
🍃 Beberapa menit yang lalu 🍃
"Drettt.. Drettt.. Drettt," ponsel Miftah mulai berbunyi dengan suara yang sangat besar, karna ia sengaja membesarkan volume agar dapat terbangun karna suara bising alaram.
"Assalamualaikum Miftah," ucap suara disebrang telpon.
"Wa'alaikum salam Kaka... Ada apa? kok tumben malam - malam begini Kaka telpon Miftah? apa Kaka gak capek tadi abis main dicatroom?" tanyanya heran dengan mulut yang masih menguap.
"Ini darurat dek... Kaka awalnya juga udah mau tidur, tapi pihak rumah sakit menelpon Kaka karena ada hal yang mendesak dan tidak boleh ditangani oleh dokter lain selain Kaka..." jawabnya.
"Emangnya apa hal yang paling mendesak itu?" tanya Miftah.
"Jadi ada pasien pribadi Kaka yang jatuh dari tangga... Ibu itu sedang hamil besar lagi, padahal beberapa hari juga mau melahirkan tapi nasib buruk lebih dulu menimpanya... Jika Kaka gak bisa tangani dengan baik maka Kaka pasti akan dipecat soalnya mereka bukanlah dari kalangan orang biasa... Mereka sering sekali membantu kesuksesan rumah sakit ini..." jelasnya.
"Tapi walau pun kita satu ibu kota aku belum pernah ketemu dengan Kaka... Emang sih jaraknya gak terlalu jauh... Cuman kan aku belum pernah liat wajah Kaka... Bagaimana aku tau Kaka yang mana..." ucapnya yang kini sudah terduduk.
"Ya sudah... Nanti Kaka kirimin Foto Kaka biar kamu kenal! biasanya mereka memanggil Kaka dokter Viska..." respon nya.
__ADS_1
"Baiklah... Berarti orang yang membutuhkan transfusi darah itu adalah orang yang juga memiliki golongan darah 'o' ya?" tebak Miftah.
"Benar sekali dek..." maaf telah merepotkanmu... Walau pun Kaka dibantu oleh dokter yang lain tapi tetap saja ini lumayan sulit... Ya sudah kalau begitu Kaka ingin menelpon dokter Ita dulu ya... Dan kamu gak perlu bingung sebentar lagi Kaka akan menyuruh teman Kaka untuk menjemputmu disana oke..." jelasnya.
"Siap Kaka... Aku pasti mau kok, apa lagi ini demi menyelamatkan nyawa orang lain... Selagi darahku masih dapat diambil dan berguna kenapa enggak... Aku malah sangat bahagia lho Kaka... Ya udah Adek mau siap - siap dulu yah Kaka..." responnya.
"Oke adik... Makasih udah mau bantu Kaka... Kaka benar - benar tertolong," ucapnya.
"Sama - sama Kaka..." respon Miftah lalu mulai menutup sambungan telponnya dengan kakanya.
Walau pun sudah lama berkenalan di Mangatoon, tapi beberapa Minggu yang lalu Miftah sudah percaya pada kakaknya itu hingga tanpa keraguan langsung memberikan no wanya hingga mereka jadi semakin dekat hingga saat ini.
Setiap mereka cetan atau telponan bahkan main dicatroom mereka saling menyapa dengan sebutan Kaka Adek, hingga rasa nyaman itu tumbuh semakin hangat sampai - sampai hubungan Kaka adek itu seperti nyata dan bukan hanya permainan dalam dunia cetan.
"Tok tok tok," suara ketukan pintu dari luar rumah mulai terdengar, Miftah yang menyadari hal itu dengan cepat langsung bergegas untuk membukanya.
"Assalamualaikum... Apakah benar ini rumahnya Miftahul Jannah?" tanya seorang wanita yang masih muda dan seperti nya ia adalah seorang perawat.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam... Benar sekali suster," jawabnya karna dia datang ke sini menggunakan seragam kerja yang berwarna putih.
"Maaf dek... Apakah kamu benar - banar mau mentranfusikan darahmu?" tanya sang perawat.
"Tentu saja suster... Selagi saya bisa kenapa enggak," jawabnya dan suster hanya tersenyum.
"Baiklah kamu udah siap kan? kalau begitu mari kita bergegas kerumah sakit agar pasien bisa dengan cepat ditangani oleh dokter yang lainnya.
"Oke... Mari," respon Miftah lalu mulai naik dibelakang suster, setelah menghidupkan gas motor mereka pun akhirnya telah melaju untuk menuju ketempat tujuan.
Miftah sebenarnya masih sangat takut, ia bahkan merasakan tubuhnya tegang karna ia benar - benar tidak pernah melakukan transfusi darah sebelumnya.
Palingan ia hanya mendonorkan darahnya, bukan dialirkan kepada pasien secara langsung tapi walau pun begitu Miftah tetap berusaha tenang karna ia benar - benar ingin membantu kakanya agar tidak dipecat oleh pihak rumah sakit.
Kaka yang sudah cukup lama menghiburnya semenjak ia tidak ada tempat untuk tersenyum karna nenek dan kakek telah pergi meninggalkan kepahitan dunia yang memang begitu menyiksa beberapa tahun lalu.
__ADS_1