Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 43


__ADS_3

     Kini Firdaus dan Miftah memilih duduk berhadapan diujung gedung sambil menikmati pemandangan jalan kota besar yang ada dibawah.


     "Maaf ya... Gara - gara Kaka matamu jadi merah dan bengkak," ucap Firdaus sedih dan Miftah hanya menggeleng sambil berkata "gak papa Kaka... Aku emang gitu kalau terlalu lama tahan tangisan."


     "Mif... Kaka mau tanya sama kamu," ucapnya.


"Tanya apa kak?" respon Miftah yang sudah memandang kearah Firdaus.



"Kenapa kamu tadi begitu mudah mempercayai ku?" ungkapnya dan Miftah hanya tersenyum.


     "Kenapa kamu hanya memberiku senyuman? aku kan butuhnya jawaban," dengus Firdaus.


"Kaka kan pernah bilang padaku kemarin sore ketika aku tanya sama Kaka kenapa Kaka bisa memilihku sebagai calon istri Kaka," peringat Miftah.


                  🍃 Kejadian Sore 🍃


     Miftah yang baru saja melaksanakan sholat ashar mulai bergegas untuk menyapu rumah, tapi tiba - tiba niatnya terhenti saat sebuah balasan masuk dari ponselnya.


     - Miftah -


Maaf Kaka Adek mau tanya 😅


     Miftah pun langsung masuk membuka Wanya untuk melihat balasan pertanyaannya .


     - Firdaus -


Ya tanya apa dek? 😊


     - Miftah -


Hahaha 😁 gak jadi deh 😅


     - Firdaus -


Lho 🙄 kok gak jadi sih dek 😥


     - Miftah -


😁😁😁


     - Firdaus -


Jangan nyengir aja kayak kuda laut... Bilang aja... Lagian Kaka gak bakal gigit kamu kok kalau emang itu menyangkut Kaka 😂


     - Miftah -


Enak aja aku malah dibilang kuda laut 😑


     - Firdaus -


Lah! makanya itu kamu bilang dong 😔


     - Miftah -


Jadi gini Kaka Miftah sebenarnya mau tanya tentang...


     - Firdaus -


Tentang apa? 😕


     - Miftah -


Ini tentang kenapa Kaka mau menjadikan adek calon istri Kaka... Padahal diluar sana pasti ada yang lebih baik dari adek dan tentunya dia dekat tempatnya dengan Kaka


     - Firdaus -


Emangnya kamu jauh? kamu kan dekat juga... Cuma kita aja yang gak pernah ketemuan 🙃


     - Miftah -


Bukan gitu maksudnya kaka... 😦


     - Firdaus -


Lah terus? 😧


     - Miftah -


Kan selama Kaka disana pasti ada banyak wanita yang menurut Kaka lebih baik... Jaraknya juga dekat ples... Kaka juga udah lebih kenal sama wanita itu jadi... Kenapa juga harus pilih adek yang belum pernah Kaka kenal 😔


     - Firdaus -


Mif... Aku gak mudah menaruh rasa pada yang lain dan untuk saat ini yang aku cintai hanya kamu jadi jika kamu tanya alasan itu akan sedikit sulit karna sekarang yang mengendalikan perasaan hatiku bukan aku tapi dia sendiri 😳


     - Miftah -


Baiklah adek paham 😇


     - Firdaus -


Makasih ya 😆


     - Miftah -


Iya... Sama - sama Kaka 😊


     - Firdaus -


Tapi sebenarnya ada hal lain juga yang membuatku harus menikah denganmu 👉👈


     - Miftah -


Memangnya apa itu kak?


     - Firdaus -


Jadi beberapa hari yang lalu mamaku sempat dibawa kerumah sakit karna jatuh dari tangga


     - Miftah -


Astagfirullah... 😨 Terus sekarang gimana keadaan mama Kaka?


     - Firdaus -


Kalau sekarang sih Alhamdulillah sudah membaik cuman karena benturan yang sangat keras dibagian perut mamaku membuat beliau harus merelakan kepergian bayinya yang hampir saja memasuki masa persalinan


     - Miftah -

__ADS_1


Maaf jika ini membuat kaka sedih 🙏


     - Firdaus -


Tidak apa - apa Kaka juga yang ingin menceritakannya sendiri padamu jadi kamu tidak usah merasa tidak enak oke 😉


     - Miftah -


Iya Kaka 😊


     - Firdaus -


Itu terjadi saat malam hari, papaku saja sampai tidak menyadarinya


     - Miftah -


Tapi kok bisa mama Kaka malam - malam jatuh dari tangga? apa kamarnya mama Kaka dilantai atas juga?


     - Firdaus -


Mama dan papaku mempunyai dua kamar satu dilantai atas satu lagi dilantai bawah, semenjak mama hamil papa memutuskan untuk menepati kamar lantai bawah bersama mama agar tak terjadi sesuatu yang tidak terduga tapi yang namanya maut tetap saja


     - Miftah -


Kaka benar ☺️ memangnya ada hal apa yang membuat mama Kaka naik kelantai atas?


     - Firdaus -


Aku juga tidak tau kata Bibi mama sangat ingin berjumpa denganku jadi akulah yang merasa sangat bersalah akibat hal itu


     - Miftah -


Sudahlah Kaka... Yang penting sekarang mama Kaka sudah membaik 😄


     - Firdaus -


Iya... Makasih ya 🙂 tapi saking frustasi aku pada saat itu aku langsung bernazar kepada Ilahi " Jika nyawa mamaku bisa tertolong aku berjanji akan menikahi Miftah untuk mewujudkan keinginan mamaku,"


     - Miftah -


Ya ampun Kaka... Kenapa nazarnya harus itu 😫


     - Firdaus -


Memangnya kenapa? toh aku juga Cinta sama kamu dan aku yakin kamu pasti juga akan membalas cintaku 😁


     - Miftah -


😣😣😣


     - Firdaus -


Sudah - sudah sekarang boleh gak aku yang gantian bertanya denganmu? 🙂


     - Miftah -


Maaf tanya apa ya Kaka? 😅


     - Firdaus -


Alasan kamu terima aku dengan mudah 😀


     - Miftah -


     - Firdaus -


Lah... Kenapa? aku hanya ingin tau aja kok ☹️ kamu dapat keyakinan dari mana 😟


     - Miftah -


Ya udah... Miftah bakal bilang 😥


     - Firdaus -


Nah... Gitu dong 😇 jadi apa?


     - Miftah -


Melalui mimpi Kaka 😊


     - Firdaus -


Abis sholat Istikharah ya? 🙂


     - Miftah -


Kok Kaka tau? 😮


     - Firdaus -


Ya tau lah! jawaban yang didapatkan dari mimpi itu biasanya didapatkan dari sholat Istikharah 😄


     - Miftah -


Wah... Pemahaman Kaka tentang agama kuat juga ya 😆


     - Firdaus -


Ya bagaimana tidak aku dulu kan pernah pesantren otomatis disana aku mengaji kitab juga 🙂


     - Miftah -


Pasti seru 😊 sayangnya kalau adek masih belum kesampaian Kaka 😢


     - Firdaus -


Gak papa yang penting kan akhlaknya bagus percuma seseorang tau segala hal tapi jika tidak diamalkan ya sama saja seperti tidak ada 😃


     - Miftah -


Kaka benar 😊


     - Firdaus -


Ya udah ya Ratuku... Rajamu ini mau pamit dulu masih ada kesibukan 🤗


     - Miftah -


Baiklah 🙂

__ADS_1


     - Firdaus -


Sampai jumpa nanti malam ya... 😉


     - Miftah -


Siap... 🤣 adek tutup ya 🤗


     - Firdaus -


Oke👌😇


     Firdaus pun langsung menutup ponselnya dan mendengar sebuah ketukan pintu dari luar kamarnya dan saat membuka pintu ia sangat terkejut dengan kedatangan mata - matanya.


     "Maaf pak! mungkinkah kedatangan saya agak mendadak?" tanyanya sambil menunduk.


"Bukannya agak mendadak! tapi emang mendadak!" geram Firdaus.


     "Sebenarnya saya ingin menunggu kedatangan bapak diluar tapi karna takut ketahuan sebelum mama dan papa dari bapak pulang ya saya berinisiatif untuk naik terlebih dahulu," jelasnya.


     "Memangnya kamu mau sampaikan hal apa? kerjaan dia setiap hari kan cuma mengurusi masalah kebun terong dan mengajar mengaji," herannya.


     "Tapi kali ini berbeda," responnya.


"Berbeda apanya?" tanya Firdaus.



"Demi membuat acara pertemuan lebih bermakna ia memilih untuk berbelanja pakaian baru," jelasnya.


     "Untuk nanti malam?" tanya Firdaus.


"Ya iya lah masa itu aja kamu gak tau! ganteng - ganteng tapi pikirannya pendek banget," batinnya.



"Kenapa ekpresi wajahmu begitu?" tanya Firdaus curiga.


     "Hahaha enggak kok pak! ini saya sudah membeli baju yang warnanya sama persis dengan warna yang gadis itu pakai semoga saja pas ukurannya dengan bapak," ulurnya sambil memberikan sebuah bingkisan.


     "Kamu memang bijak ya... Tidak sia - sia aku memilih mu sebagai mata - mataku," pujinya sambil tersenyum senang.


"Iya sama - sama... Andaikala kamu tau kalau itu baju harganya satu tahun gajiku... Kalau tidak mana mau kamu memakainya," tangisnya dalam hati.


     Sang mata - mata akhirnya tidak mempermasalahkannya lagi karna upah yang ia dapatkan melebihi yang dijanjikan asalkan ia bisa membuat suasana hati tuannya senang.


        🍃 Kembali kejadian awal 🍃


     Firdaus yang mendengar ucapan Miftah langsung teringat tentang cetannya dengan Miftah saat sore hingga ia akhirnya memiliki pertanyaan lain.


"Tapi itu kan hanya cerita... Aku ingin yang barusan terjadi itu... Kenapa kamu bisa menerima ku kembali dengan mudah," jelasnya.


     "Aku hanya ingin membantu mewujudkan nazarmu demi kebahagiaan mamamu karna cinta seorang ibu terkadang sangat sulit untuk didapatkan! jika nanti kau mengecewakannya apakah rasa kasih sayang yang mamamu berikan akan terus terasa lebih tenang dan nyaman seperti biasa?" ungkap Miftah dan Firdaus terdiam.


     Firdaus sebenarnya sangat kagum dengan ucapan Miftah tapi ia berusaha bersikap dingin dengan wajah datar karna menurut pandangannya Miftah hanya sebagai alat yang akan ia manfaatkan agar ia mampu keluar dari semua penekanan ini.


     "Pokoknya aku tidak boleh sampai jatuh hati pada wanita sialan ini! karna ini semua hanyalah sebuah permainan dan kamu bersiap - siaplah menjadi tokoh utama yang akan ditindas terlebih dahulu sebelum merasakan kebahagiaan," batin Firdaus sambil tersenyum miring dan terlihat sangat menyeramkan.


     "Kaka! kenapa Kaka tersenyum seperti itu?" tanya Miftah merasa merinding.


"Ah! tidak ada apa - apa kok," respon Firdaus yang baru saja tersadar dalam pemikiran buruknya sendiri.



"Kaka pasti bohong," curiga Miftah.



"Enggak... Ngapain juga Kaka harus bohong sama kamu," elaknya berusaha tenang karna sudah terciduk memperlihatkan kebengisannya.


     Tak berapa lama kemudian pelayan Restoran pun datang sambil membawa nampan yang berisi pesanan berupa makanan mewah yang harganya fantastis dan terjamin nikmat.


     "Ini pesanannya tuan... Nona... Selamat menikmati... Semoga kalian merasa puas dengan hasil kerja kami..." ucapnya.


"Oke! jika sudah selesai kalian silahkan kembali kebawah," usir Firdaus secara halus.


     "Baiklah tuan... Kalau begitu saya pamit dulu," izinnya lalu mulai melangkah pergi dengan wajah yang sudah pucat pasi dan Firdaus hanya meresponnya dengan sebuah deheman.


    "Kaka gak boleh gitu... Dinging banget kayak es batu sifatnya," nasehat Miftah.


"Biasa itu mah," respon Firdaus acuh tak acuh.



"Beda banget kalau sama aku," dengusnya.



"Kan kamu itu beda... Kamu itu Ratuku... Jadi dapat perhatian khusus lah... Apa lagi kalau kamu nantinya sudah jadi nona muda dikeluargaku," godanya.


     "Entahlah! mau aku bilang apa pun Kaka pasti susah buat dengarnya," ambek Miftah sambil melipat kedua tangan dibawah dada dengan wajah yang sudah ia palingkan kearah lain.


     "Udah lah jangan ngambek... Jadi jelek nantinya... Lebih baik kita makan aja yok biar happy lagi," ajak Firdaus sambil tersenyum dan Miftah hanya mengabaikannya.


"Biarlah makanan ini menangis sebab diacuhkan terus dan bisa jadi sampai berjamur karna tak ada yang sentuh karna kalau kamu gak makan maka aku gak mau makan juga," jelas Firdaus.


     "Eh! eh! eh kok gitu sih?" sengit Miftah sambil menatap tajam kearahnya.


"Suka - suka aku lah," kini malah Firdaus yang merajuk.



"Oke - oke aku akan makan sekarang," ucap Miftah.



"Baikan aku akan ikut makan asalkan disuapi ya," pinta Firdaus sambil mengedipkan sebelah matanya.


     "Seperti ada yang ingin dicolok matanya nih pake garpu," sindir Miftah dengan tangan yang mengepal kuat.


"Hahaha gak - gak! canda doang serius amat... Nanti cepat ubanan lho..." lawaknya.


     "Kalau Kaka gak mau diam juga akan aku sumpal mulut Kaka pake cabe ini," tunjuk Miftah pada sebuah cabe merah besar yang menjadi riasan makanan.


     "Jangan lah... Yaudah aku bakal diam Ratuku..." ucapnya mengalah padahal sebelumnya Firdaus mempunyai sifat yang sangat sulit untuk mengalah pada siapa pun selain orang tuanya.


     "Oke buktikan," pinta Miftah dan Firdaus hanya mengangguk sambil mencomot salah satu makanan dengan garpu lalu memasukkannga kedalam mulutnya.


     Kini kesunyian mulai memenuhi tempat tersebut hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar, sesekali mereka saling mencuri pandang antara satu sama lain.

__ADS_1


Ketika terciduk mereka lebih memilih mengalihkan pandangan mereka kearah langit malam yang indah atau jalanan kota yang penuh dengan lampu kelap kelip yang tak kalah indah hingga membuat kedua kerlipan bintang dan kerlipan lampu seperti sama - sama membantu untuk mengindahkan tempat yang berbeda.


__ADS_2