Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 166


__ADS_3

     Zamrud masih tampak sabar menunggu Zaldira mengangkat suaranya dengan wajah yang sedikit pucat.


     "Zaldira... Aku tau sepertinya kamu sekarang sedang tidak bisa untuk di bilang baik - baik saja, jika tidak! mana mungkin sikapmu seperti ini..." resahnya sambil menaruh satu tangannya di atas punggung tangan Zaldira yang duduk menyamping memegang lutut.


     "Kak... Aku mohon sama Kaka untuk jawab yang jujur dan tidak bercanda untuk saat ini ya," pintanya yang kini sudah menumpahkan air matanya.


     "Lho! kok kamu malah nangis? udah... Jangan nangis dulu ya... Sekarang coba kamu tarik napas dalam... Terus buang," responnya memberi instruksi dan Zaldira hanya patuh.


     "Sekarang gimana? masih terasa tertekan?" tanyanya mamastikan.


     "Lumayan kak," jawabnya.


     "Oh... Masih lumayan... Berarti masih belum benar - benar tenang ya? tunggu Kaka pikirkan lagi cara lainnya," ucapnya yang sontak saja membuat Zaldira mencegahnya.


     "Eh! eh! enggak kok kak, sekarang Zaldira udah tenang dan bakal bilang sama Kaka." cegahnya.


     "Baiklah kalau begitu apa?" paksanya.


     "Ya sabar atu Kaka..." ucapnya sambil menggeleng.


     "Habisnya kamu bikin Kaka Khawatir aja sama kamu," ungkapnya.


     "Cieee... Udah khawatir! dulu katanya benci sama aku," ledeknya sambil terkekeh.


     "Jee... Sendirinya juga gak sadar kamu manis animo..." responnya balas meledek sambil menoel hidungnya.


     "Hehe! masih ingat aja Kaka kalau aku mintanya manis amino dari pada asam amino, emangnya aku cuka apa." protesnya sambil memegang dahinya.


     Raut sedih dan khawatir tiba - tiba hilang dalam sekejap. Mereka malah saling berbagi canda tawa dengan cara mereka masing - masing.


     Kata - kata yang mereka ucapkan memang sederhana, tapi bagi mereka yang memang pasangan dalam mode bucin pasti lebih bermakna.


     Pertanyaan yang sempat di lontarkan olehnya jadi sudah terlupakan semuanya.


     Sekarang yang ia inginkan hanyalah pengakuan yang masih berat, tapi mau bagaimana pun Zamrud juga harus tau tentang kepergiannya itu.


     "Kaka... Ini mungkin agak berat bagi kita. Meskipun kita sempat berniat untuk tak akan jauh - jauh, tapi takdir yang memaksaku untuk lebih sulit menemukanmu nantinya jika kita memang tak berjodoh." ucapnya.


     "Jadi?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Aku cuma mau bilang selamat tinggal untuk dua hari lagi," jedanya.


     "Lho! kenapa?" herannya.


     Zaldira kini mencoba untuk kuat menyampaikan kenyataannya.

__ADS_1


     "Aku dua hari lagi akan meninggalkan desaku dan pergi kuliah di luar negri kak," jawabnya lancar.


     "Alhamdulillah..." batinnya merasa senang sambil mengelus dadanya yang tak berhenti berdetak kencang.


     Zamrud sangat terkejut saat mendengarnya, ada raut kesedihan yang jelas terpancar usai wajah berseri - serinya.


     "Kaka," ucap Zaldira yang awalnya merasa lega usai berbicara jadi kembali merasa tegang.


     Zamrud tak menjawab, ia hanya menatapnya dalam dengan mata yang sudah berkaca - kaca.


     "Kaka! kalau emang Kaka gak ikhlas aku pergi, aku akan coba bilang sama ortuku agar aku tidak jadi terbang ke luar negri kok." tawarnya meskipun sudah mengambil keputusan semalam.


     Zamrud hanya menggeleng saat mendengar apa yang Zaldira katakan, dengan susah payah ia pancarkan senyuman manis di hadapan Zaldira.


     Zaldira jadi ikut sesak saat melihat kondisi Zamrud yang sudah berubah seperti ini.


     "Pergilah Zal," responnya menunduk.


     "Kaka mengusirku?" tanyanya tak percaya sambil menunjuk dirinya sendiri menggunakan jari telunjuknya di depan wajahnya.


     Zamrud dengan lembut menurunkan tangan Zaldira yang sedang menunjuk dirinya sendiri.


      "Za... Aku bukan mengusirmu dari taman ini sekarang juga... Tapi-" ucapannya terhenti.


     "Tapi apa kak?" tanyanya tak sabaran.


     "Tapi mau bagaimana pun, Zaldira tetap berhak untuk mengejar impiannya itu." putusnya akhirnya.


     Merasa jika pertanyaan nya benar karna Zamrud tak kunjung memberi jawaban, ia memilih bangkit lalu membalikkan tubuhnya hendak berjalan menjauh.


     Tapi satu tangannya berhasil di tahan oleh Zamrud hingga Zaldira hanya mampu melihat ke arah tangannya lalu perlahan - lahan semakin beranjak ke atas.


     "Kenapa Kaka menahanku? bukannya Kaka menyuruhku untuk pergi tadi?" tanyanya dengan suara serak.


     "Memang kapan Kaka suruh kamu pergi?" tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya.


     "Kaka tolong jangan pura - pura lupa, karna Zaldira sedang tidak ingin bercanda apa lagi sampai bertengkar dengan Kaka di hari - hari terakhir ini." pintanya memohon.


     "Duduk," hanya itu yang Zamrud katakan.


     "Duduk? tapi Kaka, bukannya tadi-" ucapannya kembali di potong.


     "Aku bilang duduk Zaldira!" perintahnya sedikit meninggikan suara.


     Zaldira tak mengatakan sepatah kata pun lagi, ia kini hanya menuruti apa yang di perintahkan oleh Zamrud meskipun hatinya ingin sekali pergi sekarang juga.

__ADS_1


     "Bagus! sekarang coba kau tatap mataku kembali," perintahnya lagi.


     "Kalau aku tidak mau?" tanyanya yang sudah duduk dalam keadaan menunduk.


     "Oh... Kau tidak mau menuruti keinginan ku di saat - saat terakhir kita berpisah ya?" sedihnya sambil menatap Zaldira tajam.


     "Eh! bukan begitu Kaka..." responnya sambil mengangkat telapak tangannya sejajar dengan telinga dan menggerakkannya beberapa kali.


     "Lalu?" tanyanya meminta penjelasan.


     "Wajib jawab ya?" tanyanya berusaha tenang.


     "Iya wajib," jawabnya acuh.


     "Huh... Oke! aku hanya tidak sanggup melihat wajah Kaka makanya aku menunduk," jujurnya.


     "Lha! apa ada yang salah dengan wajahku? kurang tampan kah hari ini diriku?" tanyanya sambil mengambil ponselnya untuk melihat di kaca kamera.


     Dengan gaya PDnya ia membenarkan letak rambutnya sambil sedikit bergaya dan itu sontak saja membuat Zaldira terkekeh di buatnya.


     "Ya ampun Kaka ini lucu banget... Masak iya sih aku gak sanggup liat wajah Kaka karna kaka jelek... Kaka kan tampan, buktinya banyak gadis kok yang incar Kaka." jelasnya.


     "Ya sudah lupakan," putusnya tak ingin ambil pusing dan mulai fokus menatap ke arah Zaldira yang juga balas menatapnya.


     "Zal! aku bilang kata pergi tadi bukan mengarah agar kamu meninggalkan taman ini karna kekecewaanku, tapi maksudku adalah mengizinkanmu untuk mengejar impianmu di luar negri sana. Semoga kamu sukses ya..." beritahunya.


     Zaldira sangat senang saat mendengar apa yang Zamrud katakan, dirinya seperti tidak percaya jika Zamrud mampu semudah ini melepaskannya untuk pergi jauh setelah kesepakatan bersama.


     "Makasih banyak ya Kaka..." senangnya yang kini sudah memeluk leher Zamrud.


     Zamrud yang mendapatkan perlakuan seperti itu jadi kaget di buatnya, pelukan Zaldira pada leher nya benar - benar terasa seperti pelukan mamanya.


     Ia jadi sangat bersyukur karna mamanya sangat menyambut baik kedekatan mereka sebagai teman dekat tapi mesra hanya dari cetan.


     Saat bertemu mereka tatap masih berjaga jarak dan baru kali ini Zamrud di peluk oleh Zaldira hingga jantung yang awalnya berdetak normal jadi berdetak kencang tak karuan.


     Setelah sedikit sadar barulah Zamrud merespon apa yang Zaldira katakan dengan ucapan sama - sama.


     Usai acara berpelukan sebentar mereka jadi membuka topik pembicaraan yang indah, juga membahas kenangan mereka saat baru pertama ketemu dan penuh dengan warna pertengkaran yang begitu menggelitik.


     Tak terasa waktu terus berjalan hingga membuat keduanya memutuskan untuk pulang ke rumah masing - masing usai melambaikan tangan antara satu sama lain.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2