terlihat, kan aku gak pakai jilbab kak." komennya.


     "Terus membiarkan sesuatu terjadi dengan mudah pada Ratuku gitu?" tanyanya sambil menatap tajam kearah Miftah.


     "Kan disini penjagaannya sudah sangat ketat Kaka... Boleh Kaka gunakan itu tapi jangan benar - benar mengarah kearah balkon tempatku biasa bersantai sambil memandang langit," jawabnya memberi pendapat.


     "Huh! belum menikah tapi mahkotaku sudah terlihat," resahnya.


     "Yaudah aku minta maaf! lain kali kamu kalau duduk disitu pakai jilbab kurung aja meskipun dengan baju tidur," atur Firdaus.


     "Panas Kaka... Kan sekali - kali ini... Gak ada orang pun yang dapat melihat dari bawah kesitu," elaknya.


     "Pokoknya Kaka gak bakal mau lepas cctv itu," kekehnya.


     "Oke! tapi ada syaratnya! kaka hanya bisa melihat ketika jarum jam telah menunjukkan pukul sepuluh," pintanya.


     "Tapi- " belum sempat Firdaus meneruskan kalimatnya Miftah langsung memotongnya.


     "Kaka... Hargai akulah... Lagian untuk sementara ini... Kan gak lama lagi aku juga bakal jadi Ratu Kaka yang sah," ucapnya dan itu sukses membuat bibir Firdaus memancarkan senyumannya.


     "Baiklah Ratuku," responnya menyetujui permintaan gadisnya.


     Tiba - tiba ponsel Miftah kembali berbunyi dan Miftah sangat terkejut saat melihat apa balasannya sebelumnya.

__ADS_1


     - Miftah -


Iya


     "Ya ampun... Kenapa bisa ketulis iya sih... Papa pasti salah paham," resahnya.


     "Kenapa ekprisimu begitu hmm?" tanya Firdaus dan Miftah buru - buru menggelengkan kepalanya kesana kemari sambil berkata "tidak - tidak."


     Tingkahnya yang seperti itu sontak saja kembali memancing kecurigaan Firdaus.


     Tanpa meminta persetujuan dari Miftah Firdaus yang lebih tinggi darinya dengan mudah merampas barang pipih yang sedang dipandang oleh Miftah.


     "Aduh! sudahlah! tamat riwayatku pasti kali ini," sedihnya dan benar saja Firdaus langsung salah paham usai membacanya.


     "Ratuku! kau bilang tadi kamu sedang berbicara dengan papa, tapi kenapa dengan nomor yang gak dikenal ini? terus didalamnya aku baca ada nama seorang pria yang katanya kalian akan menikah," ucapnya dan Miftah hanya mampu menelan salivanya gugup.


     "Yang paling tak ku sangka kau berkata iya," geramnya yang awalnya sudah menundukkan kepala lalu mulai menegakkannya lagi.


     "Ratuku! disaat hari pernikahan kita sudah sangat dekat kau masih berani merencanakan hal ini dengan pria lain," ucapnya dan Miftah masih berpikir bagaimana caranya untuk berbicara dengan Firdaus yang sedang terbakar emosi.


     "Kaka... Coba Kaka dengarkan dulu penjelasan Miftah ya..." ucapnya lembut.


     "Penjelasan apa lagi Ratuku? buktinya sudah jelas ini," unjuknya pada ponsel Miftah.


     "Kaka... Please..." ucapnya sambil mengedipkan matanya.


     "Baiklah! aku akan mendengar ucapanmu setelah aku blokir dan hapus kontak ini," geramnya.


     "Eh! Kaka... Jangan..." cegahnya tapi terlambat karna Firdaus sudah lebih dulu melakukannya.


     "Oke! sekarang kamu mau jelasin apa? aku udah tenang." ucapnya sambil menghembuskan nafas pelan dan wajah Miftah kini sudah merah padam.


     "Kaka keterlaluan!" geramnya dengan kedua tangan yang sudah mengepal kuat.


     "Apanya yang keterlaluan?" tanya Firdaus masih acuh.


     "Itu adalah nomor hp papaku! beliau baru saja mendapatkan nomorku dari Kak Virgo! Kaka tau gak Virgo itu siapa? kak Virgo itu adalah mata - mata sang nyonya yang dulu sempat Kaka lepaskan," jelasnya tanpa berniat memberi waktu untuk Firdaus menjawab.


     "Papaku yang melihat kedekatan kami malah mengira kalau aku itu ada hubungan spesial dengannya padahal tidak! kami hanya saling membantu saja dan kebetulan cocok saat berteman," jelasnya lagi.


     "Aku tadi ingin menjawab tidak, tapi karna mendengar suara ketukan pintu dari Kaka aku langsung buru - buru membukanya hingga salah mengirim pesan." resahnya dan Firdaus jadi terdiam saat mendengarnya.


     Ia benar - benar merasa bersalah, tapi ia sudah terlanjur memblokir kontak papa Miftah yang baru saja didapatkannya dan hal itu pasti sangat membuat Miftah merasa sedih.


     "Mif-" belum selesai Firdaus berbicara Miftah langsung memotongnya.


     "Sudahlah kak! entah bagaimana kalau papaku tau jika yang memblokir kontaknya adalah calon mantunya sendiri! papaku kan calon mertua Kaka," ucapnya yang betul - betul menusuk hatinya.


     "Mif... Kaka minta maaf ya," ucapnya merasa bersalah dengan tangan yang sudah bersedekap.


     Miftah berusaha mengontrol emosinya lalu ia mengeluarkan suara kembali.


     "Ya sudah... Besok aku akan minta lagi nomor papa sama kak Virgo! Kaka tenang aja, tapi ingat! untuk kedepannya jangan diulangi lagi, dengerin dulu penjelasannya, ambil kesimpulan, baru bertindak." nasehatnya.


     "Oke Ratuku," senangnya.


     "Yaudah ini udah malam, good night ya Kaka... Moga mimpi indah oke... Jan lupa baca doa sebelum tidur ya... Bye calon imam," ucapnya sambil tersenyum manis.


     Firdaus sampai tersipu dibuatnya karna tak sanggup melihat senyuman manis Miftah yang begitu mempesona.


     "Good night to Ratuku... Semoga kamu mimpi indah juga... Kamu yang ingatkan untuk tidak lupa baca doa jangan kamu sendiri nanti yang lupa ya..." peringatnya balas tersenyum.


     Setelah itu Firdaus pun kembali kekamarnya dengan perasaan lega bercampur tidak enak karna telah menghapus bahkan memblokir nomor calon mertuanya itu yang nanti akan menjadi penghulu pernikahannya.


     "Hadeh... Dasar bodoh," umpatnya pada diri sendiri.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2