Kebun Terong Sigadis Narsis

Kebun Terong Sigadis Narsis
Part 170


__ADS_3

     Kini Firdaus tanpak sangat gagah di atas panggung bersama Miftah, bajunya yang sangat serasi membuat mereka makin terlihat kompak saja.



     Firdaus menggunakan pakaian serba putih dengan lengan panjang. Mereka tampak sibuk menyalami para tamu undangan yang merupakan para penjabat yang sangat hebat di berbagi perusahaan.



     Tak jarang ada yang datang hanya untuk menjilat dan Firdaus yang tak mudah di tipu hanya mengacuhkan tawaran yang sama sekali tak menarik minatnya.


     Bisa - bisanya di hari kebahagiaannya ini malah di jadikan kesempatan untuk mengorek bisnis yang lebih menguntungkan mereka saja.


     Seorang pria yang tubuhnya lumayan berisi hendak menyalami Firdaus dan ingin mengajukan beberapa hal bisnis juga.


     Namun ucapannya terhenti saat Firdaus sudah berkata.


     "Apakah anda tidak mempunyai sedikit rasa hormat? ini adalah hari kebahagian saya yang hanya ingin menikmati pesta pertama saya dengan penuh ketenangan. Bukannya malah sibuk memikirkan sesuatu hal yang hanya membuat kepala saya pusing," tanyanya penuh penekanan.


     "Tapi tuan-" ucapannya terpotong.


     "Saya paham jika perusahaan anda bukanlah perusahaan sembarangan, tapi anda juga harus paham! kalau perusahaan saya tidak akan pernah takut jika harus berpisah kerja sama dengan perusahaan anda seandainya permintaan anda melewati batas kerja sama." ancamnya yang sukses membuat mulut pria itu membisu.


     "Mas... Sudahlah," peringat istrinya menenangkan dan mengelus sebelah bahu suaminya.


     Suaminya hanya mengangguk dengan wajah yang terlihat penuh rasa kekesalan akibat permintaan kerja samanya di tolak mentah - mentah oleh Firdaus, bahkan ia juga tak segan - segan mengancamnya.


     "Lihat saja nanti, aku pasti akan membuat perusahaan Askari bertekuk lutut di bawah kekuasaan perusahaanku saat kekayaan kalian sudah menipis." batinnya merasa geram.


     "Kaka... Siapa pria - pria tadi? mereka tampak terus menjilatmu," tanya Miftah cemas.


     "Lupakanlah Ratuku! mereka hanya para insan yang gila akan harta dan haus jabatan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara instan." jawabnya.


     "Oh... Jadi gitu, Kaka berarti harus lebih hati - hati yah lain kali." nasehatnya.


     "Pastilah Ratuku, sejak tadi mungkin mereka hanya mempu mengumpatku. Tapi percayalah, umpatan mereka bahkan rencana busuk mereka juga tiada apa - apanya bagi perusahaanku." yakinnya.


     "Semoga saja ya Kaka..." harap Miftah yang masih merasa khawatir.


     "Eh! kayaknya ada yang aneh deh," ucap Firdaus.


     "Apanya Kaka yang aneh?" tanyanya bingung.


     "Itu lho... Panggilan mu kok jadi berubah lagi? aku kak udah jadi suamimu," resahnya.


     "Iya deh... Miftah minta maaf ya Kaka..." ucapnya merasa tidak enak.

__ADS_1


     "Tuh kan Kaka lagi," ambeknya.


     "Ya ampun... Oke - oke, baiklah mas ku sayang..." rayunya yang jadi merasa geli dengan dirinya sendiri.


     "Akhirnya..." responnya Firdaus cengar cengir sendiri.


     "Apanya yang akhirnya hah?" tanya Miftah sambil menatapnya tajam.


     "Gak papa, lupakan." jawabnya cepat - cepat.


     "Hadeh... Dasar mas aneh," ledeknya.


     "Baik, mas memang aneh." angguknya mengiyakan karna tak ingin berdebat nantinya.


     Kini mereka jadi sama - sama membalikkan tubuh saat mendengar suara yang lumayan keras dari seorang wanita yang memakai pakaian merah yang cukup mewah untuk acara pernikahan.



     "Ya ampun... Kamu ternyata Zaldira, Kaka pikir siapa." ucap Miftah sambil tersenyum.


     "Hehe! memangnya Kaka sempat pikir Zaldira siapa emang kak?" tanyanya penasaran.


      "Ya rahasia dong..." jawabnya.


     "Yah... Kaka..." ambeknya.


     "Enggak, aku ke sini sama kak Zamrud." jawabnya.


     "Terus kak Zamrudnya mana?" tanya Miftah.


     "Ekhem," Firdaus berdehem hingga membuat Miftah melihat ke arahnya yang menatapnya penuh dengan rasa tidak suka.


     "Lah! apa aku ada salah bicara?" batin Miftah merasa bingung.


     "Kaka kenapa? apa Kaka sakit tenggorokan? kalau iya Miftah mau buatkan adem sari ya," tawarnya.


     "Kamu jangan pura - pura lupa dengan apa yang kamu katakan ya istriku, lagian mana mungkin kamu keluar kedapur ditengah orang ramai dengan baju kamu itu." geram Firdaus.


     "Ya aku tau gaun ini tidak boleh rusak," tunduknya.


     "Ya ampun istriku... Jangan salah paham... Maksudku itu nanti kalau gaunmu ke injak, kamu malah jatuh... Kalau kulitmu lecet gimana?" jelasnya yang sontak membuat Miftah tertawa di buatnya.


     "Hahaha ya ampun... Ternyata Kaka tidak mengkhawatirkan gaunku ini... Kirain! ya kan gak papa ke dapur pakai gaun, kapan lagi kak Miftah bisa buat adem sari sambil jadi pengantin." guraunya.


     "Jangan bercanda ya Ratuku, apa kamu sudah tidak ingat kalau aku masih marah kepadamu?" peringatnya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


     "Permisi..."


     Entah keberanian dari mana Zaldira memotong apa yang ingin Firdaus katakan selanjutnya.


     Firdaus yang mendengar hal itu jadi melihat ke arah Zaldira yang sudah menyengir kuda di hadapannya.


     "Hehe! maaf ya Kaka tampan yang super dzuper tampan-" ucapannya terjeda.


     "Tapi lebih tampan kak Zamrud sih menurutku," batinnya.


     "Katakan apa yang ingin kau katakan," responnya mempersilahkan.


     "Jadi gini... Anu kak! anu... Anu... Eh! mau bilang anu apa ya?" ucapnya malah bertanya pada Firdaus.


     "Cepat katakan-- atau aku..." kesalnya.


     "Atau aku apa?" tanya suara berat seorang pria yang baru saja sampai ke hadapan mereka.


     "Kaka," ucap Zaldira melihat ke arah Zamrud.


     "Kamu sih bendel ya waktu Kaka ingatin, Kaka sudah bilang kalau mau naik ke sini itu harus Kaka temani. Ngapain harus malu sih sama orang lain kalau di kira pasangan? toh kita juga sudah berniat bertunangan dan menikah nantinya," tegur Zamrud yang sukses membuat Firdaus membulatkan matanya sempurna.


     "Apa? kalian sudah mau bertunangan?" tanyanya masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.


     "Ya kamu benar kak Firdaus, kami memang tak lama lagi berniat untuk tunangan usai Zaldira lulus dari perkuliahannya di luar negri. Aku gak peduli selama apa pun dia pergi dan aku percaya jika dia mampu menjaga hatinya untukku," jelasnya.


     "Jadi tolong jangan sering menatap Miftah dengan sorot kecurigaan lagi, dia hanya menganggapku abangnya. Tidak lebih. Tak sepertimu yang sukses membuat hatinya luluh untuk bisa menjadi istrimu dan itu jelas terlihat tadi saat acara ijab kabul berjalan dengan lancar." pintanya.


     Firdaus yang mendengar penjelasan dari Zamrud merasa sangat bersalah, jujur. Ia tidak ingin seperti ini, namun jiwa posesif nya sudah mengalahkan sebagian kesadarannya.


     "Istriku, aku minta maaf ya karena masih berburuk sangka kepadamu. Maaf juga untuk mu Zaldira, aku paham. Kamu pasti tadi ingin mencoba menjelaskan hal ini padaku, agar aku tak marah kepada Miftah." ucapnya akhirnya.


     Zaldira jadi tersenyum kembali sambil berkata "sudah tidak apa - apa."


     Sedangkan Miftah mulai memeluknya dari samping dan menyandarkan kepalanya pada bahu Firdaus.


     "Iya mas... Jadi harap maklum ya... Karna aku hanya rindu kepada kak Zamrud, bukan rindu akan cinta. Tapi rindu akan kasih sayang, perhatian, dan kebaikan yang kak Zamrud berikan selama aku merasa jika aku hanya hidup dalam kesunyian tanpa keluarga. Kak Zamrud lah yang berhasil menghapus kesunyian itu untuk pertama kalinya," ungkapnya.


     "Iya aku paham," angguk Firdaus sambil mengelus puncak kepala istrinya.


     Akhirnya mereka pun bersalaman dengan Firdaus dan Miftah sambil mengucapkan selamat lalu turun dari panggung pelaminan.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai Kaka semuanya... 🤗

__ADS_1


Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆


Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇


__ADS_2