Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 44


__ADS_3

          Kini Firdaus dan Miftah sudah berada diluar Restoran setelah membayar sewa tempat dan makanan yang dipesan dengan harga yang membuat jantung Miftah seakan berhenti berdetak dalam sekejap.


     Bagaimana mana tidak? karna harga yang dikeluarkan sampai puluhan juta rupiah, Miftah sebenarnya merasa sangat tidak enak dengan harga yang menurut nya terlalu berlebihan jika hanya digunakan untuk acara pertemuan dua orang saja.


     "Oh iya Ratuku, tadi kamu kesini menggunakan apa?" tanya Firdaus membuka topik pembicaraan setelah sejak tadi membisu.


"Aku tadi naik ojol," jawabnya.


     "Kalau begitu sekarang kamu tidak perlu naik ojol lagi oke! karna aku lah yang akan mengantarkan mu sampai rumah," tawarnya.


"Tapi - " ucapan Miftah terpotong saat Firdaus berkata "aku tidak menerima penolakan," dan Miftah hanya mendengus kesal.


     "Aku tidak mau, aku mau naik ojol aja... Lagian jalanan menuju ke rumahku tidak terlalu bagus... Jadi lebih baik aku pulang sendiri aja oke... Bye..." tolak Miftah lalu mulai melangkah kan kakinya untuk berjalan pergi tapi kini langkahnya jadi terhenti akibat Firdaus menarik tangannya.


     "Au! sakit tau! kaka kasar banget sih," komen Miftah.


"Karna kamu ngeyel," responnya.



"Suka - suka akulah! mau aku ngeyel apa enggak sama kaka! lagian kaka kan belum menjadi suamiku jadi kaka tidak ada hak untuk mengaturku," ucapnya geram.


     "Ini demi kebaikan... Tidak baik perempuan pulang malam sendian..." jelasnya.


"Memangnya kenapa? toh aku tidak mengikuti orang jahat kok! aku hanya memesan ojol yang sudah menjadi langgananku sejak dulu," elaknya.


     "Pria atau wanita?" tanya Firdaus.


"Ya prialah... Masa wanita... Malam - malam masih bawa ojol? yang enggak - enggak aja si Kaka," responnya.



"Tuh kan! pria lagi, nanti kalau kamu diapa - apain gimana? kamu gak takut apa diantar dengan pria malam - malam?" tanyanya sedikit merasa cemburu.


     "Gini aja deh! Kaka sendiri pria apa wanita?" ucapnya malah balik bertanya.


"Ya prialah! masak aku wanita! kalau aku wanita... Mana mungkin aku mau menikahimu," jelasnya.


     "Nah! kan Kaka juga pria... Jadi apa bedanya?" tanyaku.

__ADS_1


"Ya gak ada bedanya lah! kalau sama aku kan gak papa! berpikir positif aja napa," responnya.



"Jadi kenapa aku tidak boleh berpikir positif juga untuk ojol? mereka kan cari nafkah juga... Lagian gak berani pun ojolku melakukan hal itu," jelasnya.


     "Sok kenal kamu," geram Firdaus.


"Ya aku kenal lah... Dia kan temanku dulu... Dekat lagi, masak iya dia tega celakain aku..." ucapnya yang langsung membuat Firdaus kehabisan kata - kata.



"Nah kan! bingung mau ngomong apa kan? makanya Kaka jangan berprasangka buruk dulu sama yang lain... Kaka sendiri juga harus tau kalau Kaka juga seorang pria, kan gak bagus jika ada kaum Adam dan Hawa yang bukan semahrah menetap disatu tempat yang sama... Takut timbul pertanyaan orang - orang nantinya, ditambah lagi kita pulangnya larut malam." jelasnya yang membuat Firdaus hanya pasrah.


     "Kaka kan harusnya lebih paham," sambungnya lagi.


"Tapi kan kamu bisa duduk di kursi belakan," ucapnya masih tak mau menyerah.



"Pokoknya - aku - gak - mau - titik." ucap Miftah patah - patah.


"Hai Miftah! aku disini," ucap Haris sambil melambaikan tangannya kearah Miftah dan Miftah pun membalas lambaian tangannya sambil berkata "iya - iya... Aku akan segera kesana."



     "Kamu serius mau pulang dengan ojol malam - malam begini?" tanya Firdaus yang sedang berusaha menahan rasa kesalnya.


"Ya serius lah! masak aku becanda sih," respon Miftah lalu mulai melaju meninggalkan Firdaus sendiri.


     "Itu siapa kamu?" tanya Haris.


"Kepo banget sih! ya udah ayo jalan aja... Udah malam soalnya," ucap Miftah sambil memukul bahu Haris.



"Je... Jawab aja susah! kan senarsis - narsisnya kamu! gak kayak biasanya kamu suka pergi sama cowok," selidiknya.


     "Ya ampun... Haris... Umurku ini udah berapa hah? ya wajar aja lah..." resah Miftah.

__ADS_1


"Apa mungkin dia itu - " belum sempat Haris menghabiskan ucapannya Miftah pun langsung menyelanya.



"Jika kamu gak mau jalan juga maka aku bakal cari ojol lain aja," ancamnya.


     "Eh! eh! jangan dong... Susah - susah aku datang jauh - jauh malah gak ada yang order," ucapnya sambil tersenyum lalu mulai melajukan motornya.


"Nah gitu dong dari tadi," respon Miftah saat sepeda motor telah hendak meninggalkan tempat tersebut.


     Firdaus hanya mampu memandang resah kearah mereka sambil terus menahan gejolak api amarah yang ada dihatinya, ia benar - benar merasa tak dihargai oleh Miftah karna selama ini tidak ada yang berani menolak keinginannya.


     Dengan rasa dongkol ia pun langsung masuk kedalam mobil lalu mulai melajukannya dengan pikiran yang masih berambur raduk.


Sebenarnya ia aneh dengan dirinya sendiri, kenapa ia malah seperti orang yang sedang cemburu padahal kan seharusnya ia tidak perlu memaksanya untuk ikut dengannya walau itu untuk keselamatan gadis itu juga.


     "Ada apa denganku?" batinnya.


"Apakah aku juga mempunyai perasaan untuknya?" batinnya lagi.



"Tapi itu tidak mungkin, karna sampai kapan pun hatiku hanya untuk Nurjannah." resahnya sambil berusaha untuk fokus menyetir.


     "Intinya aku harus terus menjaga hatiku untuk dia, aku tidak ingin dia kecewa! setelah susah payah aku mengejar cintanya mana mungkin dia aku lepaskan begitu saja," yakinnya tetap kekeh dengan pendiriannya.


     Besok Firdaus harus menjemput Miftah untuk tinggal dirumahnya karena tak lama lagi acara pernikahan mereka akan segera tiba hingga ia benar - benar merasa tertekan untuk saat ini.


     Bagaimana tidak? ia sangat tidak ingin pernikahannya dengan Miftah terdengar sampai ke telinga Nurjannah, yang ada berita itu hanya akan melukai hatinya saja dan sudah pasti membuat dia terkejut bahkan kecewa.


     Sejak dulu mereka sudah sepakat untuk saling menjaga hati satu sama lain hingga takdir mengizinkan mereka untuk bersatu tapi nyatanya kini apa yang diharapkan tidak dapat diterima oleh kenyataan.


     Hingga Firdaus hanya mampu memprivasikan statusnya dari Nurjannah agar ia tidak dapat melihat undangan tersebut yang tak lama lagi akan segera disebarkan.


"Maafkan aku Jannah! mungkin kamu pasti akan sulit menerima keputusan ku ini... Tapi aku berharap kamu dapat memakluminya karna cepat atau lambat aku pasti akan menceraikannya dan memilihmu seorang untuk menjadi pendamping ku yang  sebenarnya," batinnya yang tanpa ia sadari setitik air mata mulai jatuh dari matanya.


     Sebenarnya Firdaus bukanlah seorang pria yang kejam, tapi ia terpaksa melakukan hal itu karna terlalu frustasi apa lagi jika menyangkut masalah pernikahannya dengan gadis yang sama sekali tak pernah ia cintai sebelumnya.


     Ia sadar ini terjadi akibat ke emosionalannya juga tapi ia seperti tak rela jika ujung - ujungnya harus seperti ini, mengorbankan perasaannya untuk orang lain karna paksaan orang tuanya yang membuatnya tak dapat berkutik.

__ADS_1


    


__ADS_2