
Malam sudah benar - benar menelan segala cahaya yang menerangi bumi selain kerlipan lampu dan terangnya sinar rembulan yang membuat suasana pantai yang di hiasi oleh angin sepoi - sepoi terasa indah.
Sepasang kekasih yang baru saja memandu kasih sedang berjalan di pinggir pantai, merasakan sapuan ombak pada telapak kaki yang telanjang memberikan sensasi tersendiri bagi insan yang merasakannya.
"Sayang... Apakah kau tidak mau beristirahat dahulu? setelah melakukan hal itu kau masih saja sanggup berjalan," cemas Firdaus.
"Ya ampun... Sudahlah mas... Lagian itu kan sudah beberapa jam yang lalu, sekarang aku hanya ingin menikmati angin malam memangnya tidak boleh?" protesnya mulai cemberut.
"Siapa bilang tidak boleh sayang... Tapi kamu harus hati - hati dengan angin malam... Nanti bisa - bisa kamu masuk angin gimana?" tanyanya masih di balut rasa khawatir.
"Ya ampun mas gak usah lebay deh! kalau masuk angin kan tinggal pakai 'minyak kayu putih koniker...' itu aja susah," resahnya sambil mengikuti nada iklan yang sedang mempromosikan minyak kayak putih di tivi.
"Hadeh... Terserah kamu deh kalau begitu, tapi ingat! abis kamu merasakan angin malam dan berjalan di pinggiran ombak sebentar kamu harus istirahat ya? no main kemana pun," aturnya.
"Kok gitu sih mas? abis ini aku itu mau duduk di kafe dekat sini untuk isiin perut aku yang udah keroncongan tau... Aku lapar ples capek banget mas... Masak tega sih langsung suruh istirahat, nanti aku malah ketiduran dalam keadaan lapar terus bangun lagi larut malam dan hanya makan apa yang ada di kulkas." protesnya panjang lebar hingga membuat Firdaus heran.
"Istriku kenapa jadi banyak maunya gini ya? ya sudahlah," batinnya tak ingin ambil pusing.
Akibat merasa sedikit lelah Miftah pun akhirnya meminta Firdaus mengajaknya ke kafe dan itu sukses membuat Firdaus dapat bernapas lega.
Tapi itu tak berlangsung lama saat Miftah kehilangan cincin pernikahannya di pinggiran pantai.
"Mas," ucapnya takut - takut.
"Iya sayang ada apa?" tanya Firdaus bingung.
"Ini mas..." unjuknya pada jari manisnya.
"Ya ampun ini apa sih sayang? ada apa dengan jari manismu? gak ada yang lecet pun," ucapnya sambil memegang dan melihat dengan teliti.
"Mas... Apakah mas merasa ada yang kurang dengan jariku? bukannya kemarin jari manis ku yang polos ini baru saja mas sematkan sesuatu," peringatnya.
Saat Miftah mengatakan hal itu, barulah Firdaus paham dan memegang dahinya akibat merasa pening.
__ADS_1
"Duh sayang... Gimana caranya cincin itu bisa jatoh sih? kamu itu malah membuat aku makin pusing aja," resahnya.
"Jadi kamu marah sama aku?" tanyanya sambil memanyunkan bibirnya.
"Ya enggak juga sih sayang," jawabnya hampir habis kata - kata.
"Aku mau kamu jawab jujur, sekarang kamu marah gak sama aku?" paksanya.
"Hehe sebenarnya aku kesel banget tau sayang... Tapi karna sama kamu aku ubah jadi kesel dikit ya..." jawabnya sambil mengontrol emosi.
"Ah! yang benar kamu," selidik Miftah sambil memicingkan matanya.
"Iya sayang..." responnya sambil melihat ke sekitar Miftah berjalan sampai di ujung.
Hal itu malah membuat Miftah tertawa terbahak - bahak saat melihatnya.
"Hahaha," tawanya sambil menutup mulutnya.
Firdaus yang mendengar tawa istrinya jadi semakin kesal di buatnya, bisa - bisanya Miftah masih sempat tertawa di saat cincin bukti pernikahan mereka hilang entah kemana.
"Ya ampun istriku yang paling tercinta, kamu ini hadeh... Bikin aku naik darah aja ya..." resah Firdaus yang mulai memancarkan senyuman pada bibirnya kembali.
"Lagian kamu serius banget mas... Aku malas kalau sikapmu jadi kayak gitu," ungkapnya.
"Iya deh iya... Aku gak akan kayak gitu lagi," ucapnya meyakinkan.
"Yang benar ya mas?" tanyanya memastikan.
"Iya sayang iya... Apa saja asalkan kamu bahagia," responnya sambil memeluk pinggang ramping Miftah.
"Aaa... Kamu ternyata sosweet juga yah sayang," puji Miftah yang dengan beraninya memberikan satu kecupan pada pipi Firdaus.
"Hahaha emangnya kamu gak sadar selama kamu berada di dekatku aku kan selalu sosweet kalau sama kamu ma," ucapnya balas mengecup pipi Miftah.
__ADS_1
"Hehehe tapi aku gak sadar tuh," elaknya yang sedang ingin bergurau dengan Firdaus.
"Alah! yang benar kamu... Tadi siapa ya yang di kamar sampai-" ucapan Firdaus jadi terhenti saat Miftah membekap mulutnya kuat.
"Isss... Mas apa - apaan sih mau bahas tentang tadi, udah ah gak lucu." ambeknya sambil melipat kedua tangannya di bawah dada, pandangannya juga sudah ia alihkan ke arah lain.
"Je... Gitu aja ngambek. Kalau menurut mas lucu ya gimana?" tanyanya.
"Ya gak gimana - gimana," jawabnya acuh sambil mengidikkan bahunya.
Saat mereka sedang asyik - asyiknya berdebat berdua, tiba - tiba ucapan mereka jadi terhenti saat ada seorang wanita yang memakai baju gamis muslimah bertanya kepada mereka.
"Maaf mas, mbak jika saya sudah mengganggu aktivitas kalian. Saya hanya ingin bertanya apakah ini dompet mas atau pun mbak. Soalnya tadi saya menemukan ini tak jauh dari tempat mas dan mbak bermain sejak tadi," ucap wanita itu sambil tersenyum.
Awalnya Firdaus tak terlalu mengenali karna wanita tersebut berkata dengan wajah yang sedikit menunduk, hingga ia tak mampu melihat wajahnya yang keseluruhan.
Miftah mulai mengambil dompet tersebut dan melihatnya sejenak, ia juga memperlihatkannya pada Firdaus.
"Mas Firdaus, coba mas lihat dulu deh! siapa tau ini dompetnya mas." pintanya yang membuat Firdaus langsung memeriksa saku celananya dan benar saja jika itu adalah dompet Firdaus yang baru saja terjatuh beberapa menit yang lalu.
"Eh! benar banget sayang, ini dompetku." ucap Firdaus lalu mengambil alih dompet tersebut dari tangan istrinya.
Gadis yang menemukan dompet itu benar - benar merasa sangat tidak asing dengan nama yang Miftah sebutkan, hingga rasa penasaran yang begitu kuat mendorongnya untuk mengangkat wajahnya agar dapat melihat siapa sosok yang sempat ia tebak pernah bertemu dengannya itu.
Dan benar saja, saat tatapan matanya bertemu ia benar - benar tak menyangka dengan pria yang selama ini ia tunggu ternyata sedang memeluk mesra pinggang seorang gadis yang terlihat jelas jika mereka telah memiliki hubungan yang begitu spesial.
Hubungan yang membuat dadanya begitu sesak, karena sudah lama ia menunggu tapi kabarnya hilang begitu saja. Namun rasa setianya yang begitu besar membuatnya menghilangkan semua pikiran buruk tentang pria itu.
Hatinya kini sudah hancur sehancur hancurnya saat melihat gadis itu menepuk - nepuk pipi Firdaus pelan sambil berkata "Mas, mas kenapa bangong aja? apa mas kenal dengan wanita ini?"
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Hai Kaka semuanya... 🤗
__ADS_1
Makasih udah mau like, komen, ranting hadiah bahkan tak segan - segan memberikan Vote pada karya Star ya... Star sangat senang atas kebaikan Kaka semuanya... 😆
Semoga Kaka Sehat selalu ya... 😇